ALLAH SWT MENEGUR SEMUA HAMBANYA YANG BERDOSA DAN MELAMPAUI BATAS PERKATAAN BAIK DAN HALUS
Assalamu’alaikum Wr,Wb
Saudaraku yang di rahmati Allah SWT, begitu luasnya kasih sayang
dan cinta Allah kepada seluruh hambanya, sudah sepatutnya rasa kasih sayangnya
kita kuatkan dengan keimanan dan ketaqwaan kepadanya. Segala apa yang menjadi
perintahnya wajib dijalankan dengan rasa senang dan ikhlas semata-mata
mengharap keridhaannya.
Walaupun manusia itu melakukan suatu perbuatan dosa-dosa besar yang sudah dilarang oleh agama, dengan kasih sayangnya DIA tidak berkata kasar kepada hambanya, Namun sebaliknya Allah SWT menegur seluruh hambanya yang telah melakukan kesalahan dan perbuatan dosa dengan perkataan yang halus dan lembut agar seluruh hambanya kembali ke jalan yang benar dan di ridhoinya, sebagaimana dalam Al-Qur’an berikut:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Dari kutipan ayat tersebut Allah menyeru kepada seluruh hambanya yang telah melakukan perbuatan dosa, kufur dan kesyirikan dengan perkataan yang sangat halus seperti “Wahai hamba-hambaku yang melampaui batas”, bukan sebaliknya dengan dengan perkataan kasar seperti “Wahai hamba-hambaku yang kafir dan durjana”, “Wahai para penzina”, “Wahai orang-orang yang syirik”. Dari kalimat itu ialah salah satu kasih sayangnya yang diserukan agar seluruh hambanya itu bertaubat kepadanya dengan mengerjakan amal kebaikan dengan seruan yang halus. Kurang baik apakah Allah kepada kita semua..??
Sebab turunnya ayat di atas menunjukkan bahwa dosa-dosa besar yang telah mereka lakukan (kesyirikan, pembunuhan, dan perzinaan) akan terhapus dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, bertaubat, beriman setelah sebelumnya berada di atas kekufuran dan kesyirikan, kemudian mengiringinya dengan amal shalih. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam ayat setelahnya (artinya):
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
shalih, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Furqan:
70).
Dengan demikian, terjawablah pertanyaan mereka tersebut. Jadi, sebesar apapun dosa yang dilakukan, jangan berputus asa untuk meraih ampunanNya. Tentang ayat 53 dalam surat Az-Zumar ini, Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini merupakan seruan kepada semua pelaku maksiat, baik dari kalangan orang-orang kafir maupun selain mereka, untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Ayat tersebut menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Sebesar apapun dosa manusia, jika dia mau jujur untuk mengakui kesalahannya, kemudian bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, maka ampunan dan rahmatNya pasti akan diberikan kepada sang hamba.
Ayat ini juga mengabarkan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa bagi orang yang mau bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa tersebut. Tidaklah ada seorang manusia kecuali pasti pernah terjatuh dalam perbuatan dosa dan kesalahan. Namun demikian, tidak sepatutnya bagi keturunan Nabi Adam putus harapan dan enggan memohon ampunan kepada Sang Khalik. Karena Dia pasti akan memberikan ampunan, walaupun dosa-dosa manusia itu sebanyak buih di lautan. Siang dan malam ampunanNya senantiasa terbentang, untuk hambaNya yang memohon ampun dengan ketulusan. Itulah kemurahan Ar-Rahman, kepada hambaNya yang beriman.
ALLAH SWT MENEGUR HAMBANYA YANG MELAMPAUI BATAS
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam
keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu
daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak
pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.
Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu
mereka kerjakan”. (QS. Yunus: 12).
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa
yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui
batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas”. (QS. Al-Maidah: 87).
اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara
yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas”. (QS. Al-Araf:55).
وَمَا لَكُمْ اَلَّا تَأْكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ اِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ اِلَيْهِ ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِاَهْوَاۤىِٕهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗاِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِيْنَ
“Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal)
yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang
terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar
benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui
batas”. (QS. Al-An'am:119).
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia
dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang
pedih”. (QS. Asy-Syuura : 42).
Kesimpulan dari mentadabburi makna jangan melampaui batas, adalah manusia jangan lalai terhadap sesuatu hal apapun, jangan pula manusia berhenti menuntut ilmu hingga akhir hayat tiba dan kerap selalu berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT agar diberikan hikmah, hidayah, dan diberikan hati yang bercahaya yang peka terhadap sinyal dan sunnatullah yang telah Allah tentukan dan syariatkan dala kehidupan dunia yang sementara ini.
Semoga kita semua termasuk hamba yang beruntung serta taat, peka terhadap perintah dan larangan Allah yang berlaku dari seluruh unsur kehidupan baik dalam pola ibadah, pola bekerja, pola konsumsi maupun pola melakukan,menyikapi segala sesuatu berdasarkan ketentuan Allah dan sunnatullah, sunnah rasul, Insya Alloh. Semoga Bermanfaat.
0 comments:
Posting Komentar