Perisai Mukmin Sejati Perisai Mukmin Sejati

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

10 Agustus 2015

Makam Keramat Syekh Tubagus Zakaria Tangerang


makam-keramat-syekh-tubagus-zakaria
Makam Keramat Syekh Tubagus Zakaria Batu Ceper
Bagi anda berwilayah di kota Tangerang, mungkin sudah mengetahui makam keramat ini, di areal pemakaman ini terdapat salah satu makam waliyullah yang sudah ratusan tahun,walau makam keramat ini berada di kawasan kota yang bisa dibilang berada di pelosok pemukiman padat penduduk, keberadaan Makam Syekh Tubagus Zakaria rupanya cukup sangat populer hingga keluar daerah.

"Anda Jangan salah. Yang kebanyakan datang berziarah kemari itu justru orang luar tangerang. Mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, malahan sampai Kalimantan juga banyak sekali yang dating kemari," ungkap juru kunci makam Ahmad Syaihu.

makam-syekh-tubagus-zakaria-batu-ceper-tangerang
Makam Syekh Tubagus Zakaria
Menurut Bpk Ahmad Syaihu, tidak sedikit para peziarah yang datang menginap di dalam makam. "Ada yang semalam, tiga hari, sampai 42 malam disini terus katanya mau minta pencerahan dari Syekh". kata Ahmad.

Menurut Bpk. Ahmad, banyak para peziarah yang akhirnya datang secara rutin karena merasa hidupnya lebih baik setelah berziarah ke makam Syekh TubagusZakaria.

"Ada yang tadinya miskin, tapi setelah berziarah ia jadi punya pendapatan yang lebih baik. Ada juga yang tadinya bukan siapa-siapa, tapi lalu jadi lurah. Jujur, saya juga salah satu yang merasakan manfaat ziarah disini," ungkap bpk.Ahmad.

Bpk. Ahmad mengaku, dirinya ditunjuk menjadi kuncen makam setelah mendapat wahyu dari Syekh Tubagus Zakaria pada tahun 2011 lalu.
"Lagi menonton bola, tahu-tahu saya tak sadarkan diri. Lalu saya lihat Syekh Tubagus Zakaria dan mendengar dia menitahkan saya jadi kuncen dan menggantikan saudara saya," kata Ahmad.

Kala itu, Ahmad menuturkan, kondisinya sedang sangat terpuruk. Namun begitu panggilan tugas menjadi kuncen makam diterimanya, ekonomi rumah tangganya mendadak melonjak naik.

"Dulu perabotan rumah butut, sekarang alhamdullilah sudah bagus semua. Dapat karunia anak enam orang juga saya bersyukur banget," kata Ahmad yang mengakui pendapatannya sehari-hari datang dari tangan-tangan pemurah para peziarah.

Layaknya makam keramat pada umumnya, Makam Syekh Tubagus Zakaria pun tak luput dari kisah-kisah berbau mistis, Hal itu diakui oleh kuncen makam bpk.Ahmad Syaihu. Malahan, menurut bpk.Ahmad, pernah ada suara hardikan dari Syekh Tubagus Zakaria yang ditujukan kepada peziarah yang hatinya tidak bersih dan tidak baik.

"Demi Tuhan itu saya dengar sendiri. Padahal di dalam sedang enggak ada orang. Waktu itu ada tiga laki-laki yang mengaku ustadz ingin minta pencerahan," kata Ahmad.

Saat sedang berbincang dengan ketiga ustadz tersebut, lanjut bpk.Ahmad, mendadak muncul suara menggelegar dari dalam ruangan tempat Syekh Tubagus Zakaria berada.

"Kata-katanya saya masih ingat banget. “Segera tinggalkan tempat ini! Ini bukan tempatnya!”. Begitu. Entah apa maksudnya, yang jelas ketahuan kalau motivasi tiga ustadz ini tidak benar," ungkap bpk. Ahmad.

Ketika sedang menjaga pada malam hari, bpk.Ahmad pun mengaku kerap mendengar suara-suara dari dalam makam, Macam-macam suaranya. Ada yang mirip suara erangan singa, ada yang mirip suara orang nafas berat. Banyak deh. Saya sih udah biasa dengarnya, ungkap bpk.Ahmad lagi.

Seperti diberitakan Syekh Tubagus Zakaria berada di kawasan Batu ceper, kota Tangerang, adalah salah satu yang sering di ziarahi orang-orang yang ingin sukses.

areal-makam-keramat-syekh-tubagus-zakaria
Areal didalam Makam Keramat
Makam ini berdiri di Jalan Sempati RT 04/02 Kelurahan Batu Jaya, Batu ceper kota Tangerang seorang tokoh agama yang di klaim sebagai salah satu pendiri kota Tangerang ini merupakan salah satu tempat favorit peziarah, mulai dari pengusaha, tim sukses orang-orang politik, sampai orang miskin yang mau mengubah nasib, memang banyak banget yang datang ke sini," ujar Ahmad Syaihu.

Saat ini masih banyak orang yang percaya jika mengunjungi makam bisa untuk mendapatkan berkah. Mulai dari minta rezeki hingga mencari kesaktian. Salah satunya Makam Syekh Tubagus Zakaria atau yang disebut dengan nama lain Tumenggung Raden Arya Santika, ulama asal Arab yang Hijrah ke Indonesia guna untuk menyiarkan syariah Islam. Makam ini juga banyak dikunjungi para peziarah.

Kuncen atau juru kunci makam tersebut, Ahmad Syaihu telah mengaku, makam tersebut kini telah menjadi makam keramat karena banyak warga yang sengaja datang sejak malam sampai pagi hari untuk bertapa. "Kalau mau lihat ramainya, datang malam Jumat. Pasti banyak yang bertapa di dekat makam. Dari bada Isya sampai dengan menjelang Subuh. Mereka kebanyakan datang ke sini, karena ada maksud tertentu. Seperti untuk minta rejeki, agar sakti. Namun saya selaku kuncen makam ini juga tetap mengingatkan kepada penziarah untuk tetap berniat ziarah saja," kata Ahmad.

Dia juga mengaku, sering melihat warga membawa makan-makanan dan alat pusaka ke makam. Tetapi, dirinya sendiri juga tidak bisa melarang para pengunjung yang datang untuk membawa itu semua. "Saya cuma bisa bilang agar tidak ada niat apa pun. Itu saja," katanya.

Selain warga, dirinya juga kerap melihat beberapa kyai datang. Namun, mereka biasanya datang ke makam, karena sebelumnya sudah bertemu Syekh Tubagus Zakaria lewat mimpi. Usia makam tersebut, kata dia, sudah berumur ratusan tahun. Awal warga mulai berdatangan, karena telah mendengar informasi makam tersebut bisa mengeluarkan wewangian kasturi dan kenanga.

"Sebelumnya, makam itu juga sempat dipindah dari pinggir jalan raya Batu ceper ke lokasi saat ini.  Dalam cerita pemindahan makam tersebut pohon asem yang berada di samping makam tersebut tidak bisa dirubuhkan oleh mobil traktor. Bahkan mobil traktor tersebut yang telah mengalami patah di bagian besi besinya,saya sendiri menyaksikannya," ungkap bpk.Ahmad.

Setelah memanggil para kyai dari Cirebon, barulah Pohon asem tersebut bisa dirobohkan. Kemudian setelah itu baru makam Syekh Zakaria Ariasantika digali guna pemindahan makam. "Dalam penggalian makam pun telah terjadi keanehan, makam tersebut ketika hendak digali mengeluarkan percikan api, dan berbau wangi bunga kenanga. Namun, setelah dibimbing oleh ketiga kyai dari Cirebon itulah baru bisa di gali, dan terlihat mayat tersebut masih rapih terbungkus kain kafan lengkap dengan tulang belulang," katanya.

Bahkan di dalam pemakaman tersebut telah didapati keris, batu koclak dan Al-quran stambul yang telah terlihat masih utuh. "Sekarang benda yang masih ada hanya sebuah keris berukuran kurang lebih 50 cm yang dipegang oleh kakak sepupu saya," ungkap bpk. ahmad syaihu.

Rahasia Dalam Ibadah Shalat

rahasia-dalam-ibadah-shalat
Mungkin kita memandang shalat adakah kewajiban yang sangat besar bagi kita, yakni sebagai bentuk ibadah yang merupakan rutinitas dengan gerakan dan bacaan yang membosankan. Akibatnya kita beranggapan bahwa shalat hanyalah kewajiban dari Allah untuk manusia sehingga sering kali kita yang imannya sedang melemah enggan melakukannya. Padahal sangat jelas sebenarnya dibalik gerakan dan bacaan itu Allah memberikan suatu manfaat yang besar bagi kita. Itulah bukti sifat Rahman Allah pada manusia. Jika saja manusia pandai membacanya. Subhanallah.

Dalam kaitan dengan hal tersebut, kali ini saya mencoba membuka manfaat yang merupakan penemuan riset yang spektakuler tentang gerakan dan bacaan shalat yang setiap hari lakukan bisa bermanfaat bagi kesehatan untuk tubuh kita, antara lain:

1. Shalat mampu menyembuhkan penyakit rematik:
Para ilmuwan dan juga para dokter mengungkapkan, salah satu cara untuk menyembuhkan rematik (khususnya pada tulang punggung) yang disebabkan ketidakseimbangan otot adalah dengan berolahraga. Berdasarkan saran dari dokter ini maka tidak ada solusi terbaik untuk menghindari rematik sejak dini kecuali dengan melaksanakan shalat 5 waktu secara konsisten, karena gerakan shalat adalah jenis gerakan terbaik yang mampu mengembalikan fungsi otot dengan baik.

Gerakan yang dimaksud adalah gerakan rukuk, berdiri tegak dan sujud. tentu saja gerakan itu adalah gerakan yang tuma’nina (tidak tergesa-gesa) dan sebaiknya lebih lama. Gerakan yang dilakukan secara berulang tersebut merupakan terapi terbaik dan penyembuhan terhebat bagi siapapun yang menderita penyakit tulang dalam waktu yang cepat.

2. Manfaat Shalat untuk kelancaran sistem peredaran darah dan terapi penyakit jantung:
Penelitian kedokteran mengungkapkan bahwa kasus tersumbatnya peredaran darah yang berimbas pada terhambatnya fungsi paru-paru dan kasus tersumbatnya peredaran darah di kaki bukanlah termasuk kasus yang dialami oleh kaum muslimin yang disiplin melakukan shalat. Kasus ini umumnya banyak dialami oleh penderita degan persentase 5 dari seribu orang non muslim pasca bedah. Kenapa, karena kajian kedokteran mengungkapkan bahwa gerakan ruku dan sujud dalam waktu yang lama mampu menstabilkan detak jantung, sehingga peredaran darah berjalan lancar serta meminimalisir tekanan darah tinggi secara akut di kepala. Subhanallah.

3. Shalat merupakan gerak olah raga terbaik.
Beberapa tahun terakhir tersebar penyakit desk di kalangan penduduk prancis tersebar penyakit desk dengan persentase 18 dari 20 orang karena duduk dalam waktu yang lama di perpustakaan. Lucunya, para dokter yang menganalisisnya malah merekomendasikan dan menyimpulkan bahwa shalat dalam agama Islam adalah solusi terbaik untuk terapi penyakit desk. 
Kenapa…?, karena diketahui secara medis dengan disiplin melakukan shalat setiap waktunya plus shalat malam, berdampak pada perubahan pada gerak otot dan hal ini mampu membangkitkan semangat baru pada tubuh, mengikis timbunan lemak di sekitar perut dan paha dan memperlambat efek-efek penuaan pada tubuh. Bahkan, konsistensi shalat pun mampu menjaga bentuk ideal tubuh dan gerakannya serta mempercepat munculnya vitalitas tubuh secara non stop 24 jam setiap harinya. dengan demikian shalat adalah latihan yang paling mudah dan cocok dijadikan sebagai olah tubuh dalam menjaga kesehatan tubuh.

4. Manfaat Wudhu dalam Terapi Penyakit Kanker Kulit.
Berbagai kajian yang berhubungan dengan faktor pemicu kanker kulit mengungkapkan bahwa faktor yang mendominasi munculnya kanker kulit adalah karena kulit banyak menyerap zat kimiawi; dan solusi terbaik untuk mencegahnya adalah dengan menghilangkannya dengan membersihkannya secara berulang kali. Selain itu keringat dan lemak yang keluar dari pori-pori tubuh dan bercampur dengan debu pada umumnya mengandung zat kimiawi dan bakteri berbahaya. Jadi masih meragukan manfaat wudhu..?

5. Manfaat Istinsyaaq.
Istinsyaaq adalah membersihkan lubang hidung dengan cara menyedot air pada lubang hidung lalu menyemburkannya kembali. Sekelompok peneliti dari Fakultas Kedokteran di Iskandariyah Mesir, bekerja sama dengan kelompok peneliti kesehatan dan obat-obatan melakukan penelitian untuk mengungkap hubungan antara ilmu pengetahuan dan aktivitas berwudhu. Hasil yang diperoleh adalah hidung bagian dalam yang tidak dibasuh umumnya berwarna pucat, berminyak, serat penuh debu dan kotoran. Di bagian bulu hidung umumnya rentan dihinggapi debu dan kotoran. Otomasis Hidung yang kotor tersebut ditemukan kumpulan mikroba dan bakteri. Padahal penyakit banyak tersebar melalui pernafasan, mulai dari influenza, radang paru-paru, kelumpuhan dan penyakit lainnya. Jadi, Istinsyaaq adalah solusi dan terapi terbaik karena dilakukan berulang-ulang ketika akan shalat.

5. Shalat mampu mengurangi kekhawatiran dalam diri.
Berbagai kajian psikologi modern mengungkapkan bahwa semua motivasi dan daya rasa manusia sangat terkait erat dengan perubahan zat kimia dalam otak. Meningkatnya adrenalin dalam tubuh sebanding dengan peningkatan kekhawatiran dalam diri seseorang. Selanjutnya hal tersebut akan berpengaruh pada meningkatnya detak jantung akibat tekanan darah menuju jantung. Selain itu, syaraf menjadi menjauh dari sistem pencernaan sehingga prosesnya terganggu. Kadar gula pada hati makin menumpuk dan persentasenya meningkat dalam aliran darah. Jika semuanya itu terus terjadi, maka permasalahan pada tubuh dan akhirnya otak pun terjadi. Berbagai gejolak pemikiran dan penyimpangan perilaku ini menjadi imbas pengaruh buruk tersebut.

Dalam harian surat kabar “London West” diungkapkan bahwa selama 10 tahun, Eropa mengadakan penelitian komparasi antara mereka yang selalu disiplin melakukan ritual ibadah dengan mereka yang tidak pernah sama sekali. kesimpulan yang mereka dapatkan adalah bahwa persentase penderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung, depresi dan stress tidak begitu banyak menyerang mereka yang konsisten dengan ritual ibadahnya.

Dengan shalat yang khusyu dapat dipastikan kekhawatiran dalam diri akan hilang. Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah : “Lapangkanlah diri kami dengan shalat wahai Bilal”. yakni ajakan Rasulullaah SAW agar bilal mengumandangkan adzan agar Beliau dan sahabat melakukan shalat untuk bermunajat dan menenangkan hati kepada-Nya.

6. Manfaat Sujud dari segi Substansi Kesehatan
Pengulangan sujud dalam shalat setiap harinya minimal dilakukan 34 kali. Bilangan tersebut dianggap bilangan yang tepat untuk meningkatkan aktivitas otot dan saraf tubuh serta menjaga keseimbangan antar sendi, khususnya tangan, paha. lutut dan kaki. Dengan aktivitas sujud juga, peredaran darah dalam tubuh bisa berjalan dan bergerak dengan mudah dari atas ke bawah. Selain itu meningkatnya lipatan tangan mampu melancarkan peredaran darah dari atas pergelangan ke bawah hingga mampu mencegah infeksi yang umumnya menyerang pergelangan tangan.

7. Manfaat Kekhusyuan dalam Shalat.
William Molton Marstein, seorang ahli psikolog pada majalah “Reader Digest” mengungkapkan bahwa bahwa kemampuan untuk memusatkan pikiran biasa dialami oleh setiap individu dalam kehidupannya. Misal, seorang pemimpin akan memusatkan pikirannya dalam menghadapi masalah. Hal yang dapat menurunkan kemampuan memusatkan pikiran dan bahkan merusaknya adalah penyimpangan dan terlalu sibuk dalam menuruti hawa nafsu. William juga mengungkapkan bahwa akal merupakan alat yang mengagumkan dan memiliki kemampuan yang sangat hebat jika difokuskan pada suatu titik.

Berkaitan dengan itu di Amerika dilakukan latihan berbicara kepada suatu obyek dengan menghadirkan hati dalam setiap kalimat yang diucapkannya dengan tujuan meningkatkan semangat dan kekuatan untuk berkeinginan dalam beraktivitas. Jika saja mereka tahu tentang shalatnya kaum Muslim. Dan harap dicatat: obyek yang dituju dalam sholat adalah Dzat Yang Maha Agung, tentu saja kekuatan yang didapatkan sangat jauh.

Akhir-akhir ini, muncul kontroversi hukum haram terhadap yoga. Banyak pro dan kontra atas isu tersebut. Saya tidak bisa melakukan justifikasi akan hukum itu. Tapi, mengacu pada manfaat kekhusyukan dalam sholat serta temuan bahwa sholat mampu menghilangkan kekhawatiran dalam diri dengan menuju kepada Allah, Dzat Yang Maha Agung, lalu kenapa kita malah memalingkan diri dari shalat yang merupakan manifestasi yang dahsyat dan melakukan meditasi yoga..? Sungguh tidak perlu diperdebatkan dengan menguras nalar.
“Sesungguhnya sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS Al-Mu’minuun 1-2).

8. Kedahsyatan shalat tahajjud dan subuh (yang tepat waktu)
Melalui berbagai penelitian, percobaan dan kajian, sebuah fakta ilmiah mengungkapkan bahwa seseorang yang tidurnya dalam waktu yang sangat lama akan sangat mudah terserang penyakit jantung. Hal ini dikarenakan lemak yang ada dalam darah menempel pada dinding syaraf di sekitar jantung. Para ulama dan ilmuwan modern banyak menganjurkan agar setiap manusia bangun dari tidurnya setelah 4 jam, kemudian melakukan gerakan tubuh ataupun melakukan kegiatan yang membutuhkan otot selama 1/4 jam. Hal ini berguna untuk menghindari bahaya serangan jantung dan menjaga vitalitas tubuh, khususnya jantung karena menghindarinya dari timbunan lemak.

Jadi ajaran Islam telah mendahului temuan modern dalam mengungkapkan fenomena di atas untuk kemudian menyarankan suatu manajemen kesehatan tubuh yang indah, yakni dengan menganjurkan setiap individu untuk bisa bangun melakukan shalat tahajud pada 1/3 malam terakhir dan dilanjutkan dengan shalat subuh.

Diriwayatkan Ali, Rasulullaah Saw bersabda: ”Dalam surga terdapat suatu ruangan yang dari luar bisa terlihat dalamnya dan dari dalam bisa dilihat luarnya”. Lalu seorang Arab bertanya. ”Diperuntukkan untuk siapakah tempat itu, wahai Rasulullah..?” Rasulullah menjawab, ”Bagi siapa saja yang memiliki ucapan yang baik, memberikan makan kepada orang yang membutuhkan, konsisten melaksanakan puasa dan melaksanakan shalat demi mengharapkan ridha-Nya ketika orang lain sedang tertidur.” (HR. Ahmad).

Dan coba kita hayati sekarang pembaca sekalian, salah satu tambahan kalimat dalam panggilan adzan shalat subuh:
“Ash-shalaatu Khairun minan naum”
Melakukan shalat subuh tepat waktu adalah lebih baik daripada tidur

Semoga ini bermanfaat dan menambah khasanah kita semua (khususnya saya sendiri) serta menambah keimanan kita

Semoga Bermanfaat
Wassalamu’alaikum Wr,Wb

09 Agustus 2015

5 Amalan Ketika Mendengar Adzan

5 amalan ketika mendengar adzan
Saudaraku pembaca Blog Napak Tilas, sebagai umat muslim kita mengenal adzan  yang merupakan suatu panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya shalat fardu. Tetapi, agama lain yang merupakan sekte di luar Islam juga menggunakan adzan versinya sendiri yang sudah di revisi misalnya agama Syiah dan Ahmadiyah. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap shalat lima waktu.

Adzan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad Rasulullaah SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu shalat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah.

Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu shalat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu shalat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun berada di tempat yang jauh. Yang melihat api itu, hendaklah datang menghadiri shalat berjamaah.

Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Nabi. Tetapi, dia menukar lafal itu dengan assalatu jami’ah (marilah salat berjamaah). Lantas, ada usul dari Umar bin Khattab jika ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk shalat pada setiap masuknya waktu salat. Kemudian saran ini bisa diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad  Rasulullah SAW juga menyetujuinya.

 Lafal adzan itu terdiri dari tujuh bagian:
  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah"
  4. Hayya alash sholah (2 kali)
    "Mari menunaikan shalat"
  5. Hayya alal falah (2 kali)
    "Mari meraih kemenangan"
  6. Ashsalatu khairum minan naum (2 kali)
    "Shalat itu lebih baik daripada tidur" (hanya diucapkan dalam azan Subuh)
  7. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  8. Lailaha ilallah (1 kali)
    "Tiada Tuhan selain Allah"
 Lafal adzan agama syi'ah (bukan Islam).
  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah"
  4. Asyhadu anna Aliyyan Waliyyullah (1 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah"
  5. Hayya alash sholah (2 kali)
    "Mari menunaikan salat"
  6. Hayya alal falah (2 kali)
    "Mari meraih kemenangan"
  7. Hayya ala khairil 'amal (2 kali)
    "Mari berbuat amal kebaikan"
  8. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  9. Lailaha ilallah (2 kali)
    "Tiada Tuhan selain Allah"

Nah, saudara pembaca yang perlu kalian ketahui ada lima amalan yang mestinya diamalkan ketika anda mendengar adzan. Lalu apa saja lima amalan itu...?

Lima amalan tersebut telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim R.a sebagai berikut:
(1) Mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.
(2) Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahomi sholli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud.
(3) Minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah
(4) Membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash.
(5) Memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. (Lihat Jalaa-ul Afham hal. 329-331).

Dalil untuk amalan nomor satu sampai dengan tiga disebutkan dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 384).

Adapun meminta wasilah pada Allah untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.” (HR.Bukhari no. 614 ).

Ada juga amalan sesudah mendengarkan azan jika diamalkan akan mendapatkan ampunan dari dosa. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
Siapa yang mengucapkan setelah mendengar azan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386).

Dari Abdullah bin Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ
Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang adzan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2: 172. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Artinya, doa sesudah adzan termasuk di antara doa yang di ijabahi.

Setelah menyebutkan lima amalan di atas, Ibnul Qayyim berkata, “Inilah lima amalan yang bisa diamalkan sehari semalam. Ingatlah yang bisa terus menjaganya hanyalah as saabiquun, yaitu yang semangat dalam kebaikan.” (Jalaa-ul Afham, hal. 333).

Mari kita amalkan walaupun sederhana, yang penting rutin dan istiqamah. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Referensi:  Jalaa-ul Afham fii Fadhli Ash Shalah was Salaam ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Ibni Katsir, cetakan kedua, tahun 1432 H.

Doa Agar Bisa Melunasi Hutang

doa-agar-bisa-melunasi-hutang
Sebagian dari kita pasti pernah merasakan berhutang bukan...?, mungkin dikarenakan faktor keuangan yang tidak mencukupi, kebutuhan yang banyak ataupun persoalan lainnya, dengan hutang yang menumpuk tentu akan membebani kehidupan, kali ini saya share sebuah doa yang bisa anda amalkan untuk bisa melunasi hutang,  Doa ini adalah di antara doa yang bisa diamalkan untuk melunasi utang dan dibaca sebelum tidur.

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,
اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya: “Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713).

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa maksud utang dalam hadits tersebut adalah kewajiban pada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya, intinya mencakup segala macam kewajiban.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 33).

Juga dalam hadits di atas diajarkan adab sebelum tidur yaitu berbaring pada sisi kanan.
Semoga bisa diamalkan dan Allah memudahkan segala urusan kita dan mengangkat kesulitan yang ada.

Referensi: Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.

Amalan Agar Dosa Diampuni Allah Swt

memohon ampunan dan istighfar
Sebagai manusia, kita tidak luput dari kesalahan. Kita berbuat salah bisa jadi karena kita tidak tahu, bisa juga karena lupa, lalai, dalam keadaan terburu-buru atau tidak berhasil mengendalikan hawa nafsu.

Bentuk kesalahan pun bermacam-macam. Ada yang terhadap diri sendiri, ada pula yang melibatkan orang lain. Ada yang karena mencoba sesuatu yang baru, ada yang malah karena tidak melakukan apa-apa. Ada yang sekadar kesalahan, ada pula yang termasuk dalam kategori dosa kecil maupun besar.

Kesalahan dapat menjadi sarana pembelajaran, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan melakukan berbagai hal dengan lebih baik dari sebelumnya.

Saat kesalahan yang kita lakukan hanya dirasakan oleh diri sendiri, yang perlu kita lakukan hanya belajar agar tidak mengulanginya lagi. Tetapi, jika kita melakukan kesalahan tehadap orang lain, yang menyebabkan kerugian atau rasa sakit, selain bertanggung jawab atas kerusakan yang kita timbulkan, kita tentu juga harus meminta maaf kepadanya.

Meminta maaf bukanlah sesuatu yang bisa di abaikan begitu saja. Walau terkesan sederhana, ia tak selalu mudah dilakukan. Permintaan maaf yang diucapkan sembarangan malah bisa menambah luka dan memperburuk keadaan.

Diperlukan keberanian dan kesungguhan untuk meminta maaf, namun jika dilakukan dengan baik, ia bisa menjadi awal dari perbaikan. Meminta maaf juga menjaga kita agar tetap rendah hati dan mengingatkan bahwa kita juga bisa berbuat kesalahan. Tentu saja, permintaan maaf ini perlu mengandung penyesalan yang tulus dan diikuti oleh tindakan untuk memperbaiki keadaan.

Saat kesalahan kita berkaitan dengan melalaikan perintah-Nya atau melanggar larangan-Nya, tentu kepada Dialah kita harus memohon ampunan.

Mengucap istighfar adalah salah satu bentuk permohonan maaf kita kepada-Nya, atas semua dosa dan kesalahan, baik besar maupun kecil, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, baik yang kita ketahui atau luput dari ingatan kita.

Qalbu berkarat karena dua hal yaitu lalai dan dosa. Dan pembersihnya pun dengan dua hal yaitu istighfar dan dzikrullah. (HR. Al-Baihaqi).

Istighfar yang dilantunkan dengan sepenuh penghayatan akan membersihkan hati kita. Sering mengulanginya menjaga kita dari perbuatan buruk, menyadarkan kita setiap kali mengarah ke atau mulai melakukan keburukan. Istighfar yang sempurna disertai dengan penyesalan dan diikuti dengan tobat, di mana kita berhenti melakukan hal-hal yang kita sesali itu, kepada Allah SWT.

Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah akan menerima tobatnya. (HR. Muslim).
Lalu Bagaimana cara kita memohon ampunan kepada Allah SWT atas kelalaian yang telah kita lakukan..?
Ada sebuah doa yang biasa dibaca oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Isi doa ini jika kita renungkan dalam-dalam ternyata sangat mencakup berbagai permintaan yang sangat kita perlukan. Sebab semuanya sering mewarnai kehidupan sehari-hari manusia. Coba perhatikan: 
رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau biasa berdoa dengan doa sebagai berikut; “Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, dan perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kemalasanku, kesengajaanku, kebodohanku, gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan dan dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan, Engkaulah yang mengajukan dan Engkaulah yang mengakhirkan, serta Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR Bukhari – Shahih).

Tema yang utama di dalam doa ini adalah seorang hamba Allah memohon ampunanNya. Setidaknya ada tiga belas poin penting yang diajukan hamba tersebut kepada Rabbnya. Semuanya ia harapkan diampuni oleh Allah subhaanahu wa ta’aala:
Pertama, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Kesalahan dapat mencakup perintah Allah yang dilalaikannya atau larangan Allah yang dilanggarnya.

Kedua, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Manusia tidak luput dari kebodohan. Tidak ada manusia yang memiliki pengetahuan sempurna. Dan kebodohan seseorang seringkali menyebabkan tingkahlaku yang tidak terpuji. Sehingga ia perlu memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atas kebodohan dirinya.

Ketiga, “Ya Allah, ampunilah perbuatanku yang berlebihan dalam urusanku”. Terkadang kita mengerjakan suatu perbuatan secara tidak adil atau tidak proporsional. Perbuatan berlebihan tersebut sangat mungkin menyakiti hati bahkan menzalimi orang lain. Maka kita berharap ampunan Allah atas perbuatan berlebihan di dalam berbagai urusan.

Keempat, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku”. Manusia sering mengerjakan kesalahan tanpa ia menyadarinya. Orang lain boleh jadi dengan mudah melihat kesalahannya, tetapi ia sendiri tidak menyadarinya. Maka untuk urusan seperti ini seorang mukmin memohon ampunan Allah Yang Maha Tahu segala sesuatunya. Seorang mukmin mengakui jika Allah subhaanahu wa ta’aala merupakan Dzat Yang Maha Tahu perkara yang ghaib  maupun nyata, maka iapun mengembalikan segenap dosa yang ia sendiri tidak ketahui kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Ia serahkan dosa jenis ini kepada Ke-Maha-Tahuan Allah SWT. Sebab ia yakin bahwa Allah pasti jauh lebih mengetahui dosa yang dilakukan hamba-Nya daripada si hamba itu sendiri.

Kelima, “Ya Allah, ampunilah kesalahanku”. Manusia bisa terlibat di dalam banyak kesalahan. Maka ia memohon kembali ampunan Allah atas kesalahannya padahal sebelumnya ia telah mengajukannya kepada Allah subhaanahu wa ta’aala.

Keenam, “Ya Allah, ampunilah kemalasanku”. Kemalasan dapat menjadi musuh utama yang menyebabkan seseorang menunda bahkan melalaikan suatu kewajiban yang mestinya ia kerjakan. Pengakuannya di hadapan Allah bahwa dirinya terkadang dilanda kemalasan jelas mesti disertai dengan permohonan ampunan Allah atasnya.

Ketujuh, “Ya Allah, ampunilah kesengajaanku”. Harus diakui bahwa terkadang kita secara sengaja melakukan suatu kesalahan. Entah karena emosi, atau terpengaruh lingkungan atau berbagai alasan lainnya. Yang jelas, semua kesengajaan itu mesti kita istighfari, mesti kita mintakan ampunan Allah atasnya.

Kedelapan, “Ya Allah, ampunilah kebodohanku”. Subhaanallah, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mengerti akan kelemahan kita yang satu ini. Manusia memang selalu kekurangan ilmu sehingga ia mustahil luput dari kebodohan. Sehingga permohonan ampunan Allah atas kebodohan diri perlu diajukan berulang-kali.

Kesembilan, “Ya Allah, ampunilah gelak tawaku yang semua itu ada pada diriku.” Apakah tertawa itu berdosa...? Tentunya tidak. Tetapi bila dilakukan secara tidak proporsional ia akan mendatangkan masalah. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS At-Taubah 82).

Sementara itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
Demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian jarang  tertawa dan sering menangis.” (HR Tirmidzi  – Shahih).

Kesepuluh, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu”. Kita perlu berhati-hati terhadap dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu. Sebab boleh jadi dosa tersebut belum sempat kita istighfari di waktu itu. Maka saat ini kita akui dan sesali di hadapan Allah subhaanahu wa ta’aala. Bahkan kita mohonkan ampunan Allah atasnya.

Kesebelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang mendatang”. Seorang mukmin sadar jika hidupnya bukan hanya terdiri atas masa lalu dan masa kini. Tetapi juga meliputi masa yang akan datang. Demikian pula dengan dosa yang dikerjakan. Ia tidak hanya terjadi di masa lalu dan masa kini semata. Tetapi tentunya sangat mungkin bisa terjadi di masa mendatang. Oleh karenanya dengan penuh kejujuran ia mengharapkan ampunan Allah atas dosa yang mendatang. Dan tentunya ini tidak boleh dilandasi niat buruk berrencana dengan sengaja berbuat dosa di masa mendatang.

Keduabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku samarkan”. Seorang mukmin sangat khawatir dengan dosa yang ia lakukan sembunyi-sembunyi atau tersamar. Sebab ia teringat hadits sebagai berikut:

Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari ummatku yang datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikan kebaikan itu debu yang beterbangan.” Tsauban berkata; “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah jika mereka berkhulwah (menyendiri).” (HR Ibnu Majah – Shahih).

Ketigabelas, “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan”. Sedangkan terhadap dosa yang ia kerjakan secara tersamar saja ia sudah sangat khawatir, maka apalagi dosa yang dilakukan secara terbuka. Oleh karenanya ia sangat memohon ampunan Allah subhaanahu wa ta’aala atasnya.

Sungguh luar biasa, ketiga belas point di atas jelas merupakan dosa dan kesalahan yang sangat sering kita lakukan. Betapa beruntungnya ummat Islam diajarkan oleh Nabi mereka suatu doa yang sungguh diperlukan.



AMALAN SUNNAH AGAR DI AMPUNI DOSA SEBANYAK BUIH DI LAUTAN

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَيَانٍ الْوَاسِطِيُّ أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ الْمَذْحِجِيِّ قَالَ مُسْلِم أَبُو عُبَيْدٍ مَوْلَى سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ
Telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid bin Bayan Al Wasithi telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah dari Suhail dari Abu Ubaid Al Madzhiji. -Muslim menjelaskan bahwa Abu Ubaid adalah mantan budak Sulaiman bin Abdul Malik- dari Atha bin Yazid Al Laitsi dari Abu Hurairah dari Rasulullaah shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa bertasbih (Subhanallah) kepada Allah sehabis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid (Alhamdulillah) kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir (Allahu Akbar) kepada Allah tiga puluh tiga kali, hingga semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, dan beliau menambahkan dan kesempurnaan seratus adalah membaca Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shabh telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakariya dari Suhail dari Abu Ubaid dari Atha dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas. (HR. Muslim No.939, Abudaud No.1286, Ahmad No.8478, 9878, Malik No.439).
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Sumay dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI (Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhori No.5926, At Tirmidzi No.3388, Ibnumajah No.3802, Ahmad No.7667, 8518, 10266, dan Malik No.438).
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ عَنْ زَبَّانَ بْنِ فَائِدٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ الْجُهَنِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَعَدَ فِي مُصَلَّاهُ حِينَ يَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى يُسَبِّحَ رَكْعَتَيْ الضُّحَى لَا يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا غُفِرَ لَهُ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah Al Muradi telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yahya bin Ayyub dari Zabban bin Fa`id dari Sahl bin Mu’adz bin Anas Al Juhani dari ayahnya bahwa Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tetap duduk di tempat shalatnya ketika selesai dari shalat shubuh (sambil berdzikir) sampai dia mengerjakan dua rakaat dhuha dan tidak mengucapkan kata-kata kecuali yang baik, melainkan dosa-dosanya akan terampuni meskipun lebih banyak dari buih di lautan.” (HR.Abudaud No.1095, Ahmad No.15070).
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا النَّهَّاسُ بْنُ قَهْمٍ عَنْ أَبِي عَمَّارٍ شَدَّادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَافَظَ عَلَى شُفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ashim, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami An Nuhas bin Qahm dari Abu Ammar Syaddad dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bisa (mengerjakan) menjaga (setiap harinya) dua rakaat dhuha maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ibnumajah No.1372, Ahmad No.9339, 10043, 10075).
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْوَصَّافِيُّ عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِي إِلَى فِرَاشِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ رَمْلٍ عَالِجٍ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ عَدَدِ وَرَقِ الشَّجَرِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah berkata; telah menceritakan kepada kami Ubaidullah Ibnul Walid Al Washshafi dari Athiyyah Al Aufi dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; Rasulullaah shallallaahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ketika akan tidur ia mengucapkan: ASTAGHFIRULLAAH ALLADZII LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIHI (aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Benar, dan aku bertaubat kepada-Nya) sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan, walaupun seperti gunung pasir, walau seperti jumlah daun di pepohonan.” (HR. Ahmad No.10652).

doa-sayyidul-istighfar
 Semoga dengan jalan wasilah doa atas Allah SWT mengampuni dan memaafkan kesalahan yang telah kita lakukan, Amiin yaa robbal aalamiin.

Makam Keramat Sangeng

http://satrialarangan.blogspot.com/2015/08/makam-keramat-sangeng.html
Makam Al-Habib Abdullah bin Ali-Al haddad

Beliau adalah keturunan Al-Qutb Al-Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang putra yang sungguh-sungguh ahli ibadah, tampak di wajahnya cahaya yang bersinar; (yaitu) cahaya ulama salaf, (la seorang) dai yang akan menggantikan kedudukan salafnya.

 
Dalam kunjungannya ke Nusantara di sekitar penghujung tahun 2010, yaitu dalam sebuah kesempatan majelis rauhah di Jakarta, Habib Salim bin Abdullah Asy-Syathiri menyinggung sebuah qashidah panjang yang ditulis oleh Shahiburratib, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Bait-bait qashidah nan indah itu keseluruhannya berakhiran huruf "ta" dan merupakan qashidah yang teramat mulia. Karenanya, qashidah itu kemudian disebut qashidah ta-iyyah al-kubra. 
 
Habib Salim menuturkan, qashidah tersebut menyimpan kandungan makna yang sangat dalam dan agung. Sehingga dikatakan, tidaklah sanggup mensyarahi kandungan isi qashidah tersebut kecuali orang-orang yang sudah sampai pada maqam Syaikh Muhyiddin Ibnul 'Arabi, salah seorang sufi besar dalam dunia Islam, yang dikenal banyak memiliki karya-karya tasawuf dalam pembahasan yang sarat makna, filosofis, tajam, dan mendalam.
 
Apa yang disinggung Habib Salim tersebut mengingatkan kita pada sosok seorang ulama yang memiliki keterkaitan kisah dengan gashidah itu, yang sang penyusunnya sendiri pernah mengatakan terkait qashidah tersebut, "Kelak qasidah ini akan disempurnakan oleh salah satu keturunanku, dengan satu bait."
 
Memang, qashidah yang pada awal-nya berbunyi "Bu'itstu lijiranil 'aqiqi tahiyyah, wa awda'tuha rihash shaba hina habbat…" itu nyatanya berjumlah 249 bait, jumlah angka yang terkesan tak sempurna. Berbeda, misalnya, bila berjumlah 250 bait. Namun, tentu ada saja hikmah di balik tindak-tanduk seorang kekasih Allah, yang kita hanya bisa mereka-reka. Di antaranya, mungkin saja itu adalah salah satu isyarat yang ingin disampaikan oleh shahiburratib tentang keutamaan salah seorang keturunannya.
 
Di masa Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad, dialah yang kemudian menggenapkan qashidah itu dengan satu bait penutup, "Wa aliri wa ashhabin wa man kana tabi'an li minhajhim fi kulli haththin wa rihlah". Hal ini menunjukkan bahwa keutamaan Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad, jauh hari sebelumnya, telah diketahui oleh sang datuk, Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
 
Kehidupan Habib Abdullah bin Ali Al- Haddad adalah kehidupan yang penuh dengan keteladanan, di samping berbagai kisah kekeramatan, la, yang kelahiran Tarim, Hadhramaut, menghabiskan masa akhir hayatnya di kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, yang kemudian jasad mulianya dikebumikan di sebuah desa di kota itu yang bernama Sangeng. Itulah sebabnya di kemudian hari orang menyebutnya "Keramat Sangeng".
 
Agar tidak rancu, sedikit kami jelaskan di sini. Antara dirinya dan datuknya, Shahiburratib, memiliki nama yang sama, yaitu sama-sama Abdullah. Ke-duanya juga sama-sama dari keluarga Al-Haddad, yang satu "bin Alwi" (yang Shahiburratib) dan satunya lagi "bin Ali" (yang manaqibnya tengah kita ulas kali ini). Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad adalah keturunan keenam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Berikut ini urutan nasab yang menghubungkan keduanya, Abdullah bin Ali bin Hasan bin Husein bin Ahmad bin Hasan bin Shahiburratib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Kesungguhan dalam Ilmu dan Ibadah
 
Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad lahir pada tanggal 4 Shafar 1261 H (sekitar Februari 1840 M) di kota Tarim, Hadhramaut. la diasuh dan dididik dalam keluarga yang di dalamnya tercium semerbak aroma kewalian dan keilmuan. Sejak kecil, ayahnya sendiri, yaitu Habib Ali bin Hasan Al-Haddad, memberikan pendidikan kepadanya, terutama dalam menghafal Al-Qur'an.
 
la belajar beberapa cabang ilmu agama dari para ulama besar di masa itu, seperti Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (penyusun Bughyah al-Musytarsyidin) dan Habib Umar bin Hasan Al-Haddad di Ghurfah, Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi di Seiwun, Habib Muhsin bin Alwi Assegaf dan Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih di Tarim Dari guru-gurunya itu ia mempelajari ilmu tafsir, hadits, fiqih, hadits, dan cabang-cabang ilmu lainnya, la juga banyak memperoleh ijazah dan pengakuan dari tokoh-tokoh ulama serta ahli sufi di zamannya sebagai bukti penguasaannya dalam ilmu syari'at dan hakikat.
 
Tahun 1281 H/1860 M ia meninggal-kan kampung halamannya menuju kota Du'an untuk semakin memperdalam pengetahuannya. Untuk tujuan itu ia mendatangi sejumlah ulama. Di samping itu ia juga menziarahi makam-makam ulama dan shalihin, seperti Syaikh Sa'id bin Isa Al-Amudi.
 
Dari Du'an, Habib Abdullah melanjutkan perjalanannya ke kota Qaidun dan belajar kepada Habib Thahir bin Umar Al-Haddad dan Syaikh Muhammad bin Abdullah Basawdan. Di hadapan mereka ia membaca kitab Minhaj ath-Thalibin, karya Imam Nawawi, dan mendapatkan ijazah beberapa cabang ilmu, seperti ilmu manthiq, aqidah, dan ushul.
 
Pada tahun 1291 H/1872 M, ia menikah dengan Syarifah Aisyah binti Hamid bin Alwi Al-Hamid, di Tarim. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai lima anak: Alwiyah, Nur, Fatimah, Muznah, dan Hasan.
 
Meski telah banyak belajar ke sana-sini, bahkan juga telah menikah, semangat belajarnya tetap besar. Tahun 1294
 
H/1873 M ia pergi ke kota Guwairah dan bertemu Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhar (ayahanda Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Bondowoso). la mempelajari sejumlah cabang ilmu pada derajat yang tinggi dan men-dapat ijazah dari gurunya itu.
 
Pada salah satu muqaddimah ijazah tertulisnya, sang guru menuliskan, "Aku memberikan ijazah kepada keturunan Al-Qutb Al-Ghauts Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang putra yang sungguh-sungguh ahli ibadah, tampak di wajahnya cahaya yang bersinar, (yaitu) cahaya ulama salaf, (la seorang) dai yang akan menggantikan kedudukan salafnya. Aku menganggapnya sebagai anakku."
Kesungguhan Habib Abdullah bukan hanya dalam urusan menuntut ilmu, tapi juga dalam hal olah jiwa. Disebutkan, di masa mudanya ia tidak pernah meninggalkan rutinitas ibadahnya, yang wajib maupun yang sunnah. Dalam keadaan bagaimanapun ia tetap menjalankannya, seperti shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya.
 
Suatu saat, kesehatannya terganggu, kondisi fisiknya pun menurun. Namun berbagai kebiasaannya dalam beribadah sehari-hari tak berubah.
 
Melihat keadaan seperti itu, didorong rasa kasihan melihat kondisi putranya, sang ibu pun berkata kepadanya, "Hai anakku, bila engkau ingin kebaikan dan keridhaanku, taatilah perintahku." Demikian Ujar sang bunda setelah memerintahkan Habib Abdullah untuk menurunkan intensitas ibadahnya sejenak dan banyak-banyak beristirahat, mengingat kondisi kesehatannya yang sedang sakit.
 
Setelah diperintahkan demikian oleh sang bunda, demi mengejar ridha ibunya, ia pun akhirnya hanya menunaikan shalat fardhu dan rawatib.
 
Pada tahun 1295 H/1874 M ia berangkat ke Tanah Suci untuk mengerjakan rukun Islam yang kelima, yaitu ibadah haji, ke Baitullah, sekaligus berziarah ke makam Rasulullah SAW.
 
Selama di Makkah ia tinggal di rumah Mufti kota Makkah, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi (ayahanda Shahib Simthud Durar, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi), sekaligus menyempatkan diri untuk mendalami ilmu-ilmu agama kepada Habib Muhammad, la juga mendapatkan ijazah dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
 
Usai tinggal beberapa lamanya di kota Makkah, ia menuju kota Madinah dan tinggal di sana selama empat bulan.
 
Di Madinah ia menemui Syaikh Muhammad Abdul Mu'thi bin Muhammad AI-'Azab, seorang faqih dan dikenal pula sebagai seorang pakar bahasa Arab, pengarang kitab Maulid AI-'Azab.
 
Habib Abdullah meminta ijazah kepadanya, tetapi Syaikh AI-'Azab tak mau memberikan sebelum ia diberi ijazah terlebih dulu oleh Habib Abdullah. Maka Habib Abdullah kemudian memberikannya ijazah berupa wirid-wirid susunan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, lalu Syaikh Muhammad AI-'Azab pun memberikan ijazah kepadanya.
 
Begitulah, hari demi hari kemuliaan Habib Abdullah semakin terlihat. Itu semakin tampak ketika ia ditemui Sayyid Umar Syatha, mufti Haramain. Diceritakan, Sayyid Umar mimpi berjumpa Rasulullah SAW dan diperintahkan agar berziarah kepada Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad. "Dia adalah cucuku yang sebenarnya," kata Nabi kepada Sayyid Umar Syatha.
 
Rihlah Dakwah
Pada tahun 1297 H/1879 M Habib Abdullah berdakwah ke tanah Melayu. Mula-mula ke Singapura, kemudian menuju Johor. Di Johor ia memperoleh sahabat, yaitu Syed Salim bin Thaha Al- Habsyi dan Sultan Abu Bakar bin Ibrahim (sultan Johor saat itu).
 
Pada waktu peresmian istana Sultan Johor ini, datanglah Sultan Ahmad dari negeri Pahang yang mencari-cari diriya. Setelah bertemu, sang sultan memintanya untuk menjadi mufti di negerinya. Namun permintaan itu ditolak olehnya dengan baik dan bersahabat.
 
Habib Abdullah tinggal di Johor selama empat tahun dan menikah dengan seorang syarifah dari keluarga Bin Syahab. Namun istrinya wafat tak lama setelah mereka menikah.
 
Setelah empat tahun di Johor, ia meneruskan perjalanan dakwahnya ke Pulau Jawa. Mula-mula ia tiba di Betawi, yang ketika itu masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Tak lama di Betawi ia lalu meneruskan ke Bogor, Solo, dan Surabaya, tetapi semua kota di Indonesia yang /disinggalhi dan dilaluinya tak dapat menarik hatinya untuk menetap di tempat tersebut, walaupun penduduk setempat meminta kesediaannya agar ber¬kenan tinggal di tengah-tengah mereka.
 
Syawwal 1301 H/1903 M ia mulai menetap di kota Bsangil, Jawa Timur. Di sinilah akhirnya ia memutuskan untuk tinggal dan berdakwah.
 
Tanggal 27 Jumadal Ula 1302 H/ 1903 M ia menikah lagi dengan Syarifah Maryam binti Ali Alaydrus, seorang wanita yang dikenal keshalihahannya. Di antara putra hasil pernikahannya dengan Syarifah Maryam adalah Muhammad, Hamid, Ali, dan Umar.
 
Di rumahnya, ia membuka majlis ta'lim di Masjid Kal ianyar. Di antara muridnya, ada yang kemudian menjadi ulama di kemudian hari, seperti Kiai Zayadi, Kiai Husain, Kiai Musthafa, Kiai Asyiq, serta Kiai Muhammad Thahir dari Bangku, Singosari. Disebutkan, Kiai Cholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy'ari Jombang juga termasiuk yang beristifadah (mengambil faidahi ilmu) kepada Habib Abdullah, di antaramya dengan mengambil ijazah darinya. Sementara, dari kalangan habaib sendiri, yang sempat beristifadah kepadanya, di antaranya Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar, Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad, Habib Ali bin Abdiurrahman Al-Habsyi, Habib Ahmad bin Muhsin Al-Haddar.
 
Majelis rauhahnya di masjid Kalianyar, ia membacaakan kitab-kitab karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Rauhah ini dihadiri sekitar 60 orang.
Dikisahkan, suatu ketika, saat itu waktu menjelang datangnya maghrib, kopi yang ia siapkan dari rumah yang ditempatkan di ceret berukuran agak kecil, yang hanya cukup untuk jama'ah yang hadir, telah dlituangkan.
 
Di tengah berjalannya majelis, tiba- tiba datanglah Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar dengan rombongannya, sekitar 60 orang. Maka, Habib Abdullah menyuruh Syaikh Mubarak Jabli menuangkan kopi agar menghidangkan¬nya kepada para tamunya.
 
Pada saat menuangkan kopi, Syaikh Mubarak yakin bahwa kopinya telah habis. "Apa yang harus saya tuang? Sudah tidak ada kopi setetes pun dalam ceret ini," begitulah kira-kira Syaikh Mubarak berkata di dalam hati.
 
Kemudian Habib Abdullah mengulangi perintahnya, "Segera tuangkan kopinya!"
Syaikh Mubarak, yang kala itu berdekatan dengan putra Habib Abdullah, yaitu Habib Muhammad, memegang kaki putranya itu sambil berbisik, 'Tolong sampaikan, ceretnya sudah kosong!"
 
Habib Muhammad menjawab, 'Turutilah perintah Al-Walid (Ayahanda)!"
 
Lalu Syaikh Mubarak pun menuang-kan ceret yang diyakininya telah kosong itu. Ternyata, atas izin Allah, tuangan demi tuangan Syaikh Jabir dapat memenuhi seluruh cangkir yang ada. Bahkan, berlebih.
 
Manhaj Dakwah Rasulullah
Kembali pada qashidah taiyyah al-kubra gubahan Shahiburratib Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Dalam qashidahnya itu, Habib Abdullah mensifati beberapa keadaan para kekasih Allah. Di antaranya, ada di antara mereka yang lebih suka sembunyi atau ingin menyendiri dan ada di antara mereka yang berbaur. Kesemuanya, tak diragukan lagi, adalah para kekasih Allah.
 
Selanjutnya, disebutkan dalam qashidah itu, ketika Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ditanya, siapa yang paling mulia di antara para kekasih Allah dengan segala keadaannya itu, Habib Abdullah menjawab bahwa yang paling mulia adalah mereka yang menampakkan dirinya di jalan Allah SWT dengan mengajari masyarakat umum, karena itulah gambaran kedudukan yang termulia. Jasadnya bersama orang banyak, namun hatinya bersama Allah SWT.
 
Maka demikian pulalah yang dijalani cucu Shahiburratib ini, yang termasuk dari golongan yang mengajar dan mengingatkan orang kepada jalan yang benar. Karena demikian pulalah Rasulullah SAW, yang hatinya tak lagi berjarak dengan Allah SWT, tapi juga senantiasa berada di tengah-tengah umat.
 
"Saya menyarankan agar mereka, orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang cukup itu, berjalan dari satu desa ke desa lain untuk berdakwah," ujar Habib Salim menjelaskan dalam majelis rauhahnya itu.
 
"Kenapa sasarannya desa atau daerah terpencil...?" tanya Habib Salim.
 
Sebab, menurut Habib Salim, "Daerah-daerah terpencil seperti itu pada umumnya penduduknya masih banyak yang jauh dari pemahaman agama. Sehingga, berdakwah di desa atau tem¬pat-tempat terpencil merupakan dakwah yang tepat sasaran," kata Habib Salim.
 
Maka, demikian pulalah Habib Abdullah dan orang-orang semacamnya, yang memilih kawasan terpencil, yang tak jarang penduduknya tak tersentuh oleh dakwah.
 
Selain mengajar dan berdakwah, Habib Abdullah juga seorang ulama sastrawan. Kumpulan syairnya dibukukan dalam bentuk diwan (kumpulan syair) yang diberi nama Al-Qalaid al-Lisan HAhl al-islam wa al-lman. la juga menulis sejumlah kitab, di antaranya Sullam ath-Thalib li A'la al-Maratib syarah Ratib al- Haddad, Hujjah al-Mu'minin fi Tawassul bisayyidil Mursalin, Maulidil Haddad — dalam bentuk nazham (prosa) tentang kelahiran Rasulullah SAW.
 
Sampai akhirnya, pada hari Jum'at sore, tanggal 15 Shafar 1331 H di kota Bangil, ia dipanggil menghadap Sang Khaliq. la dimakamkan dekat mushallanya yang terletak di daerah Sangeng Kramat, Bangil. Putranya yang masih hidup dan dewasa saat wafatnya adalah Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddad, Habib Ahmad bin Abdullah Al-Haddad, dan Habib Ali bin Abdullah Al-Haddad, seorang yang alim dan sabar. Setiap tanggal 27 Shafar diadakan acara haul di makamnya di Sangeng Kramat, Bangil.
 
Habib Abdullah memiliki beberapa sahabat akrab, di antaranya Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf Tuban, yang dikenalnya sejak usia remaja. Di akhir umurnya, Habib Abdullah Al-Hadad berkirim surat kepada sang sahabat, yang di antaranya berisi, "Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut."
 
Setelah Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad wafat, 27 hari kemudian Habib Abdul Qadir wafat menyusul kepergian Habib Abdullah menuju ke haribaan kekasih mereka, Allah SWT.
 
Disadur oleh M. Luqman Firmansyah dari Majalah Alkisah No. 01/Tahun XI hal. 138


Makam Pangeran Wijaya Kusuma Jakarta

Negeri Tercinta kita telah terkenal sepanjang masa sejak jaman kerajaan dulu meninggalkan kekayaan situs beragam. Candi, makam, monumen dan lain-lain menjadi simbol penanda nilai-nilai kejayaan, perjuangan para leluhur yang pantas menjadi teladan untuk anak cucunya. Maka layaklah pemerintah menjadikan situs peninggalan itu menjadi sarana obyek wisata. Salah satu tujuannya tersebut adalah untuk mengingatkan secara turun-temurun sejarah perjalanan bangsa. Oleh karena itu wajib di upayakan untuk menjaga kelestarian agar situs luhur itu terjaga dan bisa langgeng dan terus berada.

Upaya menjaga kelestarian situs purbakala itu jelas terlihat nyata, saat kita masih dapat menyaksikan kemegahan candi Borobudur yang telah ditetapkan menjadi warisan dunia. Juga kecantikan Rorojonggrang pada situs Candi Prambanan maupun aroma mistis Candi Boko. Situs yang tak kalah penting lainnya adalah makam purbakala. Ada beragam seperti makam para sunan, para walisongo dan makam para raja-raja di Indonesia.

Makam yang menjadi daya tarik dikunjungi oleh para wisatawan, rata-rata pengelolaannya telah dilakukan pemerintah melalui program-programnya dengan baik. Sebagai contoh, makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, yang menempati area luas yang asri dan terawat dengan baik. Begitu pula dengan makam raja-raja Mangkunegaran di Istana Giri Tunggal, Matesih, Jawa Tengah. Nilai-nilai budaya didalamnya masih bisa dinikmati oleh para peziarahnya, berkat pengelolaannya. Masih banyak makam raja yang terkenal lainnya, seeprti makam raja-raja Demak, makam Sunan Giri, makam Sunan Kalijaga, makam Sunan Gunung Jati.

Ada lagi makam bersejarah yang mungkin tak cukup dikenal oleh masyarakat di luar Ibukota. Makam itu disebut Taman Makam Pangeran Wijaya Kusuma. Tidak sebesar dan setenar makam para raja besar lainnya, namun makam ini mempunyai nilai historis sejarah yang penting untuk ditanamkan pada generasi muda.

pintu masuk taman makam pangeran wijayakusuma jakarta
Taman-makam-pangeran-wijaya-kusuma
Pintu Gerbang Taman Makam Pangeran Wijayakusuma
Mungkin kita pernah dengar nama lapangan sepak bola Wijayakusuma atau nama kantor Kelurahan Wijayakusuma, di Kecamatan Grogol petamburan, Jakarta Barat. Tapi, siapa sangka jika nama itu diambil dari nama seorang ulama besar dari Banten bernama, Pangeran Wijayakusuma.

Makam berlokasi di Jl. Pangeran Wijayakusuma kawasan Jakarta Barat. Konon sosok Pangeran Wijayakusuma merupakan seorang penasehat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta. Seorang Pangeran yang berjuang dan berperang melawan Belanda di Batavia sekitar abad ke-17.

Ya, nama Pangeran Wijayakusuma memang tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Jakarta. Tak heran, makamnya pun yang berlokasi di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Kampung Gusti, Kelurahan Wijayakusuma, Kecamatan Grogol-Petamburan, itu tetap terjaga dan dijadikan benda cagar budaya oleh Pemprov DKI.

Handoyo (60) juru kunci yang merupakan generasi ketiga penjaga makam tersebut, mengatakan Pangeran Wijayakusuma pada masanya dikenal sebagai seorang ulama yang disegani. Ia juga merupakan penasihat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta, Wijayakrama, sekitar abad ke-17 yang berjuang melawan Belanda (VOC) di Batavia. Menurutnya, nama Wijayakusuma sendiri diambil dari bahasa Jawa, Wijaya berarti kemenangan dan Kusuma artinya kembang. Sehingga jika diartikan Wijayakusuma yaitu sebagai, Kembang Kemenangan.Riwayat Pangeran Wijayakusuma sampai saat ini masih samar karena belum ada keterangan yang pasti. 
Pendopo Makam Pangeran Wijayakusuma

Areal di sekitar Taman Makam Pangeran Wijayakusuma
Namun yang saya tahu Pangeran Wijayakusuma dulunya merupakan ulama yang sangat disegani, sekaligus penasehat dan panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta,” ungkap Handoyo
Makam Pangeran Wijayakusuma Jakarta Barat
Sudin Kebudayaan Jakarta Barat, mencatat Pangeran Wijayakusuma adalah pangeran dari Banten yang datang pada saat Jayakarta di bawah kekuasaan, Wijayakrama, atas perintah Sultan Banten, Maulana Yusuf. Penugasan ini terkait isu, Pangeran Jayakarta, Wijayakrama telah bekerja sama dengan Belanda dalam pengelolaan tanah.“Atas perintah Sultan Banten, Maulana Yusuf, Wijayakrama ditarik kembali ke Banten,” tambah Taufik Ahmad, Kasudin Kebudayaan Jakarta Barat.

Selanjutnya, posisi Pangeran Jayakarta, Wijayakrama, digantikan oleh putranya, Pangeran Ahmad Jakerta. Namun karena usianya masih dianggap terlalu muda untuk mengatur roda pemerintahan, ia selalu didampingi Pangeran Wijayakusuma meski saat itu perselisihan antara Belanda dengan pemerintah yang dipimpin oleh Pangeran Ahmad Jakerta terus berlangsung.

Namun, mengingat usia Pangeran Wijayakusuma sudah semakin lanjut, ia tidak dapat lagi mendampingi Pangeran Ahmad Jakerta secara langsung, hingga akhirnya Pangeran Wijayakusuma memisahkan diri dan mundur ke arah barat ke daerah Jelambar hingga wafat dan dimakamkan di daerah yang sekarang dikenal sebagai makam Pangeran Wijayakusuma yang berada di Kampung Gusti, Jelambar, Jakarta Barat.
“Jadi sampai saat ini hanya sebatas data tersebut yang kami miliki. Tapi karena ketokohannya, setiap ulang tahun kota Jakarta, lokasi makam tersebut jadi tempat ziarah jajaran Pemkot Jakarta Barat,” terang Taufik.
Prasasti Pemugaran Makam Pangeran Wijayakusuma
 Mengingat nilai historisnya, makam ini mengalami pemugaran sebanyak 3 kali. Diceritakan oleh Hadi Doyo (62), sang Jupel (Juru Pelihara), pemugaran pertama kali dilakukan oleh Pemda DKI Jakarta pada 22 Juni 1968. Berlanjut pemugaran kedua dan ketiga oleh Walikota Jakarta Barat pada 28 Juli 1989 dan Juni 2004.

area-taman-makam-pangeran-wijayakusuma
Area didalam Taman Makam Pangeran Wijayakusuma
Suasana taman makam cukup asri meski tidak menempati area yang luas. Beberapa orang sering menggunakan lokasi ini untuk sejenak beristirahat. Sejuk dan segar di panas yang terik karena makam ini terlindung oleh pohon beringin yang cukup besar.

Namun demikian menurut Hadi Doyo frekuensi orang yang berkunjung tidak menentu. Belum banyak. Ada masyarakat umum yang berkunjung ziarah, ada pula rombongan anak-anak sekolah. Terakhir Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan ziarah ke makam ini, pada Juni 2013 lalu saat menjelang hari jadi Kota Jakarta.

Selayaknya aset makam ini bisa dikembangkan lebih baik. Konsep situs bersejarah sebagai aset wisata bisa menjadi sarana rekreasi sekaligus edukasi dalam keluarga. Artinya bisa memberikan kenyamanan, kegembiraan namun tidak mengabaikan pengetahuan sejarah dari situs bersangkutan. Tentu saja pengembangan itu harus mengedepankan faktor keamanan dan kelestarian makam, agar tidak rusak atau terkena aksi tangan-tangan jahil.

Peta Lokasi Makam Pangeran Wijayakusuma
Lokasi yang menempati perkotaan membuat akses lebih mudah. Beberapa hal sangat mungkin dilakukan untuk melengkapi dengan prasarana publik, misalnya menyediakan taman bermain, ruang terbuka hijau dan semacamnya untuk warga. Ada lahan tersisa yang masih belum dipergunakan, jika belum memadai bisa dilakukan dengan pembebasan lahan penduduk di sekitarnya.

Pengembangan arena tersebut sangat memungkinkan meningkatkan frekuensi kunjungan. Juga nantinya menjadi tujuan utama sarana edukasi bagi anak-anak sekolah, soal mengenal pahlawan daerahnya (dalam hal ini Pangeran Wijaya Kusuma).

Mengantisipasi tangan jahil, semestinya bisa dibangun pemagaran di area petak makam. Pemagaran yang ada di makam Pangeran Wijaya Kusuma sudah dilakukan namun masih terjangkau oleh tangan pengunjung. Menilik pemagaran yang pendek. Pemagaran dilakukan menggunakan kunci pengaman agar tidak sembarangan orang masuk tanpa ijin Jupel (Hadi Doyo). Kecuali mengantisipasi pengrusakan oleh faktor manusia, upaya pemagaran itu juga menghindarkan dari gangguan binatang di sekitarnya. Pengunjung tidak diperkenankan kontak langsung pada bagian makam, hanya bisa melihat dari jarak yang ditentukan.

Hal ini juga semestinya dilakukan pada situs-situs candi yang lebih besar, seperti Borobudur dan Prambanan. Beberapa aset patung, arca, relief dan semacamnya seyogyanya tidak diperbolehkan disentuh atau kontak langsung. Kontak langsung ini memungkinkan gesekan-gesekan yang lambat laun akan merusak candi. Tak hanya sekedar dengan papan larangan mengingat kejadian-kejadian raibnya arca-arca pada candi oleh tindak pencurian. Mengingat benda purbakala itu bernilai tinggi dan telah terbukti diselundupkan dan ditemukan di ajang lelang di luar negeri.

Terlepas dari itu semua, kesadaran akan menjaga kelestarian peninggalan bersejarah paling utama yang mesti ditanamkan pada setiap orang. Melibatkan setiap orang berperan serta menjaga situs bersejarah, melalui sikap bertanggungjawab dari sendiri. Agar fungsi situs sebagai sarana edukasi, menanamkan nilai patriotisme bagi generasi muda, melalui pengetahuan sejarah perjuangan leluhurnya, menghargai pahlawannya dapat terus dilakukan. Bukankah bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya...? Satu lagi harapannya agar aset-aset kekayaan pariwisata Indonesia sekecil apapun itu dapat berkembang, bermanfaat dan dikenal oleh seluruh masyarakat, termasuk masyarakat dunia.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI 
JASA PARA PAHLAWANNYA