
Oleh: Umdatul Fadhilah
Dikisahkan beliau Nabi yang sangat taat beribadah kepada Allah SWT dan memiliki banyak harta serta kekayaan lain, beserta beberapa anak dan beberapa istri. Namun bukan setan namanya kalau tidak menganggu manusia. Setan kemudian meminta izin kepada Allah SWT untuk menggoda Nabi Ayyub AS yang begitu taat kepada Allah SWT. Atas izin Allah syetan menggoda Nabi Ayyub AS dengan menebarkan penyakit kepada Nabi Ayyub AS. Hingga dalam sekejab Nabi Ayyub AS mengidap penyakit kulit yang amat parah. Kekayaannya lenyap seketika karena ditimpa musibah.
Para putra-putrinya dan beberapa istrinya meninggalkan Nabi Ayyub AS. Namun beliau tetap tegar dan terus beribadah kepada Allah SWT meski penyakitnya semakin parah, hal tersebut tidak membuat Nabi Ayyub AS surut dalam beribadah. Setan yang tidak terima melihat Nabi Ayyub AS tetap taat kepada Allah SWT, dia terus menggoda dan menggoda. Tetapi Nabi Ayyub AS selalu mendekatkan diri pada Allah SWT, hanya salah satu istrinya yang masih setia, yaitu Siti Rahmah.
Siti Rahmah dalam keadaan apapun Nabi Ayyub AS, beliau tetap setia menemani suaminya. Saking taatnya, beliau rela kerja banting tulang. Dikisahkan Siti Rahmah bekerja disebuah toko roti. Pada suatu ketika sang bos roti mengetahui bahwa Siti Rahmah adalah istri Nabi Ayyub AS. Takut penyakit sang suami memengaruhi kualitas rotinya. Dipecatlah ia. Namun untuk memenuhi kebutuhan hidup, Siti Rahmah menjual gelungan rambutnya yang sangat indah. Saking sabarnya pula Nabi Ayyub AS, Allah kemudian berikan ia kesembuhan beserta kejayaan kembali.
Singkat cerita diatas menunjukan betapa setianya Siti Rahmah sebagai seorang istri. Meski dalam keadaan apapun, ia tetap rela dan tidak sambat seperti sebagian perempuan di zaman sekarang. Yah memang dibanyak cerita, perceraian disebabkan oleh perekonomian. Istilahnya habis manis sepah di buang. Memang tidak mudah rasanya bertahan pada sesuatu yang begitu berat dalam hidup. Dan kesetiaan memang mahal.
Setia disini konteksnya bukan saja pada sepasang kekasih halal. Tetapi setia bisa juga komitmen. Setia pada pilihanmu saat ini. Seperti, jika sudah memilih merantau ke kota orang. Di kota itu kamu menghadapi berbagai suka duka dan terasa berat hingga rasanya mau enyah dan menyerah tapi ingat perjuangan orang tua. Maka belajarlah untuk setia. Belajarlah untuk melihat sisi positif apa yang sudah menjadi pilihan. Setia diiringi juga dengan rasa sabar. Dimana perlu sabar yang banyak, dan siapa yang sabar maka dia akan beruntung.
Sabar dulu, sabar lagi, sabar terus. Dan bertahanlah jika kamu memang golongan orang-orang yang setia. Siti Rahmah tetap sabar meski saat itu Nabi Ayyub AS semakin parah penyakitnya.












