Perisai Mukmin Sejati Perisai Mukmin Sejati

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

08 Maret 2026

Al-Fatihah Dan Fadhilahnya

AL-FATIHAH UNTUK BERAGAM KEBUTUHAN HIDUP

Al-Fatihah Dan Fadhilahnya

Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam SHOLAT. SHOLAT dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini. Dalam hadits dinyatakan bahwa sholat yang tidak disertai al-Fatihah adalah sholat yang “tidak sempurna”. Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:“Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”

Dalam pelaksanaan sholat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan doa Iftitah dan dilanjutkan dengan “AMIN” dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur’an (pada rakaa’at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam sholat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur’an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga selesai membacanya. Selain itu, kadang bacaan Nabi Muhammad pada ayat Maliki yaumiddin dengan ma pendek dibaca Māliki yaumiddīn dengan ma panjang.

Dalam sholat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata “Amin”. “Amin” dalam sholat Jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan “Amin” diharuskan dengan suara keras dan panjang. Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus mengucapkan “amin” karena malaikat juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “amin” diucapkan apabila imam mengucapkannya.

Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam sholat ada yang membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai sholat yang sedang dijalankan dan urutan rakaat dalam sholat. Sholat yang melirihkan seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal hingga akhir sholat, disebut Sholat Sir (membaca tanpa suara). Sholat Sir contohnya adalah Sholat Zuhur dan Sholat Ashar dimana seluruh bacaan sholat dalam sholat itu dilirihkan.

Selain sholat Sir, terdapat pula sholat Jahr, yaitu sholat yang membaca dengan suara keras. Sholat Jahr contohnya adalah sholat Subuh, sholat Maghrib, dan sholat Isya’. Dalam sholat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imam sholat.

Sedangkan pada saat itu, makmum tidak diperbolehkan mengikuti bacaan Imam karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan. Makmum diperbolehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskan suaranya. Sementara dalam Sholat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkan membaca keras dan diperbolehkan lirih.

Al-Fatihah Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّالقرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّالكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبعالمثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat. (Arab: الفاتح , al-Fātihah, “Pembukaan”) adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.

BERIKUT BEBERAPA CONTOH APLIKASI SURAH AL-FATIHAH UNTUK BERBAGAI KEPERLUAN
IKHTIAR MENGHILANGKAN PENYAKIT FISIK DAN METAFISIK BERAT

tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air. Lalu baca doa: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.

Atau boleh pakai bahasa Indonesia: "Ya Allah, hilangkan daripada orang ini keburukan dan kekejian yang aku dapati dengan doa Nabi-Mu yang jujur (al- Amin) dan tetap disisi-Mu”.

dan berikan minum pada orang yang SAKIT, maka ia akan SEMBUH dengan izin Allah SWT. Bila penyakit fisik dan metafisik yang tergolong ringan cukup baca Surah Al-Fatihah sebanyak 40 kali dan tiupkan ke piring berisi air dan air itu diusap-usapkan pada kedua belah tangan, kedua belah kaki, muka, kepala dan seluruh badan, lalu diminum, Insya Allah menjadi sembuh.

HILANGKAN SAKIT GIGI

Untuk dirinya sendiri caranya sbb: sediakan air yang dicampur garam lalu membaca Al-Fatihah dan berdoa sebanyak 7 kali: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.

Selesai berdoa tiupkanlah ke air yang bercampur garam tersebut dan pakai untuk berkumur sekitar 3 menit lalu buang air tersebut. Insya allah sakit akan segera hilang.

HILANGKAN SIFAT PELUPA

Ikhtiar menghilangkan sifat pelupa Tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air dan berikan minum pada orang yang pelupa, maka ia akan hilang sifat pelupanya dengan izin Allah SWT.

SEMUA HAJAT AKAN TERKABUL

Membaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali berturut-turut MENJELANG SHOLAT SUBUH kemudian memohon kepada Allah dengan doa sebagai berikut: INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAIAN AYYAQULA LAHU KUN (SAMPAIKAN HAJAT ANDA DENGAN BAHASA YANG ANDA MENGERTI) FAYAKUN. Insya Allah semua hajat anda akan dipenuhi oleh Allah SWT.

Pembuka Rezeki, Pangkat Derajat, Mudahkan Urusannya, Hilangkan Kesusahan, Barokah Dan Kemuliaan, Berwibawa, Berpangkat Luhur, Berpenghidupan Baik, Anak-Anak Terlindung Dari Kemudharatan Dan Kerusakan Serta Dianugerahkan Kebahagiaan. Baca Al-Fatihah sebanyak 20 kali setiap selesai sembahyang fardhu lima waktu.

DEMIKIAN SEDIKIT YANG BISA DISAMPAIKAN, DAN MASIH BANYAK LAGI SAMUDRA AL FATIHAH YANG BISA DISELAMI SEHINGGA KITA BISA MENDAPATKAN MANFAAT SECARA NYATA DAN MENCINTAI AL FATIHAH INI DENGAN SEPENUH HATI. TERIMA KASIH.

Doa Ketika Sakit Mata Agar Cepat Sembuh

Doa Ketika Sakit Mata Agar Cepat Sembuh
Pada kesempatan kali ini kami akan berbagi bacaan doa ketika sedang sakit mata. Mata merupakan indra penglihatan yang di anugerahkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. dengan kedua mata inilah kita bisa melihat keindahan ciptaan Allah SWT, dunia serta isinya. Dengan kedua mata pula kita bisa membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk.

Oleh karena kita harus bersyukur atas nikmatnya sehingga kita masih bisa melihat keindahan dunia dan isinya dengan kedua mata yang sehat dan normal. Karena banyak saudara-saudara kita diluar sana yang tidak bisa melihat keindahan dunia ciptaan Allah SWT.

Manusia diberikan sepasang mata oleh Allah SWT pada tempat yang aman dan melengkapinya dengan berbagai macam perlindungan. Pada bagian depan mata, terlindungi oleh kelopak yang memiliki reflek menutup yang sangat cepat sehingga sepersekian detik saja kelopak mata sudah bisa menutupi mata ketika ada sesuatu benda kecil yang akan masuk.

Contohnya seperti debu, tepung, pasir. mata juga dilengkapi dengan bulu mata yang menjadikan mata aman terlindung dari partikel-partikel padat atau pun cair.

Pada sudut bagian samping atas dari rongga mata terdapat kelenjar yang menghasilkan air mata, yaitu kelenjar lakrimaris yang senantiasa memproduksi air mata untuk membasahi permukaan mata dan mencuci mata dari debu-debu serta partikel kotoran yang masuk.

Air mata sangat banyak manfaatnya, selain membunuh kuman-kuman yang masuk, air mata juga mengatur tekanan dalam bola mata dan memberikan nutrisi kepada bagian mata paling luar, yaitu kornea.

Saat mata kita sakit tentunya penglihatan kita menjadi terganggu akibatnya kegiatan dan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. Yang harus kita lakukan saat sakit mata tentu saja dengan berusaha mengobatinya, jika sakit mata yang kita derita semakin parah alangkah baiknya segera pergi ke dokter untuk mengetahui gejala dan penyebab sakit tersebut.

Selain berusaha mengobatinya, kita juga mengiringinya dengan doa, agar usaha yang kita lakukan dilancarkan dan penyakit yang mengganggu penglihatan mata segera diangkat oleh Allah SWT, sehingga kita bisa melihat dengan normal kembali.

Doa Ketika Sakit Mata Agar Cepat Sembuh
Berikut adalah doa yang diamalkan ketika sakit mata lengkap beserta latin dan terjemahannya:
Doa Ketika Sakit Mata Agar Cepat Sembuh
Demikianlah mengenai bacaan doa ketika sakit mata beserta latin dan terjemahannya. Dengan berusaha mengobati dan diiringi dengan doa, semoga sakit mata yang diderita segera diangkat oleh Allah SWT, sehingga kita bisa melihat dengan normal kembali dan dapat menjalankan aktivitas, kegiatan dan pekerjaan sehari-hari seperti biasa.

10 Amalan Untuk Segala Kesusahan Dan Kesempitan Hidup

10 Amalan Untuk Segala Kesusahan Dan Kesempitan Hidup
Satu :
[بسم الله ما شاء الله ، لايسوق الخير إلا الله ،
بسم الله ما شاء الله ، لايصرف السوء إلا الله ،
بسم الله ما شاء الله ، ما كان من نعمة فمن الله ،
بسم الله ما شاء الله ، لا حول ولا قوة إلا بالله] ٣

Bismillahi maa syaa Allooh, laa yasuuqul khoiro illallooh.
Bismillahi maa syaa Allooh, laa yashrifus suu a illallooh.
Bismillahi maa syaa Allooh, maa kaana min ni'matin fa minallooh.
Bismillahi maa syaa Allooh, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.
(3 Kali).
=====================================
Kedua :
( يالطيفا بخلقه ، ياعليما بخلقه ، ياخبيرا بخلقه ، ألطف بنا ، يالطيف ، ياعليم ، ياخبير) ١١x
Yaa lathiifan bi kholqih, Yaa 'aliiman bi kholqih, Yaa Khobiiron bi kholqih, ulthuf bi naa.. Yaa Lathiif, Yaa 'Aliim, Yaa Khobiir (11 kali)
=====================================
Ketiga :
.( الله لطيف بعباده يرزق من يشاء وهو القوي العزيز) 
Alloohu lathiifun bi'ibaadihii yarzuqu may-yasyaa u wa huwal qowiyyul Aziiz (3 kali).
=====================================
Keempat :
( الا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير )
Alaa ya'lamu man kholaq, wa huwal lathiiful khobiir (3 kali).
=====================================

Kelima :
(يا صاحب اللطف الخفي برحمتك أستغيث وأكتفي ) 
Yaa shoohibal luthfil khofiyy, bi rohmatika astaghiitsu wa aktafii (11 kali)
=====================================

Keenam :
( يالطيف منذ الأزل ألطف بنا فيما نزل ) 
Yaa Lathiifu mundzul azalli, ulthuf bi naa fii maa nazal (4 kali)
=====================================

Ketujuh :
( ياحفيظ ، يالطيف ، ياكافي ، يامغيث) 
Yaa Hafiidz, Yaa Lathiif, Yaa Kaafii, Yaa Mughiits (40 kali)
=====================================
Kedelapan, membaca sholawat Nabi dengan shighot sebagaimana berikut ini:
(اللهم صل على سيدنا محمد وآله ، صلاة تفتح لي بها أبواب الخير والتيسير ، وتغلق بها عني أبواب الشر والعسير ، بفضلك ورحمتك ، ياقادر ياقدير ) ٣x
Allohumma sholli alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihii, sholaatan taftahu lii bi haa abwaabal khoiri wat taysiir, wa taghliqu bi haa 'annii abwaabasy syarri wal 'asiir, bi fadhlika wa rohmatika, Yaa Qoodir Yaa Qodiir (3 kali).
=====================================
Kesembilan :
(ياحي ياقيوم ياذا الجلال والآكرام ، برحمتك أستغيث ، أصلح لي شأني كله ، ولا تكلني لنفسي طرفة عين ) ٣x
Yaa Hayyu Yaa Qoyyumu Yaa Dzal Jalaali wal Ikroom. Bi rohmatika astaghiits. Ashlih lii sya' nii kullahu. Wa laa takilnii li nafsii thorfata 'ain (3 kali)
=====================================
Kesepuluh :
(قصدت الكافي ، رجوت الكافي ، لكل كافي ، كفاني الكافي ، والحمد لله رب العالمين) ٣x
Qoshod tul kaafii, rojawtul kaafii, li kullin kaafii, kafaaniyal kaafii, Walhamdulillahi robbil 'aalamiin (3 kali).
=====================================
Amalan mulai nomor satu hingga nomor sepuluh diamalkan secara berangkai/berurutan sebagai satu kesatuan. Satu kali setiap hari.

Diamalkan setiap hari. Insya Allah segera hilang gundah gulananya. Hilang kesusahannya. Hilang kesempitan hidupnya. Segera menemukan jalan keluar atas segala permasalahan dan kesempitan hidupnya.

Silahkan bagi yang berkenan mengamalkan. Saya ikhlaskan buat sahabat semuanya. Semoga diterima Allah Swt sebagai amal sholih. Aamiin.

Semoga bermanfaat dan barokah.
Alhamdulillahi rabbil aalamin.

Salam silaturahmi dan hormat takdzim.

ALLOHUMMA SHOLLI ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ALAA AALIHII WASHOHBIHII WA UMMATIHII WASALLIM

Semoga Bermanfaat

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS

Barangsiapa membaca sholawat dengan sighat ini, maka seakan-akan dia melaksanakan haji ke Baitulloh dan akan di tulis di buku amalnya pahala haji, dan barang siapa yang menulis sholawat ini dan membawanya maka dia akan di amankan dari segala petaka dan bencana dunia dan di akhirat dia akan bersama (dekat) Nabi Muhammad SAW.

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْعَرَبِيُّ
 الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْقُرَشِيُّ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْمَكِّيُّ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ نَبِيُّ اللَّهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ حَبِيبُ اللَّهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ جَدُّ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ آبَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْمِنْبَرِ وَالْمِعْرَاجِ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barokah Doa Rihul Ahmar/Angin Duduk

 PENYAKIT ANGIN DUDUK

Barokah Doa Rihul Ahmar/Angin Duduk

Barokah Doa Rihul Ahmar/Angin Duduk
Pada suatu ketika dimana Nabi Allah Sulaiman a.s duduk di Singgasana, maka datang 'satu Angin' yang cukup besar, maka bertanya Nabi Allah Sulaiman : "Siapakah engkau. . . ??

Maka dijawab oleh Angin tersebut : "Akulah 'Angin Rihul Ahmar' dan Aku bila memasuki Rongga Anak Adam, maka Lumpuh, keluar Darah dari Rongga Hidung dan apabila aku memasuki Otak Anak Adam, maka menjadi Gilalah Anak Adam. . ."

Maka diperintahkan oleh Nabi Sulaiman a.s, supaya membakar Angin tersebut, maka berkatalah, 'Rihul Ahmar' kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa : "Aku Kekal sampai hari Kiamat tiba, tiada Sesiapa yang dapat membinasakan Aku melainkan Allah SW T."
 
Lalu 'Rihul Ahmar' pun menghilang.

Diriwayatkan bahwa : Cucu Nabi Muhammad SAW, terkena 'Rihul Ahmar' sehingga keluar Darah dari Rongga Hidungnya. 

Maka datang Malaikat Jibril kepada Nabi SAW dan bertanyalah Nabi kepada Jibril. 

Maka menghilang sebentar, lalu Malaikat Jibril kembali mengajari akan 'Doa Rihul Ahmar' kepada Nabi SAW, kemudian dibaca Doa tersebut kepada Cucunya dan dengan sekejap Cucu Rasulullah sembuh dengan serta merta. 

Lalu Nabi SAW bersabda : "Bahwa barangsiapa membaca Do'a Stroke / Do'a Rihul Ahmar walaupun sekali dalam seumur hidupnya, maka akan dijauhkan dari Penyakit ANGIN AHMAR atau STROKE"

Doa agar dijauhkan/terhindar dari 'Angin Ahmar dan Penyakit Kronis', sebagai berikut :

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الرِّيْحِ الْأَحْمَرْ وَالدَّمِ الْأَسْوَدْ وَالدَّاءِ الْأَكْبَرْ
ALLOHUMMA INNII A-UUDZUBIKA MINAR RIIHIL AHMAR, WAD-DAMIL ASWAD, WAD-DAAIL AKBAR

 Artinya :
"Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari Angin Merah dan dari Darah Hitam (stroke) dan dari Penyakit Berat."

'Riihul Ahmar' biasa masuk pada saat seseorang Tidur Bakda Ashar hingga waktu Isya'. Maka hindarilah tidur diwaktu itu Sekantuk / Secapek apapun, silahkan dirasakan sendiri perbedaan tidur tengah hari (siang), Bakda Ashar & malam hari pada saat bangun dari tidur waktu² tsb.
 
Teruskanlah ke Group Keluarga, Sahabat kita yang kita sayang, agar kita semua  terhindar dari 'STROKE'.  Insya Allah. . 

Semoga kita senantiasa dalam Balutan Sehat Wal A'fiat. . . !!!

Aamiin Yaa Rabbal'alamiin.


01 Maret 2026

Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha yang Digambarkan dalam Al-Qur'an

Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha yang Digambarkan dalam Al-Qur'an

Kisah Cinta Nabi Yusuf dan Zulaikha ini, dijelaskan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al Qur'an, yakni Surat Yusuf . Kisah cintanya dengan Zulaikha, perempuan terpandang di Kerajaan Mesir juga diceritakan dalam Kitab Badai'uz Zuhur karya Syekh Muhammad bin Ahmad bin Iyas.

Awal kisah dimulai saat mengejar cinta Yusuf, lantas Allah jauhkan Yusuf darinya. Ketika Zulaikha mengejar cintanya Allah, maka Allah datangkan Yusuf padanya.

Ada sebuah pelajaran yang indah yang kita petik dari kisah cinta Zulaikha kepada Nabiyullah nan rupawan Yusuf 'alaihissalam bin Ya'kub. Yusuf merupakan Nabi Allah yang berasal dari Bani Israil dan pernah diberi kedudukan mulia di Kerajaan Mesir.

Ketika Nabi Yusuf keluar dari penjara, beliau diangkat sebagai perdana menteri di Negeri Mesir. Kehidupannya berbalik 180%. Awalnya menjadi budak sekarang menjadi orang terhormat.

Dan Zulaikha yang awalnya adalah wanita terpandang, sekarang menjadi wanita tua yang buta lagi miskin, setelah kematian suaminya, yaitu Qithfir. Zulaikha menjadi buta karena seringnya menangis memikirkan Nabi Yusuf.

Imam as-Sadi mengatakan, tatkala terjadi paceklik di Negeri Mesir, Zulaikha datang kepada Nabi Yusuf bersama pelayannya yang menuntunnya. Sebab, Zulaikha telah buta tuli, fakir, dan kecantikannya telah memudar.

Ketika Zulaikha menghadap Nabi Yusuf, Nabi Yusuf pun mengenalinya dan berkata: "Engkau Zulaikha..?"

Lalu Zulaikha menjawab, "Iya."

Nabi Yusuf bertanya lagi: "Di mana keindahan dan kecantikanmu..?"

Zulaikha menjawab: "Semua telah hilang dan tidak tersisa sedikitpun."

Nabi Yusuf bertanya lagi: "Sekarang bagaimana perasaan cintamu kepadaku..?"

Zulaikha menjawab: "Tetap tidak berubah. Tamparan kebutaan dan kefakiran tidak terasa sakit olehku karena saking besarnya kerinduanku kepadamu."

Maka, Nabi Yusuf berkata kepada para pembantunya, "Bawalah pergi nenek ini ke rumahnya!"

Para pembantunya pun pergi membawa Zulaikha dan Nabi Yusuf berkata kepadanya: "Apa yang kau inginkan dariku..?"

Tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan berkata kepada Nabi Yusuf: "Hai Yusuf, sesungguhnya Allah telah menyuruhmu untuk menikahi Zulaikha."

Mendengar perintah itu, Nabi Yusuf berkata kepada Malaikat Jibril: "Bagaimana aku menikah dengannya, sementara dia seorang nenek-nenek yang buta..?"

Lalu Malaikat Jibril berkata: "Sesungguhnya Allah akan mengembalikan penglihatannya dan kecantikannya."

Maka, pada saat itu Nabi Yusuf menikahinya dan Zulaikha masuk Islam di hadapannya.

Allah mengembalikan lagi kecantikan dan penglihatan Zulaikha, dan ternyata dia lebih cantik daripada sebelumnya dan Nabi Yusuf mendapatkannya masih perawan.

Dari pernikahannya dengan Zulaikha, Nabi Yusuf dikaruniai dua anak, yaitu Afratsim dan Maisy. Demikian sekelumit kisah cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf yang sangat mengagumkan. Sungguh Allah Maha Pengasih dan memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya.

17 Januari 2026

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS, Pahalanya Setara Ibadah Haji

SHOLAWAT SAYYID JALALULLAH AL-BUKHORI QS

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS, Pahalanya Setara Ibadah Haji

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Raja Semesta Alam, yang menggenggam setiap urusan hidup hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa rahmat dan cahaya hidayah bagi seluruh umat manusia.

Sahabat Perisai Mukmin yang dirahmati Allah, Diantara bentuk cinta kaum muslimin kepada Rasulullah adalah memperbanyak bershalawat. Para ulama dan kekasih Allah telah memberikan banyak bacaan shalawat sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagai wasilah memohon pertolongan, keberkahan, dan kemuliaan hidup.

Diantara shalawat yang dikenal dan diamalkan oleh sebagian ulama adalah Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS. Shalawat ini disampaikan memiliki keutamaan yang sangat agung. Disebutkan bahwa siapa saja yang membaca shalawat ini, seakan-akan ia telah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah dan dicatat dalam amalnya pahala seperti pahala haji.

Dan barang siapa yang menulis shalawat ini, lalu membawanya, maka dengan izin Allah ia akan dijaga dari berbagai mara bahaya, diselamatkan dari petaka dunia, dan di akhirat kelak ia akan berada dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun sahabatku, Sebagaimana shalawat dan amalan lainnya, keberkahan bukan semata-mata pada lafaz, namun pada keyakinan, keikhlasan, akhlak, dan penghambaan kita kepada Allah. Shalawat adalah bukti cinta. Shalawat adalah penghormatan kepada Nabi tercinta. Dan shalawat adalah doa yang membuka pintu rahmat Allah bagi siapa saja yang membacanya dengan tulus.

Karena itu, janganlah kita menjadikan shalawat sebagai jimat atau sekadar alat untuk memperoleh dunia. Tetapi jadikanlah shalawat sebagai ibadah, sebagai cahaya yang membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bagi siapa pun yang sedang dalam kesulitan hidup, yang dilanda ketakutan, kesempitan, atau berbagai ujian dunia perbanyaklah shalawat. Mohonlah kepada Allah dengan rendah hati. Sertai dengan tawakal, ibadah yang kuat, amal saleh, dan akhlak yang mulia. InsyaAllah, rahmat Allah akan menyertai kita.

Semoga dengan shalawat ini Allah memberikan ketenangan, melapangkan jalan hidup kita, menjaga keluarga kita dari mara bahaya, memberikan kemuliaan di dunia, dan kedekatan dengan Rasulullah di akhirat kelak. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Berikut lafadz shalawatnya:

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْعَرَبِيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Arabiyyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, Nabi yang berasal dari bangsa Arab."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْقُرَشِيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Qurashiyyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, yang berasal dari suku Quraisy."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْمَكِّيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Makkiiyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, yang tinggal di kota Makkah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ نَبِيُّ اللَّهِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Nabiyyullaah

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, Nabi Allah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ حَبِيبُ اللَّهِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Ḥabiibullaah

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, kekasih Allah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ جَدُّ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Jaddal Ḥasan wal Ḥusain

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, kakek Hasan dan Husain."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ آبَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Abaa Fathimah az-Zahraa

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, ayah dari Fathimah Az-Zahra."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْمِنْبَرِ وَالْمِعْرَاجِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa shohibal minbari wal mi‘raj, Muḥammadun Rasuulullaah shallallaahu alaihi wa sallam

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai pemilik mimbar dan peristiwa Mi’raj, Muhammad adalah Rasulullah, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya."


Hizib Wadah Batin Penyeimbang Spiritual

Hizib Wadah Batin Penyeimbang Spiritual

Wadah batin dalam keilmuan ghaib merujuk pada kesiapan mental, spiritual, dan emosional seseorang untuk menampung energi atau kekuatan spiritual yang tinggi. Pentingnya wadah batin yang kuat dan stabil adalah untuk memastikan bahwa amalan atau energi ilmu yang dipelajari tidak merusak fisik maupun psikologis pelaku.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai peran wadah batin agar tetap stabil dalam keilmuan ghaib:

Mencegah Gangguan Mental dan Gila (Stabilisasi)

Amalan ilmu ghaib seringkali membawa energi yang sangat besar. Tanpa wadah batin yang memadai, energi ini dapat membebani saraf dan pikiran, yang berpotensi menyebabkan stres, depresi, perilaku tidak wajar, hingga gangguan kejiwaan atau "gila" karena tidak kuat menahan beban energi tersebut.

Sebagai Penampung Energi (Wadah Ilahi)

Wadah batin berfungsi seperti cawan yang menampung energi spiritual agar tidak berhamburan atau liar. Wadah yang baik memungkinkan seseorang menyerap energi tersebut tanpa kewalahan, sehingga pengalaman spiritual dapat dibumikan ke dalam tubuh fisik dengan aman.

Keamanan dari Efek Samping (Tolak Bala)

Penyucian batin (seperti keikhlasan dan kejujuran) berfungsi memurnikan energi, yang bertindak sebagai "pelindung" atau tolak bala, sehingga ilmu yang diamalkan tidak balik menyerang pelakunya.

Pembersihan Diri/Wadah

Sebelum mempelajari ilmu tingkat tinggi, wadah batin harus "dibersihkan" terlebih dahulu. Ini melibatkan peningkatan iman, akhlak mulia, dan pengendalian ego, agar energi negatif tidak masuk atau bercampur dengan ilmu yang dipelajari.

Kematangan Spiritual

Wadah batin yang stabil menjamin seseorang memiliki kebijaksanaan, kesabaran, dan ketenangan. Ini mencegah pelaku ilmu ghaib menjadi sombong atau salah dalam menggunakan ilmu, yang bisa berakibat fatal.

Singkatnya, wadah batin adalah fondasi. Tanpa wadah yang stabil, mempelajari ilmu ghaib ibarat mengisi air ke dalam gelas yang retak atau terlalu kecil; airnya akan tumpah atau gelasnya akan pecah (merusak diri sendiri).

Sebuah keilmuan hikmah yang insya Allah ada kemanfaatannya untuk anda semua dalam mengamalkan segala keilmuan khusus untuk memperbesar wadah bathin kita. Untuk anda orang yang gemar akan ilmu-ilmu ghaib lebih bagus untuk memegang ilmu Wadah Batin ini lebih terlebih dahulu, agar seimbang bathinnya dalam mengarungi ilmu-ilmu kebathinannya.

Saudaraku, selama ini kita sering menjumpai beragam ilmu yang bermacam-macam mulai dari Asma, Hizib dan lain sebagainya, akan tetapi ita belum bisa memastikan apakah ilmu yang anda dapatkan atau di ijazahkan baik dari Blog/buku/kitab-kitab hikmah tersebut “Cocok” untuk wadag kita atau tidak.?.

Suatu ilmu mungkin cocok untuk orang lain, akan tetapi belum tentu cocok untuk kita karena tingkat spiritual antara manusia satu dengan lainNya pasti berbeda, sebagai contoh Si A memiliki wadah ilmu yang hanya bisa menampung kira-kira 1 gelas air, sedangkan si B mungkin memiliki wadah ilmu yang bisa menampung 1 kolam air. Jadi jika ada ilmu yang sekiranya memiliki “muatan” 1 ember tentu dalam hal ini si B lah yang cocok mempelajarinya karena wadahnya mampu menampung muatan ilmu tersebut, sedangkan si A tidak.

Coba anda bayangkan jika muatan air 1 di tuangkan kedalam 1 gelas maka gelas hanya akan terisi sesuai dengan volume yang bisa di tampungnya, lalu kemana sisa muatan lainnya akan di tampung...?, Jika seandainya tetap dipaksakan tentu saja sisa muatan yang ada dalam ember pasti akan berceceran kemana-mana. Dalam hal ini faktor keturunan sangat berpengaruh dalam perihal wadah keilmuan seseorang, bagi mereka yang mempunyai “Trah Ningrat” atau darah biru biasanya mempunyai “Wadah” yang lebih besar dari mereka yang terlahir dari keluarga biasa. Jadi tidak heran jika mereka yang masih memiliki “Trah Leluhur” darah biru akan lebih cepat belajar dan menguasai suatu keilmuan daripada mereka yang terlahir dari orang biasa.

Saudaraku, sebuah perumpamaan mereka yang terlahir dari garis leluhur yang memang berilmu dalam hal ini bisa dari Trah Ningrat, Putra Kyai, ataupun orang biasa yang memiliki “ladang Tanah” yang subur, jadi jika di “Tanami” apapun niscaya cepat tumbuh, sedangkan mereka yang tidak berasal dari Trah Leluhur berilmu di ibaratkan sebagai “Ladang Tandus” yang harus di garap terlebih dahulu. Di cangkul lalu di sirami dan diberi pupuk, “Penggarapan disini” di maknai sebagai laku olah batin seperti Puasa, Wirid dan lain sebagainya.

Jadi, semakin tinggi ilmu bathin yang anda miliki, maka tinggikan serta lebarkan wadah bathinnya agar menjadi seimbang (stabil), dan jauh dari sifat-sifat yang tidak di inginkan seperti pusing atau bahkan menjadi Stress, Na'udzubillah.

11 Januari 2026

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi Cikini (Ayahanda Habib Ali Kwitang, Jakarta)

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi terlahir di Semarang dan wafat di Cikini, Jakarta pada tahun 1296 H/1879 M. Beliau adalah ayah dari al-Habib Ali Kwitang.

"Habib Cikini" (Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi) lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi adalah: al-Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.

Sebuah sumber tulisan menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Itu artinya, Habib Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau generasi ketiga yang menetap disini. Tulisan lainnya menyebutkan bahwa Habib Muhammad, kakeknya, ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al-Qadri.

Dalam catatan pada kitab rujukan ‘Nasab Alawiyyin’ susunan Habib Ali bin Ja'far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, sepupu dua kali Habib Ali Kwitang) bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja'far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Cikini) adalah seorang kelahiran Hadhramut, tepatnya di Tarbeh. Berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah ‘Habib Cikini’ adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.

Informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak kurang bisa dibuktikan, mengingat bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh dan tidak didapat keterangan bahwa yang bersangkutan sempat menginjakkan kaki di Nusantara.

Habib Cikini "Putra Semarang"

Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad Al Habsyi, (ayah Habib Cikini) yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa ia menikah pertama kali di Semarang.

Sebuah naskah juga menyebutkan, Ibu "Habib Cikini" adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, "Habib Cikini" sendiri diketahui sebagai putra kelahiran Semarang.. Ini berkaitan dengan catatan lainnya yang menyebutkan, "Ia wafat di Laut Kayong (daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M".

Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran ‘Habib Cikini’. Hal ini juga selaras dengan keterangan bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan ‘lanun’, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut.

Bersama Habib Syech dan Raden Saleh.

Diantara sejarah kehidupan "Habib Cikini" yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa ia sahabat karib Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Botoputih - Surabaya). Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya' Shahab dalam bukunya "Syams azh Zhahirah". Begitu pula menurut penulis Belanda bernama L.W.C Van Den Berg dalam buku ‘Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes’ yang menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan di antara Habib Syech dengan Raden Saleh terjalin erat.

Semasa hidupnya, Habib Cikini menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden Saleh. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, ia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara.

Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, Nyai Salmah, seorang wanita asli Betawi yang tinggal di Mester Cornelis (sekarang Jatinegara), suatu malam bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Nyai Salmah menggali sumur,tiba-tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah ke sekelilingnya.

Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Habib Abdurrahman, dan beliau segera menemui Habib Syech untuk menanyakan perihal mimpi tersebut. Habib Syech menjelaskan bahwa mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih dan ilmunya melimpah ruah penuh keberkahannya.

Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung dan pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1870 M, terlahirlah seorang putra yang kemudian ia beri nama ‘Ali’.

Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi yang terlahir dari pasangan shalih dan shalihah itu, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan ulama yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.

Di samping Habib Ali, "Habib Cikini" juga mempunyai putra lainnya yang bernama, Habib Abdul Qadir. Lewat putranya inilah "Habib Cikini" menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui pernikahan Habib Abdul Qadir dengan salah seorang putri Mufti Betawi ini. Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang anak perempuan tanpa anak lelaki sama sekali.

Kalau anak lelaki pertama Habib Ali adalah Habib Abdurrahman, dan yang bungsu bernama Habib Muhammad. Sementara diantara dua anak lelaki itu, lahirlah lima anaknya yang perempuan yang masing-masing bernama:

Syarifah Rogayah, Syarifah Khodijah, Syarifah Mahani, Syarifah Zahra dan Syarifah Sa’diyah yang juga mengikuti jejak ayahnya untuk menggelar majlis ta’lim ‘Assa’diyah’ untuk kaum perempuan di lokasi yang sama di Kwitang. Setelah Syarifah Sa’diyah wafat saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di di tanah suci, pengelolaan majlis ta’limnya dilanjutkan oleh Syarifah Salma binti Abdurrahman Al Habsyi, cucu perempuan Habib Ali Kwitang, anak dari Habib Abdurrahman.

Dari perkawinan keduanya ia dikaruniai dua putra yang bernama Habib Ali (Habib Kwitang) serta Habib Abdul qadir. Ketika Habib Cikini meninggal, jenazahnya pun dimakamkan di lokasi Cikini bersama istri pertamanya dan anak dari Habib Kwitang yang meninggal ketika belum lama dilahirkan.

Oleh sebab itu, di makamnya yang berada di dalam masjid dapat dijumpai tiga kuburan. Dua yang berukuran normal dan satu yang berukuran kecil. Tapi selain dekat dengan Raden Saleh, Habib Cikini juga turut andil dalam penyebaran Islam di Batavia.

"Beliau ini dulu zamannya kan wajib syiar ya. Syiar daripada panglima perang beliau ini untuk mensyiarkan agama Islam. Cuma sebelum beliau syiar, dikasih tempat dari Raden Saleh. Ini dulu tempat kan dari Raden Saleh. Beliau sebelum membikin pondok atau apa ini wafat tahun 1879 sehingga tidak sempat untuk bikin majelis atau apa," lanjut Habib Muhdhor.

Namun walau tidak sampai membuat majelis seperti anaknya Habib Kwitang, Habib Cikini telah melakukan syiar di Batavia hingga Surabaya. Tidak heran, beliau memiliki banyak sahabat sesama alim ulama, murid dan anak yang meneruskan jejaknya.

Tahun 1296 H bertepatan dengan 1879 M, Habib Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, belum mencapai usia 11 tahun. Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat kepada istrinya, agar Habib Ali disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut betul-betul dilaksanakan isterinya dengan sepenuh hati dan keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.

Karena ‘Habib Cikini’ tidak meninggalkan warisan yang memadai,maka demi mewujudkan pesan almarhum suaminya, Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, kemudian menjual gelang yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut.

Sementara itu, Habib Syech Bafaqih sahabat karib Habib Abdurrahman,wafat pada 1883,dua tahun setelahnya.Beliau dimakamkan di Botoputih, Surabaya, yang hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai daerah.

Selain dengan Habib Syech, "Habib Cikini" juga bersahabat akrab dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur yang nama lengkapnya adalah Sayyid Syarief Boestomi Raden Saleh bin Yahya. Sebetulnya kedekatannya dengan pelukis tersebut bukanlah hal yang aneh. Disamping sama-sama kelahiran Semarang, sebelum hijrah ke Batavia, Habib Cikini sempat menikah dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, adik Raden Saleh.

Raden Saleh

Pelukis yang lama menetap di Eropah ini, dilahirkan pada 23 April 1811 dan wafat pada tahun 1880, setahun setelah wafatnya "Habib Cikini". Beliau dimakamkan di daerah Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat.

Mengawal Aqidah Ummat

Sebagaimana disebutkan, Habib Cikini menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, yang adik perempuan Raden Saleh,beliau tak beroleh keturunan sama sekali.

Di tanah pekarangan rumah Raden Saleh yang berada didaerah Cikini inilah, Jasad mulia Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya didirikan bangunan sederhana.

Peziarah yang datang ke makamnya tidak seramai seperti di makam Habib Ali di Masjid Kwitang yang putranya sendiri, tapi yang datang menziarahi makamnya hampir tidak pernah putus dari waktu ke waktu. Diantara murid-murid beliau adalah : Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung – Kalibata – Jakarta), dan masih banyak lagi yg lainnya.

Makam Cikini
Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Makam beliau terbilang unik, karena masjid atau makamnya berada di tengah-tengah proyek pengembangan apartemen di daerah Cikini Jl. Raden Saleh Jakarta.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Berikut adalah hasil wawancara Muh Subki Balya dengan Bapak Ansori, orang yang diserahi ahli bait untuk merawat masjid, pada bulan Ramadhan tahun 1434 H:

“Bahwa berdirinya masjid ini panjang dan katanya perebutan lahan ini dulu sampai berdarah, tetapi tiada stasiun TV manapun yang meliputnya. Ada seorang kaya yang berniat menggusurnya. Sengketa tidak boleh digusur dan mau menggusur berlanjut. Sampai akhirnya yang berkuasa duit berhasil mau memindahkan makam Habib Abdurahman. Alat berat bego (alat mobil berat) dikerahkan sungguh di luar rasio akal sehat. Mobil bego itu patah.

Kemudian diambilkan mobil bego yang lebih baru dan lebih sehat. Benar-benar karamah Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi telah nampak. Mobil bego yang lebih layak dan sehat itu patah juga, bahkan patahannya hampir menyambar operator alat bego itu.

Ketika peristiwa tersebut mereda, terjadi keributan yang keduakalinya. Orang berduit itu tetap hendak mengeruk lahan tanah yang di situ terdapat makam Habib Abdurrahman. Ternyata keluarlah sumber air dari kerukan tersebut. Dari peristiwa itu dibangunlah sebuah masjid oleh keluarga di samping makam Habib Abdurrahman al-Habsyi.

Kisah unik irasional terjadi kembali. Saat pembangunan batas antara masjid dengan proyek, tepatnya di tikungan jalan tidak kunjung mengering. Air terus menggenang sehingga tidak dapat melakukan pengecoran pondasi, kurang lebih hingga 3 bulan lamanya. Saat itulah dari pihak kontraktor baru mau meminta izin sekedar berdoa di makam. Setelah itu air pun surut dan pembangunan pagar bisa dilaksanakan.”

Kejadian unik lain diceritakan pula oleh Bapak Ansori sebagai berikut:

“Ada seorang petani dengan mengendarai sepeda motor hendak melihat tanaman cabainya yang dikira sudah cukup umurnya untuk dipanen. Namun setelah meninjau berulangkali tanaman cabai-nya itu tidak kunjung dapat dipanen.

Datanglah ia ziarah ke makam Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi. Kemudian ia meminta kaleng yang bisa digunakan untuk mengambil air di makam Habib Abdurrahman. Sepulangnya di rumah, air seberat kaleng cat itu dioplos (dicampurkan) dengan air yang digunakan untuk menyirami tanaman cabai. Alhamdulillah setelah itu tanaman cabainya bisa panen. Dari kejadian itu lantas ia ziarah kembali ke makam Habib Abdurahman al-Habsyi dengan membawa tumpeng sekedar berbagi rizki untuk selamatan atau tasyakuran.”

Wallahu'a'lam

Sumber: Pustaka Pejaten

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur

DETIK-DETIK TERAKHIR KH. ABDULLAH BIN NUH MEMPERTAHANKAN BENTENG BOGOR

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Bogor

Di balik jubah ulama dan sorban yang bersahaja, bersemayam jiwa singa yang menggetarkan nyali serdadu NICA. Inilah kisah tentang KH.Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar, sastrawan dunia, sekaligus panglima tempur yang darahnya menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tanah Pasundan.

SANG ULAMA YANG MENGGANTI PENA DENGAN SENJATA

Pada tahun 1945-1946, Bogor bukan lagi kota hujan yang tenang, melainkan kuali api pertempuran. KH Abdullah bin Nuh, yang dikenal sebagai intelektual Islam lulusan Al-Azhar, Kairo, tidak memilih diam di dalam pesantren saat sekutu dan Belanda kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Bogor. Sebagai komandan Batalyon II Resimen III TKR dengan pangkat Mayor, ia menjadi target utama intelijen Belanda karena pengaruhnya yang mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk berjihad di bawah panji kemerdekaan.

PERTEMPURAN DI GARIS DEPAN: NARASI KEBERANIAN

Kisah heroisme beliau mencapai puncaknya dalam berbagai penyergapan di jalur strategis antara Bogor dan Jakarta. KH Abdullah bin Nuh tidak pernah memerintah dari belakang meja. Dengan senjata di tangan dan zikir di lisan, ia memimpin pasukan menyerbu konvoi-konvoi lapis baja Belanda.

Meskipun dalam catatan sejarah besar ia wafat pada usia lanjut (tahun 1987), narasi "gugurnya" secara spiritual dan fisik di medan juang terekam dalam kegigihannya saat menghadapi agresi militer. Namun, banyak sumber sejarah lokal menyoroti bagaimana ia "hampir gugur" berkali-kali dalam kepungan mortir musuh. Salah satu fragmen paling heroik adalah saat pasukannya terdesak di wilayah perbukitan Bogor, di mana ia berdiri paling depan melindungi mundur-nya pasukan, sebuah tindakan yang oleh pengikutnya dianggap sebagai kesiapan untuk syahid.

KH. Abdullah bin Nuh memang tidak wafat di ujung bayonet pada masa revolusi—ia dianugerahi usia panjang untuk membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Pesantren Al-Ghazaly. Namun, jiwa perjuangannya "gugur" dalam arti melepaskan seluruh kepentingan duniawi demi kemerdekaan.

Bagi para pejuang di Bogor, sosok beliau adalah bukti nyata bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan nasionalisme. Ia adalah melodi jihad yang tidak pernah padam, sosok yang membuat Jenderal Spoor (Panglima Belanda) gelisah setiap kali mendengar nama Batalyon pimpinan KH Abdullah bin Nuh bergerak.

"MERDEKA ATAU SYAHID"

Narasi perjuangannya selalu ditutup dengan pesan yang ia sampaikan kepada para santrinya: "Tinta ulama mungkin lebih suci dari darah syuhada, tapi saat tanah air dinjak, maka tinta itu harus berubah menjadi api." Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani, seorang pejuang yang tidak hanya menang dalam perang fisik, tapi juga memenangkan peperangan melawan penjajahan pemikiran.

Sumber Referensi:
  • Profil KH Abdullah bin Nuh - Jaringan Santri
  • Sejarah Perjuangan Ulama Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor
  • KH Abdullah bin Nuh: Singa Padang Pasir dari Bogor.
CATATAN SEJARAH: "KH Abdullah bin Nuh wafat dengan tenang pada tahun 1987 di Bogor, namun dedikasinya di medan perang 1945 menjadikannya sosok yang dianggap "hidup untuk syahid" di setiap pertempuran yang ia pimpin."
Makam KH Abdullah bin Nuh Bogor