Perisai Mukmin Sejati: Januari 2026 Januari 2026 - Perisai Mukmin Sejati

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

11 Januari 2026

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi Cikini (Ayahanda Habib Ali Kwitang, Jakarta)

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi terlahir di Semarang dan wafat di Cikini, Jakarta pada tahun 1296 H/1879 M. Beliau adalah ayah dari al-Habib Ali Kwitang.

"Habib Cikini" (Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi) lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi adalah: al-Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.

Sebuah sumber tulisan menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Itu artinya, Habib Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau generasi ketiga yang menetap disini. Tulisan lainnya menyebutkan bahwa Habib Muhammad, kakeknya, ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al-Qadri.

Dalam catatan pada kitab rujukan ‘Nasab Alawiyyin’ susunan Habib Ali bin Ja'far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, sepupu dua kali Habib Ali Kwitang) bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja'far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Cikini) adalah seorang kelahiran Hadhramut, tepatnya di Tarbeh. Berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah ‘Habib Cikini’ adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.

Informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak kurang bisa dibuktikan, mengingat bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh dan tidak didapat keterangan bahwa yang bersangkutan sempat menginjakkan kaki di Nusantara.

Habib Cikini "Putra Semarang"

Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad Al Habsyi, (ayah Habib Cikini) yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa ia menikah pertama kali di Semarang.

Sebuah naskah juga menyebutkan, Ibu "Habib Cikini" adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, "Habib Cikini" sendiri diketahui sebagai putra kelahiran Semarang.. Ini berkaitan dengan catatan lainnya yang menyebutkan, "Ia wafat di Laut Kayong (daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M".

Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran ‘Habib Cikini’. Hal ini juga selaras dengan keterangan bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan ‘lanun’, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut.

Bersama Habib Syech dan Raden Saleh.

Diantara sejarah kehidupan "Habib Cikini" yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa ia sahabat karib Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Botoputih - Surabaya). Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya' Shahab dalam bukunya "Syams azh Zhahirah". Begitu pula menurut penulis Belanda bernama L.W.C Van Den Berg dalam buku ‘Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes’ yang menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan di antara Habib Syech dengan Raden Saleh terjalin erat.

Semasa hidupnya, Habib Cikini menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden Saleh. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, ia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara.

Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, Nyai Salmah, seorang wanita asli Betawi yang tinggal di Mester Cornelis (sekarang Jatinegara), suatu malam bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Nyai Salmah menggali sumur,tiba-tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah ke sekelilingnya.

Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Habib Abdurrahman, dan beliau segera menemui Habib Syech untuk menanyakan perihal mimpi tersebut. Habib Syech menjelaskan bahwa mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih dan ilmunya melimpah ruah penuh keberkahannya.

Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung dan pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1870 M, terlahirlah seorang putra yang kemudian ia beri nama ‘Ali’.

Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi yang terlahir dari pasangan shalih dan shalihah itu, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan ulama yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.

Di samping Habib Ali, "Habib Cikini" juga mempunyai putra lainnya yang bernama, Habib Abdul Qadir. Lewat putranya inilah "Habib Cikini" menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui pernikahan Habib Abdul Qadir dengan salah seorang putri Mufti Betawi ini. Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang anak perempuan tanpa anak lelaki sama sekali.

Kalau anak lelaki pertama Habib Ali adalah Habib Abdurrahman, dan yang bungsu bernama Habib Muhammad. Sementara diantara dua anak lelaki itu, lahirlah lima anaknya yang perempuan yang masing-masing bernama:

Syarifah Rogayah, Syarifah Khodijah, Syarifah Mahani, Syarifah Zahra dan Syarifah Sa’diyah yang juga mengikuti jejak ayahnya untuk menggelar majlis ta’lim ‘Assa’diyah’ untuk kaum perempuan di lokasi yang sama di Kwitang. Setelah Syarifah Sa’diyah wafat saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di di tanah suci, pengelolaan majlis ta’limnya dilanjutkan oleh Syarifah Salma binti Abdurrahman Al Habsyi, cucu perempuan Habib Ali Kwitang, anak dari Habib Abdurrahman.

Dari perkawinan keduanya ia dikaruniai dua putra yang bernama Habib Ali (Habib Kwitang) serta Habib Abdul qadir. Ketika Habib Cikini meninggal, jenazahnya pun dimakamkan di lokasi Cikini bersama istri pertamanya dan anak dari Habib Kwitang yang meninggal ketika belum lama dilahirkan.

Oleh sebab itu, di makamnya yang berada di dalam masjid dapat dijumpai tiga kuburan. Dua yang berukuran normal dan satu yang berukuran kecil. Tapi selain dekat dengan Raden Saleh, Habib Cikini juga turut andil dalam penyebaran Islam di Batavia.

"Beliau ini dulu zamannya kan wajib syiar ya. Syiar daripada panglima perang beliau ini untuk mensyiarkan agama Islam. Cuma sebelum beliau syiar, dikasih tempat dari Raden Saleh. Ini dulu tempat kan dari Raden Saleh. Beliau sebelum membikin pondok atau apa ini wafat tahun 1879 sehingga tidak sempat untuk bikin majelis atau apa," lanjut Habib Muhdhor.

Namun walau tidak sampai membuat majelis seperti anaknya Habib Kwitang, Habib Cikini telah melakukan syiar di Batavia hingga Surabaya. Tidak heran, beliau memiliki banyak sahabat sesama alim ulama, murid dan anak yang meneruskan jejaknya.

Tahun 1296 H bertepatan dengan 1879 M, Habib Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, belum mencapai usia 11 tahun. Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat kepada istrinya, agar Habib Ali disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut betul-betul dilaksanakan isterinya dengan sepenuh hati dan keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.

Karena ‘Habib Cikini’ tidak meninggalkan warisan yang memadai,maka demi mewujudkan pesan almarhum suaminya, Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, kemudian menjual gelang yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut.

Sementara itu, Habib Syech Bafaqih sahabat karib Habib Abdurrahman,wafat pada 1883,dua tahun setelahnya.Beliau dimakamkan di Botoputih, Surabaya, yang hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai daerah.

Selain dengan Habib Syech, "Habib Cikini" juga bersahabat akrab dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur yang nama lengkapnya adalah Sayyid Syarief Boestomi Raden Saleh bin Yahya. Sebetulnya kedekatannya dengan pelukis tersebut bukanlah hal yang aneh. Disamping sama-sama kelahiran Semarang, sebelum hijrah ke Batavia, Habib Cikini sempat menikah dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, adik Raden Saleh.

Raden Saleh

Pelukis yang lama menetap di Eropah ini, dilahirkan pada 23 April 1811 dan wafat pada tahun 1880, setahun setelah wafatnya "Habib Cikini". Beliau dimakamkan di daerah Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat.

Mengawal Aqidah Ummat

Sebagaimana disebutkan, Habib Cikini menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, yang adik perempuan Raden Saleh,beliau tak beroleh keturunan sama sekali.

Di tanah pekarangan rumah Raden Saleh yang berada didaerah Cikini inilah, Jasad mulia Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya didirikan bangunan sederhana.

Peziarah yang datang ke makamnya tidak seramai seperti di makam Habib Ali di Masjid Kwitang yang putranya sendiri, tapi yang datang menziarahi makamnya hampir tidak pernah putus dari waktu ke waktu. Diantara murid-murid beliau adalah : Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung – Kalibata – Jakarta), dan masih banyak lagi yg lainnya.

Makam Cikini
Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Makam beliau terbilang unik, karena masjid atau makamnya berada di tengah-tengah proyek pengembangan apartemen di daerah Cikini Jl. Raden Saleh Jakarta.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Berikut adalah hasil wawancara Muh Subki Balya dengan Bapak Ansori, orang yang diserahi ahli bait untuk merawat masjid, pada bulan Ramadhan tahun 1434 H:

“Bahwa berdirinya masjid ini panjang dan katanya perebutan lahan ini dulu sampai berdarah, tetapi tiada stasiun TV manapun yang meliputnya. Ada seorang kaya yang berniat menggusurnya. Sengketa tidak boleh digusur dan mau menggusur berlanjut. Sampai akhirnya yang berkuasa duit berhasil mau memindahkan makam Habib Abdurahman. Alat berat bego (alat mobil berat) dikerahkan sungguh di luar rasio akal sehat. Mobil bego itu patah.

Kemudian diambilkan mobil bego yang lebih baru dan lebih sehat. Benar-benar karamah Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi telah nampak. Mobil bego yang lebih layak dan sehat itu patah juga, bahkan patahannya hampir menyambar operator alat bego itu.

Ketika peristiwa tersebut mereda, terjadi keributan yang keduakalinya. Orang berduit itu tetap hendak mengeruk lahan tanah yang di situ terdapat makam Habib Abdurrahman. Ternyata keluarlah sumber air dari kerukan tersebut. Dari peristiwa itu dibangunlah sebuah masjid oleh keluarga di samping makam Habib Abdurrahman al-Habsyi.

Kisah unik irasional terjadi kembali. Saat pembangunan batas antara masjid dengan proyek, tepatnya di tikungan jalan tidak kunjung mengering. Air terus menggenang sehingga tidak dapat melakukan pengecoran pondasi, kurang lebih hingga 3 bulan lamanya. Saat itulah dari pihak kontraktor baru mau meminta izin sekedar berdoa di makam. Setelah itu air pun surut dan pembangunan pagar bisa dilaksanakan.”

Kejadian unik lain diceritakan pula oleh Bapak Ansori sebagai berikut:

“Ada seorang petani dengan mengendarai sepeda motor hendak melihat tanaman cabainya yang dikira sudah cukup umurnya untuk dipanen. Namun setelah meninjau berulangkali tanaman cabai-nya itu tidak kunjung dapat dipanen.

Datanglah ia ziarah ke makam Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi. Kemudian ia meminta kaleng yang bisa digunakan untuk mengambil air di makam Habib Abdurrahman. Sepulangnya di rumah, air seberat kaleng cat itu dioplos (dicampurkan) dengan air yang digunakan untuk menyirami tanaman cabai. Alhamdulillah setelah itu tanaman cabainya bisa panen. Dari kejadian itu lantas ia ziarah kembali ke makam Habib Abdurahman al-Habsyi dengan membawa tumpeng sekedar berbagi rizki untuk selamatan atau tasyakuran.”

Wallahu'a'lam

Sumber: Pustaka Pejaten

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur

DETIK-DETIK TERAKHIR KH. ABDULLAH BIN NUH MEMPERTAHANKAN BENTENG BOGOR

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Bogor

Di balik jubah ulama dan sorban yang bersahaja, bersemayam jiwa singa yang menggetarkan nyali serdadu NICA. Inilah kisah tentang KH.Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar, sastrawan dunia, sekaligus panglima tempur yang darahnya menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tanah Pasundan.

SANG ULAMA YANG MENGGANTI PENA DENGAN SENJATA

Pada tahun 1945-1946, Bogor bukan lagi kota hujan yang tenang, melainkan kuali api pertempuran. KH Abdullah bin Nuh, yang dikenal sebagai intelektual Islam lulusan Al-Azhar, Kairo, tidak memilih diam di dalam pesantren saat sekutu dan Belanda kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Bogor. Sebagai komandan Batalyon II Resimen III TKR dengan pangkat Mayor, ia menjadi target utama intelijen Belanda karena pengaruhnya yang mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk berjihad di bawah panji kemerdekaan.

PERTEMPURAN DI GARIS DEPAN: NARASI KEBERANIAN

Kisah heroisme beliau mencapai puncaknya dalam berbagai penyergapan di jalur strategis antara Bogor dan Jakarta. KH Abdullah bin Nuh tidak pernah memerintah dari belakang meja. Dengan senjata di tangan dan zikir di lisan, ia memimpin pasukan menyerbu konvoi-konvoi lapis baja Belanda.

Meskipun dalam catatan sejarah besar ia wafat pada usia lanjut (tahun 1987), narasi "gugurnya" secara spiritual dan fisik di medan juang terekam dalam kegigihannya saat menghadapi agresi militer. Namun, banyak sumber sejarah lokal menyoroti bagaimana ia "hampir gugur" berkali-kali dalam kepungan mortir musuh. Salah satu fragmen paling heroik adalah saat pasukannya terdesak di wilayah perbukitan Bogor, di mana ia berdiri paling depan melindungi mundur-nya pasukan, sebuah tindakan yang oleh pengikutnya dianggap sebagai kesiapan untuk syahid.

KH. Abdullah bin Nuh memang tidak wafat di ujung bayonet pada masa revolusi—ia dianugerahi usia panjang untuk membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Pesantren Al-Ghazaly. Namun, jiwa perjuangannya "gugur" dalam arti melepaskan seluruh kepentingan duniawi demi kemerdekaan.

Bagi para pejuang di Bogor, sosok beliau adalah bukti nyata bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan nasionalisme. Ia adalah melodi jihad yang tidak pernah padam, sosok yang membuat Jenderal Spoor (Panglima Belanda) gelisah setiap kali mendengar nama Batalyon pimpinan KH Abdullah bin Nuh bergerak.

"MERDEKA ATAU SYAHID"

Narasi perjuangannya selalu ditutup dengan pesan yang ia sampaikan kepada para santrinya: "Tinta ulama mungkin lebih suci dari darah syuhada, tapi saat tanah air dinjak, maka tinta itu harus berubah menjadi api." Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani, seorang pejuang yang tidak hanya menang dalam perang fisik, tapi juga memenangkan peperangan melawan penjajahan pemikiran.

Sumber Referensi:
  • Profil KH Abdullah bin Nuh - Jaringan Santri
  • Sejarah Perjuangan Ulama Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor
  • KH Abdullah bin Nuh: Singa Padang Pasir dari Bogor.
CATATAN SEJARAH: "KH Abdullah bin Nuh wafat dengan tenang pada tahun 1987 di Bogor, namun dedikasinya di medan perang 1945 menjadikannya sosok yang dianggap "hidup untuk syahid" di setiap pertempuran yang ia pimpin."
Makam KH Abdullah bin Nuh Bogor

Biografi Singkat Abuya Armin Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

KH Muhammad Hasan Armin, lebih dikenal Abuya Armin Cibuntu atau “Mama Armin”, lahir sekitar tahun 1880 di Desa Koranji (Menes / Pulosari), Pandeglang, Banten. Beliau adalah ulama besar dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal sangat berilmu serta berperan besar dalam penyebaran Islam di Banten.

Nama “Hasan” ditambahkan oleh gurunya di Mekah sebagai penghormatan atas kecerdasan dan ketaqwaannya ketika beliau masih belajar di tanah Arab.

Beliau belajar ilmu syariat, tafsir, tasawuf, dan tarekat selama belasan hingga puluhan tahun di Arab (termasuk Mekkah, Madinah, Palestina, Baghdad) sebelum kembali ke kampung dan mendirikan Pesantren Cibuntu di Desa Sekong, Cimanuk, Pandeglang.

Beliau mengajar ratusan santri dari berbagai daerah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat dihormati. Abuya Armin menghembuskan napas terakhir 30 November 1988 (usia sekitar 108 tahun) dan dimakamkan di kompleks pesantrennya, yang hingga kini masih dijadikan tempat ziarah peziarah terutama pada malam Jumat.

Karomah (Kehidupan Luar Biasa)

Beberapa cerita karomah yang dikenal berkembang di masyarakat:

1. Mengeluarkan Mobil Mogok Presiden Soekarno

Konon pada suatu malam, kendaraan Presiden RI Ir. Soekarno mogok di lumpur dalam perjalanan, tak ada yang bisa menolong. Datanglah Abuya Armin lalu menusukkan lidi kecil di bawah ban mobil, dan mobil itu lancar keluar dari lumpur setelah itu.

2. Hidangan Ajaib

Diceritakan pula bahwa beliau mampu menghadirkan berbagai makanan dan minuman yang tampak segar dan beraroma harum, padahal makanan itu tidak biasa hadir secara lahiriah.

3. Karomah dan Pengajaran Rohani

Abuya Armin dikenal sebagai guru yang penuh karomah dalam membimbing santri dan umat, terutama dalam latihan batin dan dzikir tarekat. Banyak santri dari jauh datang untuk belajar langsung kepada beliau.

Kesaksian dan Tokoh yang Mengenang

Banyak tokoh besar di Indonesia yang disebut-sebut pernah berkunjung untuk meminta nasihat, termasuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Presiden Soeharto, dan Gubernur Ali Sadikin. Mereka datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan dan berkonsultasi tentang keagamaan atau spirit perjuangan.

Santri dan cucu beliau—seperti H. Heri—menginformasikan bahwa ajaran dan pengalaman spiritual Abuya Armin masih menjadi teladan hingga kini, bahkan makamnya ramai diziarahi terutama pada malam Jumat.

Makam Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten
Warisan: Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

Abuya Armin adalah pendiri Pesantren Cibuntu dan Masjid Hasaniyah (dibangun sekitar tahun 1926), yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah masyarakat. Masjid ini masih berdiri hingga kini sebagai saksi sejarah penyebaran Islam dan ilmu tarekat di Banten.

Warisan Abuya Armin Banten Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

Istiqomah dalam berdoa Kepada Allah SWT

Istiqomah dalam berdoa Kepada Allah SWT

Pernahkah kita merasa frustrasi ketika doa-doa yang kita panjatkan seolah tak kunjung terjawab? Kita mungkin bertanya-tanya, apakah Allah mendengar permohonan kita? Atau mungkin kita merasa tidak cukup layak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Tenang, kita tidak sendiri dalam perasaan ini.

Artikel ini membahas tentang alasan mengapa doa belum terjawab, syarat pengabulan doa, cara menyikapi doa yang belum terkabul, ujian keimanan melalui doa, hikmah di balik penundaan jawaban doa, cara mengatasi keputusasaan, memahami kehendak Allah, batas waktu pengabulan doa, peran ikhtiar, dan menjaga konsistensi dalam berdoa.

Mengapa Doa Kita Belum Terjawab..?

Ketika doa kita belum terjawab, bukan berarti Allah mengabaikan permohonan kita. Ada berbagai alasan yang mungkin menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah karena Allah, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, memilih waktu yang terbaik untuk mengabulkan doa kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)


Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu dekat dan mendengar doa kita. Namun, kita perlu memahami bahwa pengabulan doa tidak selalu sesuai dengan ekspektasi atau waktu yang kita inginkan.

Apakah Ada Syarat Agar Doa Dikabulkan.?

Ya, ada beberapa syarat yang perlu kita penuhi agar doa kita lebih berpeluang untuk dikabulkan. Pertama, kita harus memastikan bahwa hati kita hadir saat berdoa. Kekhusyukan dan ketulusan menjadi kunci penting dalam berdoa.

Rasulullah SAW bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, No. 3479)


Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat fardhu.

Bagaimana Menyikapi Doa yang Belum Terkabul.?

Ketika doa kita belum terkabul, sikap terbaik adalah tetap berprasangka baik kepada Allah. Kita harus yakin bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk kita, meskipun kita belum memahaminya saat ini.

Imam Syafi’i pernah berkata,“Apa yang kamu inginkan mungkin tidak terjadi, tapi Allah memberikan apa yang kamu butuhkan.”

Kita perlu terus berusaha dan berdoa, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sikap tawakal ini akan membuat hati kita lebih tenang dalam menjalani proses penantian.

Mengapa Allah Menguji Keimanan Kita Melalui Doa.?

Allah sering menguji keimanan kita melalui penundaan pengabulan doa. Ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kesabaran dan keteguhan iman kita. Apakah kita akan tetap berpegang teguh pada-Nya atau justru berpaling.?

Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji.?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)


Melalui ujian ini, Allah ingin melihat apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku-ngaku beriman.

Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram. Pesan utama dalam gambar tersebut adalah tentang istiqomah dan intensitas dalam berdoa, dengan rumus: "1 x 1000 bukan 1000 x 1" (Satu doa yang dibaca 1.000 kali lebih baik daripada 1.000 doa berbeda yang masing-masing hanya dibaca 1 kali).

Berdasarkan inspirasi dari gambar tersebut, berikut adalah bedah amalan, manfaat, serta karomah yang terkandung didalamnya:

1. Amalan Khusus: "Wirid Al-Istijabah"

Amalan ini menitikberatkan pada permohonan rezeki yang luas dan keberkahan hidup dengan tawasul kepada Asmaul Husna dan Sholawat.

Teks Doa (Sesuai Gambar):

Rumus dalam berdoa Syaikh Nawawi Al-Bantani
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى اُرْزُقْنِيْ(..........) بِالْعَافِيَةِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدِ

"Allahumma inni as-aluka bi asma-ikal husna, urzuqni (Sebutkan Hajat/Nominal) bil afiyah. Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyina Muhammad."


Tata Cara Amalan:
  • Waktu Utama: Sepertiga malam terakhir (Tahajud) atau setelah Shalat Subuh.
  • Kunci Rumus: Jangan membaca banyak doa yang berganti-ganti. Fokuslah pada satu kalimat doa ini dan baca sebanyak 1.000 kali secara konsisten (istiqomah) selama 40 hari.
  • Adab: Menghadap kiblat, dalam keadaan suci, dan penuh keyakinan (khusyuk).
2. Bedah Manfaat Amalan
Secara spiritual dan psikologis, mengulang satu doa dalam jumlah banyak memiliki manfaat mendalam:
  • Penyatuan Frekuensi (Fokus): Mengulang doa 1.000 kali membantu pikiran dan hati benar-benar sinkron dengan apa yang diminta. Ini menghilangkan keraguan dalam hati.
  • Pintu Langit (Asmaul Husna): Memulai dengan Asmaul Husna adalah "jalur ekspres" dikabulkannya doa, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an.
  • Perisai Keberkahan (Sholawat): Menutup doa dengan sholawat memastikan doa tersebut tidak "tergantung" di langit, melainkan langsung sampai kepada Allah SWT.
  • Kesehatan dan Keselamatan: Kalimat "Bil Afiyah" dalam doa tersebut sangat krusial. Artinya Anda meminta rezeki bukan sekadar banyak, tapi juga membawa kesehatan dan ketenangan (tidak membawa petaka).
Karomah Syekh Nawawi al-Bantani dan Kekuatan Istiqomah
  • Istilah "Karomah" dalam konteks amalan ini merujuk pada keajaiban atau kemuliaan yang muncul akibat kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
  • Pancaran Cahaya Pengetahuan: Syekh Nawawi dikenal memiliki karomah di mana jarinya bisa mengeluarkan cahaya saat menulis kitab di kegelapan. Hal ini melambangkan bahwa orang yang istiqomah dalam wirid akan diberi "cahaya" (petunjuk) dalam urusan dunianya.
  • Kecukupan yang Tak Terduga: Salah satu karomah ahli wirid adalah Barakah. Rezeki yang diminta (misalnya dalam gambar tertulis 100 Miliar) mungkin datang dalam bentuk nominal, atau dalam bentuk kemudahan urusan yang nilainya jauh melampaui angka tersebut.
  • Wibawa dan Ketenangan: Orang yang melazimkan dzikir 1.000 kali sehari akan memiliki ketenangan batin yang luar biasa, sehingga urusan sesulit apa pun akan terasa ringan.
Kesimpulan:“Rumus 1 x 1000 adalah pelajaran tentang Ketekunan. Tuhan lebih menyukai amalan yang sedikit (satu jenis doa) namun dilakukan secara terus-menerus dan mendalam, daripada banyak keinginan namun dilakukan dengan setengah hati.”