Wadah batin dalam keilmuan ghaib merujuk pada kesiapan mental, spiritual, dan emosional seseorang untuk menampung energi atau kekuatan spiritual yang tinggi. Pentingnya wadah batin yang kuat dan stabil adalah untuk memastikan bahwa amalan atau energi ilmu yang dipelajari tidak merusak fisik maupun psikologis pelaku.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai peran wadah batin agar tetap stabil dalam keilmuan ghaib:
Mencegah Gangguan Mental dan Gila (Stabilisasi)
Amalan ilmu ghaib seringkali membawa energi yang sangat besar. Tanpa wadah batin yang memadai, energi ini dapat membebani saraf dan pikiran, yang berpotensi menyebabkan stres, depresi, perilaku tidak wajar, hingga gangguan kejiwaan atau "gila" karena tidak kuat menahan beban energi tersebut.
Sebagai Penampung Energi (Wadah Ilahi)
Wadah batin berfungsi seperti cawan yang menampung energi spiritual agar tidak berhamburan atau liar. Wadah yang baik memungkinkan seseorang menyerap energi tersebut tanpa kewalahan, sehingga pengalaman spiritual dapat dibumikan ke dalam tubuh fisik dengan aman.
Keamanan dari Efek Samping (Tolak Bala)
Penyucian batin (seperti keikhlasan dan kejujuran) berfungsi memurnikan energi, yang bertindak sebagai "pelindung" atau tolak bala, sehingga ilmu yang diamalkan tidak balik menyerang pelakunya.
Pembersihan Diri/Wadah
Sebelum mempelajari ilmu tingkat tinggi, wadah batin harus "dibersihkan" terlebih dahulu. Ini melibatkan peningkatan iman, akhlak mulia, dan pengendalian ego, agar energi negatif tidak masuk atau bercampur dengan ilmu yang dipelajari.
Kematangan Spiritual
Wadah batin yang stabil menjamin seseorang memiliki kebijaksanaan, kesabaran, dan ketenangan. Ini mencegah pelaku ilmu ghaib menjadi sombong atau salah dalam menggunakan ilmu, yang bisa berakibat fatal.
Singkatnya, wadah batin adalah fondasi. Tanpa wadah yang stabil, mempelajari ilmu ghaib ibarat mengisi air ke dalam gelas yang retak atau terlalu kecil; airnya akan tumpah atau gelasnya akan pecah (merusak diri sendiri).
Sebuah keilmuan hikmah yang insya Allah ada kemanfaatannya untuk anda semua dalam mengamalkan segala keilmuan khusus untuk memperbesar wadah bathin kita. Untuk anda orang yang gemar akan ilmu-ilmu ghaib lebih bagus untuk memegang ilmu Wadah Batin ini lebih terlebih dahulu, agar seimbang bathinnya dalam mengarungi ilmu-ilmu kebathinannya.
Saudaraku, selama ini kita sering menjumpai beragam ilmu yang bermacam-macam mulai dari Asma, Hizib dan lain sebagainya, akan tetapi ita belum bisa memastikan apakah ilmu yang anda dapatkan atau di ijazahkan baik dari Blog/buku/kitab-kitab hikmah tersebut “Cocok” untuk wadag kita atau tidak.?.
Suatu ilmu mungkin cocok untuk orang lain, akan tetapi belum tentu cocok untuk kita karena tingkat spiritual antara manusia satu dengan lainNya pasti berbeda, sebagai contoh Si A memiliki wadah ilmu yang hanya bisa menampung kira-kira 1 gelas air, sedangkan si B mungkin memiliki wadah ilmu yang bisa menampung 1 kolam air. Jadi jika ada ilmu yang sekiranya memiliki “muatan” 1 ember tentu dalam hal ini si B lah yang cocok mempelajarinya karena wadahnya mampu menampung muatan ilmu tersebut, sedangkan si A tidak.
Coba anda bayangkan jika muatan air 1 di tuangkan kedalam 1 gelas maka gelas hanya akan terisi sesuai dengan volume yang bisa di tampungnya, lalu kemana sisa muatan lainnya akan di tampung...?, Jika seandainya tetap dipaksakan tentu saja sisa muatan yang ada dalam ember pasti akan berceceran kemana-mana. Dalam hal ini faktor keturunan sangat berpengaruh dalam perihal wadah keilmuan seseorang, bagi mereka yang mempunyai “Trah Ningrat” atau darah biru biasanya mempunyai “Wadah” yang lebih besar dari mereka yang terlahir dari keluarga biasa. Jadi tidak heran jika mereka yang masih memiliki “Trah Leluhur” darah biru akan lebih cepat belajar dan menguasai suatu keilmuan daripada mereka yang terlahir dari orang biasa.
Saudaraku, sebuah perumpamaan mereka yang terlahir dari garis leluhur yang memang berilmu dalam hal ini bisa dari Trah Ningrat, Putra Kyai, ataupun orang biasa yang memiliki “ladang Tanah” yang subur, jadi jika di “Tanami” apapun niscaya cepat tumbuh, sedangkan mereka yang tidak berasal dari Trah Leluhur berilmu di ibaratkan sebagai “Ladang Tandus” yang harus di garap terlebih dahulu. Di cangkul lalu di sirami dan diberi pupuk, “Penggarapan disini” di maknai sebagai laku olah batin seperti Puasa, Wirid dan lain sebagainya.
Jadi, semakin tinggi ilmu bathin yang anda miliki, maka tinggikan serta lebarkan wadah bathinnya agar menjadi seimbang (stabil), dan jauh dari sifat-sifat yang tidak di inginkan seperti pusing atau bahkan menjadi Stress, Na'udzubillah.






0 comments:
Posting Komentar