Kajian Hikmah Islam menghadirkan tulisan tentang shalawat Nabi, sejarah Islam, budaya dan wisata religi yang menghidupkan kembali semangat cinta Rasul, cinta tanah air, dan warisan para wali Allah di bumi nusantara
Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten
KH Muhammad Hasan Armin, lebih dikenal Abuya Armin Cibuntu atau “Mama Armin”, lahir sekitar tahun 1880 di Desa Koranji (Menes / Pulosari), Pandeglang, Banten. Beliau adalah ulama besar dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal sangat berilmu serta berperan besar dalam penyebaran Islam di Banten.
Nama “Hasan” ditambahkan oleh gurunya di Mekah sebagai penghormatan atas kecerdasan dan ketaqwaannya ketika beliau masih belajar di tanah Arab.
Beliau belajar ilmu syariat, tafsir, tasawuf, dan tarekat selama belasan hingga puluhan tahun di Arab (termasuk Mekkah, Madinah, Palestina, Baghdad) sebelum kembali ke kampung dan mendirikan Pesantren Cibuntu di Desa Sekong, Cimanuk, Pandeglang.
Beliau mengajar ratusan santri dari berbagai daerah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat dihormati. Abuya Armin menghembuskan napas terakhir 30 November 1988 (usia sekitar 108 tahun) dan dimakamkan di kompleks pesantrennya, yang hingga kini masih dijadikan tempat ziarah peziarah terutama pada malam Jumat.
Karomah (Kehidupan Luar Biasa)
Beberapa cerita karomah yang dikenal berkembang di masyarakat:
1. Mengeluarkan Mobil Mogok Presiden Soekarno
Konon pada suatu malam, kendaraan Presiden RI Ir. Soekarno mogok di lumpur dalam perjalanan, tak ada yang bisa menolong. Datanglah Abuya Armin lalu menusukkan lidi kecil di bawah ban mobil, dan mobil itu lancar keluar dari lumpur setelah itu.
2. Hidangan Ajaib
Diceritakan pula bahwa beliau mampu menghadirkan berbagai makanan dan minuman yang tampak segar dan beraroma harum, padahal makanan itu tidak biasa hadir secara lahiriah.
3. Karomah dan Pengajaran Rohani
Abuya Armin dikenal sebagai guru yang penuh karomah dalam membimbing santri dan umat, terutama dalam latihan batin dan dzikir tarekat. Banyak santri dari jauh datang untuk belajar langsung kepada beliau.
Kesaksian dan Tokoh yang Mengenang
Banyak tokoh besar di Indonesia yang disebut-sebut pernah berkunjung untuk meminta nasihat, termasuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Presiden Soeharto, dan Gubernur Ali Sadikin. Mereka datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan dan berkonsultasi tentang keagamaan atau spirit perjuangan.
Santri dan cucu beliau—seperti H. Heri—menginformasikan bahwa ajaran dan pengalaman spiritual Abuya Armin masih menjadi teladan hingga kini, bahkan makamnya ramai diziarahi terutama pada malam Jumat.
Warisan: Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu
Abuya Armin adalah pendiri Pesantren Cibuntu dan Masjid Hasaniyah (dibangun sekitar tahun 1926), yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah masyarakat. Masjid ini masih berdiri hingga kini sebagai saksi sejarah penyebaran Islam dan ilmu tarekat di Banten.
Ini adalah amalan do’a dan dzikir yang diijazahkan oleh Syaikh Nawawi Banten kepada salah satu murid terdekatnya, yaitu Syaikh Syadzili bin Wasi’ Banten. Keduanya adalah ulama Nusantara asal Banten yang bermukim dan mengajar di Makkah hingga akhir hayat mereka.
Oleh Syaikh Syadzili bin Wasi’, amalan do’a dan dzikir tersebut kemudian diijazahkan kepada salah satu muridnya, yaitu KH. Syamsuddin dari Petir, Cibiuk, Pandeglang (Banten). Oleh KH. Syamsuddin Petir, amalan tersebut kemudian diijazahkan lagi kepada Sayyid Chaidar bin Hasan bin Shadaqah bin Zaini Dahlan dari Lasem, Rembang (Jawa Tengah).
Ijazah amalan do’a dan wirid ini ditulis dalam bahasa Arab (untuk kalimat do’a dan ayat Al-Qur’an) dan juga bahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon), dalam secarik kertas. Tertulis disana:
بسم الله الرحمن الرحيم
اي وريدان تياف-تياف فووي دوجا لما كالي فائدهنا فع دي همفورا دوسنا جع فع دي همفورا جوسا اب رما (اللهم اغفر لي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا)
جع اي صلوة كمالية تياف-تياف فووي دوجا سفوله كال تياف-نياف فووي جمعة سرتوس كال فعندك شيخ أحمد صاوي سها-سها نو مجا صلوة كمالية سكال سرف جع مجا صلوة نو سيجين سرتوس رب كال (اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله كما لا نهاية لكمالك وعدد كماله)
جع اي فعندك سيدنا علي رضى الله عنه سها-سها جلم نو هنت جكر مك تولوي موت سميميه موت مجا اي كلمة اسوف كا سوركا (لا اله الا الله الجليم الكريم ) تلو كال (الحمد لله رب العالمين) تلو كال (تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيئ قدير) تلو كال
جع اي دعاء وصية كعجع نبي ص م كا سيدنا معاد: هيه معاد اي دعاء تياف-تياف بعد صلاة فرض وجا كو مانيه تلو كال: (اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك) جع اي اية قرآن تياف-تياف فووي دوجا سلافن كال (بسم الله الرحمن الرحيم. الله لطيف بعباده يرزق من يشاء وهو القوي العزيز)
جع اي اية قرآن سفيا كتلار بائي (بسم الله الرحمن الرحيم. واذا قرأت القرآن جعلنا بينك وبين الذين لا يؤمنون بالآخرة حجابا مستورا) جع اي دووهن كعجع نبي صلى الله عليه وسلم سها-سها نو مجا تسبيح (سبحان الله وبحمده) سفووي سرتوس كال مك دي همفورا كو كستي الله دوسنا سنجان دوسنا سا بعبلاعن بوده لائوة سئرنا
(Ieu wiridan tiap-tiap poe diwaca lima kali. Paedahna pang dihampura dosana jeung pang dihampura dosa ibu ramana
Jeung ieu Solawat Kamaliyah tiap-tiap poe diwaca sapuluh kali, tiap-tiap poe Jumaah saratus kali. Pengendika Syaikh Ahmad Sowi: saha-saha nu maca Solawat Kamaliyah sakali sarupa jeung maca solawat nu sejena saratus rebu kali
Terjemahan: "Dan ini adalah Shalawat Kamaliyyah, setiap hari dibaca sepuluh kali, setiap hari Jum’at dibaca seratus kali. Berkata Syaikh Ahmad Shawi: “barang siapa yang membaca Shalawat Kamaliyyah sekali, maka ia serupa dengan membaca shalawat yang lainnya seratus ribu kali"
Allahumma sholli wasallim wabaarik alaa sayyidinaa Muhammadin wa alaa aalihi kamaa laa nihaayata likamaalika wa adada kamaalihi
Jeung ieu pangendika Sayyidina Ali Radhiallaahu anhu: saha-saha jalma nu henteu cageur maka tuluy maot samemeh maot maca ieu kalimah asup ka sorga
(لٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ اَلْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ) Tilu kali
(اَلْحَمْدُ الِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) Tilu kali
(تَبَارَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ) Tilu kali
Terjemahan: "Juga berkata Sayyidina Ali RA: “barang siapa yang sakit lalu meninggal, dan sebelum meninggal ia membaca kalimat ini, maka ia akan masuk surga, yaitu"
Terjemahan: "Dan ini do’a wasiat Kanjeng Nabi SAW kepada Sayyidina Mu’adz: wahai Mu’adz, ini do’a setiap bakda shalat fardu dibaca olehmu sebanyak tiga kali"
Bismillaahirahmaanirrahiim, Wa idzaa qoro'tal qur'aana ja'alna bainaka wa bainal-ladziina laa yu'minūna bil-aakhiroti hijaabam mastuuro (QS.Al-Israa:45)
Jeung ieu dawuhna Kanjeng Nabi SAW: saha-saha anu maca tasbeh
(سَبْحَانَ اللّٰهُ وَبُحَمْدِهِ)
sapoe saratus kali maka dihampura ku Gusti Allah dosana sanajan dosana sabingbilang budah laut seueurna.
Terjemahan: "Dan ini adalah sabda Kanjeng Nabi SAW: barang siapa yang membaca tasbih"
(سَبْحَانَ اللّٰهُ وَبُحَمْدِهِ)
seratus kali maka ia akan diampuni oleh Allah dosa-dosanya, meski dosa-dosanya itu sebanyak buih di lautan
Sayyid Chaidar Dahlan sendiri menerima ijazah ini dari KH. Syamsuddin Petir pada bulan Juli tahun 1975, yang mana pada saat itu KH. Syamsuddin Petir sudah berusia 95 tahun (berarti KH. Syamsuddin Petir lahir pada tahun 1880 M). Saat itu, Sayyid Chaidar Dahlan bertemu dengan KH. Syamsuddin Petir dan beberapa ulama tua Banten lainnya guna menggali informasi terkait sejarah hidup Syaikh Nawawi Banten dan jaringan murid-murid beliau di Banten.
Riset Sayyid Chaidar Dahlan tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1978 dan menjadi buku biografi Syaikh Nawawi Banten terlengkap pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia (berjudul “Sejarah Pujangga Islam: Syech Nawawi Albanteni Indonesia” dan diterbitkan oleh CV. Sarana Utama, Jakarta). Kopian ijazah amalan do’a dan wirid di atas kemudian dimuat dalam buku tersebut.
Saya belum mendapatkan informasi berlebih terkait sosok KH. Syamsuddin Petir. Adapun Syaikh Syadzili bin Wasi’ Banten, biografi beliau termuat dalam kitab “Faidh al-Malik al-Wahhâb al-Muta’aalii” (hal. 1643) karya Syaikh Abd al-Sattar al-Dihlawi al-Makki, ulama besar bidang hadits asal India yang berkarir di Makkah sekaligus salah satu murid Syaikh Nawawi Banten dan kawan Syaikh Syadili bin Wasi’. Disana di informasikan bahwa beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 1290 Hijri (1873 Masehi). Di Makkah juga beliau tumbuh, belajar, mengajar, hingga wafat. Syaikh Syadzili bin Wasi’ juga terhitung sebagai salah satu murid terdekat Syaikh Nawawi Banten dan juga kawan Syaikh Abdul Haq Banten (w. 1903 M), cucu dari Syaikh Nawawi Banten.
Sayyid Chaidar bin Hasan bin Shadaqah bin Zaini Dahlan sendiri merupakan keponakan dari Sayyid Abdullah bin Shadaqah bin Zaini Dahlan. Nama terakhir (Sayyid Abdullah Shadaqah Dahlan) adalah ulama besar Makkah dan imam syafi’iyyah di Masjidil Haram yang kemudian eksil ke Garut (Jawa Barat) pada tahun 1937-an hingga akhir hayatnya. Saudara beliau, yaitu Hasan bin Shadaqah bin Zaini Dahlan, juga ikut eksil ke Jawa, dimana beliau menetap di Lasem (Jawa Tengah). Keduanya (Sayyid Abdullah bin Shadaqah dan Sayyid Hasan bin Shadaqah) adalah keponakan dari Sayyid Ahmad b. Zaini Dahlan (wwafat 1885), mufti besar madzhab Syafi’i di Makkah sekaligus mahaguru ulama Nusantara di Tanah Suci. Salah satu murid terdekat Sayyid Ahmad Zaini Dahlan adalah Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Abdul Karim Banten.
Pada tahun 1930-an, di Lasem ada banyak ulama besar yang juga pernah lama bermukim dan mengajar di Makkah, seperti KH. Ma’shum b. Ahmad Lasem (ayah KH. Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta), KH. Baidhowi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Kholil Lasem (juru tulis Syaikh Mahfuzh Tremas semasa di Makkah), KH. Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz Lasem (menantu KH. Hasyim Asy’ari, suami Nyai Choiriyyah Hasyim, sekaligus rektor Madrasah Dâr al-‘Ulûm al-Dîniyyah di Makkah).
Sayyid Chaidar Dahlan sendiri menikah dengan putri Sayyid Hamzah Syatha. Nama terakhir juga merupakan salah satu ulama Makkah yang eksil ke Sedan, Rembang (Jawa Tengah). Beliau merupakan kerabat dari Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha (Sayyid Bakri, wafat 1889), pengarang kitab “I’aanah al-Thalibin ‘ala Syarh Fath al-Mu’in” dan juga kawan dekat Syaikh Nawawi Banten.
Alangkah ruginya orang Indonesia kalau tidak mengenal ulama satu ini. Orang bilang Mbah Dim Banten atau Abuya Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Beliau adalah tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah dari pondok pesantren, Cidahu, Pandeglang, Banten. Beliau ulama yang sangat konsen terhadap akhirat, bersahaja, selalu menjauhi keduniawian. Wirangi (hati-hati dalam bicara, konsisten dalam perkataan dan perbuatan). Ahli sodakoh, puasa, makan seperlunya, ala kadarnya seperti dicontohkan Kanjeng Nabi, humanis, penuh kasih sesama umat manusia. Kegiatan kesehariannya hanya mulang ngaji (mengajar ilmu), salat serta menjalankan kesunatan lainnya.
Beliau lahir sekitar tahun1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia . Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.
Abuya Dimyati, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir tahun 1925 di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Abuya Dimyathi dikenal sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah agama, beliau bukan saja mengajarkan dalam ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf, tarekat yang dianutnya tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh tawadhu’, istiqamah, zuhud, dan ikhlas. Abuya adalah seorang qurra’ dengan lidah yang fasih. Wiridan al-Qur’an sudah istiqamah lebih dari 40 tahun. Kalau shalat tarawih di bulan puasa, tidak turun untuk sahur kecuali setelah mengkhatamkan al-Qur’an dalam shalat. Oleh karenanya, tidak salah jika kemudian kita mengategorikan Abuya sebagai Ulama multidimensi.
Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadis nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.
Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali! Apalagi demi sekedar hajatan partai. Urusan ngaji ini juga wajib ain hukumnya bagi putra-putri Mbah Dim untuk mengikutinya. Bahkan, ngaji tidak akan dimulai, fasal-fasal tidak akan dibuka, kecuali semua putra-putrinya hadir di dalam majlis. Itulah sekelumit keteladanan Mbah Dimyati dan putra-putrinya, yang sejalan dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Tahrim ayat 6, Qu anfusakum wa ahlikum naran.
Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyati, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.
Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyathi tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Padahal, pada hari itu juga, dilangsungkan acara resepsi pernikahan putranya. Sehingga, Banten ramai akan pengunjung yang ingin mengikuti acara resepsi pernikahan, sementara tidak sedikit masyarakat –pelayat- yang datang ke kediaman Abuya. Inilah merupakan kekuasaan Allah yang maha mengatur, menjalankan dua agenda besar, “pernikahan” dan “pemakaman”.