Perisai Mukmin Sejati: sejarah islam Perisai Mukmin Sejati: sejarah islam

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan

11 Januari 2026

Biografi Singkat Abuya Armin Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

KH Muhammad Hasan Armin, lebih dikenal Abuya Armin Cibuntu atau “Mama Armin”, lahir sekitar tahun 1880 di Desa Koranji (Menes / Pulosari), Pandeglang, Banten. Beliau adalah ulama besar dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal sangat berilmu serta berperan besar dalam penyebaran Islam di Banten.

Nama “Hasan” ditambahkan oleh gurunya di Mekah sebagai penghormatan atas kecerdasan dan ketaqwaannya ketika beliau masih belajar di tanah Arab.

Beliau belajar ilmu syariat, tafsir, tasawuf, dan tarekat selama belasan hingga puluhan tahun di Arab (termasuk Mekkah, Madinah, Palestina, Baghdad) sebelum kembali ke kampung dan mendirikan Pesantren Cibuntu di Desa Sekong, Cimanuk, Pandeglang.

Beliau mengajar ratusan santri dari berbagai daerah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat dihormati. Abuya Armin menghembuskan napas terakhir 30 November 1988 (usia sekitar 108 tahun) dan dimakamkan di kompleks pesantrennya, yang hingga kini masih dijadikan tempat ziarah peziarah terutama pada malam Jumat.

Karomah (Kehidupan Luar Biasa)

Beberapa cerita karomah yang dikenal berkembang di masyarakat:

1. Mengeluarkan Mobil Mogok Presiden Soekarno

Konon pada suatu malam, kendaraan Presiden RI Ir. Soekarno mogok di lumpur dalam perjalanan, tak ada yang bisa menolong. Datanglah Abuya Armin lalu menusukkan lidi kecil di bawah ban mobil, dan mobil itu lancar keluar dari lumpur setelah itu.

2. Hidangan Ajaib

Diceritakan pula bahwa beliau mampu menghadirkan berbagai makanan dan minuman yang tampak segar dan beraroma harum, padahal makanan itu tidak biasa hadir secara lahiriah.

3. Karomah dan Pengajaran Rohani

Abuya Armin dikenal sebagai guru yang penuh karomah dalam membimbing santri dan umat, terutama dalam latihan batin dan dzikir tarekat. Banyak santri dari jauh datang untuk belajar langsung kepada beliau.

Kesaksian dan Tokoh yang Mengenang

Banyak tokoh besar di Indonesia yang disebut-sebut pernah berkunjung untuk meminta nasihat, termasuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Presiden Soeharto, dan Gubernur Ali Sadikin. Mereka datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan dan berkonsultasi tentang keagamaan atau spirit perjuangan.

Santri dan cucu beliau—seperti H. Heri—menginformasikan bahwa ajaran dan pengalaman spiritual Abuya Armin masih menjadi teladan hingga kini, bahkan makamnya ramai diziarahi terutama pada malam Jumat.

Makam Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten
Warisan: Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

Abuya Armin adalah pendiri Pesantren Cibuntu dan Masjid Hasaniyah (dibangun sekitar tahun 1926), yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah masyarakat. Masjid ini masih berdiri hingga kini sebagai saksi sejarah penyebaran Islam dan ilmu tarekat di Banten.

Warisan Abuya Armin Banten Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

19 Oktober 2025

Kisah Nabi Muhammad Di Santet

 KISAH NABI MUHAMMAD SAW KETIKA DI SANTET KAUM YAHUDI

Upaya pembungkaman terhadap Nabi Muhammad SAW agar supaya tidak mendakwahkan ajaran Islam dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari rencana Pembunuhan, Embargo ekonomi, Fitnah sampai kepada Guna-guna. Mengenai Guna-guna Nabi Muhammad SAW diceritakan pernah di santet oleh seorang yang dengki padanya, Santet ini dijalankan dengan teknik mencuri helaian rambut Nabi Muhamad SAW yang tercecer.
Kisah Nabi Muhammad Saw Ketika Di Santet Kaum Yahudi
Orang yang menyantet Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang disebutkan dalam Hadist Bukhari dan Muslim adalah Labid bin al-A’sham, ia merupakan tukang sihir yang berasal dari kalangan orang-orang Yahudi, dikisahkan pada zamannya Labid bin al-A’sham ini merupakan Dukun ternama.

Dia di upah untuk mencelakakan Nabi Muhammad SAW dengan imbalan 3 dinar emas, iapun kemudian melancarkan aksinya setelah sebelumnya memerintahkan anak-anak untuk datang kerumah Nabi Saw dan mengambil beberapa helai rambut Nabi Saw yang tercecer dalam sisir untuk dicuri dan selanjutnya menyerahkannya pada Labid bin al-A’sham.

Melalui beberapa helai rambut itu, Labid bin al-A’sham melancarkan aksi guna-gunanya. Rambut Nabi Saw yang telah didapatnya kemudian ia racik dengan guna-guna dalam bentuk  “Pelepah kurma berisi rambut Nabi yang rontok ketika bersisir, beberapa gigi sisir serta benang yang terdapat 11 ikatan bergulung-gulung yang ditusuk jarum”. Racikan guna-guna ini lalu diletakan oleh Labid bin al-A’sham kedalam sumur Dzarwan, dibalik sebuah tumpukan batu.

Efek sihir yang dilancarkan Labid bin al-A’sham ini akhirnya mengenai Nabi Saw, merasa ada yang aneh dalam dirinya kemudian Nabi Saw yang pada waktu itu dalam keadaan sakit terkena Santet memohon pertolongan pada Rabb-nya. Sehingga kemudian tidak lama setelah itu, Nabi Saw kedatangan dua orang malaikat yang memberitahukannya bahwa beliau disantet, Selain mengabarkan tentang itu kedua Malaikat tersebut juga mengabarkan bahwa pusat santet berada di Sumur Dzarwan.

Mendapatkan kabar dari Malaikat mengenai pusat Santet yang berada di Sumur Dzarwan, beliaupun kemudian menuju sumur itu didampingi beberapa sahabat, setelah sumur itu diperiksa maka benar saja, ternyata guna-guna itu berada dibalik batu, ketika membongkar batu dan melihat  guna-guna itu Nabi Saw kemudian membacakan Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas yang sebelumnya diajarkan Malaikat untuk menangkal sihir.

Manakala Setiap satu ayat dari surat-surat Al-Qur'an itu dibacakan, terlepaslah satu ikatan benang sihir yang dibuat Labid bin al-A’sham hingga Rasulullah Saw merasakan efek sihir itu lebih ringan. Ketika seluruh ayat telah dibacakan, terlepaslah seluruh ikatan benang yang berjumlah 11 ikatan bergulung-gulung tersebut, selepas itu air sumur kemudian tiba-tiba berubah memerah darah.

Selepas itu, Nabi kemudian menimbun alat-alat sihir itu dan kemudian meninggalkannya. Pada waktu itu sahabat sebenarnya memberikan anjuran pada Nabi agar Nabi Saw membalikan santet itu kepada Labid bin al-A’sham, akan tetapi Nabi SAW menolak, karena baginya setelah beliau disembuhkan oleh Allah maka tidak pantas bagi beliau untuk membuat sakit orang yang mencelakakannya.

Kisah mengenai di santetnya Nabi Muhammad Saw ini bisa anda temui dalam Hadist yang  diriwayatkan oleh Al-Bukhari (X/222-Fath) dan Muslim dalam kitab As-Salaam Bab As-Sihr (XIV/174-Nawawi). Selain itu juga anda dapat menemui kisah di atas dalam kisah Ababunuzul Surat An-Naas dan Al-Falaq. 

12 Juni 2025

Sultan Mahmud Ghoznawi Sultan Pertama di Dunia

 SULTAN MAHMUD GHOZNAWI SULTAN PERTAMA  DI DUNIA

Penguasa pertama dalam sejarah dunia yang mengenakan gelar sultan secara resmi adalah Sultan Mahmud Ghaznawi, pendiri Dinasti Ghaznawiyah.”

Sultan Mahmud Al-Ghoznawi Sultan Pertama di Dunia
Sultan
adalah gelar kebangsawanan dengan beberapa makna sejarah. Awalnya, itu adalah kata benda abstrak bahasa Arab yang berarti ‘kekuatan’, ‘kekuasaan’, ‘pemerintahan’, atau ‘kediktatoran’, berasal dari kata dasar (masdar) ‘sultoh’ ( ุณู„ุทุฉ), yang berarti ‘kekuasaan’ atau ‘kekuatan’. Kemudian, sultan digunakan sebagai gelar penguasa tertentu yang mengklaim kedaulatan penuh secara praktis, tanpa mengklaim kekhalifahan secara keseluruhan, atau untuk merujuk pada seorang gubernur yang kuat dari sebuah provinsi di dalam kekhalifahan. Dinasti dan wilayah yang diperintah oleh sultan disebut sebagai kesultanan. Bentuk feminim sultan yang digunakan oleh orang Barat adalah ‘sultana’ atau ‘sultanah’; dalam beberapa referensi sultana bisa juga mengacu kepada istri seorang sultan, atau seorang sultan perempuan.

Dunia Islam mengenal nama-nama raja besar ternama yang memakai gelar sultan, misalnya saja Sultan al-Muzhafar Saifuddin Qutuz dari Dinasti Mamluk, Sultan Suleiman Agung dari Dinasti Ustmani (Ottoman), Sultan Salahuddin Ayyubi dari Dinasti Ayyubi, dan Sultan Malik Syah dari Dinasti Seljuk. Sementara itu, di Indonesia sendiri, meskipun sekarang sudah masuk ke dalam sistem kenegaraan Republik, beberapa wilayah masih menggunakan gelar kesultanan yang merupakan warisan monarki dari masa sebelum kemerdekaan, misalnya saja Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Cirebon. Namun, sebenarnya siapakah Sultan pertama di dalam dunia Islam..?

Di dalam buku karya Riad Aziz Kassis yang berjudul The Book of Proverbs and Arabic Proverbial Works, dikatakan bahwa Khalifah Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775 M), atau biasa disebut Khalifah al-Mansur, khalifah ke-2 Dinasti Abbasiyah, memiliki gelar lain sebagai “Sultan Allah”. Makna sultan di masa itu adalah “bayangan Allah di muka bumi”. Meskipun demikian itu bukan titel resmi, secara resmi al-Mansur adalah seorang khalifah.
 
Penguasa pertama dalam sejarah dunia yang mengenakan gelar sultan secara resmi adalah Sultan Mahmud Ghaznawi, pendiri Dinasti Ghaznawiyah. Gelar tersebut disematkan kepadanya dengan makna bahwa dia merupakan seorang Khalifah Muslim, pemimpin tertinggi dalam otoritas keagamaan, dan pemimpin politik dari sebuah wilayah kekuasaan yang sangat luas, yang mana mencakup Iran, Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Afghanistan, Pakistan, dan India utara pada hari ini.

Pada tahun 971 M, Yamin ad-Dawlah Abdul-Qasim Mahmud bin Sabuktegin, atau lebih dikenal sebagai Mahmud Ghaznawi, lahir di kota Ghazna, sekarang di Afghanistan tenggara. Ayahnya, Abu Mansur Sabuktegin, adalah orang Turki, mantan prajurit Mamluk dari Ghazni.

Kata “Mamluk” berasal dari bahasa Arab yang berarti “seseorang yang dimiliki”, maknanya setara dengan kepemilikan terhadap barang tertentu, atau bila disederhanakan, Mamluk artinya adalah “budak”. Meskipun Mamluk secara faktanya memang budak, namun penting untuk diketahui bahwa gambaran tentang sosok Mamluk jauh dari gambaran umum tentang budak

Mamluk adalah prajurit elit yang tadinya merupakan tawanan perang, kemudian dipekerjakan untuk mengabdi secara militer kepada seorang khalifah. Pemanfaatan orang-orang Mamluk sebagai komponen utama tentara Muslim, yang nantinya akan menjadi ciri khas peradaban Islam, pertama kalinya terjadi pada awal abad ke-9. Praktek ini dimulai di Baghdad oleh khalifah Abbasiyah pada waktu itu, al-Muสฟtaแนฃim (833–842). Segera setelahnya praktek ini menjadi menyebar ke seluruh dunia Muslim.

Masa Kecil Mahmud Ghaznawi
Ketika Dinasti Samaniyah (819–999), yang berbasis di Bukhara (sekarang di Uzbekistan) mulai runtuh, Sabuktegin mengambil alih kekuasaan di kampung halamannya di Ghazni pada tahun 977. Dia kemudian melanjutkan penaklukkan terhadap kota-kota besar Afghanistan lainnya, di antaranya Kandahar. Kerajaan yang dibangunnya membentuk inti dari kekuasaan Dinasti Ghaznawiyah yang akan datang, dan dia dinobatkan sebagai pendiri tonggak awal dinasti. Ibu Mahmud kemungkinan adalah istri muda Sabuktegin yang tadinya merupakan seorang budak, namun siapa namanya tidak diketahui.

Tidak banyak yang diketahui tentang masa kecil Mahmud. Informasi yang diketahui hanya bahwa dia memiliki dua adik laki-laki. Adiknya yang pertama bernama Ismail, dia merupakan anak dari istri pertama Sabuktegin. Namun, faktanya Ibunda Ismail adalah seorang wanita berdarah bangsawan yang terlahir sebagai manusia merdeka. Persoalan keturunan ini nantinya akan menjadi kunci dari proses suksesi yang terjadi ketika Sabuktegin meninggal selama kampanye militer pada tahun 997.

Di pembaringan, Sabuktegin menyerahkan tahta kekuasaan kepada Ismail. Mahmud, waktu itu berusia 27 tahun, yang merupakan anak pertama, dan secara militer dan diplomatik sebenarnya lebih unggul, dilewati oleh adiknya tirinya sendiri. Besar kemungkinan alasan Sabuktegin memilih Ismail adalah karena dia adalah satu-satunya anak yang lahir dari keturunan bangsawan dari pihak Ibunya. Tidak seperti Mahmud dan adik ketiganya yang baik ayah maupun ibunya berasal dari kalangan budak.


Ketika Ismail diangkat menjadi raja baru, Mahmud Ghaznawi sedang ditempatkan di Nishapur (sekarang di Iran). Mendengar adiknya naik tahta, dia segera melakukan perjalanan ke timur, menentang pengangkatan Ismail. Maka terjadilah perang, Mahmud dapat mengalahkan Ismail, adiknya sendiri, pada tahun 998. Mahmud kemudian mengambil alih Ghazhni, mengangkat dirinya sendiri menjadi raja, dan menempatkan adik laki-lakinya menjadi tahanan rumah selama sisa hidupnya. Setelah naik tahta Mahmud akan terus memerintah sampai kematiannya pada tahun 1030.

Setelah menjadi sultan, Mahmud memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Ghaznawiyah ke wilayah-wilayah yang dulunya merupakan daerah kekuasaan kerajaan kuno, yaitu Kerajaan Kushan. Dalam kampanyenya, dia menggunakan teknik dan taktik militer khas Asia Tengah, yang terutama mengandalkan kavaleri berkuda yang sangat mudah berpindah-pindah, yang dipersenjatai dengan busur pendek (compound bows).

Invasi ke India
Pada tahun 1001, Mahmud mengalihkan perhatiannya ke tanah subur Punjab (sekarang di India), yang terletak di tenggara kesultanannya. Wilayah yang menjadi targetnya adalah wilayah kekuasaan milik raja-raja Hindu Rajput yang terkenal ganas namun mereka tidak bersatu dan terpecah-pecah, mereka menolak untuk bekerja sama untuk membentuk pertahanan yang solid atas ancaman kerjaan Muslim yang akan masuk melalui Afghanistan. Selain itu, orang-orang Rajput menggunakan kombinasi infantri dan kavaleri, sebuah bentuk formasi yang tangguh tetapi lebih lambat dari pasukan berkuda Ghaznawiyah.

Juga dilaporkan, mereka terlalu mengandalkan gajah, sementara itu, pasukan Mahmud sudah lebih modern, mereka memiliki sistem organisasi, disiplin, dan ikatan yang lebih baik.

Selama tiga dekade berikutnya, Sultan Mahmud melakukan lebih dari selusin serangan militer ke kerajaan-kerajaan Hindu dan Ismailiyah di utara. Sebelum kematiannya, kesultanannya membentang sampai ke pantai Samudra Hindia di Gujarat selatan.

Mahmud menunjuk raja-raja lokal untuk menjadi bawahan yang memerintah atas namanya di banyak daerah yang telah ditaklukkan. Selain itu dia juga membuka hubungan baik dengan masyarakat non-Muslim. Dia menyambut para prajurit dan perwira Hindu dan Ismailiyah yang ingin bergabung ke dalam pasukannya. Namun, karena ekspansi dan peperangan yang terus-menerus, pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, kondisi keuangan Dinasti Ghaznawiyah mulai sulit. Akibatnya Mahmud memerintahkan pasukannya untuk menyerang kuil-kuil Hindu dan menjarah sejumlah besar emas.

Pada tahun 1026, Sultan Mahmud yang sudah berusia 55 tahun berangkat untuk menyerang negara bagian Kathiawar, yang berada di pantai barat India (Laut Arab). Pasukannya melaju ke ujung selatan Somnath, yang terkenal dengan kuil yang indah Dewa Siwa.

Meskipun pasukan Mahmud berhasil menduduki Somnath, dan menjarah dan menghancurkan kuil, namun berita buruk datang dari Afghanistan. Sejumlah suku Turki telah bangkit untuk menantang pemerintahan Ghaznawiyah, termasuk di antaranya orang-orang Turki Seljuk, yang telah merebut Merv (Turkmenistan) dan Nishapur (Iran). Pada saat Mahmud meninggal pada 30 April 1030, para pemberontak ini sudah mulai menggerogoti perbatasan-perbatasan wilayah kekuasaan Kesultanan Ghaznawiyah. Sultan Mahmud meninggal pada usia 59 tahun.

Warisan Sultan Mahmud
Sultan Mahmud menghabiskan sebagian besar hidupnya berjuang melawan orang-orang yang dia anggap “kafir” yaitu Hindu, Jain, Buddha, dan kelompok minoritas Muslim seperti Syiah Ismailiyah. Kenyataannya, kaum Ismailiyah tampaknya telah menjadi sasaran khusus dari kemarahannya, karena Mahmud (dan penguasa di atasnya, yang sebenarnya hanya sebatas formalitas, yakni Kekhalifahan Abbasiyah) menganggap mereka adalah pelaku bid’ah.

Meskipun demikian, Mahmud Ghaznawi tampaknya lebih toleran terhadap orang-orang non-Muslim selama mereka tidak menentangnya secara militer. Toleransi warisan Mahmud relatif akan terus berlanjut ke kerajaan Muslim berikutnya di India: Kesultanan Delhi (1206-1526) dan Kekaisaran Mughal (1526-1857).

Dalam hal keilmuan, Sultan Mahmud dikenal menyukai buku dan menghormati orang-orang terpelajar. Di jantung kekuasaanya, Ghazni, dia membangun perpustakaan untuk menyaingi istana kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad (sekarang di Irak). Mahmud juga mensponsori pembangunan universitas, istana, dan masjid agung, menjadikan ibukotanya sebagai permata di Asia Tengah.

Rakyatnya mengenal Mahmud sebagai seorang yang saleh dan sangat suka belajar. Pada masa Mahmud berkuasalah wilayah Persia dilaporkan mengalami kemajuan pesat. Salah satu indikasinya adalah dengan diterbitkannya buku yang berjudul Shahnameh (Kitab para Raja) karya penyair Persia, Abul-Qasim Firdausi Tusi (940–1020)

Mahmud meninggalkan berbagai warisan. Dinastinya akan bertahan sampai tahun 1187, meskipun sudah mulai runtuh dari barat ke timur bahkan sebelum kematiannya. Pada tahun 1151, Sultan Ghaznawiyah penerus Mahmud, Bahram Shah, kehilangan Ghazni, dan melarikan diri ke Lahore (sekarang di Pakistan).

SULTAN YANG GEMAR MEMPERBANYAK SHALAWAT

Sultan Mahmud al-Ghoznawi sepanjang hidupnya raja selalu menyibukkan dirinya dengan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Setiap selesai sholat subuh, sang raja membaca shalawat sebanyak  300.000 kali. Begitu asyiknya raja membaca shalawat sebanyak itu, seolah-olah beliau lupa akan tugasnya sebagai seorang raja, yang dipundaknya tertumpu berbagai tugas negara dan berbagai macam harapan rakyatnya yang bergantung kepadanya. Sehingga kalau pagi tiba, sudah banyak rakyatnya yang berkumpul di istana menunggu sang raja, untuk mengadukan persoalannya.

Namun sang raja yang ditunggu-tunggu tidak kunjung hadir. Sebab sang raja tidak akan keluar dari kamarnya, walau hari telah siang, jika belum menyelesaikan wirid shalawatnya. Setelah kejadian ini berlangsung agak lama, pada suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan Rosululloh SAW.

Didalam mimpinya, Rasulullaah Saw bertanya, “Mengapa kamu berlama-lama di dalam kamar.? Sedangkan rakyatmu selalu menunggu kehadiranmu untuk mengadukan berbagai persoalan mereka,”

Raja menjawab, “Saya duduk berlama-lama begitu, tak lain karena saya membaca shalawat kepadamu sebanyak tiga ratus ribu kali, dan saya berjanji tidak akan keluar kamar sebelum bacaan sholawat saya selesai,”

Rasulullaah SAW lalu berkata, “Kalau begitu kasihan orang-orang yang punya keperluan dan orang-orang lemah yang memerlukan perhatianmu. Sekarang aku akan ajarkan kepadamu sholawat yang apabila kamu baca sekali saja, maka nilai pahalanya sama dengan bacaan 100.000 kali shalawat. Jadi kalau kamu baca tiga kali, pahalanya sama dengan tiga ratus ribu kali shalawat yang kamu baca,”

Rosululloh SAW lalu membacakan lafazh shalawat yang kemudian dikenal dengan nama shalawat Sultan.

Akhirnya, raja Mahmud lalu mengikuti anjuran Rasulullaah SAW tersebut, yaitu membaca shalawat tadi sebanyak tiga kali. Dengan cara demikian, sholawat dapat beliau baca dan urusan negara dapat dijalankan dengan sempurna. Setelah beberapa waktu mengamalkan sholawat itu, raja kembali bermimpi bertemu Rosululloh Saw.

Kemudian Rasulullaah Saw bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan, sehingga malaikat kewalahan menuliskan pahala amalmu?”

Raja menjawab, “Saya tidak mengamalkan sesuatu, kecuali mengamalkan sholawat yang anda ajarkan kepada saya itu.”

Perisai Mukmin Youtube Channel

19 Juli 2016

Riwayat Dan Nasihat Sunan Kalijaga

Riwayat Dan Nasihat Sunan Kalijaga
Riwayat Dan Nasihat Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama asli Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Mengenai asal usulnya, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa ia juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah. Maulana Ishak memiliki anak bernama Sunan Giri dan Dewi Saroh. Mereka adalah kakak beradik.

Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi di kerajaannya, merampok orang-orang yang kaya. Hasil curiannya, dan rampokanya itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah S.W.T tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai.

Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju TAKWA, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.

Beberapa Nasihat Sunan Kalijaga yang patut menjadi renungan kita semua dalam menapaki kehidupan beragama dan berbangsa sebagai berikut:
  • 1. Urip Iku Urup, (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).
  • 2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara, (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
  • 3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti, (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar)
  • 4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha, (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
  • 5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu)
  • 6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman, (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
  • 7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman, (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
  • 8. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
  • 9. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo, (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
  • 10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna, (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).