Perisai Mukmin Sejati Perisai Mukmin Sejati

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

20 Oktober 2025

Fadhilah menyimpan nama Nabi Khidir alaihis salam

Fadhilah menyimpan nama Nabi Khidir alaihis salam

Jika ada manusia paling misterius dimuka bumi ini, maka sosok Nabi Khidir As adalah orangnya. Beliau tokoh yang amat terkenal, tapi jejaknya lepas dari pengamatan sejarah. Hanya cerita pribadi dari mulut ke mulut, tak meninggalkan bukti sejarah apapun.

Nama asli beliau adalah Balya Bin Malkan. Beliau lebih dikenal dengan nama julukannya yaitu Khidir. Beliau dijuluki khidir dikarenakan setiap tempat yang beliau singgahi langsung menjadi hijau. Ini sebagaimana yang disampaikan oleh Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam mukadimah kitabnya, Al-Baijuri ‘ala Ibni Qosim.

وكذا الخضر بفتح الخاء وكسر الضاد او سكونها ولقب بذلك لانه ما جلس على ارض الا اخضرت

Wakadzal khodru bifathil kho’i wakasridh-dhodi aw sukuniha waluqiba bidzalika li-annahu ma jalasa fi ardin illa akhdorrot


Seperti itu juga Nabi Khidir, (termasuk sahabat), dibaca dengan kho fathah dan dhod kasroh (khodir) atau sukun (khodr). Beliau dijuluki demikian karena dimana saja bumi yang beliau duduki, maka langsung menjadi hijau (subur).

انما سمي الخضر لانه اذا جلس على فروة بيضاء فاذا هي تهتز من خلفه خضراء

“Beliau diberi nama Khidr karena ketika beliau duduk di atas tanah putih, tiba-tiba ia bergetar, lalu di belakang beliau berwarna hijau (subur).”(HR. Bukhari 3221, Fathul Bari)


Nama Nabi Khidir AS tidak disebut langsung oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an. Namun ayat yang berhubungan dengan beliau tercatat di dalamnya. Bahkan kisah beliau dengan Nabi Musa cukup menjadi perhatian umat islam. Kisah nabi dan rasul ini terdapat dalam surat al-Kahfi ayat 65.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. (Qs. Al-Kahfi [18]: 65)

Kisah antara Nabi Musa dan Nabi Khidir ini tentang tiga hal, yaitu Kapal yang dirusak, anak kecil yang dibunuh, dan bangunan hampir roboh yang direnovasi. Ketiga hal ini adalah hal aneh pada Nabi Musa As. dan hal yang biasa bagi Nabi Khidir As. Karena apapun yang dikerjakan oleh Nabi Khidir As adalah berdasarkan ilham dari Allah Swt. Ilmu yang dimiliki Nabi Khidir adalah Ilmu Ladunni (ilmu hakikat) sedangkan ilmu Nabi Musa adalah Kasbi. Jadi wajar terjadi perbedaan pandangan antara keduanya.

Jadi, Nabi Balya Bin Malkan ini adalah nabi yang menjadi guru dari Nabi Musa As. Beliau adalah salah satu nabi yang sampai detik ini masih belum wafat. Selain beliau, ada nama Nabi Isa As yang belum merasakan maut. Sangat banyak orang yang ingin berjumpa dengan beliau. Jangankan di dunia nyata, dalam mimpi saja banyak yang merindukan pertemuan dengan beliau. Bahkan ada yang sampai bertapa (kholwat) di pinggir sungai patemon (pertemuan dua sungai) untuk bertemu dengan Nabi Khidir As.

Jangankan para Waliyullah atau para ulama, orang biasa seperti saya juga ingin sekali berjumpa dengan beliau walaupun hanya sekedar mencium tangannya.

Namun, ketika di antara kita tetap tidak bisa menjumpai beliau sampai akhir hayat, maka alangkah ruginya jika kita tidak tahu terhadap nama asli beliau. Nama asli beliau adalah Nabi Balya bin Malkan. Semoga Allah Swt memberikan rahmat dan salamnya untuk beliau dan kita diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan beliau di dunia. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.

Bahkan, meski memiliki kisah yang unik dengan Nabi Musa As, Taurat maupun Injil tidak menceritakannya. Kisah itu hanya diceritakan dalam Al-Qur’an, meski tak secara langsung menyebut namanya.

Sisi misterius memang memainkan peran tersendiri dalam membentuk ketokohan Nabi Khidir As. Atas dasar itu, kalangan sufi menyebutnya sebagai tokoh Rijalul-ghaib.Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyatakan, “Di antara para wali ada orang yang sudah fana’ dari kebutuhan makan dan minum, menghindar dari umat manusia dan tak terlihat oleh pandangan mata mereka, ia diberi umur panjang, tidak mati-mati, seperti Nabi Khidir As”.

Banyak hal yang mengkisahkan Nabi Khidir As bersama Nabi Musa As menjadi sumber inspirasi kehidupan batin para sufi, meski dalam beberapa hal pula, ada beberapa oknum dari kelompok sufi yang salah paham, dan justru menganggap kisah tersebut sebagai perseteruan antara ilmu dzahir dan ilmu batin, atau antara syariat dan hakikat.

Bahkan, atas dasar kisah itu, aliran Bathiniyyah beranggapan bahwa syariat hanya berlaku untuk para nabi dan kalangan awam, tidak berlaku untuk kalangan wali atau kalangan khawash.

Sosok Nabi Khidir As memang begitu lekat dengan benak kaum sufi. Syekh Muhammad al-Khasanzan, Khalifah Tarekat Qadiriyah dunia pada akhir abad 14 Hijriyah, menyatakan bahwa Sosok Nabi Khidir As adalah Ramzun lit-thariq al-mushil ilal-hayat al-khadhra’ al-abadiyah. Berarti dalam anggapan beliau, Al-Khidir adalah semacam perlambang bagi jalan Tasawuf.

Menurutnya, kata “Khidr” adalah lambang kehidupan. Khidhr memiliki akar kata yang sama dengan khudrah yang berarti Hijau. Hijau adalah lambang kehidupan. Secara jasmani beliau hidup dalam masa yang panjang, dan secara ruhani beliau adalah lambang kehidupan batin.Kenyataannya, Al-Khidhir memang menjadi ikon yang tak tergantikan dalam perjalanan kehidupan sufistik.

Kisah para tokoh sufi, baik para wali yang masyhur ditingkat dunia ataupun para wali yang masyhur ditingkat lokal, nyaris tak pernah lepas dari “bumbu” kedatangan beliau. Bahkan, beliau terkesan seperti menjadi pemberi stempel bagi status kewalian.

Karena banyaknya pengalaman mistik para sufi dengan Sosok Nabi Khidir As ini, maka mereka menjadi kelompok yang paling gigih dalam membela pandangan teologis bahwa Al-Khidir masih hidup. Bagi kalangan sufi, keberadaan Nabi Khidir adalah nyata dan bersentuhan langsung dengan dunia empiris mereka.

Dari berbagai referensi tasawuf tidak terlalu sulit menemukan kisah-kisah pertemuan para sufi dengan Sosok Nabi Khidir As seperti dalam kisah-kisah Umar bin Abdil Aziz, Ibrahim bin Adham, Abdullah bin Mubarak, Junaid al-Baghdadi, al-Khawash, Ahmad Rafi’i, dan tokoh-tokoh sufi masyhur lainnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jaylani, tercatat memiliki kisah yang cukup banyak dengan Al-Khidir. Al-Khidir menjadi semacam pembimbing bagi beliau, mulai sejak tirakat pengembaraan selama 25 tahun, hingga beliau menetap di Baghdad dan menjadi tokoh besar yang didatangi oleh para salik dari seluruh penjuru dunia.

Sebelum masuk ke Baghdad dan mengakhiri tirakat pengembaraannya, konon Sosok Nabi Khidir As menyuruhnya untuk tirakat dipinggir sungai di tepi banghdad selama 7 tahun. Beliau makan dari rumput dan tumbuh-tumbuhan sekitarnya, hingga warna hijau rumput membekas di lehernya. Setelah itu, Al-Khidir mengatakan, “Hai Abdul Qadir, masuklah ke Baghdad”.

Selain Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, tokoh sufi lain yang memiliki banyak kisah dengan Al-Khidir adalah Ibnu Arabi. Beliau menceritakan sendiri kisah-kisah itu dalam kitabnya Al-Futuhat al-Makkiyyah.

Maka tidak heran jika Muhammad Ghazi Arabi, seorang peneliti tasawuf di Jazirah Arab yang masih semasa dengan Syekh al-Khasanzan, menyatakan, “Sosok Nabi Khidir As adalah guru kalangan sufi. Beliaulah yang menjadi penuntun dalam perjalanan panjang mereka. Maka, bagi para sufi, Khidir adalah guru, teman bicara, dan kawan terbaik yang pernah menyertai mereka. Dialah gurunya para syekh. Ia membimbing dan menuntun para salik, langkah demi langkah”.

Apa yang diungkapkan oleh Ghazi Arabi itu sangat pas dengan konsepsi para sufi tentang Sosok Nabi Khidir As. Pertemuan dengan Nabi Khidir As selalu membawa pesan yang sangat berharga bagi jalan suluk yang mereka tempuh. Bagi mereka, Nabi Khidir As memang pembimbing yang paling teduh, seteduh warna hijau yang terpantul didalam namanya.

Kalam Abah Guru Sekumpul:

"Nama asli/nama lengkap Nabi Khidir ditulis di kertas kemudian ditempel di dinding rumah atau toko/tempat usaha, fadhilahnya adalah insya allah rumah itu selalu damai, aman, dan suatu saat orang yang ada di dalam rumah itu akan bertemu nabi khidir, serta tokonya akan disukai orang banyak (syarat dagang)."

"dan apabila nama Nabi Khidir ditulis di kertas, kemudian disimpan dan dibawa kemana-mana, apabila kita mendapat masalah yang sulit kita pahami, insya Allah masalah itu cepat kita pahami dan mampu kita selesaikan. berkat Nabi khidir alaihis salam"

Nama Lengkap Nabi Khidir Adalah Abul Abbas Balya bin Malkan bin Falikh bin Anbar bin Salakh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS bin Lumakh bin Mutawasylikh bin Idris As bin Yard bin Mahlail bin Qainan bin Yanasy bin Syits bin Adam alaihis-salam

19 Oktober 2025

Kisah Nabi Muhammad Di Santet

 KISAH NABI MUHAMMAD SAW KETIKA DI SANTET KAUM YAHUDI

Upaya pembungkaman terhadap Nabi Muhammad SAW agar supaya tidak mendakwahkan ajaran Islam dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari rencana Pembunuhan, Embargo ekonomi, Fitnah sampai kepada Guna-guna. Mengenai Guna-guna Nabi Muhammad SAW diceritakan pernah di santet oleh seorang yang dengki padanya, Santet ini dijalankan dengan teknik mencuri helaian rambut Nabi Muhamad SAW yang tercecer.
Kisah Nabi Muhammad Saw Ketika Di Santet Kaum Yahudi
Orang yang menyantet Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang disebutkan dalam Hadist Bukhari dan Muslim adalah Labid bin al-A’sham, ia merupakan tukang sihir yang berasal dari kalangan orang-orang Yahudi, dikisahkan pada zamannya Labid bin al-A’sham ini merupakan Dukun ternama.

Dia di upah untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW dengan imbalan 3 dinar emas, iapun kemudian melancarkan aksinya setelah sebelumnya memerintahkan anak-anak untuk datang kerumah Nabi Saw dan mengambil beberapa helai rambut Nabi Saw yang tercecer dalam sisir untuk dicuri dan selanjutnya menyerahkannya pada Labid bin al-A’sham.

Melalui beberapa helai rambut itu, Labid bin al-A’sham melancarkan aksi guna-gunanya. Rambut Nabi Saw yang telah didapatnya kemudian ia racik dengan guna-guna dalam bentuk  “Pelepah kurma berisi rambut Nabi yang rontok ketika bersisir, beberapa gigi sisir serta benang yang terdapat 11 ikatan bergulung-gulung yang ditusuk jarum”. Racikan guna-guna ini lalu diletakan oleh Labid bin al-A’sham kedalam sumur Dzarwan, dibalik sebuah tumpukan batu.

Efek sihir yang dilancarkan Labid bin al-A’sham ini akhirnya mengenai Nabi Saw, merasa ada yang aneh dalam dirinya kemudian Nabi Saw yang pada waktu itu dalam keadaan sakit terkena Santet memohon pertolongan pada Rabb-nya. Sehingga kemudian tidak lama setelah itu, Nabi Saw kedatangan dua orang malaikat yang memberitahukannya bahwa beliau disantet, Selain mengabarkan tentang itu kedua Malaikat tersebut juga mengabarkan bahwa pusat santet berada di Sumur Dzarwan.

Mendapatkan kabar dari Malaikat mengenai pusat Santet yang berada di Sumur Dzarwan, beliaupun kemudian menuju sumur itu didampingi beberapa sahabat, setelah sumur itu diperiksa maka benar saja, ternyata guna-guna itu berada dibalik batu, ketika membongkar batu dan melihat  guna-guna itu Nabi Saw kemudian membacakan Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas yang sebelumnya diajarkan Malaikat untuk menangkal sihir.

Manakala Setiap satu ayat dari surat-surat Al-Qur'an itu dibacakan, terlepaslah satu ikatan benang sihir yang dibuat Labid bin al-A’sham hingga Rasulullah Saw merasakan efek sihir itu lebih ringan. Ketika seluruh ayat telah dibacakan, terlepaslah seluruh ikatan benang yang berjumlah 11 ikatan bergulung-gulung tersebut, selepas itu air sumur kemudian tiba-tiba berubah memerah darah.

Selepas itu, Nabi kemudian menimbun alat-alat sihir itu dan kemudian meninggalkannya. Pada waktu itu sahabat sebenarnya memberikan anjuran pada Nabi agar Nabi Saw membalikan santet itu kepada Labid bin al-A’sham, akan tetapi Nabi SAW menolak, karena baginya setelah beliau disembuhkan oleh Allah maka tidak pantas bagi beliau untuk membuat sakit orang yang mencelakakannya.

Kisah mengenai di santetnya Nabi Muhammad Saw ini bisa anda temui dalam Hadist yang  diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X/222-Fath) dan Muslim dalam kitab As-Salaam Bab As-Sihr (XIV/174-Nawawi). Selain itu juga anda dapat menemui kisah di atas dalam kisah Ababunuzul Surat An-Naas dan Al-Falaq. 

Cara Orang Kuno Mengetes Keaslian Nasab

CARA ORANG KUNO MENGETES KEASLIAN NASAB ORANG YANG MENGAKU CUCU 
NABI MUHAMMAD SAW

Cara Orang Kuno Mengetes Keaslian Nasab Orang Yang Mengaku Cucu Nabi Muhamad
Bahasan perihal Nasab Palsu dalam sejarah Islam sudah ada sejak lama. Di zaman Khalifah Al-Mutawakkil (Wafat 861) pernah ada seorang Wanita bernama Zainab mengaku sebagai Keturunan Nabi Muhamad SAW

Karena Keturunan Nabi, Zainab dihormati oleh Rakyat Baghdad, namun kian hari tingkah Zainab ini mencurigakan sebab sering meminta-minta harta kepada Rakyat dengan memanfaatkan penghormatan rakyat kepada Dzuriyah Nabi. 

Salah seorang Penduduk yang curiga kemudian mengadukan-nya kepada Khalifah sehingga kemudian dipanggil Zainab ke hadapan Khalifah untuk di uji keabsahan Nasabnya. 

Dengan bijak, Al-Mutawakkil meminta pendapat Ali bin Muhammad bin Musa Al-Hadi (keturunan Nabi Muhamad) perihal pengakuan Zainab. 

Dengan nada menantang, Al-Hadi meminta agar Zainab dimasukkan ke dalam kandang Singa dengan alasan bahwa seseorang yang pada dirinya ada aliran darah rasul tidak akan di satroni oleh binatang buas.
Cara Orang Kuno Mengetes Keaslian Nasab
Mendengar tantangan itu, Zainab berkilah "mengapa bukan engkau yang masuk ke kandang singa..?". Tanpa ragu Al-Hadi masuk ke dalam kandang singa dan singa pun merunduk di sampingnya. Melihat kejadian ini, Zainab kemudian gemetar ketakutan seraya berkata bahwa sesungguhnya dirinya bukanlah keturunan Nabi Muhammad. 

Begitu cuplikan Orang Kuno (Abad 9) dalam menguji keabsahan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi Muhamad Saw yang terekam dalam sejarah Islam. 

Diduga ada kemungkinan dalam mengadili Zainab, Khalifah dan Al-hadi melakukan semacam trik dalam rangka membongkar kebohongan Zainab, bisa saja Khalifah dan Al-hadi melakukan sandiwara yang telah dirancang dimana Singa yang disuguhkan merupakan Singa yang sudah kenyang ataupun Singa peliharaan Alhadi sendiri sehingga ketika Alhadi masuk ke Kandang Singa yang terjadi singa tersebut menjadi jinak kepada Al-hadi. Sekali lagi ini hanya dugaan Mimin. 

Jika hal itu benar, maka Trik tersebut pada nyatanya efesien, dan karena efesien kemudian cara tersebut digunakan Negara untuk menakut-nakuti orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi kala itu.  

Lalu apakah masih relevan cara itu bila digunakan pada kondisi sekarang.?? 

Tentu sudah tidak relevan, sebab selain Singa mencarinya susah teknik itu juga kuno dan tentunya hanya cocok digunakan kepada mereka yang menyadari kebohongan-nya sendiri. 

Di Indonesia, karena yang membuat bohongnya itu ratusan tahun yang silam. Maka cucu-cucu pembohong itu telah menganggap dirinya benar sebagai keturunan Nabi. Orang semacam ini kalau di uji dengan Trik dimasukan ke Kandang Singa kasihan juga.   Sebab mereka tidak merasa berbohong, karena yang membohongi mereka itu adalah nenek moyangnya yang telah lama mati. 

Pada zaman Modern, cara yang jitu untuk mengetahui kepalsuan Nasab orang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi adalah dengan cara melakukan Tes DNA. Kalau mereka lari dan tidak mau maka sudah dipastikan itu nasabnya palsu, sebab sama seperti larinya Zainab ketika ditantang masuk Kandang Singa. Wallahu A'lam Bishawab​​

Keturunan Sunan Gunung Jati

Istri, Anak, Cucu dan Cicit Sunan Gunung Jati

Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Cirebon
Sunan Gunung Jati yang nama aslinya Syarif Hidayatullah adalah Sultan Cirebon pertama, tidak berbeda dengan manusia normal lainnya maka Sunan Gunung Jati pun mempunyai Istri, Anak, Cucu dan Cicit. Keturunan Sunan Gunung Jati tersebut nantinya ada yang melanjutkan tahtanya, ada juga yang menjadi penguasa di Kerajaan lain, adapula yang menjadi pembesar maupun ulama yang menyebar dipulau Jawa dan luar Jawa.

Selama hidupnya Sunan Gunung Jati menikahi 6 orang wanita, ke-enamnya tidak di nikahi secara langsung melainkan dinikahi setelah salah satu istri sebelumnya wafat. Hal tersebut dilakukan karena dalam ajaran islam tidak boleh menikahi 6 wanita sekaligus.

ISTRI-ISTRI SUNAN GUNUNG JATI
Istri pertama Sunan Gunung Jati adalah Nyi Mas Babadan merupakan anak Ki Gede Babadan seorang Petani asal desa Babadan. Mengenai letak desa Babadan terdapat dua versi ada yang menyatakan letaknya di Banten adapula yang menyatakan letaknya di Indramayu.

Istri kedua Sunan Gunung Jati adalah Nyi Mas Pakungwati merupakan anak dari Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang beliau merupakan istri Sunan Gunung Jati yang berkedudukan sebagai Permaisuri di Kesultanan Cirebon.

Istri ketiga Sunan Gunung Jati adalah Nyi Mas Rara Jati putri dari Ki Gede Jati (Syekh Nurjati) seorang Ulama sekaligus guru Sunan Gunung Jati yang tinggal di Gunung Sembung/Gunung Jati.

Istri keempat Sunan Gunung Jati adalah Ong Tien, seorang Putri asal negeri Cina, beliau di nikahi Sunan Gunung Jati selepas kewafatan Nyi Mas Babadan.

Istri kelima Sunan Gunung Jati adalah Nyi Mas Kawunganten anak permadi Putri Raja Cangkuang juga merupakan adik Pucuk umun Banten Girang. Dinikahi Sunan Gunung Jati ketika Sunan Gunung Jati berdakwah di Banten.

Istri keenam atau istri terakhir Sunan Gunung Jati adalah Nyi Mas Rara Tepasan, merupakan putri Ki Gede Tepasan dari Majapahit.

ANAK SUNAN GUNUNG JATI
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan ke-enam orang wanita yang telah disebutkan ada yang menghasilkan anak, ada juga yang tidak. Adapun anak-anak Sunan Gunung Jati adalah sebagai berikut:

1. Pangeran Jaya Kelana adalah anak Sunan Gunung Jati dengan Rara Jati, merpakan anak tertua Sunan Gunung Jati.
2. Pangeran Brata Kelana adalah ana Sunan Gunung Jati dengan Rara Tepasan
3. Ratu Winahon adalah putri Sunan Gunung Jati dari Nyi Mas Kawunganten
4. Pangeran Sebakingkin atau Maulana Hasanudin adalah putra Sunan Gunung Jati dari Nyi Mas Kawunganten yang kelak menjadi Sultan Banten pertama. 
5. Ratu Ayu Wanguran adalah putri Sunan Gunung Jati dari Rara Tepasan kelak putri ini dinikahi oleh Sultan Demak kedua (Pati Unus).
6. Pangeran Pasarean adalah putra Sunan Gunung Jati dari Rara Tepasan. 
Dari Perkawinan Sunan Gunung Jati dengan Nyi Mas Babadan, Nyi Mas Pakungwati dan Ong Tien tidak memperoleh keturunan.
Keturunan Sunan Gunung Jati dari istri-istrinya

CUCU SUNAN GUNUNG JATI
Enam putra dan putri Sunan Gunung Jati dari hasil perkawinan-nya dengan enam orang perempuan menurunkan cucu-cucu Sunan Gunung Jati, yaitu:

1. Ratu Wanawati Raras adalah cucu Sunan Gunung Jati dari anak perempuannya Ratu Ayu Wanguran yang menikah dengan Fatahillah (Tu Bagus Pase/Penakluk Sunda Kelapa)
2. Ratu Nyawa (Namanya Sama dengan Putri Sultan Demak) juga  cucu Sunan Gunung Jati dari anak perempuannya Ratu Ayu Wanguran 
3. Pangeran Agung (Bukan Panembahan Ratu I) juga  cucu Sunan Gunung Jati dari anak perempuan-nya Ratu Ayu Wanguran.
4. Ratu Sewu juga cucu Sunan Gunung Jati dari anak perempuannya Ratu Ayu Wanguran.
5. Ratu Agung juga cucu Sunan Gunung Jati dari anak perempuannya Ratu Ayu Wanguran.
6. Pangeran Kesatrian adalah cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean 
7. Panembahan Losari adalah juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean
8. Pangeran Sedang Kemuning adalah juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean
9. Ratu Bagus adalah juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean
10. Ratu Mas Tuban juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean
11. Pangeran Raju juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Pasarean
12. Pangeran Suryani adalah cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Hasanuddin atau Pangeran Sebakingkin
13. Pangeran Pajajaran adalah juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Hasanuddin atau Pangeran Sebakingkin
14. Pangeran Maulana Yusuf adalah juga cucu Sunan Gunung Jati dari putranya Pangeran Hasanuddin atau Pangeran Sebakingkin, kelak menjadi Sultan Banten II.

Anak Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Jaya Kelana, Pangeran Bratakelana dan Ratu Winahon tidak mempunyai keturunan/tidak tercatat sehingga tidak/dianggap tidak memberikan cucu pada Sunan Gunung Jati.
cucu-cucu Sunan Gunung Jati

CICIT SUNAN GUNUNG JATI
14 Cucu Sunan Gunung Jati melahirkan cicit Sunan Gunung Jati, adapun cicit Sunan Gunung Jati yang tercatat diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pangeran Panegak adalah cicit Sunan Gunung Jati dari cucunya Panembahan Losari
2. Pangeran Arya adalah juga cicit Sunan Gunung Jati dari cucunya Panembahan Losari
3. Ratu Salambitan adalah juga cicit Sunan Gunung Jati dari cucunya Panembahan Losari
4. Pangeran Agung (Panembahan Ratu) adalah cicit Sunan Gunung Jati dari cucunya Pangeran Sedang Kemuning (Pangeran Dipati Carbon I), kelak Pangeran Agung menjadi Sultan Cirebon ke dua Pengganti Sunan Gunung Jati. 

Cicit Sunan Gunung Jati selain dari cucu-cucunya yaitu Panembahan Losari dan Pangeran Sedang Kemuning belum tercatat sehingga tidak diketahui. 

12 Oktober 2025

Ulama Karismatik Abah Guru Sekumpul

Ulama Karismatik Abah Guru Sekumpul
Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul mulai membuka majelis di kediaman dan musholla Darul Aman di tahun 1960-an.

Namun di masa-masa awal, jalan terjal harus ditempuh ulama karismatik tersebut. Di antaranya, sempat mau dibunuh orang.

Pada tahun 1960-an Abah Guru membuka majelis di kediaman dan musholla (Darul Aman) di desa Keraton Martapura. Semula majelis tersebut dimaksudkan untuk menunjang pelajaran para santri yang terbatas waktunya di pesantren.

Namun setelah memutuskan berhenti mengajar di Pondok Pesantren Darussalam (setelah 5 tahun di sana), majelis ini makin tumbuh besar. Jemaah yang hadir tidak hanya dari kalangan santri, tapi juga dari masyarakat awam. Sehingga, kitab yang dibaca pun bervariasi.

Sebagaimana dikutip dari buku "Figur Ulama Karismatik Abah Guru Sekumpul", sebelumnya kitab yang dibaca adalah kitab-kitab ilmu alat seperti Al-Jurumiyah, Mukhtashar Jiddan, Mutammimah, Qathrunnada, dan Ibnu Aqil.

Setelah bertambah jamaah dari masyarakat awam, beliau kemudian membaca banyak kitab. Di antaranya; Kitab Sabilal Muhtadin, Syarah Jauharatut Tauhid, Ihya Ulumuddin, Tafsir Jalalain, Marahul Labid, Kitab Bukhari, dan Mawaidz Usfuriyah.

Nah, ketika membaca kitab Mawaidz Usfuriyah inilah, Abah Guru Sekumpul sempat hendak dibunuh orang. Seperti diceritakan dalam buku "Abah Guru Sekumpul dalam Kenangan", saat itu Abah Guru sedang membicarakan sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah yang terlambat mengikuti shalat shubuh karena menghormati (tidak mendahului) orang tua yang berjalan di depannya.

Ketika sampai masjid, orang tua itu ternyata tidak singgah ke masjid. Karena memang bukan orang Islam. Saat menceritakan sejarah itu, ada orang yang tersinggung dengan perkataan Abah Guru. Orang itu mengira, Abah Guru menyindir dirinya yang tidak ikut shalat shubuh berjamaah.

Orang itu pun datang ke Musholla Darul Aman dengan membawa dua buah sajam (bayonet) di tangannya. Ketika sampai di belakang Abah Guru, orang itu kemudian mengangkat sajam tersebut untuk menebas tubuh Abah Guru yang sedang menggelar majelis.

Abah Guru melihat bayangan seseorang dibelakang beliau. Sehingga beliau pun menoleh. Saat Abah Guru menoleh, orang tersebut seketika mematung tak berdaya. Melihat keadaan itu, Abah Guru pun mengakhiri majelis dan pulang ke rumah.

Tak lama kemudian terdengar kabar, orang itu meninggal dunia dan ketika dimandikan tubuhnya terlihat seperti terkena cakar besar.

Cerita tersebut pun kemudian tersebar hingga ke telinga para ulama. Satu di antaranya adalah ulama sepuh bernama Guru Muhdar. Beliau berfirasyat, "Mesti ada amalannya". Sehingga beliau kerap bertamu ke kediaman Abah Guru, hanya untuk menanyakan hal tersebut.

Namun Abah Guru mengaku tidak memiliki amalan yang dimaksud Guru Muhdar. Beliau hanya bertawakkal kepada Allah

Kisah Rasulullah Titip Salam

Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada 
KH. Khozin Khoiruddin Buduran Sidoarjo

Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada Kiai Khozin Buduran Sidoarjo
Salah seorang waliyullah yg terkenal keramat, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan-Madura, suatu kali menunaikan ibadah haji. Beberapa saat ketika beliau singgah di Madinah hendak berziarah ke makam Rosulullah di Ar-Roudhoh, beliau berjumpa dengan Nabi SAW. Ketika itu beliau terlihat mesra sekali bercengkrama dengan Nabi, hingga sebelum berpisah, Nabi mengatakan kepada Syaikhona Kholil Bangkalan bahwasannya kalau Syaikhona kembali ketanah air supaya menyampaikan salamnya Nabi kepada Khozin dari Buduran-Sidoarjo.

Begitulah, selepas kapal yang ditumpangi Kyai Kholil bersandar di pelabuhan Kota Surabaya (sekarang Tanjung Perak), beliau tidak langsung menuju Bangkalan-Madura, akan tetapi langsung menuju Buduran-Sidoarjo mencari orang yang bernama Khozin sebagaimana yang disarankan Nabi SAW kepadanya. Begitu sampai di Buduran, beliau menanyai beberapa orang yang dijumpainya, menanyakan rumah Khozin.
Setiap jawaban yg beliau peroleh bervariasi, mulai Khozin tukang cukur rambut, tukang sepatu sampai profesi yang disebutkan, dan semuanya tidak cocok dengan sosok yg beliau bayangkan. Hingga suatu saat kemudian dipagi hari beliau bertemu dengan bapak tua berpakaian kaos oblong, dengan memakai sarung yang agak di cincingnya sedang menyapu halaman sebuah rumah yang mirip sebuah pesantren dengan beberapa gothaan ( bilik-bilik bambu para santri ), Kyai Kholil lalu menghampiri bapak tersebut yg tengah sibuk dengan aktifitasnya tersebut. Setelah mengucapkan salam dan dijawab oleh bapak tersebut, beliau bertanya;

” Pak, dimanakah rumah Khozin ?”
” Kalau nama Khozin, banyak disini “. Jawab orang tersebut.

” Tapi kalau Kyai hendak mencari Khozin yang dimaksud Rosulullah sewaktu sampean di Madinah, ya saya ini Khozin yang beliau maksud “. Lanjut bapak tersebut.

Syaikhona Kholil tersentak kaget setelah mendengar jawaban spontan tersebut. Serta merta beliau menjatuhkan koper perbekalan yang dibawanya dan mencium tangan bapak tersebut berulang kali.

Ya, itulah Kyai Khozin Khoiruddin pengasuh pondok Siwalan Panji Buduran sekaligus perintis tradisi khotaman Tafsir Jalalain, yg diera Kyai Ya’kub Hamdani terkenal sebagai pondoknya para wali. Hadrotussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari adalah alumni ponpes ini, dimana beliau sempat diambil menantu oleh Kyai Ya’qub dengan mempersunting puterinya yang bernama Khodijah, dari perkawinan beliau lahir seorang putra bernama Abdullah.

Tapi sayang keduanya (Nyai Khodijah dan Abdulloh putranya) wafat di Makkah pada tahun 1930, dipondok ini gothaan kyai Hasyim ketika masih nyantri sampai sekarang diabadikan, dan diantara alumni yg lain adalah seperti Mbah Hamid Abdullah Pasuruan, Kyai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Mbah Ud Pagerwojo, Mbah Jaelani Tulangan (konon menurut penuturan cucunya kepada saya, disuatu musim kemarau waktu itu banyak para petani yang kehausan karena sumur disawah maupun rumah kering kerontang, ditengah kehausan itu tiba-tiba mereka melihat Mbah Jaelani melayang-layang diudara sambil membawa timba-timba berisi air beserta pikulannya), ada juga wali kendil (kakak beradik yang meninggal ketika masih menjadi santri).

Si adik ahli mutholaah kitab sedangkan si kakak ahli tirakat, hingga pada suatu hari kakaknya marah melihat adiknya menanak nasi karena tidak menghormati kakaknya yg sedang berpuasa. Ditendangnya kendil buat menanak nasi itu hingga pecah berantakan. Melihat itu si adik diam sambil mengambil serpihan-serpihan kendil yang pecah berantakan itu ditempelkannya lagi potongan serpihan itu dengan ludahnya hingga kembali utuh seperti sedia kala. Hingga ketika keduanya meninggal, makam adiknya tidak mau berjejer berdampingan dengan kakaknya, setiap hari makam adiknya bergeser maju bahkan konon sampai menembus pagar batas makam, dan pada akhirnya oleh Kyai Ya’kub makam santrinya itu diperingatkan agar cukup sampai disitu saja. Hingga sampai sekarang makam keduanya yang awalnya berjejer sudah tidak lagi seperti pertama kali dimakamkan, makam adiknya lebih maju kedepan melewati batas nisan kakaknya ), dan Kyai Kholil Bangkalan sendiri termasuk alumni Siwalan Panji.

Pondok Siwalan Panji ini berdiri sekitar tahun 1787 oleh Kyai Hamdani. Menurut Gus Rokhim ( alm ) pemangku pondok Khamdaniyah yang juga generasi ke tujuh dari Mbah Khamdani, ketika tanah siwalanpanji masih berupa tanah rawa, Mbah Hamdani meminta kepada Allah agar tanah rawah ini diangkat kepermukaan untuk dijadikan sebagai kawasan syiar Islam waktu itu.

“Ketika itu Mbah Hamdani meminta pertolongan kepada Allah, tidak berselang lama, tanah yang sebelumnya rawa, tiba² terangkat dan menjadi daratan,”. Tidak hanya itu, pada awal awal pengerjaan pondok, kayu bangunan pondok yang didatangkan dari cepu melalui jalur laut tiba² pecah dan terserak dan berpencar. Namun karena pertolongan Allah, kayu-kayu yang semula berpencar ini, bergerak sendiri melalui sungai menuju sungai di seberang kawasan pondok.

“Ada satu kayu yang tersangkut di kawasan Kediri, dan sekarang disebut menjadi kayu cagak Panji,” cerita Gus Rokhim.

Dijuluki pondoknya para wali karena setiap tahun alumni yang keluar bbeberapa diantaranya sudah mempunyai karomah-karomah luar biasa ketika masih menjadi santri.

Konon dari beberapa riwayat yang saya kumpulkan, di pondok Panji atau Siwalan Panji inilah kitab Tafsir Jalalain pertama kalinya dibaca secara klasikal pada tahun 1789 M. Sistem penddikin ala madrosah Diniyyah juga sudah ada pada waktu itu, hanya saja formatnya tidak seperti sekarang yang tersusun sistematis dan terencana.

Semenjak itu Syaikhona Kholil selalu mewanti wanti agar santri beliau yang boyong agar tabarrukan dulu di pondok Panji yang diasuh Kyai Khozin ketika itu, sebagai bentuk ketakdzhiman Syaikhona Kholil kepada Kyai Khozin.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa sampai sekarang pondok Panji, terutama pondok Al Khozini banyak dipenuhi santri dari Madura, sebagai bentuk ketakdzhiman mereka pada dawuh Syaikhona Kholil Bangkalan.

Demikian Kisah Rasulullah Titip Salam Kepada Kiai Khozin Buduran Sidoarjo, semoga manfaat.
Wallohu a’lamu bis showab.

Sidoarjo, Rabu 5 Agustus 2015.
Penulis: Danny Ma’shoum.

Keutamaan Surah Al-a'la Menurut Islam

🌿 Keutamaan Surah Al-A‘la: Surat yang Dicintai Rasulullah ﷺ

Keutamaan Surah Al-a'la Menurut Islam

Surah Al-A‘la (الأعلى) adalah surah ke-87 dalam Al-Qur’an, termasuk golongan surah Makkiyah yang terdiri dari 19 ayat. Kata Al-A‘la berarti Yang Maha Tinggi, salah satu sifat Allah yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

Surah ini sangat istimewa karena sering dibaca Rasulullah ﷺ dalam salat-salat penting seperti salat Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha.


🌸 Kandungan dan Makna Surah Al-A‘la

Surah ini berisi pesan mendalam tentang:

  1. Keagungan dan kesucian Allah
    “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” (QS. Al-A‘la: 1)
  2. Jaminan Allah menjaga wahyu-Nya
    “Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu, maka engkau tidak akan lupa.” (QS. Al-A‘la: 6)
  3. Peringatan agar tidak terikat dunia
    “Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 16–17)

🌙 Keutamaan Surah Al-A‘la Menurut Hadis

1. Dibaca Rasulullah ﷺ pada salat Jumat dan Id
“Rasulullah ﷺ membaca Sabbihisma rabbikal a‘la dan Hal atâka hadîtsul ghâsyiyah dalam salat Jumat dan dua hari raya.” (HR. Muslim)

2. Surah yang dicintai Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Engkau telah membaca surah yang aku cintai, Sabbihisma rabbikal a‘la.” (HR. Abu Dawud)

3. Menenangkan hati dan pikiran
Ulama tafsir menyebutkan bahwa siapa yang membaca Surah Al-A‘la dengan penuh keikhlasan, Allah akan menenangkan hatinya dan menguatkan imannya.


🌺 Fadhilah dan Manfaat Membaca Surah Al-A‘la

  • Menambah rasa syukur dan keimanan.
  • Dimudahkan urusan dunia dan akhirat.
  • Didekatkan dengan sifat zuhud dan tawakal.
  • Hatinya menjadi lebih tenang dan tenteram.

🕋 Cara Mengamalkan Surah Al-A‘la

  • Baca setiap pagi sebagai dzikir tasbih dan penyucian diri kepada Allah.
  • Baca dalam salat sunnah seperti Dhuha, Witir, atau Tahajud.
  • Hafalkan dan renungkan maknanya, hadirkan rasa tunduk dan syukur dalam hati.

🌤️ Penutup

Surah Al-A‘la mengajarkan agar kita selalu memuji dan menyucikan Allah Yang Maha Tinggi, menjaga kemurnian hati, dan mengutamakan akhirat di atas dunia. Dengan membacanya secara rutin, insya Allah kita akan mendapatkan ketenangan dan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

“Maka ingatlah (nama) Tuhanmu, dan sucikanlah Dia.” (QS. Al-A‘la: 15)

Wallahu a‘lam bish-shawab.


📺 Tonton juga video Murrotal Surah Al-A'la di channel YouTube kami :

Artikel ini ditulis untuk menambah wawasan dan meningkatkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an.

Shalawat Sebanding Dalail Khoirot

SHALAWAT DARI AL-ARIF BILLAH KH. IMAM KHOLIL BIN SYEKH SYU'AIB BIN ABDUL ROZAQ SARANG REMBANG

Shalawat Sebanding Dalail Khoirot
Keutamaannya jika dibaca satu kali sebanding dengan membaca kitab Sholawat Dalail Al-Khoirot seratus ribu kali dan membebaskan dari sentuhan api neraka.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الَّذِيْ مَا وَلِدَمِثْلُهُ فِى الْوُجُوْدِ وَلَمْ يُوْلَدْ مِثْلُهُ قَطُّ

ALLAAHUMMA SHALLI WA SALLIM ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADINIL-LADZII MAA WULIDA MITSLUHU FIL WUJUUDI WALAM YUULAD MITSLUHU QOTH-THU.

"Ya Allah Limpahkanlah Rahmat dan Salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Shollallahu Alayhi wa Sallam yang tidak ada satupun menyamai kelahiran wujudnya dan sama sekali tidak akan pernah ada yang dilahirkan menyamai Beliau"


Tahun 1338 H Beliau diberangkatkan ke Makkah untuk menimba ilmu disana pada Ulama-Ulama Makkah salah satunya Syekh Sa’id Al-Yamani dan putranya yaitu Syekh Hasan Al-Yamani dan Syekh Baqir Al-Jogjawyseorang Alim Ulama besar di kota Makkah sa'at itu selama 5 tahun.

Al-Arif Billah Kiai Haji Imam Kholil bin Syekh Syu’aib bin Abdul Rozaq dalam ijazahnya mengatakan : "Siapa saja yang membaca Sholawat ini walau hanya sekali seumur hidupnya, maka neraka tidak akan menyentuhnya. Dan siapapun yang membaca sekali Sholawat ini seolah-olah ia telah membaca kitab Sholawat Dala'il Al-Khoirat hingga seratus ribu kali". Alhamdulillah walau hanya sekali kita membaca Sholawat ini seumur hidup Fadhillah/keutamaan-nya luar biasa sangat bermanfaat.

Inilah salah satu Sholawat Anti Neraka atau Sholawat yang bisa membebaskan kita dari sentuhan api neraka. Semoga dengan Berkahnya Baginda Rasulullah Shollallahu alaihi wasalam dan Berkahnya Shalawat ini maka Allah Ta'alaa menyelamatkan kita semua dari api neraka. Aamiin Yaa Mujibas-saailiin.

Keadaan Orangtua Setelah Meninggal Dunia

Keadaan Orang Tua Setelah Meninggal Dunia dan Menunggu Kiriman Doa dari Anaknya (Menurut Al-Qur’an dan Hadits)

Keadaan Orang Tua Setelah Meninggal Dunia dan Menunggu Kiriman Doa dari Anaknya
Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan baru di alam barzakh. Dalam ajaran Islam, ruh orang yang telah meninggal tetap hidup dalam dimensi yang berbeda. Mereka dapat merasakan kebahagiaan atau kesedihan sesuai dengan amal perbuatannya semasa hidup. Bagi orang tua yang telah wafat, ada satu hal yang sangat mereka nantikan dari dunia: doa dari anak-anaknya.

1. Kehidupan Setelah Kematian Menurut Al-Qur’an

Allah ﷻ menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa setelah kematian, manusia akan memasuki alam barzakh yaitu tempat menunggu sampai hari kebangkitan.

وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding pembatas) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Ayat ini menegaskan bahwa setelah meninggal, ruh seseorang berada di alam penantian. Di sana, mereka bisa mendapatkan nikmat kubur atau azab kubur, tergantung amal mereka di dunia.


2. Orang Tua yang Beriman Akan Mendapat Nikmat di Alam Kubur

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, lalu ia menjawab pertanyaan malaikat dengan benar, maka dibukakanlah untuknya pintu surga. Ia pun mencium baunya dan merasa tenang.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Bagi orang tua yang beriman, kuburnya menjadi taman dari taman-taman surga. Ruh mereka mendapatkan ketenangan, terutama jika mereka memiliki anak-anak saleh yang senantiasa mendoakan.


3. Doa Anak: Hadiah Terindah untuk Orang Tua

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa doa anak saleh tidak hanya sampai kepada orang tua, tetapi juga menjadi sebab kebahagiaan dan cahaya bagi mereka di alam kubur. Setiap kali seorang anak membaca Al-Fatihah, istighfar, atau sedekah atas nama orang tuanya pahala itu langsung dikirimkan kepada ruh mereka.


4. Ruh Orang Tua Menunggu Kiriman Doa dari Dunia

Dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa ruh orang yang telah wafat mengetahui amalan keluarganya di dunia. Para ulama menjelaskan bahwa ruh orang beriman merasa gembira ketika mendapatkan kiriman doa, dan bersedih ketika keluarganya lupa mendoakannya.

Imam As-Suyuthi dalam Syarh As-Sudur menulis:

“Sesungguhnya mayit bergembira dengan kebaikan yang dilakukan oleh keluarganya, dan pahala amalan itu disampaikan kepada mereka.”

Oleh karena itu, doa anak sangat berarti bagi orang tua. Mereka menunggu kiriman doa seperti seseorang yang menunggu kabar gembira dari orang yang dicintai.


5. Cara Anak Mengirimkan Doa untuk Orang Tua

Berikut amalan sederhana yang bisa dilakukan agar orang tua mendapatkan ketenangan di alam kubur:

  1. Membaca Al-Fatihah dan menghadiahkannya untuk ruh kedua orang tua.
    ➤ “Ilā ruhi abī wa ummī, Al-Fātiḥah…

  2. Membaca istighfar:
    ➤ “Allahummaghfir liwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira

  3. Bersedekah atas nama orang tua
    Sedekah apa pun, baik makanan, uang, atau bantuan kepada yang membutuhkan.

  4. Menjaga amal saleh dan akhlak baik, karena itu menjadi kebanggaan ruh orang tua di alam kubur.


6. Tanda Orang Tua Bahagia di Alam Kubur

Beberapa tanda ruh orang tua yang tenang dan bahagia di alam barzakh menurut penjelasan ulama:

  • Anak-anaknya rajin berdoa dan beramal saleh.

  • Ada ketenangan dalam keluarga setelah kepergian mereka.

  • Mimpi indah melihat orang tua tersenyum atau berpakaian putih.

  • Hati terasa damai setiap kali mendoakan mereka.

Tanda-tanda ini adalah pertanda baik bahwa doa anak diterima dan ruh orang tua mendapatkan ketenangan.


Kesimpulan

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Anak saleh yang mendoakan orang tuanya” adalah amal yang terus mengalirkan pahala dan menjadi sumber kebahagiaan di alam kubur.

Maka, jangan lewatkan hari tanpa mendoakan mereka. Sebab, doa seorang anak adalah cahaya yang menerangi kubur orang tua.


🎥 Video Terkait:

28 September 2025

Sejarah Geger Pecinan 1740 Tragedi Pembantaian Etnis Tionghoa di Batavia

TOKO MERAH DAN TRAGEDI GEGER PECINAN 1740
DARAH, MISTERI, DAN SEJARAH BATAVIA

Toko Merah Tragedi Geger Pecinan 1740 Sejarah Batavia
Toko Merah Jakarta Barat

Toko Merah di kawasan Kali Besar, dekat Glodok, memang sering dikaitkan dengan sejarah kelam pembantaian etnis Tionghoa di Batavia tahun 1740 (peristiwa yang disebut Geger Pecinan).

Fakta sejarahnya:
Toko Merah dibangun sekitar tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC. Tahun 1740, terjadi kerusuhan besar, ribuan orang Tionghoa dibantai oleh VOC di Batavia, terutama di kawasan sekitar Glodok, Kali Besar, dan sekitarnya. Setelah kerusuhan itu, banyak rumah orang Tionghoa di Glodok hangus dan ribuan jiwa melayang.

Namun, Toko Merah sendiri bukan tempat resmi eksekusi/pembantaian. Gedung ini lebih dikenal sebagai rumah pejabat Belanda dan kemudian dipakai untuk berbagai fungsi (kediaman, kantor dagang, sekolah perwira).

Mengapa ada cerita Toko Merah sebagai tempat pembantaian.?
Karena lokasinya yang sangat dekat dengan pusat kerusuhan (Kali Besar-Glodok). Warna merah tembok gedung sering dikaitkan dengan “darah korban” (ini lebih ke legenda rakyat). Jadi, secara historis pembantaian 1740 memang terjadi di kawasan sekitar Toko Merah, tapi bukan di dalam bangunan itu sendiri.

GEGER PECINAN 1740 – PEMBANTAIAN TIONGHOA DI BATAVIA
1. Latar Belakang
Awal abad ke-18, Batavia menjadi kota dagang penting VOC. Banyak orang Tionghoa bermigrasi ke Batavia, bekerja sebagai tukang, pedagang gula, hingga penyewa tanah, Jumlahnya sangat besar: sekitar 15–20 ribu jiwa (± separuh penduduk Batavia kala itu).

VOC khawatir karena jumlah mereka terus bertambah, sementara harga gula jatuh drastis, menyebabkan banyak pengangguran dan keresahan sosial. VOC lalu membuat kebijakan keras: menangkap, mengusir, dan mendeportasi orang Tionghoa ke Ceylon & Afrika Selatan.

2. Pemicu Konflik
Deportasi dilakukan secara paksa dengan kapal. Kabar beredar bahwa banyak orang Tionghoa yang dilempar ke laut dalam perjalanan. Hal ini menimbulkan kemarahan dan perlawanan dari komunitas Tionghoa di Batavia. Pada 7 Oktober 1740, terjadi perlawanan: sekelompok orang Tionghoa menyerang pos Belanda di dekat Batavia.

3. Pembantaian 1740
Tanggal 9–22 Oktober 1740, VOC bersama tentara Eropa dan pribumi melakukan serangan balasan, Ribuan orang Tionghoa dibantai di rumah, jalan, dan tempat persembunyian, terutama di kawasan Glodok, Kali Besar, Angke, dan sekitarnya. Diperkirakan 10.000 orang Tionghoa terbunuh dalam kurun waktu dua minggu. Rumah-rumah mereka dibakar habis. Banyak yang melarikan diri ke luar Batavia, terutama ke arah timur (Bekasi, Cirebon, Semarang).

4. Toko Merah dan Legenda
Toko Merah sendiri sudah berdiri (dibangun 1730 oleh van Imhoff). Karena letaknya di Kali Besar Barat tepat di jantung kerusuhan – bangunan ini sering dikaitkan dengan peristiwa berdarah tersebut.

Legenda rakyat menyebut Tembok merahnya melambangkan darah para korban. Konon pernah dijadikan pos Belanda saat operasi pembersihan etnis Tionghoa. Secara sejarah akademis, tidak ada catatan resmi bahwa eksekusi dilakukan di dalam Toko Merah. Tetapi kawasan sekitarnya memang jadi pusat pembantaian.

5. Dampak Besar
Setelah tragedi, komunitas Tionghoa dipindahkan paksa keluar dari benteng Batavia. Mereka ditempatkan di Glodok (karena itu Glodok jadi Pecinan utama Jakarta hingga sekarang).
Toko Merah dibangun sekitar tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff

VOC memperketat aturan: orang Tionghoa harus punya surat izin tinggal (passen stelsel), jam malam, dan dilarang tinggal di dalam kota benteng. Tragedi ini meninggalkan luka sejarah mendalam bagi komunitas Tionghoa di Indonesia.

Peristiwa Geger Pecinan 1740 adalah salah satu tragedi terbesar di Batavia: pembantaian ±10.000 etnis Tionghoa oleh VOC. Toko Merah bukan lokasi resmi pembantaian, tapi karena berada di sekitar pusat tragedi, bangunan itu ikut terselimuti aura sejarah kelam.

KEHADIRAN ORANG TIONGHOA DI BATAVIA
1. Awal Kedatangan
Sejak abad ke-16, pedagang Tionghoa sudah singgah di pelabuhan Sunda Kelapa (Jayakarta). Setelah VOC menguasai Jayakarta tahun 1619 dan mengganti namanya jadi Batavia, orang Tionghoa semakin banyak didatangkan. VOC butuh mereka karena dikenal pandai berdagang, mengelola gula, kerajinan, dan pertukangan.

2. Peran Penting dalam Ekonomi
Orang Tionghoa menguasai industri gula (komoditas utama ekspor Batavia). Banyak yang menjadi tukang kayu, kuli pelabuhan, pedagang keliling, sampai kapiten Tionghoa (pemimpin komunitas resmi di bawah VOC). Mereka juga membangun rumah, toko, dan kuil di sekitar pelabuhan.

3. Jumlah Penduduk
Tahun 1620-an: baru ribuan orang.
Tahun 1730-an: jumlahnya melonjak jadi 20–25 ribu jiwa, hampir setengah penduduk Batavia saat itu.
Ini yang membuat VOC khawatir, karena dianggap bisa mengancam dominasi Belanda.

4. Pecinan & Glodok
Awalnya orang Tionghoa bisa tinggal di dalam benteng Batavia. Setelah pembantaian 1740 (Geger Pecinan), mereka dipaksa pindah keluar benteng ke wilayah Glodok. Sejak itu Glodok jadi pusat Pecinan Jakarta, dan sampai sekarang masih dikenal sebagai kawasan Tionghoa terbesar.

5. Jejak Budaya
Kuil tertua di Jakarta, Vihara Dharma Bhakti (1650), berada di Glodok. Banyak tradisi Imlek, Cap Go Meh, dan barongsai sudah ada sejak era VOC.
Kuil tertua di Glodok Jakarta Vihara Dharma Bhakti (1650)
Vihara Dharma Bhakti (1650)

Kuliner Tionghoa juga berkembang, misalnya bakmi, lumpia, sampai kue keranjang. Jadi, benar zaman dulu orang Tionghoa sudah banyak di Batavia, bahkan sejak abad ke-17. Mereka memberi kontribusi besar pada perdagangan dan budaya, tapi juga mengalami diskriminasi dan tragedi seperti Geger Pecinan 1740.

SISTEM PEMERINTAHAN KOLONIAL UNTUK ORANG TIONGHOA DI BATAVIA

1. Kapitan Cina (Kapitein der Chinezen)
VOC menunjuk pemimpin resmi komunitas Tionghoa, disebut Kapitan Cina.

Tugas Kapitan:
-Mengatur kehidupan sosial & ekonomi komunitas Tionghoa.
-Menarik pajak dari pedagang Tionghoa.
-Menjadi penghubung antara VOC dan rakyat Tionghoa.
-Mengadili sengketa internal.
-Kapitan Cina punya kedudukan tinggi, tinggal di rumah besar, sering dekat dengan VOC.

Tokoh terkenal:
Souw Beng Kong (Kapitan pertama, diangkat 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen). Kapitan Ni Hoe Kong (memimpin orang Tionghoa saat Geger Pecinan 1740). Di bawah Kapitan ada Letnan Cina dan Mayor Cina, membentuk semacam struktur pemerintahan sendiri.

2. Pecinan dan Pembatasan Wilayah
Setelah Geger Pecinan 1740, orang Tionghoa dipaksa tinggal di kawasan khusus: Glodok (Pecinan Batavia). Mereka tidak boleh tinggal di dalam benteng kota Belanda. Pecinan dilengkapi gerbang dan dijaga tentara VOC, sehingga akses keluar-masuk sangat diawasi.

3. Passen Stelsel (Surat Jalan)
Diterapkan setelah tragedi 1740 untuk mengontrol pergerakan orang Tionghoa. Aturannya Orang Tionghoa wajib membawa surat izin (passen) kalau ingin bepergian keluar Pecinan. Kalau tidak punya, bisa ditangkap atau dihukum. Sistem ini membuat orang Tionghoa selalu dalam pengawasan pemerintah kolonial.

4. Mengapa VOC Membuat Sistem Ini.?
Karena jumlah orang Tionghoa sangat besar dan dianggap bisa menjadi ancaman politik. VOC butuh mereka untuk ekonomi (dagang, gula, pajak), tapi takut mereka melawan. Dengan Kapitan Cina & passen stelsel, VOC bisa “mengendalikan” komunitas Tionghoa tanpa harus terjun langsung ke setiap urusan.

5. Dampaknya
Positif:
-Komunitas Tionghoa punya pemimpin sendiri, sehingga tradisi & budaya tetap terjaga.
-Pecinan berkembang jadi pusat perdagangan dan budaya Tionghoa.

Negatif:
-Diskriminasi & segregasi (pemisahan wilayah dan pembatasan gerak).
-Tergantung pada Kapitan Cina yang sering dianggap “perpanjangan tangan VOC”.
-Memunculkan kerentanan, seperti tragedi 1740.

Sistem Kapitan Cina dan passen stelsel adalah cara VOC menjaga kontrol atas komunitas Tionghoa di Batavia, di satu sisi diberi otonomi terbatas, di sisi lain dibatasi ketat. Inilah cikal-bakal mengapa sampai sekarang Glodok menjadi pusat komunitas Tionghoa di Jakarta.

TEMPAT PEMAKAMAN KORBAN TRAGEDI DI BATAVIA (JAKARTA)

1. Pembantaian Tionghoa 1740 (Geger Pecinan)
Korban ±10.000 jiwa. Banyak jasad dibuang ke Kali Besar, Sungai Ciliwung, dan laut → mayat mengapung berhari-hari. Sebagian dikuburkan secara massal di tanah kosong sekitar Glodok dan Angke. Ada catatan Belanda: di luar tembok kota, terutama arah selatan & barat (sekarang sekitar Mangga Besar, Angke, Glodok) dijadikan kuburan massal.

2. Eksekusi di Stadhuis (Museum Fatahillah Sekarang)
Tahanan yang digantung atau dipancung biasanya dikuburkan di Tanah Abang Kerkhof (kuburan umum Belanda, sekarang jadi kawasan Tanah Abang). Sebagian lagi dimakamkan di pemakaman khusus tahanan dekat benteng kota (lokasinya sekarang sudah jadi area Kota Tua & sekitarnya).

3. Wabah & Penyakit di Batavia
Batavia dikenal sebagai “Kerkhof der Oost” (kuburan besar di Timur) karena sangat mematikan akibat malaria & kolera. Ribuan orang Belanda & pribumi mati muda. Orang Belanda dimakamkan di Ereveld Menteng Pulo (kemudian dipindah sebagian dari kuburan lama), Tanah Abang Kerkhof, dan beberapa gereja tua (misalnya di halaman Gereja Sion, Pinangsia). Orang pribumi & budak biasanya dikubur massal di luar benteng, tanpa batu nisan.

4. Kuburan Tionghoa (Boen Bio / Petak Sembilan – Glodok)
Sejak abad ke-17, komunitas Tionghoa punya kompleks pemakaman sendiri. Vihara Dharma Bhakti (Petak Sembilan) dipercaya dulunya dikelilingi area kuburan Tionghoa. Banyak korban kerusuhan & wabah dimakamkan di tanah-tanah komunitas Tionghoa sekitar Glodok.

5. Makam-makam Tua yang Masih Ada
-Gereja Sion (Jakarta Kota): ada kuburan orang Belanda & pejabat VOC (nadi sejarahnya masih terlihat).
-Museum Taman Prasasti (Tanah Abang): dulu pemakaman Belanda sejak 1795, sekarang jadi  museum batu nisan.
-Ereveld Menteng Pulo & Ancol: pemakaman perang Belanda & korban Perang Dunia II, tapi sebagian isinya pindahan dari pemakaman lama Batavia.

Kesimpulan:

Banyak korban pembantaian (1740) tidak dimakamkan secara layak, melainkan dibuang ke sungai atau dikubur massal di Glodok–Angke. Tahanan eksekusi biasanya dimakamkan di Tanah Abang atau kuburan kota. Orang Belanda punya pemakaman elit (seperti di gereja & Tanah Abang), sementara orang Tionghoa dan pribumi punya kompleks sendiri (Glodok & sekitarnya).