Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur - Perisai Mukmin Sejati Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur - Perisai Mukmin Sejati

11 Januari 2026

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur

DETIK-DETIK TERAKHIR KH. ABDULLAH BIN NUH MEMPERTAHANKAN BENTENG BOGOR

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Bogor

Di balik jubah ulama dan sorban yang bersahaja, bersemayam jiwa singa yang menggetarkan nyali serdadu NICA. Inilah kisah tentang KH.Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar, sastrawan dunia, sekaligus panglima tempur yang darahnya menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tanah Pasundan.

SANG ULAMA YANG MENGGANTI PENA DENGAN SENJATA

Pada tahun 1945-1946, Bogor bukan lagi kota hujan yang tenang, melainkan kuali api pertempuran. KH Abdullah bin Nuh, yang dikenal sebagai intelektual Islam lulusan Al-Azhar, Kairo, tidak memilih diam di dalam pesantren saat sekutu dan Belanda kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Bogor. Sebagai komandan Batalyon II Resimen III TKR dengan pangkat Mayor, ia menjadi target utama intelijen Belanda karena pengaruhnya yang mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk berjihad di bawah panji kemerdekaan.

PERTEMPURAN DI GARIS DEPAN: NARASI KEBERANIAN

Kisah heroisme beliau mencapai puncaknya dalam berbagai penyergapan di jalur strategis antara Bogor dan Jakarta. KH Abdullah bin Nuh tidak pernah memerintah dari belakang meja. Dengan senjata di tangan dan zikir di lisan, ia memimpin pasukan menyerbu konvoi-konvoi lapis baja Belanda.

Meskipun dalam catatan sejarah besar ia wafat pada usia lanjut (tahun 1987), narasi "gugurnya" secara spiritual dan fisik di medan juang terekam dalam kegigihannya saat menghadapi agresi militer. Namun, banyak sumber sejarah lokal menyoroti bagaimana ia "hampir gugur" berkali-kali dalam kepungan mortir musuh. Salah satu fragmen paling heroik adalah saat pasukannya terdesak di wilayah perbukitan Bogor, di mana ia berdiri paling depan melindungi mundur-nya pasukan, sebuah tindakan yang oleh pengikutnya dianggap sebagai kesiapan untuk syahid.

KH. Abdullah bin Nuh memang tidak wafat di ujung bayonet pada masa revolusi—ia dianugerahi usia panjang untuk membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Pesantren Al-Ghazaly. Namun, jiwa perjuangannya "gugur" dalam arti melepaskan seluruh kepentingan duniawi demi kemerdekaan.

Bagi para pejuang di Bogor, sosok beliau adalah bukti nyata bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan nasionalisme. Ia adalah melodi jihad yang tidak pernah padam, sosok yang membuat Jenderal Spoor (Panglima Belanda) gelisah setiap kali mendengar nama Batalyon pimpinan KH Abdullah bin Nuh bergerak.

"MERDEKA ATAU SYAHID"

Narasi perjuangannya selalu ditutup dengan pesan yang ia sampaikan kepada para santrinya: "Tinta ulama mungkin lebih suci dari darah syuhada, tapi saat tanah air dinjak, maka tinta itu harus berubah menjadi api." Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani, seorang pejuang yang tidak hanya menang dalam perang fisik, tapi juga memenangkan peperangan melawan penjajahan pemikiran.

Sumber Referensi:
  • Profil KH Abdullah bin Nuh - Jaringan Santri
  • Sejarah Perjuangan Ulama Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor
  • KH Abdullah bin Nuh: Singa Padang Pasir dari Bogor.
CATATAN SEJARAH: "KH Abdullah bin Nuh wafat dengan tenang pada tahun 1987 di Bogor, namun dedikasinya di medan perang 1945 menjadikannya sosok yang dianggap "hidup untuk syahid" di setiap pertempuran yang ia pimpin."
Makam KH Abdullah bin Nuh Bogor

0 comments:

Posting Komentar