Dzikir atau mengingat Tuhan memiliki banyak pengaruh
positif dan konstruktif pada kejiwaan dan moral manusia dimana mengingat Tuhan
(dzikrullâh) bagi hamba adalah pencerah hati, penenang kalbu, takut dari
(maksiat kepada) Tuhan, pengampun dosa, membuahkan ilmu dan kebijaksanaan
adalah beberapa pengaruh yang dituai dari zikir. Biasanya, dzikir dibagi
menjadi dzikir kalbu dan dzikir lisan dimana dzikir lisan disebut sebagai
“wirid” Dzikir dalam artian sebenarnya bermakna mengingat dan dari sudut
pandang ini, setiap eksisten, tergantung pada tingkatan wujudnya, berada pada
tingkatan khusus zikir dan mengingat Tuhan.
Setiap manusia, sesuai dengan teraju pengetahuan dan
makrifatnya, terhadap sumbernya merupakan tingkatan dari zikir kepada Tuhan
atau melupakan identitas aslinya yang juga merupakan tingkatan lain dari
zikir. Dengan demikian manusia paripurna (insan kamil) merupakan jelmaan dan
manifestasi puncak dalam mengingat Tuhan (zikrullah) dimana salah satu nama Rasulullah
Saw adalah dzikir.
Wirid atau mengingat Tuhan baik dalam syariat juga dalam
Irfan sangat mendapatkan perhatian khusus. Tujuan dari wirid ini adalah untuk
mengingatkan manusia kepada Tuhan dan menghidupkan kalbu dengan mengingat-Nya.
Sepanjang dzikir dan mengingat ini berlangsung maka pelbagai tirai dan hijab
antara dzikir (yang mengingat) dan madzkur (yang diingat) akan
tersingkap. Karena itu, jalan dzikir-dzikir dalam Irfan juga merupakan sebuah
pendahuluan untuk sampai pada tujuan besar yaitu tersedianya kapasitas yang
diperlukan untuk menyingkirkan pelbagai hijab alam dunia (katsrat) dan
kegelapan dalam diri seorang salik (pejalan yang meniti lintasan menuju Tuhan).
Dzikir
bermakna mengingat yang dialirkan melalui lisan, melalui kidung, pujian, doa
dan wirid dan sebagainya. Dalam
tuturan-tuturan para arif, zikir bermakna mendisiplikan amalan, menjaga,
taat, shalat, Qur’an, dan
seterusnya.
Salah satu jelmaan terindah hubungan kasih dengan Tuhan
dan merupakan jalan fundamental sair dan suluk adalah dzikir. Dzikirullah
(mengingat Tuhan) adalah mengingat entitas wujud manusia yang terbatas dan
berada dalam lintasan mengingat nama-nama Tuhan dan kontinuitasnya. Mengingat
Tuhan akan mengeliminir segala dosa dari hati manusia, lantaran lalai dan lupa
dari mengingat Tuhan akan menodai dan melegamkan hati manusia.
Berangkat dari sini, salah satu risalah para wali Allah
dan kitab-kitab samawi adalah melenyapkan kelegaman dan noda ini. Atas dasar
itu, “dzikir” disebut sebagai salah satu sifat Rasulullah SAW dan sebuah nama
dari nama-nama Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an menyinggung sifat dzikir ini
bagi Rasulullah SAW, “Qad anzalallah ilaikum dzikro Rosulan yatlu alaikum
ayatillah…" (Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan
kepadamu, dan (mengutus) seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat
Allah”. (QS. Thalaq [65]: 10-11).
Demikian juga salah satu nama Al-Qur’an adalah dzikir
sebagaimana hal itu dinyatakan dalam, "Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa
inna lahu lahafizhun." (Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya)”. (QS. Al-Hijr [15]:9).
Alasan penamaan Rasulullah SAW dan Al-Qur’an sebagai
dzikir lantaran keduanya mengingatkan manusia kepada Allah SWT, lantaran
mengingatkan bergantung pada pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dan para nabi
dan kitab-kitab samawi inilah yang telah berhasil menyingkirkan tirai kelalaian
dan kelupaan dari hati mereka dan memendarkan cahaya Ilahi atasnya. Karena itu,
mengingat Tuhan akan melesakkan manusia kepada puncak spiritual meninggalkan
penjara dunia dan menghidupkan harapan pada manusia dan melenyapkan segala
putus asa dan putus harapan mansuia atas kesempitan kehidupan dunia materi dan
kalkulasi-kalkulasi manusiawi.
Jika
Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat)
lisan, namun jika Nama Allah di ingat dengan hati,
maka itu akan sebanding dengan dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan
(dzikir) lisan. Itulah dzikir hati atau dzikir sirr.
Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan
semua terhubung ke jantung. Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja
(dengan hati) maka semua yang mengalir mengucapkan juga.
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Dzarr!
Berzikirlah kepada Allah dengan zikir khamilan!”, Abu Dzarr bertanya : “Apa itu
khamilan..?”
Sabda Rasul : “Khafi (dalam hati)” (Mizan
al-Hikmah 3 : 435).
Tahap pertama zikir adalah zikir lisan.
Kemudian zikir qolbu yang cenderung di upayakan dan dipaksakan. Selanjutnya,
zikir kalbu yang berlangsung secara lugas, tanpa perlu dipaksakan. Serta yang
terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di dalam kalbu disertai sirnanya
zikir itu sendiri.
Inilah rahasia dari sabda Nabi SAW : ”Siapa
ingin bersenang-senang di taman surga, perbanyaklah mengingat Allah”
Tanda bahwa sebuah zikir sampai pada sirr
(nurani yang terdalam yang menjadi tempat cahaya penyaksian) adalah ketika
pelaku zikir dan objek zikirnya lenyap tersembunyi. Zikir Sirr terwujud ketika
seseorang telah terliputi dan tenggelam di dalamnya. Tandanya, apabila engkau
meninggalkan zikir tersebut, ia takkan meninggalkanmu.
Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu
untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhur (hadirnya
kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ
tubuhmu sehingga seolah–olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut
tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup.
Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu
naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala.
Zikir yang masuk ke dalam sirr terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir
seolah–olah lisannya tertusuk jarum.
Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya
yang mengalir darinya.
Ketahuilah, setiap zikir yang disadari oleh
qolbumu didengar oleh para malaikat penjaga. Sebab, perasaan mereka beserta
perasaanmu. Di dalamnya ada sirr sampai saat zikirmu sudah gaib dari perasaanmu
karena engkau sudah sirna bersama Tuhan, zikirmu juga gaib dari perasaan
mereka.
Kesimpulannya, berzikir dengan ungkapan
kata–kata tanpa rasa hudhur (kehadiran hati) disebut zikir lisan, berzikir
dengan merasakan kehadiran qolbu bersama Allah disebut zikir qolbu, sementara
berzikir tanpa menyadari kehadiran segala sesuatu selain Allah disebut Zikir
Sirr. Itulah yang disebut dengan Zikir Khafiy.
Allah SWT berfirman: “Dan berzikirlah kepada
Tuhanmu dalam hatimu (nafsika) dengan merendahkan dirimu dan rasa takut dan
dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu
termasuk orang yang lalai” (QS. Al-A’Raaf [7]: 205).
Rezeki lahiriah terwujud dengan gerakan
badan, rezeki batiniah terwujud dengan gerakan qolbu, rezeki sirr terwujud
dengan diam, sementara rezeki akal terwujud dengan fana dari diam sehingga
seorang hamba tinggal dengan tenang untuk Allah dan bersama Allah.
Nutrisi dan makanan bukanlah konsumsi rohani,
melainkan konsumsi badan. Adapun yang menjadi konsumsi rohani dan qolbu adalah
mengingat Allah Zat Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.
Allah SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram..” (QS. Ar-Ra’ad [13]: 28).
Semua makhluk yang mendengarmu sebenarnya
juga ikut berzikir bersamamu. Sebab, engkau berzikir dengan lisanmu, lalu
dengan qolbumu, kemudian dengan nafasmu, kemudian dengan rohmu, selanjutnya
dengan akalmu, dan setelah itu dengan sirrmu.
Bila engkau berzikir dengan lisan, pada saat
yang sama semua benda mati akan berzikir bersamamu. Bila engkau berzikir dengan
qolbu, pada saat yang sama alam beserta isinya ikut berzikir bersama kalbumu.
Bila engkau berzikir dengan nafasmu, pada saat yang sama seluruh langit beserta
isinya juga turut berzikir bersamamu.
Bila engkau berzikir dengan rohmu, pada saat
yang sama singgasana Allah (Arsy) beserta seluruh isinya ikut berzikir
bersamamu. Bila engkau berzikir dengan akalmu, para malaikat pembawa Arsy dan
roh orang–orang yang memiliki kedekatan dengan Allah juga ikut berzikir
bersamamu. Bila engkau berzikir dengan sirrmu, Arsy beserta seluruh isinya
turut berzikir hingga zikir tersebut bersambung dengan zatNya.
Al-Imam Al-Baqir dan Imam Ash-Shadiq Ra
berkata : “Para malaikat tidak mencatat amal shalih seseorang kecuali apa-apa
yang didengarnya, maka ketika Allah berfirman : “Berzikirlah kepada Tuhanmu
dalam hatimu (nafsika)”, tidak ada seorangpun yang tahu seberapa besar pahala
zikir di dalam hati dari seorang hamba-Nya kecuali Allah Ta’ala sendiri”
Didalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Zikir diam (khafiy) 70 kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal. “ (Al-Hadits).
Bila sang hamba mampu melanggengkan Zikir
Khafi serta meyakini bahwa semua Alam Lahir dan Alam Batin merupakan
pengejewantahan dari nama-namaNya maka ia akan merasakan kehadiranNya di semua
tempat dan merasakan pengawasanNya dan jutaan nikmat-nikmatNya.
Perasaan akan kehadiranNya ini akan mencegah
sang hamba dari berbuat dosa dan maksiat. Jika di hadapan anak yang sudah akil
baligh saja manusia malu untuk berbuat dosa dan membuka auratnya, maka
bagaimana ia tidak malu untuk membuka auratnya dihadapan Sang Khaliq..?
Mengapa kita tidak merasa sungkan dan malu
berbuat hal-hal yang tidak layak di hadapan Sang Khaliq..? Itu karena keyakinan
kita atas kehadiranNya di setiap eksistensi tidak sebagaimana keyakinan kita
ketika kita melihat kehadiran sang anak yang akil baligh tersebut.
Apabila kita ingin mencapai keyakinan seperti
ini kita mesti mempersiapkan latihan-latihan untuk melaksanakan Zikir Khafi
sampai pada suatu tahapan di mana hati kita berzikir secara otomatis seperti
gerak detak jantung dan tarikan-tarikan nafas kita (yang tidak kita kendalikan).
Imam Ali Zainal Abidin Ra di dalam doanya :
“Ilahi, Ilhamkanlah kepada kami Zikir kepadaMu, di kesendirian maupun di keramaian, di malam hari maupun di siang hari, secara terang-terangan, maupun secara rahasia (sembunyi), di saat gembira maupun di saat kesusahan, jadikanlah hati kami menjadi senang dengan berzikir al-khafi “ (Bihar al-Anwar 94 : 151).
“Ilahi, Ilhamkanlah kepada kami Zikir kepadaMu, di kesendirian maupun di keramaian, di malam hari maupun di siang hari, secara terang-terangan, maupun secara rahasia (sembunyi), di saat gembira maupun di saat kesusahan, jadikanlah hati kami menjadi senang dengan berzikir al-khafi “ (Bihar al-Anwar 94 : 151).
Banyak
orang muslim belum mengetahui amalan yang tinggi ini, selama ini mereka hanya
mengerjakan hal-hal yang biasa dilakukan turun-temurun dan yang di Ajarkan di
dayah atau madrasah, namun melupakan inti saripati Islam Yang Hakiki.
Didalam
Hadist yang dicatat pada kitab Sunan At Tirmidzi Hadist ke 30, Abu Sa’id Al
Khudri menjelaskan sabda Rasulullah tentang golongan paling utama di sisi
Allah. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Golongan siapakah
yang paling utama di sisi Allah pada hari Kiamat nanti..?”
Rasulullah SAW
menjawab: “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah.”
Mendengar
itu, Abu Sa’id Al Khudri r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan
para pejuang di jalan Allah...?”
Rasulullah
saw. menjawab, “Meskipun dia behasil menghujamkan pedangnya kepada orang-orang
kafir dan musyrik sehingga mereka terluka dan berlumuran darah, tetap saja
orang-orang yang berzikir kepada Allah lebih utama dari dirinya (pejuang di
jalan Allah).”
Kemudian Selanjutnya Hadits 31 Memperkuat lagi:
Dalam Sunan Ibnu Majah, Abu Ad Darda` r.a. menjelaskan
keutamaan zikir sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw., “Maukah aku beri tahu
kalian tentang suatu amal paling baik, paling suci dalam pandangan Allah,
paling tinggi tingkatannya, bahkan amal itu lebih baik dari sedekah kalian yang
berupa emas ataupun perak dan lebih baik daripada saat kalian bertemu dengan
musuh hingga kemudian kalian memenggal kepalanya (jihad di jalan Allah)..?”
Para sahabat
menjawab: “Tentu kami bersedia, wahai Rasulullah.”
Rasulullah SAW
melanjutkan: “Amal itu adalah zikir kepada Allah.”
Al Hakim Abu
Abdullah dalam kitab Mustadrak mengatakan, “Sanad hadits ini Sahih.”
Ada banyak
sekali bentuk dzikir kepada Allah, jadi bagaimana amalan yang dimaksud oleh
Rasullullah tersebut? sementara semua orang juga berzikir, zikir serperti apa
yang dimaksud?
Untuk menjawab tersebut mari kita baca hadist Rasulullah berikut ini:
Untuk menjawab tersebut mari kita baca hadist Rasulullah berikut ini:
“Tiada akan
datang Kiamat, kecuali kalau di muka bumi tidak ada lagi orang yang membaca
Allah, Allah (Dzikir Allah, Allah jelas dan tegas sebagai penangkal Kiamat
jagad ini)”. (HR Muslim).
Bahkan pada
suatu ketika Nabi pernah membai’at dan menalqin kepada diri sahabat Ali bin Abi
Thalib, sebagaimana yang diterangkan di dalam Hadits shahih yang muttashil sanadnya,
yaitu : “Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah :
“Hai Ali, pejamkan kedua matamu dan tempelkan sepasang bibirmu serta lipatkan
lidahmu pada langit-langitan mulut dengan berdzikir Allah, Allah, Allah di
dalam Lathifah dari Lathaif tujuh” (HR Thabrani dan Baihaqi).
Dilain waktu
Rasul bersabda : “Dari Ali Karamallahu Wajhah : Aku katakan ya Rasulullah,
manakah jalan Metodologi yang sedekat-dekatnya kepada Allah dan
semudah-mudahnya atas hamba Allah dan semulia-mulianya di sisi Allah? Maka
Jawab Rasul SAW : “Ya Ali penting atas kamu berkenalan/senantiasa berdzikir
kepada Allah”. Berkatalah Ali : Tiap orang berdzikir pada Allah. Maka Rasul
bersabda : “Ya Ali, tidak ada terjadi kiamat sehingga tiada lagi tinggal di
atas permukaan bumi ini, orang yang mengucapkan Allah, Allah”. Maka Sahut Ali,
bagaimana caranya aku berdzikir ya Rasul? Maka Sabda Rasul SAW : “Pejamkan
kedua matamu dan dengarkanlah dari saya ucapan tiga kali. Kemudian ucapkanlah
seperti itu dan aku akan dengarkan”.
Maka sejenak
Rasul mengucapkan : “Laa Ilaaha Illallah, tiga kali sedang kedua matanya
tertutup. Kemudian Alipun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah seperti
demikian. Ajaran tersebut kemudian syayidina Ali ajarkan pula kepada hasan
Basri dan dari Hasan Basri diajarkan kepada Al Habib Al Ajay, dari Al Habib
diajarkan kepada Daud Athaiy, dari Daud diajarkan kepada Al Makruf Al Karaci
dan dari Al Makruf kepada Assuraa, dan kemudian dari Assuraa kepada Al Junaid
(HR. Thabrani dan Baihaqi).
Teknik
berzikir ini sudah lama diamalkan oleh para sufi, para wali dan para ulama
pewaris nabi, karena sangat halus dan tingginya zikir ini sehingga tidak semua
orang bisa mengamalkannya dengan sempurna apalagi tanpa dibimbing oleh guru
yang sah.
Zikir ini
dilakukan didalam hati, perhatikan hadist diatas.. “pejamkan mata”, “tempelkan
sepasang bibirmu”, “lipatkan lidahmu pada langit-langitan mulut” lalu ucapkan
Allah Allah, itu artinya bukan fisik kita yang berzikir namun ruhaniah kitalah
yang dituntut untuk berzikir dengan mematikan panca indra. Dan ini memerlukan
latihan khusus (suluk) serta bimbingan Guru Mursyid.
Berhubung
yang berzikir adalah ruh kita tentu gangguan gaib juga akan banyak muncul, bisa
jadi gangguan itu berupa jin yang berupa sangat jelek atau jin yang mengaku wali
Allah sehingga jika tidak di bimbing oleh guru yang sah maka bisa jadi kita
disesatkan oleh iblis.
Didalam
Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk melakukan zikir didalam hati. Allah
SWT berfirman: “Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu (nafsika) dengan
merendahkan dirimu dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu
pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai” (QS 7 : 205).
Pada riwayat
yang lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Zikir diam (khafiy) 70
kali lebih utama daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat
amal“ (Al-Hadits).
PENGARUH ZIKIR
Mengingat Tuhan (dzikrullah) adalah hubungan spiritual
seorang hamba pesalik dengan Rabb Malik. Hubungan ini memiliki efek dan
pengaruh yang sangat menakjubkan dimana masing-masing dari efek tersebut sangat
berperan dalam mengerangka dan mengonstruksi mental dan moral manusia. Sebagian
efek dan pengaruh penting tersebut adalah sebagai berikut :
1. MENGINGAT
TUHAN BAGI HAMBA
Efek pertama mengingat Tuhan dan dzikrullah adalah Tuhan
juga mengingat manusia, “Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan
mengingatmu), (QS. Al-Baqarah [2]:152).
Karena itu, pada ayat ini zikir Tuhan kepada hamba
bersyarat pada zikir hamba kepada Tuhan. Dari ayat ini satu poin penting yang
dapat dipahami yaitu dua gambaran zikir dari sisi Tuhan: Pertama, zikir umum.
Kedua, zikir khusus.
Zikir umum adalah petunjuk umum Ilahi yang mencakup
seluruh makhluk dan entitas serta tidak terkhusus pada kelompok tertentu dan
buktinya zikir umum terdapat di seantero alam. Zikir tersebut merupakan
anugerah dan pemberian beragam Tuhan kepada seluruh makhluk. Dan zikir ini yang
merupakan emanasi intens Ilahi yang sekali-kali tidak akan terputus. Akan
tetapi zikir khusus terkait dengan para hamba khusus Tuhan dan dzâkir
(pengingat) dan satu model perhatian dan kepedulian (inâyah) dari sisi Tuhan.
2. PENERANG HATI
Allah SWT menjadikan zikir kepadanya sebagai penerang dan
hidupnya hati. Imam Ali R.a dalam nasihatnya kepada Imam Hasan Mujtaba dalam
suratnya kepada putranya menulis, Bahwa sebelum segala sesuatunya hendaknya
memikirkan bagaimana menghidupkan hati: “Fa-inni ushika bitaqwallahi Ya
Bunayya! Wa Luzumu amrih wa imaratun qalbik bidzikrih”. Aku menasihatkan
kepadamu nanda untuk bertakwa dan menjalankan perintah-perintah Tuhan,
menghidupkan hati dan ruh dengan berzikir kepada-Nya…”
Satu faktor yang paling berpengaruh mengobati matinya
hati dan untuk menghidupkannya kembali adalah berlindung dengan berzikir kepada
Allah SWT. Dzikrullaah (mengingat Allah) adalah cahaya dan intens melakukan
zikir akan menyelamatkan hati dari kegelapan, keputus asaan dan kekerasan hati.
Serta memberikan kehangatan dan keceriaan padanya. Hasil zikir dapat kita
jumpai pada tuturan Imam Ali As: “Innallaha ta’ala ja’ala al-dzikri jila’an lil
qulub tusma’u bihi ba’da waqro dan tubshir bih ba’da usywat wa tanqodu bihi
ba’dal mu’anid”. Allah SWT menjadikan zikir (kepadaNya) sebagai penerang hati
dan hasil (dari zikir) adalah telinga akan mendengar setelah ketulian, mata
akan melihat setelah kebutaan, dan melalui zikir hati akan tenang dan taat
setelah pembangkangan dan permusuhan.”
3. KETENTRAMAN
HATI
Pengaruh positif ketiga mengingat Allah adalah
ketentraman hati manusia. Sesuai dengan ungkapan Al-Qur’an, tuma’ninah dan
sukun al-qalb adalah salah satu pengaruh lansung dzikrullah, “Alladzina Amanu
tathmainnu qulubuhum bidzikrillah ala bidzikrillahi tathmainnul qulub”
(Mereka adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram, (QS. Al-Ra’ad [13]:28).
Mengingat Tuhan merupakan obat maknawi segala jenis
stress dan depresi dimana dalam pandangan para psikolog sebab-sebab stress dan
depresi adalah: takut, masa depan yang suram, ketakutan untuk kalah, ketakutan
terhadap penyakit dan kerisauan-kerisauan terhadap faktor-faktor natural.
Terlepas dari depresi, tuntutan untuk hidup tentram dan tenang berakar pada
fitrah manusia dan pada nurani manusia terpendam tuntutan untuk hidup tentram
dan kebanyakan aktifitas manusia sejatinya untuk menjawab seruan Ilahiah fitrah
ini.
Tatkala manusia menengok kehidupan pribadi dan kehidupan
orang lain di sekeliling kita, kita saksikan bahwa kebanyakan tujuan perbuatan
kita adalah untuk sampai pada mutiara berharga berupa ketentraman ini . Artinya
manusia sepanjang hidupnya, selama hayat di kandung badan, berupaya untuk
sampai pada ketenangan dan ketentraman (serenitas). Pada poin ini tidak
terdapat perbedaan di antara manusia, akan tetapi perbedaan mencuat ke
permukaan tatkala ktia ingin menentukan dan mengidentifikasi apa saja yang
mendatangkan ketenangan dalam kehidupan manusia.
Terdapat banyak orang memandang bahwa mutiara berharga
ini terpendam pada mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dan hidup sejahterah.
Sebagian lainNya meyakini terkandung pada status sosial dan ketenaran dan
seterusnya. Akan tetapi Al-Qur’an menandaskan bahwa satu-satunya jalan untuk
meraup ketenangan adalah dengan mengingat Allah Swt. “Ala bidzikrillahi tathmainnul
qulub.” Dan terkait dengan shalat, Allah SWT berfirman, “Aqimis-shalat
lidzkri.” (Tunaikanlah shalat untuk mengingatKu, (QS. Thaha [20]:14).
4. TAKUT KEPADA ALLAH
Di antara pengaruh positif dan konstruktif lainnya
mengingat Allah SWT adalah berseminya ketaqwaan dan sifat takut kepada Allah
Swt. Al-Qur’an menandaskan, “Innama al-Mu’minuna alladzina idza dzakarollahu
wajilat qulubuhum…” (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka
yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, (QS. Al-Anfal
[8]:2).
5. PENGAMPUNAN DOSA-DOSA
Di antara pengaruh dan buah ukhrawi mengingat Allah SWT
adalah ampunan Ilahi yang akan diperoleh orang-orang yang mengingat Tuhan (dzakirun
billah) dan di samping itu, Allah Swt menjanjian ganjaran dan pahala besar
kepada mereka. Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, “Wa al-Dzakirinallah katsiron
wa al-Dzakirotu a’addalloh lahum maghfirotan wa ajron azhima.” (Dan Laki-laki
dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar). (QS. Al-Ahzab [33]:35).
Allah Swt menjadikan berbagai amalan dan jalan sebagai
media pengampunan para hamba. Dan siapa saja dengan media tersebut memohon
ampunan. Salah satu media tersebut adalah mengingat Allah Swt.
6.MENUAI HIKMAH DAN ILMU
Salah satu pengaruh positif lain dari zikir adalah
kematangan akal, kesempurnaan dan kebijaksanaan (wisdom). Zikir menyebabkan
semakin bertambahnya fakultas pemahaman manusia dan kematangan pemikiran. Jiwa
manusia memiliki kelayakan untuk merefleksikan hakikat-hakikat ghaib pada
dirinya dan Allah Swt akan memberikan pertolongan pada pikiran dan akal
orang-orang ini. Realitas ini dituturkan oleh Imam Ali Ra dalam perkataannya :
“Allah Swt dengan segala nikmatnya yang agung pada setiap masa dan waktu
ketika tidak ada nabi, memiliki orang-orang yang berbisik-bisik denganNya dalam
pikiran-pikiran mereka, dan berbicara melalui pikiran mereka. Mereka adalah
pelita hidayah yang menghidupkan dengan cahaya kesadaran pada telinga, mata dan
hati”.
Dengan membaca secara seksama urutan ayat dan hadits
diatas tentu kita sudah meyakini benar betapa tingginya amalan zikir sir ini,
amalan para wali, amalan para pembawa islam ke Indonesia dan menyebarkan Islam
keseluruh Nusantara yang kini mulai disamarkan oleh musuh-musuh Islam baik dari
dalam maupun dari luar.
Marilah kita berdoa semoga kita mendapat petunjuk dan
menemukan Guru yang bisa membimbing kita secara lahir dan batin menuju Ridha
Allah SWT.
Semoga bermanfaat, Barokallahu
Fik.
0 comments:
Posting Komentar