Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh, menceritakan alkisah manaqib Wali Majedub tidak lepas dari kisah pendahulu kita.
Salah satu di antara manaqib itu adalah Sayyid Abdul Hamid bin Abdur-rasyid Bafaqih yang lahir di awal abad ke 20, di tanah Kaili (Palu-Sulteng), beliau biasa dipanggil Tuan Sayye Hamy atau Karaeng Hamy. (Karaeng adalah julukan bangsawan dari neneknya yang bangsawan).
Sayyid Hamid termasuk Habib wali majedub, kebiasaannya khariqul adah, tidak suka memakai alas kaki tapi kakinya bersih, songkoknya suka dibalik, dan seringkali melakukn hal unik.
Tahun 1961, beliau berjalan kaki 20 km dari kampung Sidondo ke kota Palu, waktu itu bertemulah dengan warga dijalan, warga bertanya, kenapa berjalan jauh Karaeng Sayye Hamy (julukannya), beliau menjawab, keponakanku Sayyid Muhammadin bin Mustafa Bafaqih (dini) nanti wafat, padahal di Palu disaat tersebut adik sepupunya belum wafat.
Tepat beliau datang wafatlah keponakannya yang masih usia balita itu, ada kejadian lain… petani yang lewat dihadapannya, langsung beliau bilang tidak lama lagi ente wafat cepat bersih-bersih, kebiasaannya suka begitu, selalu memprediksi kejadian yang akan dating, dan setiap berjalan kaki, beliau lebih dahulu sampai, dari orang yang berkendaraan.
Lalu pernah beliau berjalan kaki didekat tempat pengecoran lantai beton septic tank yang beratnya ratusan kilo, tiba-tiba tali pengikat beton coran putus dan beton coran itu jatuh menimpa kakinya, maka beliau memukul coran itu sambil membentak, bodoh kotor, coran beton itu langsung terbelah sementara kaki beliau tidak apa-apa (tidak terluka/tidak bengkak), orang-orang yang menyaksikan langsung bergumam ya Allah nakuya vesitu (ya Allah kenapa begitu?!).
Lalu pernah pula memancing di Sungai dalam, tapi dengan izin ALLAH, air sungai hanya sampai dibetis beliau sehingga beliau tidak tenggelam, dan orang-orang yang ikut di belakang beliau malah terhempas jatuh masuk ke dalam air, beliau bilang, makanya pegang tanganku…
Habib Abdul Hamid Bafagih dianggap sebagai penguasa muara Sungai Palu sebab semenjak beliau aktif memancing diwaktu masa tuanya tak ada satupun buaya muncul di Sungai Palu atau di Muara Palu karena buaya takut dengan kehadiran beliau yang selalu menyentuh buaya atau mengusirnya, dan kadang ngomong sendirian di Sungai seperti bercakap-cakap dengan sungai dan kehidupan di sekitar Sungai (alam).
Tahun 1968, sewaktu Habib Hamy sedang memancing di pantai Teluk Palu, tiba-tiba beliau meninggalkan pantai yang airnya lagi tenang, dan berlari berteriak, air, ombak, gempa kepada warga sekitar (padahal disaat itu belum terjadi gempa Tsunami), dalam waktu beberapa menit beliau sudah sampai di perkebunan kelapa rakyat yang jaraknya 200an meter dari pantai, tak lama kemudian terjadi gempa Tsunami menghantam kota Palu, yang pusatnya di kampung Mapaga.
Berdasar kisah dari Said Bafagih. Habib Said Bafagih mengkisahkan: Kalau ini kejadian yang saya alami langsung dengan beliau:
Pernah kami satu rumah kena penyakit cacar dikondisi sakit kepala dan demam tinggi tiba-tiba Habib Hamid datang dan berkata "Hai nadua pura komiu (hai sakit semua kalian)" lalu beliau pegang kepala kami satu persatu, dan ajaibnya demam dan sakit kepala langsung hilang dan besoknya benjolan-benjolan cacar lenyap;
Suatu ketika sekitar pukul 16.30 Habib Hamid datang kepada saya dan berkata dalam bahasa Kaili Palu, "ngena manggaribi masiromu hamai ri puluna kamate i Borahima (bapaknya Randy, nanti maghrib berkumpul di sana untuk wafatnya ibrahim-bapaknya randy) jadi saya jawab : innaa lillahi wa inna illaihi roojiun, beliau bilang lagi, dopa ngenapa (tidak sekarang tapi nanti), maka segera saya kerumahnya dorang Rahim dan sy tanya tante mama Rahim tentang bapaknya Randy, tante bilang masih dirawat di Rs Undata, kemudian tidak lama datang berita bapaknya Randy meninggal.
Dan masih banyak lagi kejadian yang belum terjadi tapi sudah beliau beritahu saya dan akhirnya apa yang beliau ucapkan itu kemudian terjadi. Demi Allah memang jid Hami wali nya ALLAH. (kesaksian dari Habib Said bin Muhsin Bafagih pimpinan majelis Bafaqih di Kayuboko Kab Parimo Sulteng)
Amaliah Habib Abdul Hamid Bafagih adalah zuhud dan wara' yaitu tidak terkagum-kagum dan tidak memandang godaan dunia beserta isinya, sehingga beliau selalu sederhana apa adanya, wafat tanpa meninggalkan anak dan isteri.
Sebelum wafatnya beliau mencari setundun pisang, saat jamaah dan keluarga bertanya untuk apa setundun pisang, beliau menjawab, Tidak lama lagi saya meninggal, setundun pisang ini hadiah untuk tamu peringatan meninggal ku, yang hadir. Tidak lama setelah itu Habib Abdul Hamid Bafagih wafat.
Wafat tahun 1997 diusianya yg ke 70an tahun. Itulah kisah untuk pembelajaran bahwa manusia yang dekat dengan ALLAH akan dikasihi-nya.
0 comments:
Posting Komentar