Pentingnya Dzikir Khofi - Perisai Mukmin Sejati Pentingnya Dzikir Khofi - Perisai Mukmin Sejati

10 Desember 2025

Pentingnya Dzikir Khofi

PENTINGNYA DZIKIR KHOFI MUSIBAH TERBESAR DALAM MENGHADAPI SAKARATUL MAUT

PENTINGNYA DZIKIR KHOFI MUSIBAH TERBESAR DALAM MENGHADAPI SAKARATUL MAUT

Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah, rasa haus yang tidak tertahankan sehingga seolah-olah membakar hati, tidak hanya rasa haus secara fisik, tetapi bisa juga yang bersifat ghaib. Mungkin orang-orang yang menjaga di sekitarnya telah memberinya minuman, tetapi rasa haus tidak serta-merta hilang.

Dalam keadaan seperti inilah biasanya syaitan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum muslimin, terlebih kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Pada puncak kehausan yang seolah tidak tertahankan itu, syaitan akan datang dengan membawa satu gelas minuman yang sangat segar, dan ia berdiri di sisi kepala seorang mukmin. Sang mukmin yang tidak menyadari kalau ia adalah syaitan, akan berkata, Berilah aku air itu. Syaitan berkata, Baiklah, tetapi katakan terlebih dahulu bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan, maka aku akan memberikan air ini kepadamu.

Dalam riwayat lain disebutkan, syaitan akan berkata, Tinggalkanlah agamamu ini, dan katakan bahwa Tuhan itu ada dua, maka engkau akan selamat dari kepedihan sakaratul maut ini. Jika ia mempunyai keimanan yang cukup kokoh, ia akan menyadari kalau sosok pembawa air itu adalah syaitan, maka ia akan berpaling.

Tetapi syaitan tidak berhenti dan putus asa, ia akan berdiri di arah kakinya dengan penampilan yang lain, masih dengan membawa minuman yang amat segar menggoda. Sang mukmin yang masih dilanda kehausan akan berkata kepadanya, Berilah aku minuman itu.

Syaitan dalam penampilan lain itu berkata, Baiklah, tetapi katakanlah bahwa Muhammad Saw itu adalah seorang pendusta, maka aku akan memberikan air ini kepadamu. Setelah mendengar jawaban seperti itu, sang mukmin akan menyadari kalau syaitan tidak akan berhenti menggodanya hingga terlepas imannya.

Maka ia akan bersabar dalam kehausan yang seakan membakar hati itu dan tidak akan meminta lagi. Ia akan menyibukkan diri dengan dzikir mengingat Alloh SWT dan memohon pertolongan dan keselamatan dari sisi-Nya. Disinilah pentingnya kita belajar dzikir dari sekarang, agar lisan dan hati kita terbiasa dengan dzikir mengingat Alloh, dan juga menjadi senjata dalam menghadapi musibah terbesar dikala sakaratul maut.

Ada satu kisah tentang seorang guru dan ulama yang sangat zuhud yang bernama yang mulia Abu Zakaria, ketika beliau sedang sakaratul beberapa orang sahabat dan muridnya menunggui beliau. Ketika Abu Zakaria tampak dalam kepayahan, seorang sahabatnya mengajarkan kalimat thoyyibah, Katakanlah : Laa ilaaha illallaah.

Tetapi diluar dugaan, Abu Zakaria memalingkan wajahnya. Sahabat di sisi lainnya juga berkata, Katakanlah Laa ilaaha illallaah.

Lagi-lagi Abu Zakaria memalingkan wajah, bahkan ketika untuk ke tiga kalinya mereka memintanya membaca kalimat Thoyyibah, Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu.

Setelah itu ia jatuh pingsan. Para sahabat dan murid-muridnya menangis sedih melihat keadaan itu, sungguh mereka tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi kepada gurunya.

Tetapi satu jam kemudian yang mulia Abu Zakaria siuman dalam keadaan yang lebih segar. Ia berkata kepada sahabatnya, Apakah tadi kalian mengucapkan sesuatu kepadaku..?

Benar, tiga kali kami meminta engkau membaca syahadat, tetapi dua kali engkau berpaling dan ke tiga kalinya engkau berkata : Aku tidak akan mengucapkannya. Karena itulah kami jadi bersedih. Abu Zakaria berkata, Sikap dan perkataanku itu bukanlah kutujukan kepada kalian.

Kemudian Abu Zakaria menceritakan kalau Iblis telah mendatanginya dengan membawa semangkuk air yang tampak sangat segar, sementara ia merasa sangat hausnya.

Iblis berdiri di sisi kanannya sambil menggerakkan mangkuknya sehingga kesegaran air itu makin menggoda, dan berkata, Tidakkah engkau membutuhkan air...?

Ia tidak menjawab, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haus, dan tertariknya dengan kesegaran air itu, maka iblis berkata lagi, Katakanlah bahwa Isa adalah anak Allah.

Abu Zakaria berpaling dari iblis, yang saat itu bersamaan dengan sahabatnya yang meminta ia mengucap kalimat thoyyibah untuk pertama kalinya.

Tetapi iblis masih menghampiri dari arah yang lain, dan berdiri di dekat kakinya sambil mengatakan seperti sebelumnya. Maka ia berpaling lagi, yang bersamaan dengan sahabatnya yang memintanya membaca kalimat Thoyyibah untuk ke dua kalinya.

Belum putus asa juga, iblis menghampiri lebih dekat dengan bujuk rayunya yang memikat, mengiming-iminginya dengan minuman yang begitu segarnya, sambil berkata, Katakanlah bahwa Alloh itu tidak ada.

Maka dengan tegas Abu Zakaria berkata, Aku tidak akan mengatakannya.

Saat yang bersamaan, sahabatnya sedang meminta dia mengucapkan kalimat thoyyibah itu untuk yang ke tiga kalinya.

Abu Zakaria mengakhiri penjelasannya, Seketika itu mangkok yang dibawa iblis jatuh dan pecah berantakan, kemudian ia lari terbirit-birit. Tetapi rasa haus itu begitu menggigit dan tidak tertahankan sehingga aku jatuh pingsan.

Jadi, sikap dan perkataanku itu bukan untuk kalian, tetapi untuk menolak iblis. Dan sekarang kalian saksikan semua Asyhadu An-laa ilaaha illollooh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rosuulullooh. Setelah itu tubuh yang mulia Abu Zakaria melemah, dan ia meninggal dunia dalam keadaan husnul khotimah.

Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan Alloh SWT dan diwafatkan dengan Husnul khotimah disertai dengan mendapatkan cinta dan ridhonya Alloh SWT, dan mendapatkan syafaatnya yang mulia Baginda nabi Muhammad Saw dan barokah karomahnya para kekasih Alloh dan guru agung kita yang mulia pangersa Abah Anom, Aamiin

0 comments:

Posting Komentar