Sabtu, 02 Maret 2024

Keramat Shalawat Asyghil

Keramat Shalawat Asyghil
Cara memberikan pujian kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang selalu dilakukan oleh masyarakat khususnya di Indonesia diantaranya yakni membaca shalawat. Nah, diantara banyaknya shalawat yang populer di Nusantara yang sering dilantunkan yakni Shalawat Asyghil.

Shalawat Asyghil banyak dilantunkan oleh masyarakat Muslim Nusantara dalam kondisi tertentu. Akhir-akhir ini, shalawat tersebut mulai muncul kembali dan sangat terkenal di Bumi Nusantara. Bukan hanya terbatas dibaca oleh kalangan terbatas di Majelis-majelis Istighasah, tahlil saja, akan tetapi banyak juga di cover dan diupload pada YouTube baik oleh penyanyi religi maupun penyanyi rock sekalipun.

Belakangan shalawat ini begitu marak disenandungkan dalam berbagai acara keagamaan. Pada panggung-panggung PHBI dan tak terkecuali juga pada aksi-aksi unjuk rasa, shalawat Asyghil membumbung hingga merambah dinding-dinding langit. 

Munculnya Sholawat Asyghil berasal jauh pada masa akhir Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa tahun 41-133 H/ 661-750 M dan awal berdirinya Dinasti Bani Abbasiyyah. Pergantian tampuk kekuasaan menjadikan kehidupan politik, sosial bahkan keagamaan menjadi terguncang. Ketidak-stabilan politik berimbas kekacauan dimana-mana.

Pencetus Sholawat ini adalah adalah cucu urutan kelima Rasulullah SAW yaitu Jafar bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Al-Murtadlo suami dari Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah. Imam Jafar ini kemudian terkenal dengan Jafar Ash-Shadiq. Beliau merupakan induk sanad dari Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi) dan Imam Malik bin Anas (pendiri Madzhab Maliki).

Sanad Imam Syafii merujuk pula kepada Imam Malik bin Anas. Oleh karenanya, pencipta Sholawat ini merupakan induk keilmuan yang legitimate dalam dunia Islam. Selain seorang cucu Rasulullah, Imam Jafar Ash-Shadiq juga orang yang sangat berilmu.

Shalawat Asyghil dahulu tidak terlalu familiar dengan telingan orang-orang Islam di Nusantara, sampai beberapa waktu belakangan di populerkan dan di ijazahkan oleh Ulama-ulama Moderat.

Penelusuran tentang sholawat Asyghil ternyata tertulis dalam kitab Al-Kawakibul Mudhiah fi Ash-Shalati Ala Khairil Bariyyah atau dalam bahasa Indonesia bermakna “Gemintang Gemerlap dalam bershalawat kepada Sebaik-baiknya Kebaikan/ Rasulullah”.

Kitab ini merupakan karya tangan seorang Habib dari Tanah Tarim yaitu
Habib Ahmad bin Umar bin Ahmad bin Aqil bin Muhammad bin Abdullah bin Umar Al-Hinduan al-Baalawi.

Pengarangnya lebih terkenal dengan nama Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan. Habib yang tumbuh besar di Tarim Yaman, dan sering mengunjungi India untuk berdakwah di sana. Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan wafat pada tahun 1122 H dan di makamkan di Tarim Yaman.

Karakteristik Shalawat Asyghil
Shalawat Asyghil bermakna Shalawat untuk menyibukkan, atau mengalihkan. Kata (أَشْغِل) dalam bahasa Indonesia bermakna “Sibuk”. Maksud tujuannya adalah mengalihkan perhatian orang dzalim kepada orang-orang yang dzalim juga, jangan sampai menciderai orang-orang yang baik. Nisbat Sholawat ini kepada salah satu wali besar yang merupakan ulama beken di zamannya Sayyidina al-Imam al-Habib Ahmad Bin Umar al-Hinduan Al-Baalawi.

Shalawat ini sering dibaca oleh para Ulama nusantara dalam berbagai acara istighatsah (doa bersama) serta dibaca oleh masyarakat luas diberbagai masjid, mushalla dan majelis-majelis taklim.

Dengan wasilah perantara sholawat  ini, umat  Muslim selain memohonkan sholawat dan salam atas Nabi Muhammad  SAW, keluarga, dan sahabatnya, shalawat ini bertujuan meminta kepada Allah agar umat Islam diselamatkan dari kejahatan orang-orang yang dzalim. Wasilah merupakan sebuah kebiasaan dari masa ulama-ulama terdahulu, para salafus shaleh untuk doa segera terkabul.

Keadaan yang dihadapi oleh penulis Sholawat ini, Imam Jafar Ash-Shadiq, melatar belakangi penggunaan kata (الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ) karena beliau menjadi Incaran orang banyak.

Dzurriyah keturunan Rasulullah SAW memang memegang sebuah peran besar dalam sistem pemerintahan masa itu, oleh karenanya Imam Jafar Ash-Shadiq memohon pertolongan Allah melalui Sholawat  Asyghil agar terlepas dari jeratan masalah politik yang  pelik.

Beliau tidak ingin orang-orang yang baik atau masyarakat umum mendapat Imbas pertikaian politik para elit kerajaan. Dengan menggunakan redaksi (وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِينَ), diharapkan kekacauan segera berlalu dan menyelamatkan orang-orang baik dari kekacauan.

Ijazah Ulama Nusantara juga berkaitan dengan karakteristik kekacauan masa ini. Panasnya persaingan dalam politik menjadikan keterpecahan dalam masyarakat luas. Insya Allah dengan menggunakan wasilah perantara Shalawat Asyghil keterpecahan, kekacauan segera berlalu.

Kegunaan Shalawat Asyghil
Penciptaan shalawat Asyghil oleh Imam Jafar Ash-Shadiq menemukan momentum di kala kaum muslimin sedang dalam suasana genting. Imam Jafar Ash-Shadiq yang wafat 138 H, sendiri merupakan salah seorang tonggak keilmuan dan spiritualitas Islam di awal masa keemasan umat Islam.

Dalam pandangan Imam Jafar Ash-Shadiq, kekacauan politik jangan sampai mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat itu, ilmu pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati. Sehingga di setiap Qunut, beliau berdoa menggunakan Shalawat Asyghil.

Selain dikenal sebagai Shalawat Asyghil, shalawat ini juga ada yang menyebutnya dengan nama Sholawat Dhalimin, Sholawat Salimin, Sholawat Sibuk. Prof. KH. Ali Yafie berpendapat dalam menjawab pertanyaan terkait sholawat Asyghil.

Baginya, shalawat inilah yang digelorakan oleh ulama-ulama Sufi dunia Arab khususnya di Irak ketika negeri ini diserang oleh pasukan Mongol Hulagu Khan pada masa keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah pertengahan abad ke-13.

Dalam catatan sejarah menunjukan bahwa serangan tentara Mongol ke Irak menggunakan pasukan sebanyak 200 Ribu Pasuka pada tahun 1258 M. khalifah Abbasiyah terakhir, Al-Mutasim dipenggal kepalanya dan runtuhlah dinasti Abbasiyah. Istana yang dihancurkan, bangunan di Baghdad diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali beberapa orang saja yang selamat.

Buku-buku yang ada di perpustakaan Baghdad itu dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris atau sungai Dajlah, hingga konon air sungai berwarna hitam oleh tintanya. Secara garis besar Asia Tengah dikuasai Mongol dan tentara Islam sirna.

Keadaan kacau tersebut mendorong kaum Tassawuf bangkit untuk berjuang. Orang-orang Sufi ini mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Kerajaan Mamluk dari Mesir, hingga berhasil membendung perluasan kekuasaan Pasukan Mongol.

Mereka berhasil mengalahkan pasukan Mongol dalam pertempuran dahsyat yang dikenal sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.

Dinasti Ilkhan didirikan oeh Hulagu Khan setelah menghancurkan kekhalifahan Islam. Akan tetapi pada masa cucunya, Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3 dinasti tersebut, ia justru memeluk Islam meski hanya berkuasa selama dua tahun (1282-1284).

Pada era dinasti Ilkhan Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), beliau memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan, Islam mulai bangkit kembali. Posisi umat Islam mendapat ruang dakwah, dan peradaban Islam dikembangkan lagi.

Perjuangan para kaum Sufi dengan senjata Spiritual Sholawat Asyghil bisa menjadi contoh bagi kita bahwa Sholawat memiliki andil besar dalam membantu perjuangan. Sholawat mempunyai banyak kemuliaan dan keutamaan untuk kebaikan manusia. Ash-Shawabu Minallah

Teks Shalawat Asyghil
Sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Kawakibul Mudhiah fi Ash-Shalati Ala Khairil Bariyyah, teks shalawat Asyghil adalah sebagai berikut;

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْغِلِ الظَّالِمِينَ بِالظَّالِمِينَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَأَشْغِلِ الظَّالِمِينَ بِالظَّالِمِينَ
وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِينَ وَعلَى الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِين
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadin, Wa Asyghili Dzalimin bi Dzalimin
Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammadin, Wa Asyghili Dzalimin bi Dzalimin
Wa Akhrij-na min Bainihim Saalimin, wa Ala Aalihi wa shahbihi Ajmain

Pada puncak perayaan Satu Abad NU yang baru lalu, di stadion Delta Sidoarjo, shalawat ini pun gemuruh didendangkan oleh berjuta Nahdhiyyin. 

Semakin syahdu dan magis, karena yang memandu lantunan shalawat Asyghil tersebut adalah empat belia yang masing-masing mempunyai keistimewaan yang dikurniakan Allah Subhanahu wa ta'ala kepada mereka: Azzam Nur Mujizat, Majda, Yasmin Najma Faliha dan Sayyid Hasan Syauqi Alaydrus. 
Beribu ulama hadir pada acara tersebut, dengan khusyuk ikut merapal shalawat Asyghil. Tentu dengan kekhusyuan yang paripurna, sebab mereka paham arti dan sari pati dari shalawat Asyghil. 

Selain itu, hadir juga para pejabat di berbagai levelnya, mereka pun ikut larut dalam senandung shalawat Asyghil. Erick Thohir dan jajaran kabinet lainnya. Ada Gubernur Khofifah, Wapres Kiai Ma'ruf Amin hingga yang mulia Paduka Presiden Jokowi. 

Kita patut bergembira menyaksikan maraknya shalawat Asyghil disenandungkan dimana-mana. Sebab shalawat ini sesungguhnya adalah satu di antara senjata ampuh orang-orang yang terzholimi, untuk menghentikan kezaliman yang mereka alami. Para santri, para ustadz, para kiai dan alim serta muta'allim lainnya, tentu sangat paham tentang dahsyatnya isi shalawat Asyghil. 

Wa Asyghilizh zhalimin bizh-zhalimin - Sibukkanlah orang-orang zhalim itu dengan sesama mereka para penzhalim. 

Maksudnya, biarkan orang-orang zhalim itu sibuk bertikai sesama mereka. Para pembunuh biarkan saling tikam sesama pembunuh. Para perampok, biarkan saling jarah sesama perampok. Para penipu biarkan saling goro dan ngibul sesama penipu. 

Nah, rasa-rasanya gemuruh shalawat Asyghil sudah banyak yang diijabah Allah Subhanahu wa ta'ala. Sila saksikan banyak kejadian hukum belakangan ini, yang pelakunya mungkin tak pernah mengira bahwa mereka akan mengalami hal tersebut. 

Berikutnya peristiwa politik, naga-naganya pun sudah mulai banyak yang pecah sehingga menyebabkan pertikaian yang mulai menyala. Tinggal kita tunggu baranya, siapa yang terbakar dan siapa yang membakar. 

Kezaliman tidak akan pernah mengabadi, sebab ia adalah warisan nafsu yang luapannya berbatas waktu. Sadarlah! 

Wa Akhrijnaa min bainihim salimin- dan bebaskanlah kami dari cengkraman para penzhalim dalam keadaan selamat. 

Dengan segenap ketidak-berdayaan kita sebagai jelata, kita hanya bisa merintih kepada Allah. Agar Allah berkenan membebaskan kita dari kezaliman yang mendera. 

Semoga dengan berkah dan keramat shalawat Asyghil, tidak ada lagi di antara kita yang mengalami kezaliman yang berlarut. 

0 komentar:

Posting Komentar