Kajian Hikmah Islam menghadirkan tulisan tentang shalawat Nabi, sejarah Islam, budaya dan wisata religi yang menghidupkan kembali semangat cinta Rasul, cinta tanah air, dan warisan para wali Allah di bumi nusantara
Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi Cikini (Ayahanda Habib Ali Kwitang, Jakarta)
Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi terlahir di Semarang dan wafat di Cikini, Jakarta pada tahun 1296 H/1879 M. Beliau adalah ayah dari al-Habib Ali Kwitang.
"Habib Cikini" (Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi) lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.
Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi adalah: al-Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.
Sebuah sumber tulisan menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Itu artinya, Habib Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau generasi ketiga yang menetap disini. Tulisan lainnya menyebutkan bahwa Habib Muhammad, kakeknya, ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al-Qadri.
Dalam catatan pada kitab rujukan ‘Nasab Alawiyyin’ susunan Habib Ali bin Ja'far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, sepupu dua kali Habib Ali Kwitang) bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja'far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Cikini) adalah seorang kelahiran Hadhramut, tepatnya di Tarbeh. Berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah ‘Habib Cikini’ adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.
Informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak kurang bisa dibuktikan, mengingat bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh dan tidak didapat keterangan bahwa yang bersangkutan sempat menginjakkan kaki di Nusantara.
Habib Cikini "Putra Semarang"
Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad Al Habsyi, (ayah Habib Cikini) yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa ia menikah pertama kali di Semarang.
Sebuah naskah juga menyebutkan, Ibu "Habib Cikini" adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, "Habib Cikini" sendiri diketahui sebagai putra kelahiran Semarang.. Ini berkaitan dengan catatan lainnya yang menyebutkan, "Ia wafat di Laut Kayong (daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M".
Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran ‘Habib Cikini’. Hal ini juga selaras dengan keterangan bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan ‘lanun’, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut.
Bersama Habib Syech dan Raden Saleh.
Diantara sejarah kehidupan "Habib Cikini" yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa ia sahabat karib Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Botoputih - Surabaya). Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya' Shahab dalam bukunya "Syams azh Zhahirah". Begitu pula menurut penulis Belanda bernama L.W.C Van Den Berg dalam buku ‘Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes’ yang menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan di antara Habib Syech dengan Raden Saleh terjalin erat.
Semasa hidupnya, Habib Cikini menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden Saleh. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, ia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara.
Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, Nyai Salmah, seorang wanita asli Betawi yang tinggal di Mester Cornelis (sekarang Jatinegara), suatu malam bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Nyai Salmah menggali sumur,tiba-tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah ke sekelilingnya.
Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Habib Abdurrahman, dan beliau segera menemui Habib Syech untuk menanyakan perihal mimpi tersebut. Habib Syech menjelaskan bahwa mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih dan ilmunya melimpah ruah penuh keberkahannya.
Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung dan pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1870 M, terlahirlah seorang putra yang kemudian ia beri nama ‘Ali’.
Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi yang terlahir dari pasangan shalih dan shalihah itu, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan ulama yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.
Di samping Habib Ali, "Habib Cikini" juga mempunyai putra lainnya yang bernama, Habib Abdul Qadir. Lewat putranya inilah "Habib Cikini" menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui pernikahan Habib Abdul Qadir dengan salah seorang putri Mufti Betawi ini. Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang anak perempuan tanpa anak lelaki sama sekali.
Kalau anak lelaki pertama Habib Ali adalah Habib Abdurrahman, dan yang bungsu bernama Habib Muhammad. Sementara diantara dua anak lelaki itu, lahirlah lima anaknya yang perempuan yang masing-masing bernama:
Syarifah Rogayah, Syarifah Khodijah, Syarifah Mahani, Syarifah Zahra dan Syarifah Sa’diyah yang juga mengikuti jejak ayahnya untuk menggelar majlis ta’lim ‘Assa’diyah’ untuk kaum perempuan di lokasi yang sama di Kwitang. Setelah Syarifah Sa’diyah wafat saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di di tanah suci, pengelolaan majlis ta’limnya dilanjutkan oleh Syarifah Salma binti Abdurrahman Al Habsyi, cucu perempuan Habib Ali Kwitang, anak dari Habib Abdurrahman.
Dari perkawinan keduanya ia dikaruniai dua putra yang bernama Habib Ali (Habib Kwitang) serta Habib Abdul qadir. Ketika Habib Cikini meninggal, jenazahnya pun dimakamkan di lokasi Cikini bersama istri pertamanya dan anak dari Habib Kwitang yang meninggal ketika belum lama dilahirkan.
Oleh sebab itu, di makamnya yang berada di dalam masjid dapat dijumpai tiga kuburan. Dua yang berukuran normal dan satu yang berukuran kecil. Tapi selain dekat dengan Raden Saleh, Habib Cikini juga turut andil dalam penyebaran Islam di Batavia.
"Beliau ini dulu zamannya kan wajib syiar ya. Syiar daripada panglima perang beliau ini untuk mensyiarkan agama Islam. Cuma sebelum beliau syiar, dikasih tempat dari Raden Saleh. Ini dulu tempat kan dari Raden Saleh. Beliau sebelum membikin pondok atau apa ini wafat tahun 1879 sehingga tidak sempat untuk bikin majelis atau apa," lanjut Habib Muhdhor.
Namun walau tidak sampai membuat majelis seperti anaknya Habib Kwitang, Habib Cikini telah melakukan syiar di Batavia hingga Surabaya. Tidak heran, beliau memiliki banyak sahabat sesama alim ulama, murid dan anak yang meneruskan jejaknya.
Tahun 1296 H bertepatan dengan 1879 M, Habib Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, belum mencapai usia 11 tahun. Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat kepada istrinya, agar Habib Ali disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut betul-betul dilaksanakan isterinya dengan sepenuh hati dan keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.
Karena ‘Habib Cikini’ tidak meninggalkan warisan yang memadai,maka demi mewujudkan pesan almarhum suaminya, Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, kemudian menjual gelang yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut.
Sementara itu, Habib Syech Bafaqih sahabat karib Habib Abdurrahman,wafat pada 1883,dua tahun setelahnya.Beliau dimakamkan di Botoputih, Surabaya, yang hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai daerah.
Selain dengan Habib Syech, "Habib Cikini" juga bersahabat akrab dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur yang nama lengkapnya adalah Sayyid Syarief Boestomi Raden Saleh bin Yahya. Sebetulnya kedekatannya dengan pelukis tersebut bukanlah hal yang aneh. Disamping sama-sama kelahiran Semarang, sebelum hijrah ke Batavia, Habib Cikini sempat menikah dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, adik Raden Saleh.
Pelukis yang lama menetap di Eropah ini, dilahirkan pada 23 April 1811 dan wafat pada tahun 1880, setahun setelah wafatnya "Habib Cikini". Beliau dimakamkan di daerah Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat.
Mengawal Aqidah Ummat
Sebagaimana disebutkan, Habib Cikini menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, yang adik perempuan Raden Saleh,beliau tak beroleh keturunan sama sekali.
Di tanah pekarangan rumah Raden Saleh yang berada didaerah Cikini inilah, Jasad mulia Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya didirikan bangunan sederhana.
Peziarah yang datang ke makamnya tidak seramai seperti di makam Habib Ali di Masjid Kwitang yang putranya sendiri, tapi yang datang menziarahi makamnya hampir tidak pernah putus dari waktu ke waktu. Diantara murid-murid beliau adalah : Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung – Kalibata – Jakarta), dan masih banyak lagi yg lainnya.
Makam Cikini
Makam beliau terbilang unik, karena masjid atau makamnya berada di tengah-tengah proyek pengembangan apartemen di daerah Cikini Jl. Raden Saleh Jakarta.
Berikut adalah hasil wawancara Muh Subki Balya dengan Bapak Ansori, orang yang diserahi ahli bait untuk merawat masjid, pada bulan Ramadhan tahun 1434 H:
“Bahwa berdirinya masjid ini panjang dan katanya perebutan lahan ini dulu sampai berdarah, tetapi tiada stasiun TV manapun yang meliputnya. Ada seorang kaya yang berniat menggusurnya.
Sengketa tidak boleh digusur dan mau menggusur berlanjut. Sampai akhirnya yang berkuasa duit berhasil mau memindahkan makam Habib Abdurahman. Alat berat bego (alat mobil berat) dikerahkan sungguh di luar rasio akal sehat. Mobil bego itu patah.
Kemudian diambilkan mobil bego yang lebih baru dan lebih sehat. Benar-benar karamah Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi telah nampak. Mobil bego yang lebih layak dan sehat itu patah juga, bahkan patahannya hampir menyambar operator alat bego itu.
Ketika peristiwa tersebut mereda, terjadi keributan yang keduakalinya. Orang berduit itu tetap hendak mengeruk lahan tanah yang di situ terdapat makam Habib Abdurrahman. Ternyata keluarlah sumber air dari kerukan tersebut. Dari peristiwa itu dibangunlah sebuah masjid oleh keluarga di samping makam Habib Abdurrahman al-Habsyi.
Kisah unik irasional terjadi kembali. Saat pembangunan batas antara masjid dengan proyek, tepatnya di tikungan jalan tidak kunjung mengering. Air terus menggenang sehingga tidak dapat melakukan pengecoran pondasi, kurang lebih hingga 3 bulan lamanya. Saat itulah dari pihak kontraktor baru mau meminta izin sekedar berdoa di makam. Setelah itu air pun surut dan pembangunan pagar bisa dilaksanakan.”
Kejadian unik lain diceritakan pula oleh Bapak Ansori sebagai berikut:
“Ada seorang petani dengan mengendarai sepeda motor hendak melihat tanaman cabainya yang dikira sudah cukup umurnya untuk dipanen. Namun setelah meninjau berulangkali tanaman cabai-nya itu tidak kunjung dapat dipanen.
Datanglah ia ziarah ke makam Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi. Kemudian ia meminta kaleng yang bisa digunakan untuk mengambil air di makam Habib Abdurrahman. Sepulangnya di rumah, air seberat kaleng cat itu dioplos (dicampurkan) dengan air yang digunakan untuk menyirami tanaman cabai. Alhamdulillah setelah itu tanaman cabainya bisa panen. Dari kejadian itu lantas ia ziarah kembali ke makam Habib Abdurahman al-Habsyi dengan membawa tumpeng sekedar berbagi rizki untuk selamatan atau tasyakuran.”
DETIK-DETIK TERAKHIR KH. ABDULLAH BIN NUH MEMPERTAHANKAN BENTENG BOGOR
Di balik jubah ulama dan sorban yang bersahaja, bersemayam jiwa singa yang menggetarkan nyali serdadu NICA. Inilah kisah tentang KH.Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar, sastrawan dunia, sekaligus panglima tempur yang darahnya menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tanah Pasundan.
SANG ULAMA YANG MENGGANTI PENA DENGAN SENJATA
Pada tahun 1945-1946, Bogor bukan lagi kota hujan yang tenang, melainkan kuali api pertempuran. KH Abdullah bin Nuh, yang dikenal sebagai intelektual Islam lulusan Al-Azhar, Kairo, tidak memilih diam di dalam pesantren saat sekutu dan Belanda kembali menginjakkan kaki di tanah air.
Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Bogor. Sebagai komandan Batalyon II Resimen III TKR dengan pangkat Mayor, ia menjadi target utama intelijen Belanda karena pengaruhnya yang mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk berjihad di bawah panji kemerdekaan.
PERTEMPURAN DI GARIS DEPAN: NARASI KEBERANIAN
Kisah heroisme beliau mencapai puncaknya dalam berbagai penyergapan di jalur strategis antara Bogor dan Jakarta. KH Abdullah bin Nuh tidak pernah memerintah dari belakang meja. Dengan senjata di tangan dan zikir di lisan, ia memimpin pasukan menyerbu konvoi-konvoi lapis baja Belanda.
Meskipun dalam catatan sejarah besar ia wafat pada usia lanjut (tahun 1987), narasi "gugurnya" secara spiritual dan fisik di medan juang terekam dalam kegigihannya saat menghadapi agresi militer. Namun, banyak sumber sejarah lokal menyoroti bagaimana ia "hampir gugur" berkali-kali dalam kepungan mortir musuh. Salah satu fragmen paling heroik adalah saat pasukannya terdesak di wilayah perbukitan Bogor, di mana ia berdiri paling depan melindungi mundur-nya pasukan, sebuah tindakan yang oleh pengikutnya dianggap sebagai kesiapan untuk syahid.
KH. Abdullah bin Nuh memang tidak wafat di ujung bayonet pada masa revolusi—ia dianugerahi usia panjang untuk membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Pesantren Al-Ghazaly. Namun, jiwa perjuangannya "gugur" dalam arti melepaskan seluruh kepentingan duniawi demi kemerdekaan.
Bagi para pejuang di Bogor, sosok beliau adalah bukti nyata bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan nasionalisme. Ia adalah melodi jihad yang tidak pernah padam, sosok yang membuat Jenderal Spoor (Panglima Belanda) gelisah setiap kali mendengar nama Batalyon pimpinan KH Abdullah bin Nuh bergerak.
"MERDEKA ATAU SYAHID"
Narasi perjuangannya selalu ditutup dengan pesan yang ia sampaikan kepada para santrinya: "Tinta ulama mungkin lebih suci dari darah syuhada, tapi saat tanah air dinjak, maka tinta itu harus berubah menjadi api." Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani, seorang pejuang yang tidak hanya menang dalam perang fisik, tapi juga memenangkan peperangan melawan penjajahan pemikiran.
Sumber Referensi:
Profil KH Abdullah bin Nuh - Jaringan Santri
Sejarah Perjuangan Ulama Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor
KH Abdullah bin Nuh: Singa Padang Pasir dari Bogor.
CATATAN SEJARAH: "KH Abdullah bin Nuh wafat dengan tenang pada tahun 1987 di Bogor, namun dedikasinya di medan perang 1945 menjadikannya sosok yang dianggap "hidup untuk syahid" di setiap pertempuran yang ia pimpin."
Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten
KH Muhammad Hasan Armin, lebih dikenal Abuya Armin Cibuntu atau “Mama Armin”, lahir sekitar tahun 1880 di Desa Koranji (Menes / Pulosari), Pandeglang, Banten. Beliau adalah ulama besar dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal sangat berilmu serta berperan besar dalam penyebaran Islam di Banten.
Nama “Hasan” ditambahkan oleh gurunya di Mekah sebagai penghormatan atas kecerdasan dan ketaqwaannya ketika beliau masih belajar di tanah Arab.
Beliau belajar ilmu syariat, tafsir, tasawuf, dan tarekat selama belasan hingga puluhan tahun di Arab (termasuk Mekkah, Madinah, Palestina, Baghdad) sebelum kembali ke kampung dan mendirikan Pesantren Cibuntu di Desa Sekong, Cimanuk, Pandeglang.
Beliau mengajar ratusan santri dari berbagai daerah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat dihormati. Abuya Armin menghembuskan napas terakhir 30 November 1988 (usia sekitar 108 tahun) dan dimakamkan di kompleks pesantrennya, yang hingga kini masih dijadikan tempat ziarah peziarah terutama pada malam Jumat.
Karomah (Kehidupan Luar Biasa)
Beberapa cerita karomah yang dikenal berkembang di masyarakat:
1. Mengeluarkan Mobil Mogok Presiden Soekarno
Konon pada suatu malam, kendaraan Presiden RI Ir. Soekarno mogok di lumpur dalam perjalanan, tak ada yang bisa menolong. Datanglah Abuya Armin lalu menusukkan lidi kecil di bawah ban mobil, dan mobil itu lancar keluar dari lumpur setelah itu.
2. Hidangan Ajaib
Diceritakan pula bahwa beliau mampu menghadirkan berbagai makanan dan minuman yang tampak segar dan beraroma harum, padahal makanan itu tidak biasa hadir secara lahiriah.
3. Karomah dan Pengajaran Rohani
Abuya Armin dikenal sebagai guru yang penuh karomah dalam membimbing santri dan umat, terutama dalam latihan batin dan dzikir tarekat. Banyak santri dari jauh datang untuk belajar langsung kepada beliau.
Kesaksian dan Tokoh yang Mengenang
Banyak tokoh besar di Indonesia yang disebut-sebut pernah berkunjung untuk meminta nasihat, termasuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Presiden Soeharto, dan Gubernur Ali Sadikin. Mereka datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan dan berkonsultasi tentang keagamaan atau spirit perjuangan.
Santri dan cucu beliau—seperti H. Heri—menginformasikan bahwa ajaran dan pengalaman spiritual Abuya Armin masih menjadi teladan hingga kini, bahkan makamnya ramai diziarahi terutama pada malam Jumat.
Warisan: Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu
Abuya Armin adalah pendiri Pesantren Cibuntu dan Masjid Hasaniyah (dibangun sekitar tahun 1926), yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah masyarakat. Masjid ini masih berdiri hingga kini sebagai saksi sejarah penyebaran Islam dan ilmu tarekat di Banten.
Pernahkah kita merasa frustrasi ketika doa-doa yang kita panjatkan seolah tak kunjung terjawab? Kita mungkin bertanya-tanya, apakah Allah mendengar permohonan kita? Atau mungkin kita merasa tidak cukup layak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Tenang, kita tidak sendiri dalam perasaan ini.
Artikel ini membahas tentang alasan mengapa doa belum terjawab, syarat pengabulan doa, cara menyikapi doa yang belum terkabul, ujian keimanan melalui doa, hikmah di balik penundaan jawaban doa, cara mengatasi keputusasaan, memahami kehendak Allah, batas waktu pengabulan doa, peran ikhtiar, dan menjaga konsistensi dalam berdoa.
Mengapa Doa Kita Belum Terjawab..?
Ketika doa kita belum terjawab, bukan berarti Allah mengabaikan permohonan kita. Ada berbagai alasan yang mungkin menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah karena Allah, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, memilih waktu yang terbaik untuk mengabulkan doa kita.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu dekat dan mendengar doa kita. Namun, kita perlu memahami bahwa pengabulan doa tidak selalu sesuai dengan ekspektasi atau waktu yang kita inginkan.
Apakah Ada Syarat Agar Doa Dikabulkan.?
Ya, ada beberapa syarat yang perlu kita penuhi agar doa kita lebih berpeluang untuk dikabulkan. Pertama, kita harus memastikan bahwa hati kita hadir saat berdoa. Kekhusyukan dan ketulusan menjadi kunci penting dalam berdoa.
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”(HR. Tirmidzi, No. 3479)
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat fardhu.
Bagaimana Menyikapi Doa yang Belum Terkabul.?
Ketika doa kita belum terkabul, sikap terbaik adalah tetap berprasangka baik kepada Allah. Kita harus yakin bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk kita, meskipun kita belum memahaminya saat ini.
Imam Syafi’i pernah berkata,“Apa yang kamu inginkan mungkin tidak terjadi, tapi Allah memberikan apa yang kamu butuhkan.”
Kita perlu terus berusaha dan berdoa, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sikap tawakal ini akan membuat hati kita lebih tenang dalam menjalani proses penantian.
Mengapa Allah Menguji Keimanan Kita Melalui Doa.?
Allah sering menguji keimanan kita melalui penundaan pengabulan doa. Ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kesabaran dan keteguhan iman kita. Apakah kita akan tetap berpegang teguh pada-Nya atau justru berpaling.?
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji.?”(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Melalui ujian ini, Allah ingin melihat apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku-ngaku beriman.
Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram. Pesan utama dalam gambar tersebut adalah tentang istiqomah dan intensitas dalam berdoa, dengan rumus: "1 x 1000 bukan 1000 x 1" (Satu doa yang dibaca 1.000 kali lebih baik daripada 1.000 doa berbeda yang masing-masing hanya dibaca 1 kali).
Berdasarkan inspirasi dari gambar tersebut, berikut adalah bedah amalan, manfaat, serta karomah yang terkandung didalamnya:
1. Amalan Khusus: "Wirid Al-Istijabah"
Amalan ini menitikberatkan pada permohonan rezeki yang luas dan keberkahan hidup dengan tawasul kepada Asmaul Husna dan Sholawat.
"Allahumma inni as-aluka bi asma-ikal husna, urzuqni (Sebutkan Hajat/Nominal) bil afiyah. Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyina Muhammad."
Tata Cara Amalan:
Waktu Utama: Sepertiga malam terakhir (Tahajud) atau setelah Shalat Subuh.
Kunci Rumus: Jangan membaca banyak doa yang berganti-ganti. Fokuslah pada satu kalimat doa ini dan baca sebanyak 1.000 kali secara konsisten (istiqomah) selama 40 hari.
Adab: Menghadap kiblat, dalam keadaan suci, dan penuh keyakinan (khusyuk).
2. Bedah Manfaat Amalan
Secara spiritual dan psikologis, mengulang satu doa dalam jumlah banyak memiliki manfaat mendalam:
Penyatuan Frekuensi (Fokus): Mengulang doa 1.000 kali membantu pikiran dan hati benar-benar sinkron dengan apa yang diminta. Ini menghilangkan keraguan dalam hati.
Pintu Langit (Asmaul Husna): Memulai dengan Asmaul Husna adalah "jalur ekspres" dikabulkannya doa, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an.
Perisai Keberkahan (Sholawat): Menutup doa dengan sholawat memastikan doa tersebut tidak "tergantung" di langit, melainkan langsung sampai kepada Allah SWT.
Kesehatan dan Keselamatan: Kalimat "Bil Afiyah" dalam doa tersebut sangat krusial. Artinya Anda meminta rezeki bukan sekadar banyak, tapi juga membawa kesehatan dan ketenangan (tidak membawa petaka).
Karomah Syekh Nawawi al-Bantani dan Kekuatan Istiqomah
Istilah "Karomah" dalam konteks amalan ini merujuk pada keajaiban atau kemuliaan yang muncul akibat kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
Pancaran Cahaya Pengetahuan: Syekh Nawawi dikenal memiliki karomah di mana jarinya bisa mengeluarkan cahaya saat menulis kitab di kegelapan. Hal ini melambangkan bahwa orang yang istiqomah dalam wirid akan diberi "cahaya" (petunjuk) dalam urusan dunianya.
Kecukupan yang Tak Terduga: Salah satu karomah ahli wirid adalah Barakah. Rezeki yang diminta (misalnya dalam gambar tertulis 100 Miliar) mungkin datang dalam bentuk nominal, atau dalam bentuk kemudahan urusan yang nilainya jauh melampaui angka tersebut.
Wibawa dan Ketenangan: Orang yang melazimkan dzikir 1.000 kali sehari akan memiliki ketenangan batin yang luar biasa, sehingga urusan sesulit apa pun akan terasa ringan.
Kesimpulan:“Rumus 1 x 1000 adalah pelajaran tentang Ketekunan. Tuhan lebih menyukai amalan yang sedikit (satu jenis doa) namun dilakukan secara terus-menerus dan mendalam, daripada banyak keinginan namun dilakukan dengan setengah hati.”
Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam SHOLAT. SHOLAT dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini. Dalam hadits dinyatakan bahwa sholat yang tidak disertai al-Fatihah adalah sholat yang “tidak sempurna”. Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:“Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”
Dalam pelaksanaan sholat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan doa Iftitah dan dilanjutkan dengan “AMIN” dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur’an (pada rakaa’at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam sholat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur’an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.
Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga selesai membacanya. Selain itu, kadang bacaan Nabi Muhammad pada ayat Maliki yaumiddin dengan ma pendek dibaca Māliki yaumiddīn dengan ma panjang.
Dalam sholat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata “Amin”. “Amin” dalam sholat Jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan “Amin” diharuskan dengan suara keras dan panjang. Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus mengucapkan “amin” karena malaikat juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “amin” diucapkan apabila imam mengucapkannya.
Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam sholat ada yang membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai sholat yang sedang dijalankan dan urutan rakaat dalam sholat. Sholat yang melirihkan seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal hingga akhir sholat, disebut Sholat Sir (membaca tanpa suara). Sholat Sir contohnya adalah Sholat Zuhur dan Sholat Ashar dimana seluruh bacaan sholat dalam sholat itu dilirihkan.
Selain sholat Sir, terdapat pula sholat Jahr, yaitu sholat yang membaca dengan suara keras. Sholat Jahr contohnya adalah sholat Subuh, sholat Maghrib, dan sholat Isya’. Dalam sholat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imam sholat.
Sedangkan pada saat itu, makmum tidak diperbolehkan mengikuti bacaan Imam karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan. Makmum diperbolehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskan suaranya. Sementara dalam Sholat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkan membaca keras dan diperbolehkan lirih.
Al-Fatihah Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّالقرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّالكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبعالمثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat. (Arab: الفاتح , al-Fātihah, “Pembukaan”) adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.
BERIKUT BEBERAPA CONTOH APLIKASI SURAH AL-FATIHAH UNTUK BERBAGAI KEPERLUAN
IKHTIAR MENGHILANGKAN PENYAKIT FISIK DAN METAFISIK BERAT
tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air. Lalu baca doa: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.
Atau boleh pakai bahasa Indonesia: "Ya Allah, hilangkan daripada orang ini keburukan dan kekejian yang aku dapati dengan doa Nabi-Mu yang jujur (al- Amin) dan tetap disisi-Mu”.
dan berikan minum pada orang yang SAKIT, maka ia akan SEMBUH dengan izin Allah SWT. Bila penyakit fisik dan metafisik yang tergolong ringan cukup baca Surah Al-Fatihah sebanyak 40 kali dan tiupkan ke piring berisi air dan air itu diusap-usapkan pada kedua belah tangan, kedua belah kaki, muka, kepala dan seluruh badan, lalu diminum, Insya Allah menjadi sembuh.
HILANGKAN SAKIT GIGI
Untuk dirinya sendiri caranya sbb: sediakan air yang dicampur garam lalu membaca Al-Fatihah dan berdoa sebanyak 7 kali: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.
Selesai berdoa tiupkanlah ke air yang bercampur garam tersebut dan pakai untuk berkumur sekitar 3 menit lalu buang air tersebut. Insya allah sakit akan segera hilang.
HILANGKAN SIFAT PELUPA
Ikhtiar menghilangkan sifat pelupa Tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air dan berikan minum pada orang yang pelupa, maka ia akan hilang sifat pelupanya dengan izin Allah SWT.
SEMUA HAJAT AKAN TERKABUL
Membaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali berturut-turut MENJELANG SHOLAT SUBUH kemudian memohon kepada Allah dengan doa sebagai berikut: INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAIAN AYYAQULA LAHU KUN (SAMPAIKAN HAJAT ANDA DENGAN BAHASA YANG ANDA MENGERTI) FAYAKUN. Insya Allah semua hajat anda akan dipenuhi oleh Allah SWT.
Pembuka Rezeki, Pangkat Derajat, Mudahkan Urusannya, Hilangkan Kesusahan, Barokah Dan Kemuliaan, Berwibawa, Berpangkat Luhur, Berpenghidupan Baik, Anak-Anak Terlindung Dari Kemudharatan Dan Kerusakan Serta Dianugerahkan Kebahagiaan. Baca Al-Fatihah sebanyak 20 kali setiap selesai sembahyang fardhu lima waktu.
DEMIKIAN SEDIKIT YANG BISA DISAMPAIKAN, DAN MASIH BANYAK LAGI SAMUDRA AL FATIHAH YANG BISA DISELAMI SEHINGGA KITA BISA MENDAPATKAN MANFAAT SECARA NYATA DAN MENCINTAI AL FATIHAH INI DENGAN SEPENUH HATI. TERIMA KASIH.
Bacaan istighfar berbunyi Astagfirullahaladzim (أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ) yang artinya ‘Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung’.
Bacaan doa ini biasa dibaca saat zikir setelah shalat, sebagai bentuk pertobatan atas dosa yang telah dilakukan.
Kadang juga dibaca saat tak sengaja berbuat dosa atau melihat orang lain melakukan dosa.
Beristighfar atau bertaubat haruslah dibarengi dengan niat untuk berubah menjadi lebih taat kepada ketentuan Allah SWT serta tidak lagi mengulangi dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.
Bacaan Istighfar ada Dua: Astagfirullah dan Astagfirullahaladzim, Apa Bedanya..?
Bacaan istighfar yang sering diucapkan adalah Astaghfirullah dan Astaghfirullahal adzim. Perbedaan Astagfirullah dan Astagfirullahaladzim adalah: yang pertama memohon ampun dengan menyebut nama Allah, sedangkan yang kedua memohon ampun kepada Allah dengan menyebut sifat-Nya yang Maha Agung.
Meski begitu, keduanya memiliki maksud dan tujuan yang sama, yakni memohon ampunan kepada Allah SWT.
Bila diartikan, Astaghfirullah bermakna “Saya memohon ampunan kepada Allah”, sedangkan Astaghfirullahal azhiim memiliki makna “Saya memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung”.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Membaca Istighfar..?
Sebenarnya, bacaan istigfar bisa dibaca kapan pun. Saat merasa melakukan hal yang salah, merasa lemah dan ingin dikuatkan, atau sedang menyaksikan kemungkaran. Namun, waktu terbaik membaca istigfar adalah ketika sedang melakukan zikir pagi dan petang, yaitu setelah salat Subuh dan Magrib.
Karena waktu ketika matahari terbit, kita mohon ampun atas dosa yang dilakukan saat malam dan ketika petang kita memohon ampun atas dosa yang dilakukan sepanjang hari.
Dalam Hadits Riwayat Bukhari No.6306 disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa membacanya di waktu siang dengan keyakinan lalu mati di hari itu sebelum sore tiba, maka ia termasuk ahli syurga. Dan barangsiapa mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia mati sebelum subuh tiba, maka ia termasuk ahli syurga.”(HR. Bukhari no. 6306)
Apa Saja Bacaan Istighfar..?
Ada bacaan istighfar yang bisa dibaca oleh umat Muslim, sebagaimana diriwayatkan di dalam berbagai hadis. Berikut ini jenis bacaan istigfar dan artinya:
1. Bacaan Istighfar Singkat
Bacaan istighfar singkat ini biasa dibaca oleh Rasulullah SAW sebanyak tiga kali setelah shalat. Bacaannya adalah sebagai berikut:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهُ
“Astaghfirullah”
Dalam bahasa Arab, bacaan astagfirullah artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”
Atau, Anda juga dapat membaca yang lebih panjang lagi yakni:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ
“Astaghfirullahal ‘azhiim”
Artinya:“Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.”
2. Istighfar Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan
Diriwayatkan Imam Abu Daud ada sebuah bacaan istighfar yang dapat dibaca untuk menghapus dosa sebanyak buih di lautan. Berikut bacaan istighfar tersebut:
Artinya:“Aku memohon ampun kepada Allah. Yang tidak ada ilah kecuali Dia yang Maha Hidup lagi terus menerus Mengurus makhluknya. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”
3. Bacaan Istighfar Yang Sering Dibaca oleh Rasulullah SAW
Aisyah menyebut dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim ada satu bacaan istighfar yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW, termasuk pada saat Fathu Makkah yakni sebagai berikut:
“Subhaanallahi wabihamdih astaghfirullah wa atuubu ilaih”
Artinya:“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”
4. Sayyidul Istighfar
Bacaan sayyidul istighfar memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah bersabda barangsiapa yang membacanya dengan yakin, kemudian ia meninggal pada hari itu, maka ia termasuk seorang penghuni surga.
“Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtnii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta”
Artinya:“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha semampuku untuk selalu berada dalam pemeliharaan dan janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari akibat buruk perbuatanku, Aku akui nikmat-Mu atas diriku dan aku juga mengakui betapa besarnya kesalahanku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”
5. Istighfar Nabi Adam As
Dalam perjalanan hidupnya Nabi Adam pernah melakukan kesalahan dan melanggar ketentuan Allah SWT. Berikut in bacaan istigfar Nabi Adam As yang diucapkannya.
“Robbana dholamna anfusana, wa illam taghfir lana wa tarhamna, lanakuunanna minal khasirin”
Artinya:“Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya kami telah berbuat dhalim terhadap diri-diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.”
6. Istighfar Saat Shalat Sebelum Salam
Bacaan Istigfar ini diucapkan sesaat sebelum salam dan setelah shalat malam, tepat pada tahiyat akhir.
“Allahumma inni dhalamtu nafsi dhulman katsira, wala yaghfirudz dzunuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min indik, warhamnii innaka antal ghafurur rahiim.”
Artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku telah dhalim kepada diriku dengan kedhaliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
7. Istighfar Nabi Muhammad SAW sebelum Wafat
Berdzikir adalah kebiasaan Nabi SAW setelah penaklukkan Mekkah.
“Subhanallahi wabihamdih, astaghfirullaha wa atuubu ilaih.”
Artinya:“Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”
8. Istighfar Nabi Yunus untuk Memohon Pertolongan dan Ampunan
Selanjutnya ada bacaan istighfar Nabi Yunus yang dipanjatkannya saat berada di dalam perut ikan paus. Tujuan beliau memanjatkan istigfar ini adalah untuk memohon ampun kepada Allah, berserah diri, dan diberikan pertolongan. Anda dapat memanjatkan bacaan satu ini untuk dapat membuka pintu pertolongan dan ampunan Allah SWT. Berikut bacaannya:
“Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaabur rahiim”
Artinya:“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”
10. Doa Istighfar Kaffaratul Majlis
Istigfar dalam Kaffaratul Majlis adalah doa kaffarat al-majlis (penutup majelis) yang dianjurkan untuk dibaca di akhir suatu pertemuan atau majelis sebagai penutup dan untuk menghapus kesalahan yang mungkin terjadi selama majelis berlangsung.
“Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”
Artinya:“Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu”
“Rabbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatan muslimatan laka wa arinaa manaasikanaa watub ‘alainaa innaka antat tawwaabur rahiim.”
Artinya:“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucuk kami umat yang tunduk pada Engkau. Tunjukkan kami tempat ibadah haji dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Apa Saja Keutamaan Bacaan Istighfar..?
Rasulullah SAW membaca istighfar sebanyak minimal 70 kali dalam satu hari, padahal dosa-dosanya telah diampuni seluruhnya oleh Allah SWT. Maka dari itu, istighfar disunahkan untuk selalu dibaca setiap harinya, karena selain menghapus dosa, istighfar juga memiliki banyak keutamaan lainnya.
Apa saja keutamaan membaca bacaan istighfar? Ini dia di antaranya:
1. Keutamaan Istighfar yakni Mendapat Ampunan
Barangsiapa yang sungguh-sungguh memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa-dosa yang ia perbuat, baik dosa yang kecil maupun yang besar sekalipun, maka ia akan mendapatkan ampunan-Nya.
Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Menurut hadits, Allah SWT pun akan mengampuni dosa sebanyak dan sebesar apa pun, meski setinggi awan di langit atau sebanyak buih di lautan.
2. Membuka Pintu Rezeki
Tertulis dalam Al-Quran, bahwa Allah membukakan pintu rezeki bagi orang yang banyak membaca istighfar. Allah akan memberikan kemakmuran dan kemudahan rezeki bagi mereka yang beristighfar.
“…dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh: 12)
3. Keutamaan Istighfar adalah Mendapat Keberuntungan
Mengutip dari hadis riwayat Ibnu Majah, umat muslim yang senantiasa memabca kalimat thayyibah untuk beristighfar akan mendapatkan banyak keberuntungan, terutama keberuntungan di akhirat kelak.
Artinya:“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.”(HR. Ibnu Majah)
4. Diberi Kekuatan
Dalam QS. Hud ayat 52, orang yang banyak beristighfar akan diberikan kekuatan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, jika merasa lemah dan menghadapi kesulitan, maka hendaknya memperbanyak bacaan istighfar.
Artinya:“Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
5. Keutamaan Istighfar adalah Mendapat Rahmat Allah
Dalam surat An-Naml ayat 46, dijelaskan bahwa seseorang yang banyak beristighfar akan dirahmati oleh Allah SWT, seperti doa dari Nabi Salih AS.
Artinya:Dia (Shalih) berkata, “Hai kaumku, mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan? Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.”(QS An-Naml : 46)
6. Bahagia
Menurut hadits riwayat Baihaqi, di hari yaumul hisab dimana semua orang mendapatkan catatan amalnya, orang-orang yang banyak beristighfar akan merasa gembira atau bahagia. Hal ini dikarenakan catatan amalnya berisi banyak kebaikan dari istighfar yang dibacanya.
7. Dikabulkan Doanya
Keutamaan bacaan istighfar lainnya adalah terkabulnya sebuah doa. Terhalang untuk dikabulkannya sebuah doa disebabkan oleh dosa, sementara istighfar akan menghapuskan dosa-dosa tersebut.
8. Hujan dan Keberkahan Langit
Istighfar dapat mendatangkan berkat dari langit yakni hujan. Hal ini juga tertulis dalam surat Nuh.
Artinya:“…maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”(QS. Nuh: 10-11)
Dalam tafsir Ibnu Katsir Rahimahullan, jika suatu kaum hendak melakukan shalat Istisqa atau meminta hujan, maka sebaiknya membaca Surat Nuh.
9. Keberkahan Bumi
Selain berkat dari langit berupa hujan, istighfar memiliki keutamaan yakni mendapatkan keberkahan dari bumi. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika seseorang bertaubat meminta ampun kepada Allah dan memohon ampun serta taat kepada-Nya, maka akan ditumbuhkan keberkahan bumi. Bumi akan menjadi subur untuk menumbuhkan tanaman dan menyuburkan air susu ternak yang memberi banyak harta. Dijadikan pula kebun yang terdapat macam buah-buahan dan dibelahkan sungai-sungai mengalir di tengahnya.
10. Keutamaan Istighfar untuk Mendapat Keturunan
Keutamaan istighfar membuka pintu rezeki bukan hanya dalam bentuk harta, melainkan juga keturunan. Oleh karena itu, mereka yang mendambakan datangnya keturunan maka hendaknya beristighfar. Dalam hadis, ketika datang seseorang kepada Hasan Al Basri mengadu sudah lama menikah namun tak memiliki anak, Hasan Al Basri memberi nasihat untuk beristighfar karena keutamaannya ini.
Dalam khazanah kitab hikmah klasik, khususnya yang beraliran Maghribiyyah (seperti karya-karya Imam Ahmad Al-Buni dalam Shams al-Ma'arif al-Kubra atau Manba' Usul al-Hikmah), tatanan kosmologi spiritual sangat terstruktur. Setiap hari dalam seminggu berada di bawah naungan planet (kawkab), diperintah oleh Malaikat Ruhani (Golongan Atas/Samawi), dan dilayani oleh Raja Jin (Golongan Bawah/Ardhi).
Berikut adalah penjelasan detail dan lengkap mengenai 7 Raja Jin dan 7 Malaikat Ruhaniyah penguasa hari, beserta kelebihan, wewenang, dan pasukan mereka menurut manuskrip hikmah Maghribiyyah.
1. Hari Ahad (Minggu)
Planet (Kawkab): Asy-Syams (Matahari).
Malaikat Ruhani (Samawi): Ruqaya'il (رقياييل)
Raja Jin (Ardhi): Al-Mudhib (المذهب) - Julukannya "Abu 'Abdallah Sa'id"
Warna Khas: Kuning Emas.
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Al-Mudhib memiliki kekuasaan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kewibawaan agung, menundukkan hati para pemimpin atau raja, serta mendatangkan rezeki yang bersifat emas/harta karun. Ia juga ahli dalam Mahabbah (pengasihan) tingkat tinggi dan membungkam lisan musuh. Dalam ilmu kimia kuno (simia), ia dikaitkan dengan transmutasi logam menjadi emas.
Pasukan: Disebutkan dalam kitab Al-Ajnas, Al-Mudhib memerintah lebih dari 360 kabilah (suku) jin. Setiap kabilah terdiri dari 100.000 pasukan marid (jin pembangkang yang kuat) yang tunduk mutlak padanya. Pasukannya sering menampakkan diri dengan atribut berwarna kuning atau keemasan.
2. Hari Itsnain (Senin)
Planet (Kawkab): Al-Qamar (Bulan)
Malaikat Ruhani (Samawi): Jibra'il (جبرئيل)
Raja Jin (Ardhi): Murrah (مرة) - Julukannya "Abu al-Harith" atau "Abu al-Nur"
Warna Khas: Putih Perak
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Murrah memiliki wewenang dalam urusan yang berkaitan dengan air, penyembuhan penyakit (terutama penyakit gila atau sihir), keselamatan dalam perjalanan laut, dan kabar berita (kasyf). Ia juga sangat kuat dalam hal Talfiq (mendamaikan dua orang yang berselisih) dan urusan kasih sayang yang lembut. Karena sifat bulan yang berubah-ubah, ia juga menguasai ilmu halimunan (menghilang).
Pasukan: Raja Murrah memimpin pasukan jin yang mayoritas berwarna putih. Ia membawahi para jin penghuni awan dan udara. Jumlah pasukannya sangat besar, digambarkan "memenuhi ufuk timur dan barat" ketika dipanggil dengan Qasam yang benar. Pasukannya dikenal sangat cepat dalam membawa kabar.
3. Hari Tsulatsa (Selasa)
Planet (Kawkab): Al-Marrikh (Mars)
Malaikat Ruhani (Samawi): Samsama'il (سمسمائيل)
Raja Jin (Ardhi): Al-Ahmar (الأحمر) - Julukannya "Abu Ya'qub" atau "Abu Muhriz"
Warna Khas: Merah Darah
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Sesuai dengan sifat Mars yang panas, Al-Ahmar berkuasa atas hal-hal yang berkaitan dengan darah, peperangan, keberanian, dan kehancuran (Tadmir). Ia dipanggil untuk membuat musuh sakit (pendarahan), mencerai-beraikan persekutuan zalim, atau sebaliknya, menghentikan pendarahan hebat. Ia sangat ditakuti karena sifatnya yang keras dan temperamental.
Pasukan: Ia memimpin bala tentara jin yang dikenal sebagai Bani Al-Ahmar. Pasukannya sangat beringas dan kuat secara fisik. Disebutkan ia memiliki 70 panglima perang utama, di mana setiap panglima membawahi 70.000 pasukan yang siap menghancurkan target spiritual.
4. Hari Arba'a (Rabu)
Planet (Kawkab): 'Utarid (Merkurius)
Malaikat Ruhani (Samawi): Mika'il (ميكائيل)
Raja Jin (Ardhi): Barqan (برقان) - Julukannya "Abu al-'Aja'ib" (Bapak Keajaiban)
Warna Khas: Biru Langit atau Campuran.
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Barqan adalah raja yang cerdas, menguasai ilmu pengetahuan, logika, penulisan, dan angka. Ia sering dipanggil untuk membantu dalam ilmu hikmah, membuka rahasia alam, meningkatkan kecerdasan, dan memenangkan perdebatan. Ia juga menguasai tipu muslihat dan kecepatan (seperti merkurius).
Pasukan: Barqan adalah satu-satunya raja yang disebutkan secara spesifik memimpin dua golongan besar jin: Golongan Muslim dan Golongan Yahudi/Nasrani. Ia memiliki kekuasaan atas jin-jin yang ahli dalam teknologi atau pembuatan alat-alat ajaib. Jumlah pasukannya tidak terhitung, namun ia memiliki 4 menteri utama yang mengatur urusan pasukannya.
5. Hari Khamis (Kamis)
Planet (Kawkab): Al-Musytari (Jupiter)
Malaikat Ruhani (Samawi): Sarfaya'il (صرفيائيل)
Raja Jin (Ardhi): Syamhurisy (shamhurish) - Julukannya "Abu al-Walid"
Warna Khas: Putih Bersih atau Ungu
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Syamhurisy dikenal sebagai "Qadhi al-Jinn" (Hakimnya para Jin). Ia sangat bijaksana, adil, dan religius (Muslim yang taat). Kekuasaannya meliputi urusan kehakiman, membebaskan tawanan, mendatangkan rezeki dari arah tak disangka, menaikkan derajat/pangkat, dan segala hal yang berkaitan dengan kemuliaan agama. Konon, di masa sekarang wewenangnya sering diwakilkan kepada penggantinya (Raja Mutawakkil) karena Syamhurisy sering berkhalwat (menyepi) atau menurut sebagian riwayat, telah wafat.
Pasukan: Ia memimpin pasukan jin Muslim yang sangat taat. Pasukannya tidak akan bergerak untuk hal-hal yang melanggar syariat. Ia membawahi 49 kabilah jin mukmin, di mana para pemimpin kabilahnya adalah ulama di kalangan jin.
6. Hari Jumu'ah (Jumat)
Planet (Kawkab): Az-Zuhrah (Venus)
Malaikat Ruhani (Samawi): 'Anya'il (عنيائيل)
Raja Jin (Ardhi): Zawba'ah (زوبعة) - Julukannya "Abu al-Hasan"
Warna Khas: Putih Kehijauan atau Hijau
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Sesuai sifat Venus, Zawba'ah menguasai urusan cinta, kegembiraan, musik, seni, dan pernikahan. Ia dipanggil untuk Mahabbah umum dan khusus, menyatukan suami istri, mendatangkan pelanggan (pelaris), dan segala hal yang bersifat hiburan atau kenikmatan duniawi. Ia juga memiliki akses kepada jin-jin perempuan (Awanid) yang cantik jelita.
Pasukan: Zawba'ah memimpin para jin yang tinggal di tempat-tempat yang asri dan indah. Ia memiliki 4 panglima dari 4 penjuru angin. Pasukannya dikenal sangat banyak jumlahnya, terutama dari golongan jin yang suka berpesta dan bermusik. Disebutkan setiap panglimanya membawahi 400.000 pasukan.
7. Hari Sabt (Sabtu)
Planet (Kawkab): Zuhal (Saturnus).
Malaikat Ruhani (Samawi): Kasfaya'il (كسفيائيل)
Raja Jin (Ardhi): Maymun (ميمون) - Julukannya "Abu Nukh"
Warna Khas: Hitam atau Biru Gelap
Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Raja Maymun (khususnya Maymun Abu Nukh) adalah raja yang sangat kuat, ditakuti, dan keras. Ia berkuasa atas hal-hal yang berat seperti menghancurkan bangunan, membuat sakit musuh, mengikat lidah (Iqdul Lisan), dan membuka harta karun yang tertimbun di dalam bumi (karena sifat Saturnus yang lambat dan berat). Ia juga sering dikaitkan dengan Tarhil (mengusir penghuni rumah/jin jahat).
Pasukan: Maymun memimpin bala tentara hitam. Ia memiliki 7 menteri yang sangat kejam terhadap jin-jin pembangkang. Pasukannya adalah yang terkuat secara fisik dalam hal mengangkat beban berat (mirip Ifrit). Ia membawahi golongan jin penggali tanah dan penghuni sumur tua.
Catatan Penting Mengenai Hierarki Dalam Kitab Hikmah Maghribiyyah, hierarkinya bekerja sebagai berikut:
1. Allah SWT (Sumber segala kekuatan).
2. Malaikat Ruhaniyah (Pengawas Mutlak): Raja Jin tidak akan bergerak kecuali dengan izin atau "cambuk" dari Malaikat Ruhaniyah hari tersebut. Oleh karena itu, dalam praktik Riyadhah atau Qasam, seorang praktisi (Hukama) biasanya menyeru Malaikat Ruhaniyah terlebih dahulu untuk menekan Raja Jin agar taat.
3. Raja Jin (Al-Muluk Al-Sab'ah): Pelaksana perintah di alam fisik/gaib bawah.
4. Khadam/A'wan: Pasukan bawahan yang mengerjakan tugas detail di lapangan.
Peringatan: Pengetahuan ini adalah bagian dari Khazanah Turats (warisan kuno). Mempraktikkannya tanpa guru yang bersanad (Ijazah) dan tanpa pemahaman bahasa Arab serta tata cara Khalwat yang benar sangat berbahaya secara mental dan spiritual.
Dalam tradisi Hikmah Maghribiyyah (seperti yang tertuang dalam Shams al-Ma’arif atau Manba’ Usul al-Hikmah), penggunaan bukhur (dupa) dan warna pakaian bukanlah sekadar estetika. Ini adalah bagian dari hukum kesesuaian (Qanun al-Munasabat).
Aroma bukhur berfungsi sebagai "makanan" bagi ruhaniyyah sekaligus menyamakan frekuensi energi, sedangkan warna pakaian berfungsi untuk menarik khasusiyat (karakteristik) dari planet yang menaungi hari tersebut.
Berikut adalah rincian lengkap bukhur dan pakaian untuk Riyadhah 7 Raja Jin:
Pendukung: Amber (Ambar) atau campuran serbuk-serbuk wangi yang ringan sifatnya.
Pakaian (Libas): Warna Biru Langit, Biru Laut, atau pakaian bermotif/belang (campuran berbagai warna).
Karena 'Utarid bersifat "Imtizaj" (bercampur), pakaian yang memiliki kombinasi warna (misalnya lurik atau tenun multi-warna) sangat disukai oleh Raja Barqan.
5. Hari Khamis (Kamis) - Raja Syamhurisy
Planet: Jupiter (Al-Musytari)
Bukhūr (Dupa): Utama: ‘Ud (Gaharu) kualitas tinggi dan Za’faran (Saffron).
Pendukung: Sandal (Cendana) dan Mastaka. Aroma harus sangat wangi, menenangkan, dan berwibawa selayaknya menghadap seorang hakim agung.
Pakaian (Libas): Warna Putih (paling utama karena kesalehannya) atau Hijau (warna surga/kemuliaan).
Pakaian harus sangat sopan, seperti jubah ulama, karena Syamhurisy adalah Raja yang sangat alim dan pemalu.
6. Hari Jumu'ah (Jumat) - Raja Zawba'ah
Planet: Venus (Az-Zuhrah)
Bukhur (Dupa): Utama: Qaranful (Cengkeh) dan Mastaka.
Pendukung: Misk (Kasturi) dan Sandal. Segala jenis bukhur yang baunya manis dan membangkitkan kegembiraan hati.
Pakaian (Libas): Warna Hijau muda atau Putih.
Disarankan menggunakan wewangian (parfum non-alkohol) yang kuat di badan, karena Raja Zawba'ah sangat menyukai keindahan dan aroma tubuh yang wangi.
7. Hari Sabt (Sabtu) - Raja Maymun
Planet: Saturnus (Zuhal)
Bukhur (Dupa): Utama: May'ah Sailah (Liquid Storax/Getah Rasamala cair) dan Hiltit (Asafoetida - baunya agak menyengat).
Pendukung: Murr (Myrrh) atau getah-getah pohon yang baunya pahit/berat. Ini sesuai dengan sifat Saturnus yang dingin dan kering.
Pakaian (Libas): Warna Hitam, Biru Dongker (Gelap), atau warna tanah gelap.
Seringkali praktisi menggunakan kain penutup kepala (imam/sorban) berwarna hitam legam saat melakukan riyadhah ini.
Tips Penting Dari penerjemah "Ashadi" (Penerjemah/Praktisi):
1. Kualitas adalah Kunci: Dalam kitab klasik sering disebutkan "Bukhur dzu ra'ihah tayyibah" (dupa yang baunya wangi/bagus). Jangan menggunakan dupa kimia/sintetis. Ruhaniyyah golongan atas (Raja) sangat sensitif terhadap bau yang palsu atau busuk (kecuali untuk amalan syarr yang menggunakan bukhur dzū rā'ihah karihah, namun ini tidak disarankan).
2. Tahsin (Benteng): Sebelum membakar bukhur pemanggilan, pastikan sudah melakukan Tahsin (pagar diri) dan Ishraf al-'Ummar (mengusir jin penghuni lokal sementara), agar asap bukhur tersebut murni sampai kepada Raja yang dituju dan tidak "dimakan" oleh jin-jin liar di sekitar tempat ritual.
3. Kombinasi: Untuk hasil maksimal, kitab Maghribiyyah menganjurkan mencampur bukhur utama dengan Ketumbar (Kusbarah) saat membaca Qasam (Sumpah), karena ketumbar memiliki sifat mempercepat kedatangan khadam (Isra').
PENTINGNYA DZIKIR KHOFI MUSIBAH TERBESAR DALAM MENGHADAPI SAKARATUL MAUT
Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah, rasa haus yang tidak tertahankan sehingga seolah-olah membakar hati, tidak hanya rasa haus secara fisik, tetapi bisa juga yang bersifat ghaib. Mungkin orang-orang yang menjaga di sekitarnya telah memberinya minuman, tetapi rasa haus tidak serta-merta hilang.
Dalam keadaan seperti inilah biasanya syaitan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum muslimin, terlebih kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Pada puncak kehausan yang seolah tidak tertahankan itu, syaitan akan datang dengan membawa satu gelas minuman yang sangat segar, dan ia berdiri di sisi kepala seorang mukmin. Sang mukmin yang tidak menyadari kalau ia adalah syaitan, akan berkata, Berilah aku air itu. Syaitan berkata, Baiklah, tetapi katakan terlebih dahulu bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan, maka aku akan memberikan air ini kepadamu.
Dalam riwayat lain disebutkan, syaitan akan berkata, Tinggalkanlah agamamu ini, dan katakan bahwa Tuhan itu ada dua, maka engkau akan selamat dari kepedihan sakaratul maut ini.
Jika ia mempunyai keimanan yang cukup kokoh, ia akan menyadari kalau sosok pembawa air itu adalah syaitan, maka ia akan berpaling.
Tetapi syaitan tidak berhenti dan putus asa, ia akan berdiri di arah kakinya dengan penampilan yang lain, masih dengan membawa minuman yang amat segar menggoda. Sang mukmin yang masih dilanda kehausan akan berkata kepadanya, Berilah aku minuman itu.
Syaitan dalam penampilan lain itu berkata, Baiklah, tetapi katakanlah bahwa Muhammad Saw itu adalah seorang pendusta, maka aku akan memberikan air ini kepadamu. Setelah mendengar jawaban seperti itu, sang mukmin akan menyadari kalau syaitan tidak akan berhenti menggodanya hingga terlepas imannya.
Maka ia akan bersabar dalam kehausan yang seakan membakar hati itu dan tidak akan meminta lagi. Ia akan menyibukkan diri dengan dzikir mengingat Alloh SWT dan memohon pertolongan dan keselamatan dari sisi-Nya. Disinilah pentingnya kita belajar dzikir dari sekarang, agar lisan dan hati kita terbiasa dengan dzikir mengingat Alloh, dan juga menjadi senjata dalam menghadapi musibah terbesar dikala sakaratul maut.
Ada satu kisah tentang seorang guru dan ulama yang sangat zuhud yang bernama yang mulia Abu Zakaria, ketika beliau sedang sakaratul beberapa orang sahabat dan muridnya menunggui beliau. Ketika Abu Zakaria tampak dalam kepayahan, seorang sahabatnya mengajarkan kalimat thoyyibah, Katakanlah : Laa ilaaha illallaah.
Tetapi diluar dugaan, Abu Zakaria memalingkan wajahnya. Sahabat di sisi lainnya juga berkata, Katakanlah Laa ilaaha illallaah.
Lagi-lagi Abu Zakaria memalingkan wajah, bahkan ketika untuk ke tiga kalinya mereka memintanya membaca kalimat Thoyyibah, Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.
Setelah itu ia jatuh pingsan. Para sahabat dan murid-muridnya menangis sedih melihat keadaan itu, sungguh mereka tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi kepada gurunya.
Tetapi satu jam kemudian yang mulia Abu Zakaria siuman dalam keadaan yang lebih segar. Ia berkata kepada sahabatnya, Apakah tadi kalian mengucapkan sesuatu kepadaku..?
Benar, tiga kali kami meminta engkau membaca syahadat, tetapi dua kali engkau berpaling dan ke tiga kalinya engkau berkata : Aku tidak akan mengucapkannya. Karena itulah kami jadi bersedih.
Abu Zakaria berkata, Sikap dan perkataanku itu bukanlah kutujukan kepada kalian.
Kemudian Abu Zakaria menceritakan kalau Iblis telah mendatanginya dengan membawa semangkuk air yang tampak sangat segar, sementara ia merasa sangat hausnya.
Iblis berdiri di sisi kanannya sambil menggerakkan mangkuknya sehingga kesegaran air itu makin menggoda, dan berkata, Tidakkah engkau membutuhkan air...?
Ia tidak menjawab, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haus, dan tertariknya dengan kesegaran air itu, maka iblis berkata lagi, Katakanlah bahwa Isa adalah anak Allah.
Abu Zakaria berpaling dari iblis, yang saat itu bersamaan dengan sahabatnya yang meminta ia mengucap kalimat thoyyibah untuk pertama kalinya.
Tetapi iblis masih menghampiri dari arah yang lain, dan berdiri di dekat kakinya sambil mengatakan seperti sebelumnya. Maka ia berpaling lagi, yang bersamaan dengan sahabatnya yang memintanya membaca kalimat Thoyyibah untuk ke dua kalinya.
Belum putus asa juga, iblis menghampiri lebih dekat dengan bujuk rayunya yang memikat, mengiming-iminginya dengan minuman yang begitu segarnya, sambil berkata, Katakanlah bahwa Alloh itu tidak ada.
Maka dengan tegas Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengatakannya.
Saat yang bersamaan, sahabatnya sedang meminta dia mengucapkan kalimat thoyyibah itu untuk yang ke tiga kalinya.
Abu Zakaria mengakhiri penjelasannya, Seketika itu mangkok yang dibawa iblis jatuh dan pecah berantakan, kemudian ia lari terbirit-birit. Tetapi rasa haus itu begitu menggigit dan tidak tertahankan sehingga aku jatuh pingsan.
Jadi, sikap dan perkataanku itu bukan untuk kalian, tetapi untuk menolak iblis. Dan sekarang kalian saksikan semua Asyhadu An-laa ilaaha illollooh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosuulullooh. Setelah itu tubuh yang mulia Abu Zakaria melemah, dan ia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah.
Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Alloh SWT dan diwafatkan dengan Husnul khotimah disertai dengan mendapatkan cinta dan ridhonya Alloh SWT, dan mendapatkan syafaatnya yang mulia Baginda nabi Muhammad Saw dan barokah karomahnya para kekasih Alloh dan guru agung kita yang mulia pangersa Abah Anom, Aamiin
Jangan mengaku umat Nabi Muhammad SAW, kalau anda tidak tahu dan tidak mengenal Ahlul bait/keluarga Nabi Muhammad SAW. Nama semua personil cherrybelle, Dmasiv, Ungu saja hafal, koq nama-nama keluarga Rasulullah SAW saja tidak hafal....?
Nah, kalau belum tahu atau sudah tahu tapi lupa tentang Biografinya istri-istri dan putra-puteri Nabi Muhammad SAW silahkan baca penjelasan saya berikut. Salah satu aturan syariat yang hanya berlaku untuk Rasulullaah SAW, beliau di izinkan untuk menikahi lebih dari 4 wanita.
Setiap orang yang memahami sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW dengan benar, akan berkesimpulan, pernikahan yang beliau lakukan sangat syarat dengan tujuan yang mendukung dakwah. Beliau pernah melangsungkan akad nikah dengan 13 wanita. Dua diantaranya meninggal sebelum beliau: Khadijah dan Zainab bintu Khuzaimah, yang bergelar Ummul Masakin (ibunda orang miskin). Dua istri beliau lainnya belum dikumpuli, dan sembilan istri beliau lainnya yang bertahan hingga beliau wafat.
Berikut Biografi singkat para ummahatul mukminin, para istri Nabi Muhammad SAW:
1. Khadijah binti Khuwailid Radhiyallaahu anha.
Ulama berbeda pendapat tentang usia khadijah ketika menikah dengan Rasulullah SAW. Keterangan yang sering kita dengar, beliau menikah dengan Nabi Muhammad SAW di usia 40 tahun. Berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dalam At-Thabaqat Al-Kubro, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:
وتزوجها رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو بن خمس وعشرين سنة وخديجة يومئذ بنت أربعين سنة ولدت قبل الفيل بخمس عشرة سنة
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.”(Thabaqat Ibn Sa’ad, 1/132).
Akan tetapi dalam riwayat Al-Hakim dengan sanadnya, dari Muhammad Ibnu Ishaq, beliau menyatakan:
وكان لها يوم تزوجها ثمان وعشرون سنة
“Pada hari pernikahannya (Khadijah), beliau berusia 28 tahun.”(Al-Mustadrak Al-Hakim, 11/157).
Kemudian dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan:
نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله صلى الله عليه و سلم حين تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وكان عمرها إذ ذاك خمسا وثلاثين وقيل خمسا وعشرين سنة
“Dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…”(Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295).
Allahu a’lam, tidak ada acuan yang cukup menenangkan dan meyakinkan dalam hal ini, karena itu kita tidak perlu terlalu mendalami. Lebih dari itu, orang tidak jadi sesat gara-gara salah dalam menentukan tahun pernikahan Khadijah.
Khadijah merupakan istri pertama Rasulullah SAW. dan selama beliau bersama Khadijah, Rasulullaah SAW tidak berpoligami sampai Khadijah meninggal. Dan semua putra Rasulullaah SAW berasal dari pernikahannya dengan Khadijah, termasuk diantaranya Fatimah Az-zahra istri Ali bin Abi Thalib, putri bungsu dari Khadijah. Kecuali satu, Ibrahim. Ibrahim berasal dari ibu Maria Al-Qibthiyah.
Aisyah radhiyallahu anha mengatakan tentang Khadijah.
“Aku tidak pernah cemburu terhadap semua istri Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana aku cemburu kepada Khadijah. Beliau meninggal sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahiku, namun aku sering mendengar beliau menyebut-nyebut Khadijah.”(Khadijah 3815).
Khadijah binti khuwalid adalah sebaik-baik wanita penghuni syurga.
Khadijah adalah Wanita pertama yang hatinya tersirami keimanan dan di khususkan Allah untuk memberikan keturunan Rasulullah SAW, menjadi Ummahatul mukminin.
Dikenal dengan wanita suci karena sifat dan akhlaknya yang terpuji.
Khadijah adalah istri Nabi yang pertama dan menjadi istri satu-satunya sebelum ia meninggal.
2. Saudah binti Zum’ah Radhiyallaahu anha.
Rasulullaah SAW menikahinya di bulan Syawal tahun 10 kenabian (sekitar 3 tahun sebelum hijrah), sebulan sepeninggal Khadijah radhiyallahu anhuma. (Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir, 3/149).
Sebelum menikah, Saudah tidak memiliki keluarga yang menanggung kebutuhannya selain sepupunya, Sakran bin Amr. Sepeninggal Sakran, Saudah menjadi janda tanpa keluarga yang melindunginya. Sampai akhirnya dinikahi Rasulullah SAW. Beliau meninggal di Madinah tahun 54 H. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 471).
Dikenal sebagai wanita yang memiliki otak cemerlang dan berpandang luas.
Suami pertamanya adalah Al-Sakran Ibn Omro Ibn Abed Shamz, yang meninggal beberapa hari setelah kembali dari Ethiophia. Umur Sawda Bint Zam’a sudah 65 tahun, tua, miskin dan tidak ada yang mengurusinya. Inilah sebabnya kenapa Nabi SAW menikahinya.
3. Aisyah binti Abu Bakar As-shiddiq Radhiyallaahu anha.
Rasulullaah SAW menikahi Aisyah di bulan syawal tahun 11 setelah kenabian. Dua tahun 5 bulan sebelum hijrah dan setahun setelah beliau menikahi Saudah. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 471).
Aisyah mengatakan tentang dirinya,
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين
Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun.(HR. Bukhari 3894 dan Muslim 1422).
Beliaulah satu-satunya istri Rasulullah SAW yang dinikahi dalam kondisi masih gadis. (HR. Bukhari 5077). Rasulullah SAW menikahi Aisyah di usia muda, atas perintah Allah melalui mimpi beliau. Dan mimpi nabi adalah wahyu.
Aisyah, wanita yang berakhlak mulia dan sangat cerdas. Sebagian ulama mengatakan, Aisyah adalah wanita yang paling paham tentang ajaran Nabi Muhammad SAW di seluruh dunia. Karena jasa besar Aisyah, kita bisa mengetahui banyak sunah di rumah tangga Rasulullah SAW.
Beliau meninggal pada tanggal 17 ramadhan, tahun 57 H. ada yang mengatakan, tahun 58 H. dan jenazah beliau dimakamkan di Baqi, yang sampai saat ini menjadi incaran orang syiah. Mereka menggali kuburan Aisyah dan ingin mereka rusak. Semoga Allah meridhai Aisyah dan menghancurkan makar syiah.
Merupakan istri kecintaan Rasulullah
Merupakan satu-satunya istri Nabi yang masih gadis.
Aisyah merupakan anak sahabat nabi yang paling beliau cintai karna jasa-jasanya dalam menyiarkan dan memperjuangkan islam.
Aisyah banyak meriwayatkan Hadist.
Telah dijanjikan pengampunan dan rezeki yang mulia.
4. Hafshah binti Umar bin Khaththab Radhiyallaahu anha.
Beliau menjanda sepeninggal suaminya Khunais bin Khudzafah As-Sahmi antara tahun 23 hijriyah. Setelah selesai masa iddah, Umar sang ayah yang bertanggung jawab, segera mencarikan suami penggantinya. Beliau menawarkan ke Utsman, namun Utsman belum berkeinginan menikah karena baru ditinggal mati istrinya. Umarpun menawarkan ke Abu Bakar, namun beliau tidak menggapinya, hingga Umar pun marah kepada Abu Bakar. Sampai akhirnya Rasulullaah SAW meminangnya.
Setelah Hafshah dinikahi Rasulullah SAW, Abu Bakar menemui Umar dan bertanya, “Apakah kamu marah dengan sikapku kemarin..?” “Ya.” Jawab Umar. Kemudian Abu Bakar menjelaskan alasannya,
“Tidak ada sebab yang membuatku tidak merespon tawaranmu, selain karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebut-nyebut Hafshah. Dan Aku tidak layak membuka rahasia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika beliau tidak berkeinginan menikahi Hafshah, niscaya akan aku terima.”(HR. Bukhari 4005).
Hafshah dikenal sebagai wanita yang ahli ibadah. Sehingga beliau disebut Shawwamah (wanita rajin puasa) dan qawwamah (wanita rajin shalat malam). Istri Rasulullah SAAW di surga. (HR. Al-Hakim 6753, beliau shahihkan dan didiamkan oleh Adz-Dzahabi). Hafshah wafat di bulan Sya’ban tahun 45 H di Madinah, di usia 60 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Baqi. Hafshah merupakan salah satu istri Rasulullah SAW yang paling banyak dicela orang syiah. Semoga Allah meridhai Hafshah dan membinasakan makar syiah.
Hafsah adalah putri dari Umar, khalifah kedua.
5. Zainab binti Khuzaimah Radhiyallaahu anha.
Beliau bergelar Ummul Masakin, karena sangat belas kasih dengan orang miskin dan banyak bergaul dengan mereka. Sebelumnya, beliau bersuami Abdullah bin Jahsy radhiyallahu anhu. Kemudian Abdullah meninggal di perang Uhud. Di tahun 4 H, Rasulullah SAW menikahinya. Namun usia pernikahan beliau tidak lama. Setelah tiga bulan berlangsung, Zainab menuju rahmat Allah, di bulan rabiyul akhir, tahun 4 H. Rasulullah SAW menshalati jenazahnya dan beliau dimakamkan di Baqi.
Suaminya meninggal pada perang UHUD, meninggalkan dia yang miskin dengan beberapa orang anak. Dia sudah tua ketika nabi SAW mengawininya. Dia meninggal 3 bulan setelah perkawinan yaitu pada tahun 625 M.
6. Ummu Salamah Radhiyallaahu anha.
Ummu Salamah, sebelumnya menjadi istri Abu Salamah radhiyallahu anhuma. Bersama Abu Salamah beliau memiliki beberapa anak. Pada tahun 4 H, kesedihan melanda keluarganya. Abu Salamah, sang suami tercinta meninggal dunia. Namun dia tidak hanyut dalam kesedihannya. Dia teringata pesan Nabi SAW agar membaca satu doa ketika tertimpa musibah.
“Saya diberi ganti yang lebih baik dari pada Abu Salamah..? Akupun tetap membacanya. kemudian Allah gantikan suami untukku Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan Allah berikan padahal untuk musibahku.”
Kemudian Rasulullah SAW menjadi pengganti Abu Salamah untuknya.(HR. Muslim 918).
Terkenal dengan wanita cerdas, memberi saran suaminya dan mendukung dakwah suaminya. Lebih dari itu, beliau dikenal wanita yang menawan.
“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikahi Ummu Salamah, aku sangat sedih sekali. Karena banyak orang menyebut kecantikan Ummu Salamah. Akupun mendekatinya untuk bisa melihatnya. Setelah aku melihatnya, demi Allah, dia jauh-jauh lebih cantik dan lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Akupun menceritakannya kepada Hafshah – mereka satu kubu – kata Hafshah, “Tidak perlu cemas, demi Allah, itu hanya karena bawaan cemburu.”(Thabaqat Al-Kubro Ibn Sa’d, no. 9895).
Beliau wafat tahun 59 H, ada yang mengatakan, 62 H, di usia 84 tahun dan dimakamkan di Baqi.Suaminya, Abud Allah Abud Al Assad Ibn Al Mogherab, meninggal dunia, sehingga meninggalkan dia dan anak-anaknya dalam keadaan miskin. Dia saat itu berumur 65 tahun. Abu Bakar dan beberapa sahabat lainnya meminta dia mengawini nya, tapi karena sangat cintanya dia pada suaminya, dia menolak. Baru setelah Nabi Muhammad SAW mengawininya dan merawat anak-anaknya, dia bersedia.
7. Zainab binti Jahsy Radhiyallaahu anha.
Beliau masih kerabat dekat dengan Rasulullah SAW. Ibu beliau, Umaimah binti Abdul Muthalib adalah saudari ayah Nabi Muhammad SAW, Abdullah. Sehingga zainab adalah sepupu Rasulullah SAW.
Zainab dan Anak Angkat Rasulullah SAW
Sebelum diutus sebagai Nabi, Rasulullah memiliki anak angkat bernama Zaid. Hingga orang menyebutnya, Zaid bin Muhammad, padahal ayah aslinya adalah Haritsah. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari pada artikel tentang wali nikah anak angkat. Aturan ketika itu, anak angkat sama dengan anak nasab, sehingga tidak boleh menikahi mantan istri anak angkat. Sampai akhirnya Allah perintahkan agar Zainab di nikahkan dengan Zaid bin Haritsah. Untuk sistematika pembahasan, mari kita perhatikan firman Allah yang menceritakan kejadian tersebut.
Ingatlah, ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu Menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya……(QS. Al-Ahzab: 37).
Pada ayat di atas, Allah menyebut sahabat Zaid dengan: “orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya (dengan hidayah islam) dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya.”
Maksudnya, Zaid mendapatkan nikmat dari Allah berupa hidayah iman, dan mendapat nikmat dari Nabi Muhammad SAW karena dibebaskan dari status budak, kemudian dididik dalam asuhannya.
Kita kembali fokus ke Zaid dan Zainab. Sejatinya, Rasulullah SAW berkeinginan untuk menikahi Zainab, dalam rangka menghapus anggapan jahiliyah bahwa ayah angkat tidak boleh menikahi istri dari mantan anak angkatnya. Namun Zainab masih menjadi istri Zaid, yang masyarakat menganggapnya anak angkat Nabi Muhammad SAW. Beliau berharap agar Zaid menceraikan Zainab, sehingga beliau bisa menikahi Zainab.
Terjadilah interaksi yang tidak harmonis antara Zaid dengan Zainab. Sampai akhirnya Zaid mengadu kepada Rasulullah SAW tentang istrinya. Rasulullah pun menasehatkan kepada Zaid seperti ayat di atas, “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah” artinya, jangan kau ceraikan istrimu Zainab dan bersabarlah, sekalipun banyak masalah keluarga. Padahal beliau menyimpan harapan agar Zaid menceraikan Zainab. Pada ayat di atas Allah menyatakan, “sedang kamu menyembunyikan didalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya”, yang disembunyikan Nabi Muhammad SAW dalam hatinya, harapan agar Zaid menceraikan Zainab, sehingga beliau bisa menikahi Zainab.
Hingga akhirnya, Zaid menceraikan Zainab karena masalah rumah tangganya tidak kunjung membaik. Kita simak lanjutan ayat.
“Tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menceraikan isterinya.”(QS. Al-Ahzab: 37).
(simak Tafsir Ibnu Katsir 6/424 – 425) Ayat ini adalah ayat yang paling dibanggakan Zainab. Ketika beberapa istri Rasulullah SAW menonjolkan kelebihannya di hadapan istri yang lain, Zainab menampakkan dirinya dengan mengatakan.
زوجكن أهاليكن وزوجني الله من فوق سبع سموات
“Kalian dinikahkan oleh orang tua kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh.”(HR. Bukhari 7420)
Rasulullaah SAW menikahi Zainab pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Ada yang mengatakan, tahun 6 H. Beliau dikenal wanita ahli ibadah dan sangat gemar bersedekah. Beliau wafat di zaman Khalifah Umar pada tahun 20 H, di usia 53 tahun. Beliau adalah istri Rasulullah SAW yang meninggal pertama kali setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Zainab binti jahsy adalah wanita Quraisy yang cantik dan berketurunan baik.
Seorang istri yang sering berpuasa, mengerjakan shalat malam, zuhud dan beribadah.
Wanita yang mengerjakan sesuatu dengan tangannya (kreatif), dan menyedekahkan hasilnya untuk orang miskin.
8. Juwairiyah binti Al-Harits Radhiyallaahu anha.
Sebelum masuk islam, dia bernama Barrah. Kemudian atas perintah Rasulullah SAW diganti Juwairiyah. Beliau wanita istimewa dari kelompok Yahudi Bani Musthaliq. Putri pemimpin yahudi Bani Musthaliq, Harits bin Abi Dhirar. Di kampung bani Musthaliq, Juwairiyah menjadi Istri Musafi’ bin Shafwan.
Pernikahan dengan Rasulullah SAW
Setelah Rasulullah SAW menaklukkan yahudi Bani Quraidzah karena berkhianat ketika perang Khandaq, terdengar kabar bahwa Harits bin Abi Nadhr bersama pasukannya Bani Musthaliq dan beberapa sekutunya dari berbagai suku arab akan menyerang Madinah. Rasulullah SAW pun menugaskan Buraidah bin Hashib untuk mencari tahu kebenaran berita ini. Sahabat pemberani ini mendatangi mereka. Setelah Rasulullah SAW yakin akan kebenaran berita, beliau memerintahkan para sahabat untuk bergegas menuju Bani Musthaliq. Ternyata, Harits telah mengirim mata-mata untuk mengintai pasukan kaum muslimin. Namun para sahabat berhasil menangkap mata-mata ini dan mereka membunuhnya.
Mendengar kedatangan pasukan Nabi Muhammad SAW dan terbunuhnya mata-matanya, Harits dan pasukannya sangat ketakutan. Hingga suku-suku arab yang ikut bersamanya membatalkan perjanjian dan pulang ke daerah masing-masing. Sampailah pasukan Nabi Muhammad SAW di lembah Al-Muraisi. Salah satu daerah sumber air bagi bani Musthaliq. Di sinilah beliau menyiapkan barisan pasukan dan membagi tugas masing-masing. Hingga akhirnya, kaum muslimin berhasil mengalahkan bani yahudi. Di perang ini, terbunuhlah Musafi’ bin Shafwan, suami Juwairiyah. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 286).
Juwairiyah menjadi salah satu wanita tawanan ketika itu. Setelah pembagian, Juwairiyah jatuh pada kepemilikan Tsabit bin Qais. Namun Tsabit membebaskannya dengan syarat membayar uang tertentu. Hingga datanglah Juwairiyah menghadap Nabi Muhammad SAW dan memohon agar dibantu untuk melunasi biaya pembebasan dirinya. Beliau menerima permohonan ini dan beliau menikahinya dengan mahar pembebasan dirinya dari status budak. Setelah mengetahui Rasulullah SAW menikahi Juwairiyah, banyak sahabat yang membebaskan tawanannya dari Bani Mustaliq, sebagai bentuk penghormatan untuk semua ipar Rasulullah SAW. Karena peristiwa ini, Juwairiyah dianggap wanita yang paling berkah bagi kaumnya. Beliau hidup hingga masa Khalifah Muawiyah. Meninggal di Madinah tahun 56 H.
Suami pertamanya adalah Masafeah Ibn Safuan. Nabi Muhammad SAW menghendaki agar kelompok dari Juwairiyah (Bani Al Mostalaq) masuk Islam. Juwairiyah menjadi tahanan ketika Islam menang pada perang Al-Mustalaq (Battle of Al-Mustalaq). Bapak Juwairiyah datang pada Nabi SAW dan memberikan uang sebagai penebus anaknya, Juwayriyah. Nabi SAW pun meminta sang Bapak agar membiarkan Juwairiyah untuk memilih. Ketika diberi hak untuk memilih, Juwairiyah menyatakan ingin masuk islam dan menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir. Akhirnya Nabi pun mengawininya, dan Bani Almustalaq pun masuk islam.
9. Ummu Habibah Binti Abi Sufyan Radhiyallaahu anha.
Ulama berbeda pendapat tentang nama aslinya. Ada yang mengatakan nama aslinya Ramlah. Ada juga yang mengatakan, Hindun. Beliau sepupu Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Karena ibunya, Shafiyah bintu Abil Ash adalah saudara Affan, ayahnya Utsman. Sebelumnya beliau menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Bersama Ubaidillah, beliau dikaruniai seorang putri bernama Habibah. Bersama suami dan anaknya, Ummu Habibah hijrah ke negeri Habasyah untuk mendapatkan jaminan keamanan karena tekanan suku Quraisy.
Sesampainya di Habasyah, suaminya meninggal. Ada yang mengatakan, suaminya murtad dan memeluk Nasrani. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW mengirim surat kepada raja Najasyi untuk menikahkan Ummu
Habibah dengannya, dan beliau mengutus Khalid bin Said sebagai wakil beliau. Najasyi memberikan mahar untuknya sebesarr 400 dinar. Setelah beberapa tahun di Habasyah, raja soleh ini memulangkan Ummu Habibah ke Madinah ditemani Syurahbil bin Hasanah. (HR. Abu Daud 2107 dan dishahihkan Al-Albani).
Beliau tinggal bersama suaminya, Nabi Muhammad SAW di tahun 7 H, di usia 36 tahun. Ummu Habibah meninggal di Madinah tahun 44 H, di masa Khalifah Muawiyah, Radhiyallahu anhum ajma’in.
Ummu Habibah mempunyai watak tenang, lembut dan toleran.
Selama hidup bersama Rasulullah, dia telah banyak menguasai, menghafal, dan meriwayatkan hadist.
10. Shafiyyah binti Huyai Al-Hilaliyah bin Akhtab Radhiyallaahu anha.
Berasal dari masyarakat yahudi Bani Nadzir. Ayahnya, Huyai bin Akhtab adalah kepala suku bani Nadzir. Satu suku yahudi, keturunan Nabi Harun alaihis salam. Ibunya bernama Barrah bin Samuel. Saudara dari sahabat, Rifaah bin Samuel. Sebelum masuk islam, Shafiyah menikah dengan Salam bin Masykam, seorang ahli berkuda dan pandai bersyair. Setelah berpisah dengan Salam, Shafiyah menikah dengan Kinanah bin Abil Haqiq. Bani Nadzir tinggal di daerah Khaibar. Kala itu, Khaibar terkenal sebagai kota besar, memiliki banyak benteng dan kebun kurma yang sangat luas. Letaknya sekitar 120 km ke utara kota Madinah. Ketika perang Khandaq, penduduk khaibar termasuk salah satu suku yang membantu pasukan bersama kaum musyrikin untuk menyerang Madinah. Mereka juga yang memanas-manasi bani Quraidzah untuk berkhianat kepada kaum muslimin. Masyarakat Khaibar juga sering membantu orang manafik Madinah untuk melancarkan makarnya.
Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW mendapatkan titik aman untuk semakin meluaskan islam. Salah satu sasaran beliau adalah Khaibar. Satu daerah sangat strategis yang bisa menguatkan islam, sekaligus mengancam entitas Madinah. Rasulullah SAW sangat berharap, agar Khaibar bisa masuk kawasan islam. Tentang Khaibar, sejatinya telah Allah sebutkan dalam Al-Quran.
“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, Maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu..”(QS. Al-Fath: 20).
Mujahid menjelaskan, harta rampasan yang banyak, yang Allah janjikan adalah Khaibar. (Tafsir Ibn Katsir, 7/341).
Singkat cerita, kaum muslimin berhasil menaklukkan bani Nadzir, dan pada peristiwa itu Kinanah, suami Shafiyah terbunuh karena melanggar kesepakatan. Kaum muslimin pulang dengan membawa banyak rampasan perang dan tawanan, termasuk Shafiyah. Setelah semua tawanan dikumpulkan, datanglah Dihyah Al-Kalbi, “Ya Rasulullah, berikan aku seorang budak.” “Silahkan pilih budak.” Jawab Nabi SAW. Ketika itu, Dihyah mengambil Shafiyah untuk menjadi budaknya.
Tiba-tiba datang seorang sahabat melapor, “Ya Rasulullah, anda memberi Dihyah seorang budak, Shafiyah binti Huyai, wanita mulia dari Quraidzah dan bani Nadhir, wanita yang hanya layak menjadi milik anda.” “Bawa dia kemari!” pinta Rasulullah SAW. Setelah melihatnya, Rasulullah SAW meminta Dihyah untuk mengambil budak lainnya.
Rasulullah SAW menawarkan antara memilih islam ataukah tetap beragama Yahudi. Shafiyahpun memilih islam dan menjadi istri Rasulullah SAW setelah Khaibar ditaklukkan pada tahun 7 H. Yang istimewa, walimah pernikahan Rasulullah SAW dengan Shafiyah dilaksanakan di perjalanan pulang 12 mil dari Khaibar menuju Madinah. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai wanita Shadiqah, wanita yang jujur imannya. (Al-Ishabah Ibn Hajar, 7/741). Beliau meninggal tahun 50 H dan dimakamkan di Baqi. Seseorang yang pintar, jujur. Dia adalah dari kelompok Jahudi Bani Nadir. Dia sudah menikah dua kali sebelumnya, dan kemudian menikahi Nabi Muhammad SAW.
Wanita terakhir yang dinikahi Rasulullah SAW. Beliau adalah saudara Ummu Fadhl (Lubabah bintul Harits). Dan Ummu Fadhl adalah ibunda Ibnu Abbas radhiyallahu anhum. Sehingga Maimunah adalah bibi Ibnu Abbas dari jalur ibunya. Beliau juga saudara Lubabah As-Shugra, ibunya Khalid bin Walid. Ibunya Maimunah bernama Hindun bintu Auf. Sehingga Maimunah adalah saudara seibu dengan Zainab bintu Khuzaimah, Ummul Masakin, istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang telah wafat. Rasulullah SAW menikahinya pada bulan Dzulqo’dah tahun 7 H, seusai umrah qadha. Maimunah mulai tinggal bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah perjalanan pulang dari Mekah 9 mil menuju Madinah. Beliau meninggal ketika perjalanan pulang dari Haji tahun 61 H di daerah Saraf dan dimakamkan di Saraf.
Aisyah mengatakan tentang Maimunah.
ذهبت والله ميمونة.. أما إنها كانت من أتقانا لله وأوصلنا للرحم
“Maimunah telah wafat, demi Allah… dia adalah wanita yang paling bertaqwa kepada Allah diantara dan paling menyambung silaturahim.”(HR. Hakim 6799 dan dinilai Adz-Dzahabi: Sesuai syarat Muslim).
Dialah satu-satunya wanita yang dengan ikhlas menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ketika keluarganya hidup dalam kebinasaan jahiliah.
Dia masih berumur 36 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad SAW yang sudah 60 tahun. Suami pertamanya adalah Abu Rahma Ibni Abed Alzey. Ketika Nabi Muhammad SAW membuka Mekkah di tahun 630 H, dia datang menemui Nabi Muhammad SAW, masuk Islam dan meminta agar Rasullullah mengawininya. Akibatnya, banyaklah orang Makkah merasa terdorong untuk merima Islam dan nabi SAW.
Demikianlah 11 wanita istimewa yang mendampingi Rasulullah SAW dan menjadi keluarga beliau tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. Sementara ada dua wanita yang melakukan akad dengan Nabi Muhammad SAW, namun tidak dikumpuli Rasulullah SAW. Mereka dari Bani Kilab dan Bani Kindah. Tentang siapa nama dua wanita ini, diperselisihkan para ulama. Disamping itu, Rasulullah SAW juga memiliki budak wanita. Dua wanita yang terkenal sebagai budak Rasulullah SAW.
a. Mariyah Al-Qibtiyah Radhiyallaahu anha.
Beliau adalah hadiah dari raja Muqauqis sebagai jawaban atas surat Rasulullah SAW yang mengajaknya untuk masuk islam. Dari Mariyah, Rasulullah SAW mendapatkan seorang anak yang membuat beliau sangat gembira, bernama Ibrahim. Namun putra beliau ini meninggal sebelum genap usia 2 tahun. Beliau meninggal di masa Umar, dan jenazahnya dishalati Umar bin Khatab dan dimakamkan bersama istri Rasulullah SAW lainnya.
Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahim setelah Khadijah.
Merupakan wanita Mesir yang berparas cantik.
b. Raihanah bintu Zaid Al-Quradziyah
Beliau tawanan bani Quraidzah, kemudian dijadikan budak Rasulullah SAW ada juga yang mengatakan, beliau dibebaskan oleh Rasulullah SAW dan dijadikan istrinya. Abu Ubaidah menambahkan, ada 2 lagi budak wanita Rasulullah SAW. yang satu hadiah dari Zainab dan satunya tawanan untuk penaklukan yang lain. dan semuanya dimerdekakan sebelum beliau wafat. (Ar-Rahiq Al-Makhtum, 472).