Seperti yang sudah diketahui berdasarkan ilmu
pengetahuan yang ada dan yang dipelajari, ikan adalah hewan yang hidup di air.
Air adalah kehidupan bagi ikan. Tanpa air ikan akan mati dan punah. Namun,
ternyata ada fakta mengejutkan bahwa ditemukan ikan yang bisa hidup di darat,
bahkan dalam kurun waktu yang lama mencapai hitungan tahun. Ikan hidup tanpa
air.
Sulit rasanya berpikir dengan logika bagaimana ikan
bisa hidup tanpa air. Karena pada dasarnya, habitat ikan adalah air. Ikan
Lungfish (Protopterus Sp), adalah ikan yang diakui bisa hidup berhibernasi di
darat, hidup tanpa air. Lalu, inikah sosok ikan itu.? Inikah ikan yang
diceritakan dalam surah Al-Kahfi ayat 65-82..?.
Bagaimana kisah ikan Lungfish itu..? berikut kisahnya yang disampaikan netizen Luqman Hakim di Facebook :
"Maka apabila mereka berdua sampai ke
tempat pertemuan dua laut itu, lupalah mereka akan hal ikan mereka, lalu ikan
itu menggelongsor menempuh jalannya di laut, yang merupakan lorong di bawah tanah".
(61)
(Lihat ikan itu telah mengering, dan kena
semula air, dan hidup, dan lihat ikan itu menggelungsur bawah tanah, dan
menggelungsur meninggalkan bekas jalannya).
Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Kaab,
menceritakan, beliau mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya pada
suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, Siapakah
orang yang paling berilmu..?"
Nabi Musa menjawab, “Aku”. Lalu Allah SWT
menegur Nabi Musa dengan firmanNya, “Sesungguhnya di sisiKu ada seorang hamba
yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu”.
Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku,
dimanakah aku dapat menemuinya..?”.
Allah pun berfirman, “Bawalah bersama-sama
kamu seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di
situlah kamu akan bertemu dengan hambaKu itu.”
Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan
keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang saleh itu. Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali
mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Musa kemudian menunaikan perintah
Allah itu dengan membawa ikan di dalam wadah dan berangkat bersama-sama
pembantunya yang juga merupakan murid dan pembantunya, Yusya bin Nun.
Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu
tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT membuatkan
aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke laut.
Yusya terpegun memperhatikan kebesaran Allah
menghidupkan semula ikan yang telah mati itu.
Selepas menyaksikan peristiwa yang sungguh
menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya tertidur dan ketika terjaga, beliau lupa
untuk menceritakannya kepada Musa.
Mereka kemudian meneruskan lagi perjalanan
siang dan malamnya dan pada keesokan paginya, Nabi Musa berkata kepada Yusya
"Bawalah ke mari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena
perjalanan kita ini." (QS. Al-Kahfi : 62).
Ibnu Abbas berkata, “Nabi Musa sebenarnya
tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang diperintahkan oleh
Allah supaya menemui hambaNya yang lebih berilmu itu.”
Yusya berkata kepada Nabi Musa, “Tahukah guru
bahwa ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa
(menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat aku lupa untuk
menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam laut itu
dengan cara yang amat aneh.” (QS. Al-Kahfi : 63)
Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka
sebenarnya sudah menemukan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang
dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke
tempat tersebut yaitu di batu yang menjadi tempat persinggahan mereka
sebelumnya, tempat bertemunya dua buah lautan.Musa berkata, “Itulah tempat yang
kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (QS.
Al-Kahfi : 64).
Setibanya mereka di tempat yang dituju,
mereka melihat seorang hamba Allah yang berjubah putih bersih. Nabi Musa pun
mengucapkan salam kepadanya.
Nabi Khidir menjawab salamnya dan bertanya, “Dari
mana datangnya kesejahteraan di bumi yang tidak mempunyai kesejahteraan..?
Siapakah kamu" Jawab Musa, “Aku adalah Musa”.
Khidir bertanya lagi, “Musa dari Bani Israil..?”
Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku datang menemui tuan supaya tuan dapat mengajarkan
sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada tuan.”
Khidir menegaskan, “Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersama-samaku". (QS. Al-Kahfi : 67).
Wahai Musa, “sesungguhnya ilmu yang kumiliki
ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku
tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga memiliki ilmu yang
diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.”
Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan
mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentang tuan
dalam sesuatu urusan pun.” (QS. Al-Kahfi : 69).
Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika
kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun
sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS. Al-Kahfi : 70).
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu
dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan
cukup jauh.
Kisah Musa dan Khidir ini dituturkan dalam Al-Qur’an
dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82.
0 comments:
Posting Komentar