Terkenang almarhum wal maghfurlah si Mbah KH. Imam Romli,
muassis Ponpes An-Nur Pandes Cepiring Kendal, adalah sosok yang sangat
mencintai ilmu. Dibuktikan di era akhir tahun 70-an dan awal 80-an, walau
beliau sudah menjadi pengasuh dan mengajar banyak kitab seperti Shahih Bukhari,
Shahih Muslim, Jam'ul Jawami' dlsb. yang diikuti para santri lintas Jawa,
beliau tetap semangat mengaji (belajar kepada kiai lainnya).
Alkisah, saat itu Abah KH. Dimyati Rois masih di Kauman
sedang mengajar dan membacakan kitab di pengajian bulan Ramadhan. Diantara yang
ikut "ngaji pasaran" (ngaji di bulan Ramadhan) waktu itu adalah Kiai
Romli disertai istri tercintanya, Ibu Nyai Sa'adah. Biasanya saat ngaji pasaran
itu beliau kos di rumah KH. Thoha Al-Hafidz.
Menjelang wafat atau saat Kiai Romli sudah sakit-sakitan,
beliau tetap isitiqomah mengajar kitab Ihya Ulumiddin pada para santrinya meski
harus sambil tiduran di atas kasur.
Suatu saat setelah merenung dan bertafakur sekian lama
tentang PP An-Nur Pandes Cepiring Kendal, karena beliau belum kunjung
dianugerahi seorang putra maka berniat untuk poligami. Beliau kemudian sowan
untuk bermusyawarah dan minta izin pada para kiai sepuh di Kendal. Meski Kiai
Romli termasuk kiai sepuh tapi itulah adat kiai shaleh jaman dulu, mengutamakan
musyawarah dengan para kiai yang lain.
Setelah sampai ke Kaliwungu Kiai Romli sowan kepada Mbah
Ru'yat, Mbah Musyaffa' dll., dengan hasil mendapat restu dan izin dari para
kiai. Menjadi mantaplah hati Kiai Romli untuk menikah lagi demi keturunan yang
akan melanjutkan pesantrennya.
Namun kemudian Kiai Romli masih belum sreg/tenang hatinya
sebelum dirinya sowan pada Abah Dim, meskipun saat itu Abah Dim statusnya masih
sebagai santri Pesantren Kauman. Dan betul, Kiai Romli akhirnya sowan menghadap
Abah Dim untuk minta saran dan ijin menikah lagi. Meskipun waktu itu usia
keduanya terpaut jauh, Abah Dim masih muda dan Kiai Romli sudah cukup sepuh.
Setelah bertemu Abah Dim, jawaban yang ditunggu pun keluar,
Kiai Romli diijinkan menikah lagi. Abah Dim mengijinkan tapi dengan satu
syarat, "Mbah Romli, Njenengan yen bade wayuh sumonggo. Tapi pondokipun
dipun bakar." (Kiai Romli, kalau mau poligami silakan, tapi bakar dulu
pesantrennya). Kiai Romli pun taat dan patuh dengan jawaban terakhir ini.
Karena kedekatan Abah Dim dengan Kiai Romli, beliau tahu
bahwa sebelum berfikiran meneruskan perjuangan pesantrennya Kiai Romli sudah
kesemsem (tertarik) dengan seorang wanita yang juga sering sowan kepada Abah
Dim. Sehingga niat untuk mendapatkan keturunan itu tidak benar-benar ikhlas
lillahi ta'ala. Karena maqam (derajat) semulia Kiai Romli sudah tentu harus
lebih mampu untuk lillahi ta'ala, yakni menjaga nafsunya.
(Syaroni As-Samfuriy, diolah dari Fanspage: Pecinta Abah KH.
Dimyati Rois).
0 comments:
Posting Komentar