Perisai Mukmin Sejati Perisai Mukmin Sejati

RUH ORANG TUA MENUNGGU KIRIMAN DOA ANAK

Setelah meninggal dunia, orang tua kita tidak hilang begitu saja. Mereka menunggu kiriman doa, bacaan Al-Fatihah, dan sedekah dari anak-anaknya.

SHALAWAT SULTHON MAHMUD AL-GHOZNAWI

Sekali Baca = 300.000 Shalawat! Shalawat Sulthon Mahmud Al-Ghoznawi | Dahsyatnya Keutamaan!

THORIQOH SAMMANIYAH ABAH GURU SEKUMPUL

Dzikir Paling LANGKA Dalam 100 Tahun | Hanya Diberikan Kepada 1 Orang

DOA ABU DZAR AL-GHIFARI

Doa Abu Dzar Al-Ghifari yang Dikenal Para Malaikat di Langit-Menyentuh Hati

DZIKIR PEMBUKA SESUATU YANG TERTUTUP

awamkanlah membaca sebuah kalimat dibawah ini sebanyak 10 kali pada Pagi (subuh) dan Sore (ashar).

KEUTAMAAN DAN BERKAH MANDI DI WAKTU FAJAR

keistimewaan mandi fajar yaitu mandi pada pagi hari sebelum adzan subuh yang sebagian orang tidak mengetahuinya.

HAJAT TERKABUL DENGAN ISTIQOMAH SHALAT TASBIH

Memohon hajat yang sulit agar terkabul dengan barokah melaksanakan shalat tasbih

17 Januari 2026

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS, Pahalanya Setara Ibadah Haji

SHOLAWAT SAYYID JALALULLAH AL-BUKHORI QS

Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS, Pahalanya Setara Ibadah Haji

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Raja Semesta Alam, yang menggenggam setiap urusan hidup hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, pembawa rahmat dan cahaya hidayah bagi seluruh umat manusia.

Sahabat Perisai Mukmin yang dirahmati Allah, Diantara bentuk cinta kaum muslimin kepada Rasulullah adalah memperbanyak bershalawat. Para ulama dan kekasih Allah telah memberikan banyak bacaan shalawat sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagai wasilah memohon pertolongan, keberkahan, dan kemuliaan hidup.

Diantara shalawat yang dikenal dan diamalkan oleh sebagian ulama adalah Sholawat Sayyid Jalalullah Al-Bukhori QS. Shalawat ini disampaikan memiliki keutamaan yang sangat agung. Disebutkan bahwa siapa saja yang membaca shalawat ini, seakan-akan ia telah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah dan dicatat dalam amalnya pahala seperti pahala haji.

Dan barang siapa yang menulis shalawat ini, lalu membawanya, maka dengan izin Allah ia akan dijaga dari berbagai mara bahaya, diselamatkan dari petaka dunia, dan di akhirat kelak ia akan berada dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Namun sahabatku, Sebagaimana shalawat dan amalan lainnya, keberkahan bukan semata-mata pada lafaz, namun pada keyakinan, keikhlasan, akhlak, dan penghambaan kita kepada Allah. Shalawat adalah bukti cinta. Shalawat adalah penghormatan kepada Nabi tercinta. Dan shalawat adalah doa yang membuka pintu rahmat Allah bagi siapa saja yang membacanya dengan tulus.

Karena itu, janganlah kita menjadikan shalawat sebagai jimat atau sekadar alat untuk memperoleh dunia. Tetapi jadikanlah shalawat sebagai ibadah, sebagai cahaya yang membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bagi siapa pun yang sedang dalam kesulitan hidup, yang dilanda ketakutan, kesempitan, atau berbagai ujian dunia perbanyaklah shalawat. Mohonlah kepada Allah dengan rendah hati. Sertai dengan tawakal, ibadah yang kuat, amal saleh, dan akhlak yang mulia. InsyaAllah, rahmat Allah akan menyertai kita.

Semoga dengan shalawat ini Allah memberikan ketenangan, melapangkan jalan hidup kita, menjaga keluarga kita dari mara bahaya, memberikan kemuliaan di dunia, dan kedekatan dengan Rasulullah di akhirat kelak. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Berikut lafadz shalawatnya:

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْعَرَبِيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Arabiyyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, Nabi yang berasal dari bangsa Arab."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْقُرَشِيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Qurashiyyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, yang berasal dari suku Quraisy."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ الْمَكِّيُّ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadul Makkiiyu

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, yang tinggal di kota Makkah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ نَبِيُّ اللَّهِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Nabiyyullaah

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, Nabi Allah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ حَبِيبُ اللَّهِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Ḥabiibullaah

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, kekasih Allah."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ جَدُّ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Jaddal Ḥasan wal Ḥusain

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, kakek Hasan dan Husain."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدُ آبَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa Muhammadu Abaa Fathimah az-Zahraa

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai Muhammad, ayah dari Fathimah Az-Zahra."


الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْمِنْبَرِ وَالْمِعْرَاجِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ash-shalaatu was-salaamu alaika Yaa shohibal minbari wal mi‘raj, Muḥammadun Rasuulullaah shallallaahu alaihi wa sallam

"Semoga shalawat dan salam tercurah kepadamu wahai pemilik mimbar dan peristiwa Mi’raj, Muhammad adalah Rasulullah, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya."


Hizib Wadah Batin Penyeimbang Spiritual

Hizib Wadah Batin Penyeimbang Spiritual

Wadah batin dalam keilmuan ghaib merujuk pada kesiapan mental, spiritual, dan emosional seseorang untuk menampung energi atau kekuatan spiritual yang tinggi. Pentingnya wadah batin yang kuat dan stabil adalah untuk memastikan bahwa amalan atau energi ilmu yang dipelajari tidak merusak fisik maupun psikologis pelaku.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai peran wadah batin agar tetap stabil dalam keilmuan ghaib:

Mencegah Gangguan Mental dan Gila (Stabilisasi)

Amalan ilmu ghaib seringkali membawa energi yang sangat besar. Tanpa wadah batin yang memadai, energi ini dapat membebani saraf dan pikiran, yang berpotensi menyebabkan stres, depresi, perilaku tidak wajar, hingga gangguan kejiwaan atau "gila" karena tidak kuat menahan beban energi tersebut.

Sebagai Penampung Energi (Wadah Ilahi)

Wadah batin berfungsi seperti cawan yang menampung energi spiritual agar tidak berhamburan atau liar. Wadah yang baik memungkinkan seseorang menyerap energi tersebut tanpa kewalahan, sehingga pengalaman spiritual dapat dibumikan ke dalam tubuh fisik dengan aman.

Keamanan dari Efek Samping (Tolak Bala)

Penyucian batin (seperti keikhlasan dan kejujuran) berfungsi memurnikan energi, yang bertindak sebagai "pelindung" atau tolak bala, sehingga ilmu yang diamalkan tidak balik menyerang pelakunya.

Pembersihan Diri/Wadah

Sebelum mempelajari ilmu tingkat tinggi, wadah batin harus "dibersihkan" terlebih dahulu. Ini melibatkan peningkatan iman, akhlak mulia, dan pengendalian ego, agar energi negatif tidak masuk atau bercampur dengan ilmu yang dipelajari.

Kematangan Spiritual

Wadah batin yang stabil menjamin seseorang memiliki kebijaksanaan, kesabaran, dan ketenangan. Ini mencegah pelaku ilmu ghaib menjadi sombong atau salah dalam menggunakan ilmu, yang bisa berakibat fatal.

Singkatnya, wadah batin adalah fondasi. Tanpa wadah yang stabil, mempelajari ilmu ghaib ibarat mengisi air ke dalam gelas yang retak atau terlalu kecil; airnya akan tumpah atau gelasnya akan pecah (merusak diri sendiri).

Sebuah keilmuan hikmah yang insya Allah ada kemanfaatannya untuk anda semua dalam mengamalkan segala keilmuan khusus untuk memperbesar wadah bathin kita. Untuk anda orang yang gemar akan ilmu-ilmu ghaib lebih bagus untuk memegang ilmu Wadah Batin ini lebih terlebih dahulu, agar seimbang bathinnya dalam mengarungi ilmu-ilmu kebathinannya.

Saudaraku, selama ini kita sering menjumpai beragam ilmu yang bermacam-macam mulai dari Asma, Hizib dan lain sebagainya, akan tetapi ita belum bisa memastikan apakah ilmu yang anda dapatkan atau di ijazahkan baik dari Blog/buku/kitab-kitab hikmah tersebut “Cocok” untuk wadag kita atau tidak.?.

Suatu ilmu mungkin cocok untuk orang lain, akan tetapi belum tentu cocok untuk kita karena tingkat spiritual antara manusia satu dengan lainNya pasti berbeda, sebagai contoh Si A memiliki wadah ilmu yang hanya bisa menampung kira-kira 1 gelas air, sedangkan si B mungkin memiliki wadah ilmu yang bisa menampung 1 kolam air. Jadi jika ada ilmu yang sekiranya memiliki “muatan” 1 ember tentu dalam hal ini si B lah yang cocok mempelajarinya karena wadahnya mampu menampung muatan ilmu tersebut, sedangkan si A tidak.

Coba anda bayangkan jika muatan air 1 di tuangkan kedalam 1 gelas maka gelas hanya akan terisi sesuai dengan volume yang bisa di tampungnya, lalu kemana sisa muatan lainnya akan di tampung...?, Jika seandainya tetap dipaksakan tentu saja sisa muatan yang ada dalam ember pasti akan berceceran kemana-mana. Dalam hal ini faktor keturunan sangat berpengaruh dalam perihal wadah keilmuan seseorang, bagi mereka yang mempunyai “Trah Ningrat” atau darah biru biasanya mempunyai “Wadah” yang lebih besar dari mereka yang terlahir dari keluarga biasa. Jadi tidak heran jika mereka yang masih memiliki “Trah Leluhur” darah biru akan lebih cepat belajar dan menguasai suatu keilmuan daripada mereka yang terlahir dari orang biasa.

Saudaraku, sebuah perumpamaan mereka yang terlahir dari garis leluhur yang memang berilmu dalam hal ini bisa dari Trah Ningrat, Putra Kyai, ataupun orang biasa yang memiliki “ladang Tanah” yang subur, jadi jika di “Tanami” apapun niscaya cepat tumbuh, sedangkan mereka yang tidak berasal dari Trah Leluhur berilmu di ibaratkan sebagai “Ladang Tandus” yang harus di garap terlebih dahulu. Di cangkul lalu di sirami dan diberi pupuk, “Penggarapan disini” di maknai sebagai laku olah batin seperti Puasa, Wirid dan lain sebagainya.

Jadi, semakin tinggi ilmu bathin yang anda miliki, maka tinggikan serta lebarkan wadah bathinnya agar menjadi seimbang (stabil), dan jauh dari sifat-sifat yang tidak di inginkan seperti pusing atau bahkan menjadi Stress, Na'udzubillah.

11 Januari 2026

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi Cikini (Ayahanda Habib Ali Kwitang, Jakarta)

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi terlahir di Semarang dan wafat di Cikini, Jakarta pada tahun 1296 H/1879 M. Beliau adalah ayah dari al-Habib Ali Kwitang.

"Habib Cikini" (Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi) lahir dari keluarga Al Habsyi pada cabang keluarga Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib. Ia generasi pertama dari garis keturunan keluarga yang terlahir di Nusantara atau generasi kedua yang telah menetap di negeri ini. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Al Hadi bin Ahmad Shahib Syi'ib bin Muhammad Al Ashghar bin Alwi bin Abubakar Al Habsyi.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi adalah: al-Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan at-Turabi bin Ali bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.

Sebuah sumber tulisan menyebutkan bahwa kakeknya yang bernama Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Itu artinya, Habib Cikini adalah generasi kedua yang terlahir di Nusantara atau generasi ketiga yang menetap disini. Tulisan lainnya menyebutkan bahwa Habib Muhammad, kakeknya, ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga Al-Qadri.

Dalam catatan pada kitab rujukan ‘Nasab Alawiyyin’ susunan Habib Ali bin Ja'far Assegaf ditulsikan, berdasarkan keterangan Habib Ali Kwitang yang mendapat informasi dari Habib Alwi (tinggal di Surabaya, sepupu dua kali Habib Ali Kwitang) bin Abdul Qadir bin Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi, disebutkan, Habib Muhammad bin Husein wafat di Tarbeh, Hadhramaut. Kitab Habib Ali bin Ja'far juga menuliskan dengan jelas bahwa Habib Abdullah (Ayah Habib Cikini) adalah seorang kelahiran Hadhramut, tepatnya di Tarbeh. Berdasarkan berbagai keterangan diatas, jelaslah ‘Habib Cikini’ adalah generasi pertama dari garis keturunan keluarganya yang dilahirkan di Nusantara.

Informasi yang menyebutkan bahwa Habib Muhammad bin Husein ikut mendirikan Kesultanan Al Kadriyah Al Hasyimiyah di Pontianak kurang bisa dibuktikan, mengingat bahwa Habib Muhammad wafat di Tarbeh dan tidak didapat keterangan bahwa yang bersangkutan sempat menginjakkan kaki di Nusantara.

Habib Cikini "Putra Semarang"

Selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad Al Habsyi, (ayah Habib Cikini) yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa ia menikah pertama kali di Semarang.

Sebuah naskah juga menyebutkan, Ibu "Habib Cikini" adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Semarang. Dan memang, "Habib Cikini" sendiri diketahui sebagai putra kelahiran Semarang.. Ini berkaitan dengan catatan lainnya yang menyebutkan, "Ia wafat di Laut Kayong (daerah Sukadana, Kalimantan Barat) pada 1249 H, atau bertepatan dengan tahun 1833 M".

Keterangan yang disebutkan terakhir tampaknya lebih mendekati kebenaran, sebab wilayah Sukadana berseberangan langsung dengan kota Semarang di Pulau Jawa dan Kota Semarang merupakan kota kelahiran ‘Habib Cikini’. Hal ini juga selaras dengan keterangan bahwa Habib Abdullah wafat saat berlayar dari Pontianak ke Semarang. Pada Catatan itu juga disebutkan, ia wafat saat berperang dengan ‘lanun’, sebutan orang Pontianak terhadap para perompak laut.

Bersama Habib Syech dan Raden Saleh.

Diantara sejarah kehidupan "Habib Cikini" yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa ia sahabat karib Habib Syech bin Ahmad Bafaqih (Botoputih - Surabaya). Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya' Shahab dalam bukunya "Syams azh Zhahirah". Begitu pula menurut penulis Belanda bernama L.W.C Van Den Berg dalam buku ‘Le Hadhramout Et Les Colonies Arabes’ yang menyebutkan bahwa Habib Syech pernah menetap di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Selama menetap di Batavia itulah tampaknya persahabatan di antara Habib Syech dengan Raden Saleh terjalin erat.

Semasa hidupnya, Habib Cikini menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden Saleh. Namun karena tidak dikaruniai keturunan, ia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara.

Dikisahkan, setelah lama tak mendapatkan putra, istri Habib Abdurrahman, Nyai Salmah, seorang wanita asli Betawi yang tinggal di Mester Cornelis (sekarang Jatinegara), suatu malam bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Nyai Salmah menggali sumur,tiba-tiba dari dalam sumur itu keluarlah air yang melimpah ke sekelilingnya.

Mimpi itu kemudian disampaikannya kepada suaminya. Habib Abdurrahman, dan beliau segera menemui Habib Syech untuk menanyakan perihal mimpi tersebut. Habib Syech menjelaskan bahwa mimpi itu merupakan isyarat bahwa pasangan Habib Abdurrahman dan Nyai Salmah akan mendapatkan seorang putra yang shalih dan ilmunya melimpah ruah penuh keberkahannya.

Tidak seberapa lama, Nyai Salmah pun mengandung dan pada hari Ahad 20 Jumadil Ula 1286 H atau bertepatan dengan 20 April 1870 M, terlahirlah seorang putra yang kemudian ia beri nama ‘Ali’.

Semua orang pun kemudian menyaksikan kebenaran ucapan Habib Syech. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi yang terlahir dari pasangan shalih dan shalihah itu, dikemudian hari menjadi seorang shalih dan ulama yang banyak menebar manfaat dan kemaslahatan bagi umat di masa hidupnya, bahkan setelah wafatnya.

Di samping Habib Ali, "Habib Cikini" juga mempunyai putra lainnya yang bernama, Habib Abdul Qadir. Lewat putranya inilah "Habib Cikini" menjalin pertalian kekeluargaan dengan Habib Utsman bin Yahya, melalui pernikahan Habib Abdul Qadir dengan salah seorang putri Mufti Betawi ini. Dari kedua putranya itu, hanya dari Habib Ali nasab keturunannya berlanjut, karena Habib Abdul Qadir hanya memiliki tiga orang anak perempuan tanpa anak lelaki sama sekali.

Kalau anak lelaki pertama Habib Ali adalah Habib Abdurrahman, dan yang bungsu bernama Habib Muhammad. Sementara diantara dua anak lelaki itu, lahirlah lima anaknya yang perempuan yang masing-masing bernama:

Syarifah Rogayah, Syarifah Khodijah, Syarifah Mahani, Syarifah Zahra dan Syarifah Sa’diyah yang juga mengikuti jejak ayahnya untuk menggelar majlis ta’lim ‘Assa’diyah’ untuk kaum perempuan di lokasi yang sama di Kwitang. Setelah Syarifah Sa’diyah wafat saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di di tanah suci, pengelolaan majlis ta’limnya dilanjutkan oleh Syarifah Salma binti Abdurrahman Al Habsyi, cucu perempuan Habib Ali Kwitang, anak dari Habib Abdurrahman.

Dari perkawinan keduanya ia dikaruniai dua putra yang bernama Habib Ali (Habib Kwitang) serta Habib Abdul qadir. Ketika Habib Cikini meninggal, jenazahnya pun dimakamkan di lokasi Cikini bersama istri pertamanya dan anak dari Habib Kwitang yang meninggal ketika belum lama dilahirkan.

Oleh sebab itu, di makamnya yang berada di dalam masjid dapat dijumpai tiga kuburan. Dua yang berukuran normal dan satu yang berukuran kecil. Tapi selain dekat dengan Raden Saleh, Habib Cikini juga turut andil dalam penyebaran Islam di Batavia.

"Beliau ini dulu zamannya kan wajib syiar ya. Syiar daripada panglima perang beliau ini untuk mensyiarkan agama Islam. Cuma sebelum beliau syiar, dikasih tempat dari Raden Saleh. Ini dulu tempat kan dari Raden Saleh. Beliau sebelum membikin pondok atau apa ini wafat tahun 1879 sehingga tidak sempat untuk bikin majelis atau apa," lanjut Habib Muhdhor.

Namun walau tidak sampai membuat majelis seperti anaknya Habib Kwitang, Habib Cikini telah melakukan syiar di Batavia hingga Surabaya. Tidak heran, beliau memiliki banyak sahabat sesama alim ulama, murid dan anak yang meneruskan jejaknya.

Tahun 1296 H bertepatan dengan 1879 M, Habib Cikini wafat. Saat itu, Habib Ali masih amat belia, belum mencapai usia 11 tahun. Sebelum wafat, beliau sempat berwasiat kepada istrinya, agar Habib Ali disekolahkan ke Hadhramaut dan Makkah. Wasiat tersebut betul-betul dilaksanakan isterinya dengan sepenuh hati dan keyakinan akan adanya kebaikan di balik itu semua.

Karena ‘Habib Cikini’ tidak meninggalkan warisan yang memadai,maka demi mewujudkan pesan almarhum suaminya, Nyai Salmah, yang bukan tergolong orang berada, kemudian menjual gelang yang dimilikinya, untuk biaya perjalanan Habib Ali ke Hadhramaut.

Sementara itu, Habib Syech Bafaqih sahabat karib Habib Abdurrahman,wafat pada 1883,dua tahun setelahnya.Beliau dimakamkan di Botoputih, Surabaya, yang hingga saat ini terus didatangi para peziarah dari berbagai daerah.

Selain dengan Habib Syech, "Habib Cikini" juga bersahabat akrab dengan Raden Saleh, seorang pelukis termasyhur yang nama lengkapnya adalah Sayyid Syarief Boestomi Raden Saleh bin Yahya. Sebetulnya kedekatannya dengan pelukis tersebut bukanlah hal yang aneh. Disamping sama-sama kelahiran Semarang, sebelum hijrah ke Batavia, Habib Cikini sempat menikah dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, adik Raden Saleh.

Raden Saleh

Pelukis yang lama menetap di Eropah ini, dilahirkan pada 23 April 1811 dan wafat pada tahun 1880, setahun setelah wafatnya "Habib Cikini". Beliau dimakamkan di daerah Desa Bondongan, Bogor, Jawa Barat.

Mengawal Aqidah Ummat

Sebagaimana disebutkan, Habib Cikini menjalin hubungan kekeluargaan dengan Raden Saleh dengan menjadi iparnya. Namun dari pernikahannya dengan Syarifah Rogayah bin Yahya, yang adik perempuan Raden Saleh,beliau tak beroleh keturunan sama sekali.

Di tanah pekarangan rumah Raden Saleh yang berada didaerah Cikini inilah, Jasad mulia Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi dikebumikan. Meski kepemilikan tanah tersebut telah pindah tangan beberapa kali, keberadaan makamnya tetap dilestarikan. Diatas makamnya didirikan bangunan sederhana.

Peziarah yang datang ke makamnya tidak seramai seperti di makam Habib Ali di Masjid Kwitang yang putranya sendiri, tapi yang datang menziarahi makamnya hampir tidak pernah putus dari waktu ke waktu. Diantara murid-murid beliau adalah : Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad (Habib Kuncung – Kalibata – Jakarta), dan masih banyak lagi yg lainnya.

Makam Cikini
Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Makam beliau terbilang unik, karena masjid atau makamnya berada di tengah-tengah proyek pengembangan apartemen di daerah Cikini Jl. Raden Saleh Jakarta.

Silsilah Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi

Berikut adalah hasil wawancara Muh Subki Balya dengan Bapak Ansori, orang yang diserahi ahli bait untuk merawat masjid, pada bulan Ramadhan tahun 1434 H:

“Bahwa berdirinya masjid ini panjang dan katanya perebutan lahan ini dulu sampai berdarah, tetapi tiada stasiun TV manapun yang meliputnya. Ada seorang kaya yang berniat menggusurnya. Sengketa tidak boleh digusur dan mau menggusur berlanjut. Sampai akhirnya yang berkuasa duit berhasil mau memindahkan makam Habib Abdurahman. Alat berat bego (alat mobil berat) dikerahkan sungguh di luar rasio akal sehat. Mobil bego itu patah.

Kemudian diambilkan mobil bego yang lebih baru dan lebih sehat. Benar-benar karamah Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi telah nampak. Mobil bego yang lebih layak dan sehat itu patah juga, bahkan patahannya hampir menyambar operator alat bego itu.

Ketika peristiwa tersebut mereda, terjadi keributan yang keduakalinya. Orang berduit itu tetap hendak mengeruk lahan tanah yang di situ terdapat makam Habib Abdurrahman. Ternyata keluarlah sumber air dari kerukan tersebut. Dari peristiwa itu dibangunlah sebuah masjid oleh keluarga di samping makam Habib Abdurrahman al-Habsyi.

Kisah unik irasional terjadi kembali. Saat pembangunan batas antara masjid dengan proyek, tepatnya di tikungan jalan tidak kunjung mengering. Air terus menggenang sehingga tidak dapat melakukan pengecoran pondasi, kurang lebih hingga 3 bulan lamanya. Saat itulah dari pihak kontraktor baru mau meminta izin sekedar berdoa di makam. Setelah itu air pun surut dan pembangunan pagar bisa dilaksanakan.”

Kejadian unik lain diceritakan pula oleh Bapak Ansori sebagai berikut:

“Ada seorang petani dengan mengendarai sepeda motor hendak melihat tanaman cabainya yang dikira sudah cukup umurnya untuk dipanen. Namun setelah meninjau berulangkali tanaman cabai-nya itu tidak kunjung dapat dipanen.

Datanglah ia ziarah ke makam Habib Abdurahman bin Abdullah al-Habsyi. Kemudian ia meminta kaleng yang bisa digunakan untuk mengambil air di makam Habib Abdurrahman. Sepulangnya di rumah, air seberat kaleng cat itu dioplos (dicampurkan) dengan air yang digunakan untuk menyirami tanaman cabai. Alhamdulillah setelah itu tanaman cabainya bisa panen. Dari kejadian itu lantas ia ziarah kembali ke makam Habib Abdurahman al-Habsyi dengan membawa tumpeng sekedar berbagi rizki untuk selamatan atau tasyakuran.”

Wallahu'a'lam

Sumber: Pustaka Pejaten

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Cianjur

DETIK-DETIK TERAKHIR KH. ABDULLAH BIN NUH MEMPERTAHANKAN BENTENG BOGOR

Keberanian Ulama KH Abdullah bin Nuh Bogor

Di balik jubah ulama dan sorban yang bersahaja, bersemayam jiwa singa yang menggetarkan nyali serdadu NICA. Inilah kisah tentang KH.Abdullah bin Nuh, seorang ulama besar, sastrawan dunia, sekaligus panglima tempur yang darahnya menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tanah Pasundan.

SANG ULAMA YANG MENGGANTI PENA DENGAN SENJATA

Pada tahun 1945-1946, Bogor bukan lagi kota hujan yang tenang, melainkan kuali api pertempuran. KH Abdullah bin Nuh, yang dikenal sebagai intelektual Islam lulusan Al-Azhar, Kairo, tidak memilih diam di dalam pesantren saat sekutu dan Belanda kembali menginjakkan kaki di tanah air.

Ia memimpin Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kemudian bertransformasi menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Bogor. Sebagai komandan Batalyon II Resimen III TKR dengan pangkat Mayor, ia menjadi target utama intelijen Belanda karena pengaruhnya yang mampu menggerakkan ribuan santri dan pemuda untuk berjihad di bawah panji kemerdekaan.

PERTEMPURAN DI GARIS DEPAN: NARASI KEBERANIAN

Kisah heroisme beliau mencapai puncaknya dalam berbagai penyergapan di jalur strategis antara Bogor dan Jakarta. KH Abdullah bin Nuh tidak pernah memerintah dari belakang meja. Dengan senjata di tangan dan zikir di lisan, ia memimpin pasukan menyerbu konvoi-konvoi lapis baja Belanda.

Meskipun dalam catatan sejarah besar ia wafat pada usia lanjut (tahun 1987), narasi "gugurnya" secara spiritual dan fisik di medan juang terekam dalam kegigihannya saat menghadapi agresi militer. Namun, banyak sumber sejarah lokal menyoroti bagaimana ia "hampir gugur" berkali-kali dalam kepungan mortir musuh. Salah satu fragmen paling heroik adalah saat pasukannya terdesak di wilayah perbukitan Bogor, di mana ia berdiri paling depan melindungi mundur-nya pasukan, sebuah tindakan yang oleh pengikutnya dianggap sebagai kesiapan untuk syahid.

KH. Abdullah bin Nuh memang tidak wafat di ujung bayonet pada masa revolusi—ia dianugerahi usia panjang untuk membangun peradaban lewat jalur pendidikan di Pesantren Al-Ghazaly. Namun, jiwa perjuangannya "gugur" dalam arti melepaskan seluruh kepentingan duniawi demi kemerdekaan.

Bagi para pejuang di Bogor, sosok beliau adalah bukti nyata bahwa tidak ada dikotomi antara iman dan nasionalisme. Ia adalah melodi jihad yang tidak pernah padam, sosok yang membuat Jenderal Spoor (Panglima Belanda) gelisah setiap kali mendengar nama Batalyon pimpinan KH Abdullah bin Nuh bergerak.

"MERDEKA ATAU SYAHID"

Narasi perjuangannya selalu ditutup dengan pesan yang ia sampaikan kepada para santrinya: "Tinta ulama mungkin lebih suci dari darah syuhada, tapi saat tanah air dinjak, maka tinta itu harus berubah menjadi api." Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok yang disegani, seorang pejuang yang tidak hanya menang dalam perang fisik, tapi juga memenangkan peperangan melawan penjajahan pemikiran.

Sumber Referensi:
  • Profil KH Abdullah bin Nuh - Jaringan Santri
  • Sejarah Perjuangan Ulama Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor
  • KH Abdullah bin Nuh: Singa Padang Pasir dari Bogor.
CATATAN SEJARAH: "KH Abdullah bin Nuh wafat dengan tenang pada tahun 1987 di Bogor, namun dedikasinya di medan perang 1945 menjadikannya sosok yang dianggap "hidup untuk syahid" di setiap pertempuran yang ia pimpin."
Makam KH Abdullah bin Nuh Bogor

Biografi Singkat Abuya Armin Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

Biografi Singkat – Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten

KH Muhammad Hasan Armin, lebih dikenal Abuya Armin Cibuntu atau “Mama Armin”, lahir sekitar tahun 1880 di Desa Koranji (Menes / Pulosari), Pandeglang, Banten. Beliau adalah ulama besar dan mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dikenal sangat berilmu serta berperan besar dalam penyebaran Islam di Banten.

Nama “Hasan” ditambahkan oleh gurunya di Mekah sebagai penghormatan atas kecerdasan dan ketaqwaannya ketika beliau masih belajar di tanah Arab.

Beliau belajar ilmu syariat, tafsir, tasawuf, dan tarekat selama belasan hingga puluhan tahun di Arab (termasuk Mekkah, Madinah, Palestina, Baghdad) sebelum kembali ke kampung dan mendirikan Pesantren Cibuntu di Desa Sekong, Cimanuk, Pandeglang.

Beliau mengajar ratusan santri dari berbagai daerah dan menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat dihormati. Abuya Armin menghembuskan napas terakhir 30 November 1988 (usia sekitar 108 tahun) dan dimakamkan di kompleks pesantrennya, yang hingga kini masih dijadikan tempat ziarah peziarah terutama pada malam Jumat.

Karomah (Kehidupan Luar Biasa)

Beberapa cerita karomah yang dikenal berkembang di masyarakat:

1. Mengeluarkan Mobil Mogok Presiden Soekarno

Konon pada suatu malam, kendaraan Presiden RI Ir. Soekarno mogok di lumpur dalam perjalanan, tak ada yang bisa menolong. Datanglah Abuya Armin lalu menusukkan lidi kecil di bawah ban mobil, dan mobil itu lancar keluar dari lumpur setelah itu.

2. Hidangan Ajaib

Diceritakan pula bahwa beliau mampu menghadirkan berbagai makanan dan minuman yang tampak segar dan beraroma harum, padahal makanan itu tidak biasa hadir secara lahiriah.

3. Karomah dan Pengajaran Rohani

Abuya Armin dikenal sebagai guru yang penuh karomah dalam membimbing santri dan umat, terutama dalam latihan batin dan dzikir tarekat. Banyak santri dari jauh datang untuk belajar langsung kepada beliau.

Kesaksian dan Tokoh yang Mengenang

Banyak tokoh besar di Indonesia yang disebut-sebut pernah berkunjung untuk meminta nasihat, termasuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohamad Hatta, Presiden Soeharto, dan Gubernur Ali Sadikin. Mereka datang bukan hanya untuk silaturahmi, tetapi juga untuk mendapatkan tuntunan dan berkonsultasi tentang keagamaan atau spirit perjuangan.

Santri dan cucu beliau—seperti H. Heri—menginformasikan bahwa ajaran dan pengalaman spiritual Abuya Armin masih menjadi teladan hingga kini, bahkan makamnya ramai diziarahi terutama pada malam Jumat.

Makam Abuya Muhammad Hasan Armin Cibuntu Banten
Warisan: Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

Abuya Armin adalah pendiri Pesantren Cibuntu dan Masjid Hasaniyah (dibangun sekitar tahun 1926), yang menjadi pusat pembelajaran dan ibadah masyarakat. Masjid ini masih berdiri hingga kini sebagai saksi sejarah penyebaran Islam dan ilmu tarekat di Banten.

Warisan Abuya Armin Banten Pesantren dan Masjid Hasaniyah Cibuntu

Istiqomah dalam berdoa Kepada Allah SWT

Istiqomah dalam berdoa Kepada Allah SWT

Pernahkah kita merasa frustrasi ketika doa-doa yang kita panjatkan seolah tak kunjung terjawab? Kita mungkin bertanya-tanya, apakah Allah mendengar permohonan kita? Atau mungkin kita merasa tidak cukup layak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan? Tenang, kita tidak sendiri dalam perasaan ini.

Artikel ini membahas tentang alasan mengapa doa belum terjawab, syarat pengabulan doa, cara menyikapi doa yang belum terkabul, ujian keimanan melalui doa, hikmah di balik penundaan jawaban doa, cara mengatasi keputusasaan, memahami kehendak Allah, batas waktu pengabulan doa, peran ikhtiar, dan menjaga konsistensi dalam berdoa.

Mengapa Doa Kita Belum Terjawab..?

Ketika doa kita belum terjawab, bukan berarti Allah mengabaikan permohonan kita. Ada berbagai alasan yang mungkin menjadi penyebabnya. Salah satunya adalah karena Allah, dengan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, memilih waktu yang terbaik untuk mengabulkan doa kita.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)


Ayat ini menegaskan bahwa Allah selalu dekat dan mendengar doa kita. Namun, kita perlu memahami bahwa pengabulan doa tidak selalu sesuai dengan ekspektasi atau waktu yang kita inginkan.

Apakah Ada Syarat Agar Doa Dikabulkan.?

Ya, ada beberapa syarat yang perlu kita penuhi agar doa kita lebih berpeluang untuk dikabulkan. Pertama, kita harus memastikan bahwa hati kita hadir saat berdoa. Kekhusyukan dan ketulusan menjadi kunci penting dalam berdoa.

Rasulullah SAW bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, No. 3479)


Selain itu, kita juga perlu memperhatikan waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti sepertiga malam terakhir atau setelah shalat fardhu.

Bagaimana Menyikapi Doa yang Belum Terkabul.?

Ketika doa kita belum terkabul, sikap terbaik adalah tetap berprasangka baik kepada Allah. Kita harus yakin bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk kita, meskipun kita belum memahaminya saat ini.

Imam Syafi’i pernah berkata,“Apa yang kamu inginkan mungkin tidak terjadi, tapi Allah memberikan apa yang kamu butuhkan.”

Kita perlu terus berusaha dan berdoa, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Sikap tawakal ini akan membuat hati kita lebih tenang dalam menjalani proses penantian.

Mengapa Allah Menguji Keimanan Kita Melalui Doa.?

Allah sering menguji keimanan kita melalui penundaan pengabulan doa. Ini bertujuan untuk melihat sejauh mana kesabaran dan keteguhan iman kita. Apakah kita akan tetap berpegang teguh pada-Nya atau justru berpaling.?

Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji.?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)


Melalui ujian ini, Allah ingin melihat apakah kita benar-benar beriman atau hanya mengaku-ngaku beriman.

Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram. Pesan utama dalam gambar tersebut adalah tentang istiqomah dan intensitas dalam berdoa, dengan rumus: "1 x 1000 bukan 1000 x 1" (Satu doa yang dibaca 1.000 kali lebih baik daripada 1.000 doa berbeda yang masing-masing hanya dibaca 1 kali).

Berdasarkan inspirasi dari gambar tersebut, berikut adalah bedah amalan, manfaat, serta karomah yang terkandung didalamnya:

1. Amalan Khusus: "Wirid Al-Istijabah"

Amalan ini menitikberatkan pada permohonan rezeki yang luas dan keberkahan hidup dengan tawasul kepada Asmaul Husna dan Sholawat.

Teks Doa (Sesuai Gambar):

Rumus dalam berdoa Syaikh Nawawi Al-Bantani
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى اُرْزُقْنِيْ(..........) بِالْعَافِيَةِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدِ

"Allahumma inni as-aluka bi asma-ikal husna, urzuqni (Sebutkan Hajat/Nominal) bil afiyah. Allahumma shalli wa sallim 'ala nabiyyina Muhammad."


Tata Cara Amalan:
  • Waktu Utama: Sepertiga malam terakhir (Tahajud) atau setelah Shalat Subuh.
  • Kunci Rumus: Jangan membaca banyak doa yang berganti-ganti. Fokuslah pada satu kalimat doa ini dan baca sebanyak 1.000 kali secara konsisten (istiqomah) selama 40 hari.
  • Adab: Menghadap kiblat, dalam keadaan suci, dan penuh keyakinan (khusyuk).
2. Bedah Manfaat Amalan
Secara spiritual dan psikologis, mengulang satu doa dalam jumlah banyak memiliki manfaat mendalam:
  • Penyatuan Frekuensi (Fokus): Mengulang doa 1.000 kali membantu pikiran dan hati benar-benar sinkron dengan apa yang diminta. Ini menghilangkan keraguan dalam hati.
  • Pintu Langit (Asmaul Husna): Memulai dengan Asmaul Husna adalah "jalur ekspres" dikabulkannya doa, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an.
  • Perisai Keberkahan (Sholawat): Menutup doa dengan sholawat memastikan doa tersebut tidak "tergantung" di langit, melainkan langsung sampai kepada Allah SWT.
  • Kesehatan dan Keselamatan: Kalimat "Bil Afiyah" dalam doa tersebut sangat krusial. Artinya Anda meminta rezeki bukan sekadar banyak, tapi juga membawa kesehatan dan ketenangan (tidak membawa petaka).
Karomah Syekh Nawawi al-Bantani dan Kekuatan Istiqomah
  • Istilah "Karomah" dalam konteks amalan ini merujuk pada keajaiban atau kemuliaan yang muncul akibat kedekatan hamba dengan Sang Pencipta.
  • Pancaran Cahaya Pengetahuan: Syekh Nawawi dikenal memiliki karomah di mana jarinya bisa mengeluarkan cahaya saat menulis kitab di kegelapan. Hal ini melambangkan bahwa orang yang istiqomah dalam wirid akan diberi "cahaya" (petunjuk) dalam urusan dunianya.
  • Kecukupan yang Tak Terduga: Salah satu karomah ahli wirid adalah Barakah. Rezeki yang diminta (misalnya dalam gambar tertulis 100 Miliar) mungkin datang dalam bentuk nominal, atau dalam bentuk kemudahan urusan yang nilainya jauh melampaui angka tersebut.
  • Wibawa dan Ketenangan: Orang yang melazimkan dzikir 1.000 kali sehari akan memiliki ketenangan batin yang luar biasa, sehingga urusan sesulit apa pun akan terasa ringan.
Kesimpulan:“Rumus 1 x 1000 adalah pelajaran tentang Ketekunan. Tuhan lebih menyukai amalan yang sedikit (satu jenis doa) namun dilakukan secara terus-menerus dan mendalam, daripada banyak keinginan namun dilakukan dengan setengah hati.”

21 Desember 2025

Al-Fatihah Dan Fadhilahnya

AL-FATIHAH UNTUK BERAGAM KEBUTUHAN HIDUP

Al-Fatihah Dan Fadhilahnya

Al-Fatihah merupakan satu-satunya surah yang dipandang penting dalam SHOLAT. SHOLAT dianggap tidak sah apabila pembacanya tidak membaca surah ini. Dalam hadits dinyatakan bahwa sholat yang tidak disertai al-Fatihah adalah sholat yang “tidak sempurna”. Walau begitu, hal tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak hafal Al-Fatihah. Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang tidak hafal Al-Fatihah diperintahkan membaca:“Maha Suci Allah, segala puji milik Allah, tidak ada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah.”

Dalam pelaksanaan sholat, Al-Fatihah dibaca setelah pembacaan doa Iftitah dan dilanjutkan dengan “AMIN” dan kemudian membaca ayat atau surah al-Qur’an (pada rakaa’at tertentu). Al-Fatihah yang dibaca pada rakaat pertama dan kedua dalam sholat, harus diiringi dengan ayat atau surah lain al-Qur’an. Sedangkan pada rakaat ketiga hingga keempat, hanya Al-Fatihah saja yang dibaca.

Disebutkan bahwa pembacaan Al-Fatihah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah dengan memberi jeda pada setiap ayat hingga selesai membacanya. Selain itu, kadang bacaan Nabi Muhammad pada ayat Maliki yaumiddin dengan ma pendek dibaca Māliki yaumiddīn dengan ma panjang.

Dalam sholat, Al-Fatihah biasanya diakhiri dengan kata “Amin”. “Amin” dalam sholat Jahr biasanya didahului oleh imam dan kemudian diikuti oleh makmum. Pembacaan “Amin” diharuskan dengan suara keras dan panjang. Dalam hadits disebutkan bahwa makmum harus mengucapkan “amin” karena malaikat juga mengucapkannya, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa “amin” diucapkan apabila imam mengucapkannya.

Pembacaan Al-Fatihah dan surah-surah lain dalam sholat ada yang membacanya keras dan ada yang lirih. Hal itu tergantung dai sholat yang sedang dijalankan dan urutan rakaat dalam sholat. Sholat yang melirihkan seluruh bacaannya (termasuk Al-Fatihah dan surah-surah lain) dari awal hingga akhir sholat, disebut Sholat Sir (membaca tanpa suara). Sholat Sir contohnya adalah Sholat Zuhur dan Sholat Ashar dimana seluruh bacaan sholat dalam sholat itu dilirihkan.

Selain sholat Sir, terdapat pula sholat Jahr, yaitu sholat yang membaca dengan suara keras. Sholat Jahr contohnya adalah sholat Subuh, sholat Maghrib, dan sholat Isya’. Dalam sholat Jahr yang berjamaah, Al-Fatihah dan surah-surah lain dibaca dengan keras oleh imam sholat.

Sedangkan pada saat itu, makmum tidak diperbolehkan mengikuti bacaan Imam karena dapat mengganggu bacaan Imam dan hanya untuk mendengarkan. Makmum diperbolehkan membaca (dengan lirih) apabila imam tidak mengeraskan suaranya. Sementara dalam Sholat Lail, bacaan Al-Fatihah diperbolehkan membaca keras dan diperbolehkan lirih.

Al-Fatihah Dinamakan Ummul Qur’an (induk Al-Quran/أمّالقرءان) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّالكتاب) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran. Dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang/السبعالمثاني) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat. (Arab: الفاتح , al-Fātihah, “Pembukaan”) adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.

BERIKUT BEBERAPA CONTOH APLIKASI SURAH AL-FATIHAH UNTUK BERBAGAI KEPERLUAN
IKHTIAR MENGHILANGKAN PENYAKIT FISIK DAN METAFISIK BERAT

tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air. Lalu baca doa: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.

Atau boleh pakai bahasa Indonesia: "Ya Allah, hilangkan daripada orang ini keburukan dan kekejian yang aku dapati dengan doa Nabi-Mu yang jujur (al- Amin) dan tetap disisi-Mu”.

dan berikan minum pada orang yang SAKIT, maka ia akan SEMBUH dengan izin Allah SWT. Bila penyakit fisik dan metafisik yang tergolong ringan cukup baca Surah Al-Fatihah sebanyak 40 kali dan tiupkan ke piring berisi air dan air itu diusap-usapkan pada kedua belah tangan, kedua belah kaki, muka, kepala dan seluruh badan, lalu diminum, Insya Allah menjadi sembuh.

HILANGKAN SAKIT GIGI

Untuk dirinya sendiri caranya sbb: sediakan air yang dicampur garam lalu membaca Al-Fatihah dan berdoa sebanyak 7 kali: “Duh Gusti Allah, kulo nyuwun panjenengan ilangke loro bala bencono soko dongane Nabi-Mu ingkang al- Amin soko kersaning panjenengan”.

Selesai berdoa tiupkanlah ke air yang bercampur garam tersebut dan pakai untuk berkumur sekitar 3 menit lalu buang air tersebut. Insya allah sakit akan segera hilang.

HILANGKAN SIFAT PELUPA

Ikhtiar menghilangkan sifat pelupa Tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada piring putih dan suci lalu dihapuskan dengan air dan berikan minum pada orang yang pelupa, maka ia akan hilang sifat pelupanya dengan izin Allah SWT.

SEMUA HAJAT AKAN TERKABUL

Membaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali berturut-turut MENJELANG SHOLAT SUBUH kemudian memohon kepada Allah dengan doa sebagai berikut: INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAIAN AYYAQULA LAHU KUN (SAMPAIKAN HAJAT ANDA DENGAN BAHASA YANG ANDA MENGERTI) FAYAKUN. Insya Allah semua hajat anda akan dipenuhi oleh Allah SWT.

Pembuka Rezeki, Pangkat Derajat, Mudahkan Urusannya, Hilangkan Kesusahan, Barokah Dan Kemuliaan, Berwibawa, Berpangkat Luhur, Berpenghidupan Baik, Anak-Anak Terlindung Dari Kemudharatan Dan Kerusakan Serta Dianugerahkan Kebahagiaan. Baca Al-Fatihah sebanyak 20 kali setiap selesai sembahyang fardhu lima waktu.

DEMIKIAN SEDIKIT YANG BISA DISAMPAIKAN, DAN MASIH BANYAK LAGI SAMUDRA AL FATIHAH YANG BISA DISELAMI SEHINGGA KITA BISA MENDAPATKAN MANFAAT SECARA NYATA DAN MENCINTAI AL FATIHAH INI DENGAN SEPENUH HATI. TERIMA KASIH.

19 Desember 2025

11 Macam Istighfar Penghapus Dosa

11 Macam Istighfar Penghapus Dosa

Bacaan istighfar berbunyi Astagfirullahaladzim (أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ) yang artinya ‘Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung’.

Bacaan doa ini biasa dibaca saat zikir setelah shalat, sebagai bentuk pertobatan atas dosa yang telah dilakukan.

Kadang juga dibaca saat tak sengaja berbuat dosa atau melihat orang lain melakukan dosa.

Beristighfar atau bertaubat haruslah dibarengi dengan niat untuk berubah menjadi lebih taat kepada ketentuan Allah SWT serta tidak lagi mengulangi dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.

Bacaan Istighfar ada Dua: Astagfirullah dan Astagfirullahaladzim, Apa Bedanya..?

Bacaan istighfar yang sering diucapkan adalah Astaghfirullah dan Astaghfirullahal adzim. Perbedaan Astagfirullah dan Astagfirullahaladzim adalah: yang pertama memohon ampun dengan menyebut nama Allah, sedangkan yang kedua memohon ampun kepada Allah dengan menyebut sifat-Nya yang Maha Agung.

Meski begitu, keduanya memiliki maksud dan tujuan yang sama, yakni memohon ampunan kepada Allah SWT.

Bila diartikan, Astaghfirullah bermakna “Saya memohon ampunan kepada Allah”, sedangkan Astaghfirullahal azhiim memiliki makna “Saya memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung”.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Membaca Istighfar..?

Sebenarnya, bacaan istigfar bisa dibaca kapan pun. Saat merasa melakukan hal yang salah, merasa lemah dan ingin dikuatkan, atau sedang menyaksikan kemungkaran. Namun, waktu terbaik membaca istigfar adalah ketika sedang melakukan zikir pagi dan petang, yaitu setelah salat Subuh dan Magrib.

Karena waktu ketika matahari terbit, kita mohon ampun atas dosa yang dilakukan saat malam dan ketika petang kita memohon ampun atas dosa yang dilakukan sepanjang hari.

Dalam Hadits Riwayat Bukhari No.6306 disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barangsiapa membacanya di waktu siang dengan keyakinan lalu mati di hari itu sebelum sore tiba, maka ia termasuk ahli syurga. Dan barangsiapa mengucapkannya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu ia mati sebelum subuh tiba, maka ia termasuk ahli syurga.”(HR. Bukhari no. 6306)
Apa Saja Bacaan Istighfar..?

Ada bacaan istighfar yang bisa dibaca oleh umat Muslim, sebagaimana diriwayatkan di dalam berbagai hadis. Berikut ini jenis bacaan istigfar dan artinya:

1. Bacaan Istighfar Singkat

Bacaan istighfar singkat ini biasa dibaca oleh Rasulullah SAW sebanyak tiga kali setelah shalat. Bacaannya adalah sebagai berikut:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهُ

“Astaghfirullah”


Dalam bahasa Arab, bacaan astagfirullah artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Atau, Anda juga dapat membaca yang lebih panjang lagi yakni:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ

“Astaghfirullahal ‘azhiim”

Artinya:“Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung.”


2. Istighfar Penghapus Dosa Sebanyak Buih di Lautan

Diriwayatkan Imam Abu Daud ada sebuah bacaan istighfar yang dapat dibaca untuk menghapus dosa sebanyak buih di lautan. Berikut bacaan istighfar tersebut:

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الَّذِيْ لٓا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Astaghfirullah alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaih”

Artinya:“Aku memohon ampun kepada Allah. Yang tidak ada ilah kecuali Dia yang Maha Hidup lagi terus menerus Mengurus makhluknya. Dan aku bertaubat kepada-Nya.”


3. Bacaan Istighfar Yang Sering Dibaca oleh Rasulullah SAW

Aisyah menyebut dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim ada satu bacaan istighfar yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW, termasuk pada saat Fathu Makkah yakni sebagai berikut:

سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللّٰهِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

“Subhaanallahi wabihamdih astaghfirullah wa atuubu ilaih”

Artinya:“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”


4. Sayyidul Istighfar

Bacaan sayyidul istighfar memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah bersabda barangsiapa yang membacanya dengan yakin, kemudian ia meninggal pada hari itu, maka ia termasuk seorang penghuni surga.

Berikut sayyidul istighfar dan artinya:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لٓا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtnii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta”

Artinya:“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha semampuku untuk selalu berada dalam pemeliharaan dan janji-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari akibat buruk perbuatanku, Aku akui nikmat-Mu atas diriku dan aku juga mengakui betapa besarnya kesalahanku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.”


5. Istighfar Nabi Adam As

Dalam perjalanan hidupnya Nabi Adam pernah melakukan kesalahan dan melanggar ketentuan Allah SWT. Berikut in bacaan istigfar Nabi Adam As yang diucapkannya.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Robbana dholamna anfusana, wa illam taghfir lana wa tarhamna, lanakuunanna minal khasirin”

Artinya:“Wahai Pemelihara kami, sesungguhnya kami telah berbuat dhalim terhadap diri-diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.”


6. Istighfar Saat Shalat Sebelum Salam

Bacaan Istigfar ini diucapkan sesaat sebelum salam dan setelah shalat malam, tepat pada tahiyat akhir.

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Allahumma inni dhalamtu nafsi dhulman katsira, wala yaghfirudz dzunuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min indik, warhamnii innaka antal ghafurur rahiim.”

Artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku telah dhalim kepada diriku dengan kedhaliman yang banyak dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

7. Istighfar Nabi Muhammad SAW sebelum Wafat

Berdzikir adalah kebiasaan Nabi SAW setelah penaklukkan Mekkah.

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Subhanallahi wabihamdih, astaghfirullaha wa atuubu ilaih.”

Artinya:“Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

8. Istighfar Nabi Yunus untuk Memohon Pertolongan dan Ampunan

Selanjutnya ada bacaan istighfar Nabi Yunus yang dipanjatkannya saat berada di dalam perut ikan paus. Tujuan beliau memanjatkan istigfar ini adalah untuk memohon ampun kepada Allah, berserah diri, dan diberikan pertolongan. Anda dapat memanjatkan bacaan satu ini untuk dapat membuka pintu pertolongan dan ampunan Allah SWT. Berikut bacaannya:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

“La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu mina azh-zhalimin“

Artinya:“Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim”

9. Istighfar untuk Taubat dan Mohon Ampun dari Segala Dosa
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaabur rahiim”

Artinya:“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”

10. Doa Istighfar Kaffaratul Majlis

Istigfar dalam Kaffaratul Majlis adalah doa kaffarat al-majlis (penutup majelis) yang dianjurkan untuk dibaca di akhir suatu pertemuan atau majelis sebagai penutup dan untuk menghapus kesalahan yang mungkin terjadi selama majelis berlangsung.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanaka allahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaika”

Artinya:“Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

11. Bacaan Istighfar Nabi Ibrahim
رَبَّنَا ٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Rabbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatan muslimatan laka wa arinaa manaasikanaa watub ‘alainaa innaka antat tawwaabur rahiim.”

Artinya:“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucuk kami umat yang tunduk pada Engkau. Tunjukkan kami tempat ibadah haji dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Apa Saja Keutamaan Bacaan Istighfar..?

Rasulullah SAW membaca istighfar sebanyak minimal 70 kali dalam satu hari, padahal dosa-dosanya telah diampuni seluruhnya oleh Allah SWT. Maka dari itu, istighfar disunahkan untuk selalu dibaca setiap harinya, karena selain menghapus dosa, istighfar juga memiliki banyak keutamaan lainnya.

Apa saja keutamaan membaca bacaan istighfar? Ini dia di antaranya:
1. Keutamaan Istighfar yakni Mendapat Ampunan

Barangsiapa yang sungguh-sungguh memohon ampun kepada-Nya atas segala dosa-dosa yang ia perbuat, baik dosa yang kecil maupun yang besar sekalipun, maka ia akan mendapatkan ampunan-Nya.

Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Menurut hadits, Allah SWT pun akan mengampuni dosa sebanyak dan sebesar apa pun, meski setinggi awan di langit atau sebanyak buih di lautan.

2. Membuka Pintu Rezeki

Tertulis dalam Al-Quran, bahwa Allah membukakan pintu rezeki bagi orang yang banyak membaca istighfar. Allah akan memberikan kemakmuran dan kemudahan rezeki bagi mereka yang beristighfar.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“…dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”(QS. Nuh: 12)

3. Keutamaan Istighfar adalah Mendapat Keberuntungan

Mengutip dari hadis riwayat Ibnu Majah, umat muslim yang senantiasa memabca kalimat thayyibah untuk beristighfar akan mendapatkan banyak keberuntungan, terutama keberuntungan di akhirat kelak.

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِى صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Artinya:“Beruntunglah orang yang di dalam catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.”(HR. Ibnu Majah)

4. Diberi Kekuatan

Dalam QS. Hud ayat 52, orang yang banyak beristighfar akan diberikan kekuatan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, jika merasa lemah dan menghadapi kesulitan, maka hendaknya memperbanyak bacaan istighfar.

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Artinya:“Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

5. Keutamaan Istighfar adalah Mendapat Rahmat Allah

Dalam surat An-Naml ayat 46, dijelaskan bahwa seseorang yang banyak beristighfar akan dirahmati oleh Allah SWT, seperti doa dari Nabi Salih AS.

قَالَ يَاقَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya:Dia (Shalih) berkata, “Hai kaumku, mengapa kalian meminta disegerakan suatu keburukan sebelum kebaikan? Mengapakah kalian tidak memohon ampun kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.”(QS An-Naml : 46)

6. Bahagia

Menurut hadits riwayat Baihaqi, di hari yaumul hisab dimana semua orang mendapatkan catatan amalnya, orang-orang yang banyak beristighfar akan merasa gembira atau bahagia. Hal ini dikarenakan catatan amalnya berisi banyak kebaikan dari istighfar yang dibacanya.

7. Dikabulkan Doanya

Keutamaan bacaan istighfar lainnya adalah terkabulnya sebuah doa. Terhalang untuk dikabulkannya sebuah doa disebabkan oleh dosa, sementara istighfar akan menghapuskan dosa-dosa tersebut.

8. Hujan dan Keberkahan Langit

Istighfar dapat mendatangkan berkat dari langit yakni hujan. Hal ini juga tertulis dalam surat Nuh.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

Artinya:“…maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”(QS. Nuh: 10-11)

Dalam tafsir Ibnu Katsir Rahimahullan, jika suatu kaum hendak melakukan shalat Istisqa atau meminta hujan, maka sebaiknya membaca Surat Nuh.

9. Keberkahan Bumi

Selain berkat dari langit berupa hujan, istighfar memiliki keutamaan yakni mendapatkan keberkahan dari bumi. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika seseorang bertaubat meminta ampun kepada Allah dan memohon ampun serta taat kepada-Nya, maka akan ditumbuhkan keberkahan bumi. Bumi akan menjadi subur untuk menumbuhkan tanaman dan menyuburkan air susu ternak yang memberi banyak harta. Dijadikan pula kebun yang terdapat macam buah-buahan dan dibelahkan sungai-sungai mengalir di tengahnya.

10. Keutamaan Istighfar untuk Mendapat Keturunan

Keutamaan istighfar membuka pintu rezeki bukan hanya dalam bentuk harta, melainkan juga keturunan. Oleh karena itu, mereka yang mendambakan datangnya keturunan maka hendaknya beristighfar. Dalam hadis, ketika datang seseorang kepada Hasan Al Basri mengadu sudah lama menikah namun tak memiliki anak, Hasan Al Basri memberi nasihat untuk beristighfar karena keutamaannya ini.

11 Desember 2025

Mengenal 7 Raja Penguasa 7 Hari

Mengenal 7 Raja Penguasa 7 Hari

Dalam khazanah kitab hikmah klasik, khususnya yang beraliran Maghribiyyah (seperti karya-karya Imam Ahmad Al-Buni dalam Shams al-Ma'arif al-Kubra atau Manba' Usul al-Hikmah), tatanan kosmologi spiritual sangat terstruktur. Setiap hari dalam seminggu berada di bawah naungan planet (kawkab), diperintah oleh Malaikat Ruhani (Golongan Atas/Samawi), dan dilayani oleh Raja Jin (Golongan Bawah/Ardhi).

Berikut adalah penjelasan detail dan lengkap mengenai 7 Raja Jin dan 7 Malaikat Ruhaniyah penguasa hari, beserta kelebihan, wewenang, dan pasukan mereka menurut manuskrip hikmah Maghribiyyah.

1. Hari Ahad (Minggu)
  • Planet (Kawkab): Asy-Syams (Matahari).
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Ruqaya'il (رقياييل)
  • Raja Jin (Ardhi): Al-Mudhib (المذهب) - Julukannya "Abu 'Abdallah Sa'id"
  • Warna Khas: Kuning Emas.
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Al-Mudhib memiliki kekuasaan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kewibawaan agung, menundukkan hati para pemimpin atau raja, serta mendatangkan rezeki yang bersifat emas/harta karun. Ia juga ahli dalam Mahabbah (pengasihan) tingkat tinggi dan membungkam lisan musuh. Dalam ilmu kimia kuno (simia), ia dikaitkan dengan transmutasi logam menjadi emas.
  • Pasukan: Disebutkan dalam kitab Al-Ajnas, Al-Mudhib memerintah lebih dari 360 kabilah (suku) jin. Setiap kabilah terdiri dari 100.000 pasukan marid (jin pembangkang yang kuat) yang tunduk mutlak padanya. Pasukannya sering menampakkan diri dengan atribut berwarna kuning atau keemasan.
2. Hari Itsnain (Senin)
  • Planet (Kawkab): Al-Qamar (Bulan)
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Jibra'il (جبرئيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Murrah (مرة) - Julukannya "Abu al-Harith" atau "Abu al-Nur"
  • Warna Khas: Putih Perak
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Murrah memiliki wewenang dalam urusan yang berkaitan dengan air, penyembuhan penyakit (terutama penyakit gila atau sihir), keselamatan dalam perjalanan laut, dan kabar berita (kasyf). Ia juga sangat kuat dalam hal Talfiq (mendamaikan dua orang yang berselisih) dan urusan kasih sayang yang lembut. Karena sifat bulan yang berubah-ubah, ia juga menguasai ilmu halimunan (menghilang).
  • Pasukan: Raja Murrah memimpin pasukan jin yang mayoritas berwarna putih. Ia membawahi para jin penghuni awan dan udara. Jumlah pasukannya sangat besar, digambarkan "memenuhi ufuk timur dan barat" ketika dipanggil dengan Qasam yang benar. Pasukannya dikenal sangat cepat dalam membawa kabar.
3. Hari Tsulatsa (Selasa)
  • Planet (Kawkab): Al-Marrikh (Mars)
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Samsama'il (سمسمائيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Al-Ahmar (الأحمر) - Julukannya "Abu Ya'qub" atau "Abu Muhriz"
  • Warna Khas: Merah Darah
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Sesuai dengan sifat Mars yang panas, Al-Ahmar berkuasa atas hal-hal yang berkaitan dengan darah, peperangan, keberanian, dan kehancuran (Tadmir). Ia dipanggil untuk membuat musuh sakit (pendarahan), mencerai-beraikan persekutuan zalim, atau sebaliknya, menghentikan pendarahan hebat. Ia sangat ditakuti karena sifatnya yang keras dan temperamental.
  • Pasukan: Ia memimpin bala tentara jin yang dikenal sebagai Bani Al-Ahmar. Pasukannya sangat beringas dan kuat secara fisik. Disebutkan ia memiliki 70 panglima perang utama, di mana setiap panglima membawahi 70.000 pasukan yang siap menghancurkan target spiritual.
4. Hari Arba'a (Rabu)
  • Planet (Kawkab): 'Utarid (Merkurius)
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Mika'il (ميكائيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Barqan (برقان) - Julukannya "Abu al-'Aja'ib" (Bapak Keajaiban)
  • Warna Khas: Biru Langit atau Campuran.
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Barqan adalah raja yang cerdas, menguasai ilmu pengetahuan, logika, penulisan, dan angka. Ia sering dipanggil untuk membantu dalam ilmu hikmah, membuka rahasia alam, meningkatkan kecerdasan, dan memenangkan perdebatan. Ia juga menguasai tipu muslihat dan kecepatan (seperti merkurius).
  • Pasukan: Barqan adalah satu-satunya raja yang disebutkan secara spesifik memimpin dua golongan besar jin: Golongan Muslim dan Golongan Yahudi/Nasrani. Ia memiliki kekuasaan atas jin-jin yang ahli dalam teknologi atau pembuatan alat-alat ajaib. Jumlah pasukannya tidak terhitung, namun ia memiliki 4 menteri utama yang mengatur urusan pasukannya.
5. Hari Khamis (Kamis)
  • Planet (Kawkab): Al-Musytari (Jupiter)
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Sarfaya'il (صرفيائيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Syamhurisy (shamhurish) - Julukannya "Abu al-Walid"
  • Warna Khas: Putih Bersih atau Ungu
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Syamhurisy dikenal sebagai "Qadhi al-Jinn" (Hakimnya para Jin). Ia sangat bijaksana, adil, dan religius (Muslim yang taat). Kekuasaannya meliputi urusan kehakiman, membebaskan tawanan, mendatangkan rezeki dari arah tak disangka, menaikkan derajat/pangkat, dan segala hal yang berkaitan dengan kemuliaan agama. Konon, di masa sekarang wewenangnya sering diwakilkan kepada penggantinya (Raja Mutawakkil) karena Syamhurisy sering berkhalwat (menyepi) atau menurut sebagian riwayat, telah wafat.
  • Pasukan: Ia memimpin pasukan jin Muslim yang sangat taat. Pasukannya tidak akan bergerak untuk hal-hal yang melanggar syariat. Ia membawahi 49 kabilah jin mukmin, di mana para pemimpin kabilahnya adalah ulama di kalangan jin.
6. Hari Jumu'ah (Jumat)
  • Planet (Kawkab): Az-Zuhrah (Venus)
  • Malaikat Ruhani (Samawi): 'Anya'il (عنيائيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Zawba'ah (زوبعة) - Julukannya "Abu al-Hasan"
  • Warna Khas: Putih Kehijauan atau Hijau
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Sesuai sifat Venus, Zawba'ah menguasai urusan cinta, kegembiraan, musik, seni, dan pernikahan. Ia dipanggil untuk Mahabbah umum dan khusus, menyatukan suami istri, mendatangkan pelanggan (pelaris), dan segala hal yang bersifat hiburan atau kenikmatan duniawi. Ia juga memiliki akses kepada jin-jin perempuan (Awanid) yang cantik jelita.
  • Pasukan: Zawba'ah memimpin para jin yang tinggal di tempat-tempat yang asri dan indah. Ia memiliki 4 panglima dari 4 penjuru angin. Pasukannya dikenal sangat banyak jumlahnya, terutama dari golongan jin yang suka berpesta dan bermusik. Disebutkan setiap panglimanya membawahi 400.000 pasukan.
7. Hari Sabt (Sabtu)
  • Planet (Kawkab): Zuhal (Saturnus).
  • Malaikat Ruhani (Samawi): Kasfaya'il (كسفيائيل)
  • Raja Jin (Ardhi): Maymun (ميمون) - Julukannya "Abu Nukh"
  • Warna Khas: Hitam atau Biru Gelap
  • Kelebihan dan Wewenang (Tasrif): Raja Maymun (khususnya Maymun Abu Nukh) adalah raja yang sangat kuat, ditakuti, dan keras. Ia berkuasa atas hal-hal yang berat seperti menghancurkan bangunan, membuat sakit musuh, mengikat lidah (Iqdul Lisan), dan membuka harta karun yang tertimbun di dalam bumi (karena sifat Saturnus yang lambat dan berat). Ia juga sering dikaitkan dengan Tarhil (mengusir penghuni rumah/jin jahat).
  • Pasukan: Maymun memimpin bala tentara hitam. Ia memiliki 7 menteri yang sangat kejam terhadap jin-jin pembangkang. Pasukannya adalah yang terkuat secara fisik dalam hal mengangkat beban berat (mirip Ifrit). Ia membawahi golongan jin penggali tanah dan penghuni sumur tua.
Catatan Penting Mengenai Hierarki Dalam Kitab Hikmah Maghribiyyah, hierarkinya bekerja sebagai berikut:
  • 1. Allah SWT (Sumber segala kekuatan).
  • 2. Malaikat Ruhaniyah (Pengawas Mutlak): Raja Jin tidak akan bergerak kecuali dengan izin atau "cambuk" dari Malaikat Ruhaniyah hari tersebut. Oleh karena itu, dalam praktik Riyadhah atau Qasam, seorang praktisi (Hukama) biasanya menyeru Malaikat Ruhaniyah terlebih dahulu untuk menekan Raja Jin agar taat.
  • 3. Raja Jin (Al-Muluk Al-Sab'ah): Pelaksana perintah di alam fisik/gaib bawah.
  • 4. Khadam/A'wan: Pasukan bawahan yang mengerjakan tugas detail di lapangan.
  • Peringatan: Pengetahuan ini adalah bagian dari Khazanah Turats (warisan kuno). Mempraktikkannya tanpa guru yang bersanad (Ijazah) dan tanpa pemahaman bahasa Arab serta tata cara Khalwat yang benar sangat berbahaya secara mental dan spiritual.

    Dalam tradisi Hikmah Maghribiyyah (seperti yang tertuang dalam Shams al-Ma’arif atau Manba’ Usul al-Hikmah), penggunaan bukhur (dupa) dan warna pakaian bukanlah sekadar estetika. Ini adalah bagian dari hukum kesesuaian (Qanun al-Munasabat).

    Aroma bukhur berfungsi sebagai "makanan" bagi ruhaniyyah sekaligus menyamakan frekuensi energi, sedangkan warna pakaian berfungsi untuk menarik khasusiyat (karakteristik) dari planet yang menaungi hari tersebut.

Berikut adalah rincian lengkap bukhur dan pakaian untuk Riyadhah 7 Raja Jin:

1. Hari Ahad (Minggu) - Raja Al-Mudhib
  • Planet: Matahari (Syams)
  • Bukhur (Dupa): Utama: Sandal Surkh (Cendana Merah) dan Sandal Abyad (Cendana Putih).
  • Pendukung: Misk (Kasturi) murni dan ‘Ud (Gaharu). Aroma harus bersifat wangi, kering, dan mewah.
  • Pakaian (Libas): Warna Kuning (seperti warna emas) atau Kuning Gading.
  • Bahan yang disarankan adalah sutra (jika memungkinkan secara syariat) atau katun halus yang bersih.
  • Catatan: Hindari pakaian berwarna hitam atau biru gelap karena bertentangan dengan sifat Matahari yang terang.
2. Hari Itsnain (Senin) - Raja Murrah
  • Planet: Bulan (Qamar)
  • Bukhur (Dupa): Utama: Luban Dzakkar (Kemenyan Arab/Frankincense) kualitas super (yang bening kekuningan).
  • Pendukung: Mastaka (Mastic Gum) dan biji Kusbarah (Ketumbar - sering digunakan dalam pemanggilan yang bersifat jalb atau menarik).
  • Pakaian (Libas): Warna Putih bersih.
  • Pakaian harus sangat bersih, karena Raja Murrah sangat menyukai kebersihan dan cahaya yang lembut. Sorban putih sangat dianjurkan.
3. Hari Tsulatsa (Selasa) - Raja Al-Ahmar
  • Planet: Mars (Al-Marrikh)
  • Bukhur (Dupa): Utama: Sandal Ahmar (Cendana Merah) dan Qist (Kayu Qusthul Hindi).
  • Pendukung: Terkadang menggunakan campuran Falful (Lada) atau Zanjabil (Jahe) kering untuk menambah elemen "panas".
  • Pakaian (Libas): Warna Merah darah atau Merah terang.
  • Dalam beberapa riwayat Maghribi, praktisi juga mengenakan cincin dengan batu akik merah atau tembaga merah saat berhadapan dengan khadam hari Selasa.
4. Hari Arba'a (Rabu) - Raja Barqan
  • Planet: Merkurius (Utarid)
  • Bukhur (Dupa): Utama: Muql Azraq (Mukil Biru/Commiphora mukul) dan Jawi (Benzoin/Kemenyan Jawa).
  • Pendukung: Amber (Ambar) atau campuran serbuk-serbuk wangi yang ringan sifatnya.
  • Pakaian (Libas): Warna Biru Langit, Biru Laut, atau pakaian bermotif/belang (campuran berbagai warna).
  • Karena 'Utarid bersifat "Imtizaj" (bercampur), pakaian yang memiliki kombinasi warna (misalnya lurik atau tenun multi-warna) sangat disukai oleh Raja Barqan.
5. Hari Khamis (Kamis) - Raja Syamhurisy
  • Planet: Jupiter (Al-Musytari)
  • Bukhūr (Dupa): Utama: ‘Ud (Gaharu) kualitas tinggi dan Za’faran (Saffron).
  • Pendukung: Sandal (Cendana) dan Mastaka. Aroma harus sangat wangi, menenangkan, dan berwibawa selayaknya menghadap seorang hakim agung.
  • Pakaian (Libas): Warna Putih (paling utama karena kesalehannya) atau Hijau (warna surga/kemuliaan).
  • Pakaian harus sangat sopan, seperti jubah ulama, karena Syamhurisy adalah Raja yang sangat alim dan pemalu.
6. Hari Jumu'ah (Jumat) - Raja Zawba'ah
  • Planet: Venus (Az-Zuhrah)
  • Bukhur (Dupa): Utama: Qaranful (Cengkeh) dan Mastaka.
  • Pendukung: Misk (Kasturi) dan Sandal. Segala jenis bukhur yang baunya manis dan membangkitkan kegembiraan hati.
  • Pakaian (Libas): Warna Hijau muda atau Putih.
  • Disarankan menggunakan wewangian (parfum non-alkohol) yang kuat di badan, karena Raja Zawba'ah sangat menyukai keindahan dan aroma tubuh yang wangi.
7. Hari Sabt (Sabtu) - Raja Maymun
  • Planet: Saturnus (Zuhal)
  • Bukhur (Dupa): Utama: May'ah Sailah (Liquid Storax/Getah Rasamala cair) dan Hiltit (Asafoetida - baunya agak menyengat).
  • Pendukung: Murr (Myrrh) atau getah-getah pohon yang baunya pahit/berat. Ini sesuai dengan sifat Saturnus yang dingin dan kering.
  • Pakaian (Libas): Warna Hitam, Biru Dongker (Gelap), atau warna tanah gelap.
  • Seringkali praktisi menggunakan kain penutup kepala (imam/sorban) berwarna hitam legam saat melakukan riyadhah ini.
Tips Penting Dari penerjemah "Ashadi" (Penerjemah/Praktisi):
  • 1. Kualitas adalah Kunci: Dalam kitab klasik sering disebutkan "Bukhur dzu ra'ihah tayyibah" (dupa yang baunya wangi/bagus). Jangan menggunakan dupa kimia/sintetis. Ruhaniyyah golongan atas (Raja) sangat sensitif terhadap bau yang palsu atau busuk (kecuali untuk amalan syarr yang menggunakan bukhur dzū rā'ihah karihah, namun ini tidak disarankan).
  • 2. Tahsin (Benteng): Sebelum membakar bukhur pemanggilan, pastikan sudah melakukan Tahsin (pagar diri) dan Ishraf al-'Ummar (mengusir jin penghuni lokal sementara), agar asap bukhur tersebut murni sampai kepada Raja yang dituju dan tidak "dimakan" oleh jin-jin liar di sekitar tempat ritual.
  • 3. Kombinasi: Untuk hasil maksimal, kitab Maghribiyyah menganjurkan mencampur bukhur utama dengan Ketumbar (Kusbarah) saat membaca Qasam (Sumpah), karena ketumbar memiliki sifat mempercepat kedatangan khadam (Isra').

10 Desember 2025

Pentingnya Dzikir Khofi

PENTINGNYA DZIKIR KHOFI MUSIBAH TERBESAR DALAM MENGHADAPI SAKARATUL MAUT

PENTINGNYA DZIKIR KHOFI MUSIBAH TERBESAR DALAM MENGHADAPI SAKARATUL MAUT

Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah, rasa haus yang tidak tertahankan sehingga seolah-olah membakar hati, tidak hanya rasa haus secara fisik, tetapi bisa juga yang bersifat ghaib. Mungkin orang-orang yang menjaga di sekitarnya telah memberinya minuman, tetapi rasa haus tidak serta-merta hilang.

Dalam keadaan seperti inilah biasanya syaitan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum muslimin, terlebih kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Pada puncak kehausan yang seolah tidak tertahankan itu, syaitan akan datang dengan membawa satu gelas minuman yang sangat segar, dan ia berdiri di sisi kepala seorang mukmin. Sang mukmin yang tidak menyadari kalau ia adalah syaitan, akan berkata, Berilah aku air itu. Syaitan berkata, Baiklah, tetapi katakan terlebih dahulu bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan, maka aku akan memberikan air ini kepadamu.

Dalam riwayat lain disebutkan, syaitan akan berkata, Tinggalkanlah agamamu ini, dan katakan bahwa Tuhan itu ada dua, maka engkau akan selamat dari kepedihan sakaratul maut ini. Jika ia mempunyai keimanan yang cukup kokoh, ia akan menyadari kalau sosok pembawa air itu adalah syaitan, maka ia akan berpaling.

Tetapi syaitan tidak berhenti dan putus asa, ia akan berdiri di arah kakinya dengan penampilan yang lain, masih dengan membawa minuman yang amat segar menggoda. Sang mukmin yang masih dilanda kehausan akan berkata kepadanya, Berilah aku minuman itu.

Syaitan dalam penampilan lain itu berkata, Baiklah, tetapi katakanlah bahwa Muhammad Saw itu adalah seorang pendusta, maka aku akan memberikan air ini kepadamu. Setelah mendengar jawaban seperti itu, sang mukmin akan menyadari kalau syaitan tidak akan berhenti menggodanya hingga terlepas imannya.

Maka ia akan bersabar dalam kehausan yang seakan membakar hati itu dan tidak akan meminta lagi. Ia akan menyibukkan diri dengan dzikir mengingat Alloh SWT dan memohon pertolongan dan keselamatan dari sisi-Nya. Disinilah pentingnya kita belajar dzikir dari sekarang, agar lisan dan hati kita terbiasa dengan dzikir mengingat Alloh, dan juga menjadi senjata dalam menghadapi musibah terbesar dikala sakaratul maut.

Ada satu kisah tentang seorang guru dan ulama yang sangat zuhud yang bernama yang mulia Abu Zakaria, ketika beliau sedang sakaratul beberapa orang sahabat dan muridnya menunggui beliau. Ketika Abu Zakaria tampak dalam kepayahan, seorang sahabatnya mengajarkan kalimat thoyyibah, Katakanlah : Laa ilaaha illallaah.

Tetapi diluar dugaan, Abu Zakaria memalingkan wajahnya. Sahabat di sisi lainnya juga berkata, Katakanlah Laa ilaaha illallaah.

Lagi-lagi Abu Zakaria memalingkan wajah, bahkan ketika untuk ke tiga kalinya mereka memintanya membaca kalimat Thoyyibah, Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.

Setelah itu ia jatuh pingsan. Para sahabat dan murid-muridnya menangis sedih melihat keadaan itu, sungguh mereka tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi kepada gurunya.

Tetapi satu jam kemudian yang mulia Abu Zakaria siuman dalam keadaan yang lebih segar. Ia berkata kepada sahabatnya, Apakah tadi kalian mengucapkan sesuatu kepadaku..?

Benar, tiga kali kami meminta engkau membaca syahadat, tetapi dua kali engkau berpaling dan ke tiga kalinya engkau berkata : Aku tidak akan mengucapkannya. Karena itulah kami jadi bersedih. Abu Zakaria berkata, Sikap dan perkataanku itu bukanlah kutujukan kepada kalian.

Kemudian Abu Zakaria menceritakan kalau Iblis telah mendatanginya dengan membawa semangkuk air yang tampak sangat segar, sementara ia merasa sangat hausnya.

Iblis berdiri di sisi kanannya sambil menggerakkan mangkuknya sehingga kesegaran air itu makin menggoda, dan berkata, Tidakkah engkau membutuhkan air...?

Ia tidak menjawab, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haus, dan tertariknya dengan kesegaran air itu, maka iblis berkata lagi, Katakanlah bahwa Isa adalah anak Allah.

Abu Zakaria berpaling dari iblis, yang saat itu bersamaan dengan sahabatnya yang meminta ia mengucap kalimat thoyyibah untuk pertama kalinya.

Tetapi iblis masih menghampiri dari arah yang lain, dan berdiri di dekat kakinya sambil mengatakan seperti sebelumnya. Maka ia berpaling lagi, yang bersamaan dengan sahabatnya yang memintanya membaca kalimat Thoyyibah untuk ke dua kalinya.

Belum putus asa juga, iblis menghampiri lebih dekat dengan bujuk rayunya yang memikat, mengiming-iminginya dengan minuman yang begitu segarnya, sambil berkata, Katakanlah bahwa Alloh itu tidak ada.

Maka dengan tegas Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengatakannya.

Saat yang bersamaan, sahabatnya sedang meminta dia mengucapkan kalimat thoyyibah itu untuk yang ke tiga kalinya.

Abu Zakaria mengakhiri penjelasannya, Seketika itu mangkok yang dibawa iblis jatuh dan pecah berantakan, kemudian ia lari terbirit-birit. Tetapi rasa haus itu begitu menggigit dan tidak tertahankan sehingga aku jatuh pingsan.

Jadi, sikap dan perkataanku itu bukan untuk kalian, tetapi untuk menolak iblis. Dan sekarang kalian saksikan semua Asyhadu An-laa ilaaha illollooh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosuulullooh. Setelah itu tubuh yang mulia Abu Zakaria melemah, dan ia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah.

Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Alloh SWT dan diwafatkan dengan Husnul khotimah disertai dengan mendapatkan cinta dan ridhonya Alloh SWT, dan mendapatkan syafaatnya yang mulia Baginda nabi Muhammad Saw dan barokah karomahnya para kekasih Alloh dan guru agung kita yang mulia pangersa Abah Anom, Aamiin